Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 58


__ADS_3


Celia Carissa Vamella


Pagi yang cerah, di hiasi langit biru nan indah, namun tidak seindah pandangan mata Tara yang tidak mendapati kehadiran suaminya di sisinya.


Untuk kali ke dua Tara kehilangan sosok suaminya yang pergi tanpa pamit, meski kini ia memiliki nomor selluler sang suami, namun setelah beratus kali ia menghubunginya, ia tidak pernah mendapat jawaban sekalipun.


Empat hari sudah ia menanti kabar yang tidak pernah pasti, kekhawatiran yang selama ini terbenam pada benaknya, kini telah berubah menjadi sebuah emosi yang membakar seluruh jiwanya.


Namun apalah daya baginya yang tengah menyadari status dirinya yang tidak akan mampu menggenggam erat hati suaminya.


Sebuah balkon kini menjadi sasarannya. Sebiasanya, sepulangnya ia dari tempatnya menuntut ilmu pada sebuah perguruan tinggi bergengsi itu ia selalu mengunjungi tempat itu di sore hari. Namun kini saat pagi masih berembun ia tengah berdiri di sana.


Sudah menjadi kebiasaanya untuk melepas penat serta mengusir kegundahannya dengan melamunkan keluh kesahnya di atas lantai balkon itu.


Meskipun kini hari liburnya telah tiba, namun kebiasaan itu tidak luput mengisi harinya yang selalu menemaninya menanti sang pujaan hati.


4 batang rokok tengah habis terhisap asapnya olehnya yang telah menemaninya selama dua jam kebelakang.


Tepat saat ia akan meraih batang berikutnya, suara tombol pintu ruang tersebut menghiasi pendengarannya. Ia berharap sang suami yang telah menekan tombol akses itu.


Iapun mengurungkan penyulutan pada rokoknya untuk menyambut riang tamunya kala berharap adalah sang pemilik rumah atau suaminya yang datang.


Setelah pintu terbuka, rasa kecewa terpapar dari wajah Tara kala melihat sang mertua berdiri anggun di balik pintu masuk ruang itu. nampak Celia di baliknya sudah berdiri dengan anggunnya membuat Celia mengernyitkan dahi menatap wajah penuh khawatir itu.


"Mih, tumben ke sini?" Meski kecewa, Tara menyapa tamunya dengan senyuman indahnya.


"Ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu." Sahut Celia, tanpa ragu bahkan berpamit, ia melangkahkan kakinya hingga duduk di atas sofa yang terdapat di ruang tamu itu.


Tara hanya mampu membuntuti langkah mertuanya. Sebelum mendaratkan bokongnya, Tara melepas senyum pada mertuanya. "Tunggu bentar aku buatin teh dulu." Lantas melangkahkan kakinya menuju tempat di mana bahan jamuannya berada.


Celia membiarkan kepergian menantunya tanpa mencegah sedikitpun, pasalnya iapun mengharap dapat meredakan rasa dahaganya dengan jamuan yang di sebutkan menantunya.


Beberapa saat kemudian Tara kembali dengan secangkir teh berada pada genggamannya. Di sodorkannya teh hasil kerajinan tangannya itu kepada mertuanya yang langsung di sambut Celia dengan meraihnya lantas menyeruputnya.


"Tara, aku penasaran sama perginya Sammuel. Apa kamu yang membujuknya?" Sudah tidak mampu Celia memendam tujuannya, hingga baru saja Tara menumpukan tubuhnya di atas sofa ia segera menuturkannya.


Tara menggeleng tidak percaya, bahkan ibunya saja tidak mengetahui alasan kepergian itu. "Aku justru ga tau dia ke mana, udah empat hari pergi ga ngasih kabar." Ia melirih hingga menundukkan kepalanya memendam rasa pedih di hatinya.


Celia tersenyum seraya menatap menantunya memberikan kesan menghibur pada wanita yang masih tertunduk di hadapannya. "Dia ambil uang warisan dari mamanya ke Spanyol." Jelasnya membuat Tara melega hingga mengangkat wajahnya untuk menatapnya.

__ADS_1


Jika alasannya demikian, Tara berpikir suaminya tidak mengkhianatinya. Namun, bisakah pria itu tidak mengkhianatinya setelah mengingat perjanjian pernikahannya? Tara enggan memikirkan itu, yang jelas kini ia hanya bisa berharap suaminya cepat kembali.


"Soal pertanyaanku tadi, awalnya dia nolak keras buat ambil uang itu. Tapi tiba-tiba aja dia ambil, apa kamu yang bujuk dia?" Melihat Tara yang membisu, Celia kembali melontarkan suaranya.


Tara merenung mencerna perkataan mertuanya hingga memutar ingatannya kembali. "Oh soal 2 trilyun ya?" Balasnya menyiratkan senyuman pada wajahnya. "Aku cuma kasih rencana anggarannya aja."


"Apa itu?"


"Buka lahan sewaan rumah atau kostan." Jujur Tara membuat Celia menatapnya penuh rasa kagum.


Celia kembali meraih cangkir teh nya lalu menyeruput isinya seolah melega di sana. "Begitu ya." Lantas menatap lurus arah depannya dalam tatapan kosongnya seraya mengangguk faham.


Tara menjanggal dengan ungkapan yang hanya secuil itu hingga menatap mertuanya penuh dengan picingan untuk mencari maknanya sendiri tanpa ingin bertanya lebih. “Maksud mami_”


"Aku rasa kita cukup nyambung." Celia tersenyum, baru kali ini ia mendapat seorang yang mampu mengimbangi dirinya untuk membicarakan tentang bisnisnya.


Tara kembali membisu mencerna maksud dari perkataan mertuanya seraya menunggu Celia yang mengakhiri menyeruput teh nya.


"Kamu tau kalau bisnisku bergerak dalam bidang Entertaint?" Ungkap Celia di balas gelengan kepala oleh menantunya.


"Engga." Datar Tara melengos jujur.


"Aku mulai meragukan otak papi mertua kamu, akhir-akhir ini pendapatan CC Film merosot drastis." Ungkap Celia masih memancing kemampuan menantunya. Dari awal ia bertemu dengan Tara, ia merasakan bahwa Tara bukanlah gadis biasa.


Celia kembali menyiratkan senyumannya mewakili kekagumannya terhadap sikap menantunya. "Apa kamu punya rencana?"


"Buat itu aku cuma punya jalan keluar, tapi soal hasilnya aku juga kurang tau."


"Katakan."


"Dulu waktu aku banyak waktu senggang, aku sering bikin karya novel, mungkin sebagian dari itu bisa mami ambil." Jelas Tara yang di sambut anggukan oleh Celia.


Celia menyandarkan punggungnya pada penyandar sofa. Melega hatinya mendengar pernyataan menantunya. Inilah yang selalu di nantinya, seorang menantu yang bisa di andalkan. "Tara, aku mau kamu kerja di CC Film."


"Maaf mih bukan maksud nolak kebaikan mami, tapi aku udah kerja di ZhanaZ Group." Tolak Tara dengan lembutnya agar mertuanya tidak tersinggung dengan itu.


"Oh suamimu udah ambil kamu duluan ya?" Tutur Celia membuat Tara terheran di sana.


Hah? Tara mengerutkan keningnya menjanggal pernyataan mertuanya. Apa maksudnya dengan kata mengambil? Ia salah menafsirkan jika suaminya begitu mencintainya hingga enggan menyerahkannya pada orang lain.


"Baiklah kalau gitu, soal cerita kamu, apa kamu bisa kasih aku itu?" Pinta Celia penuh harapan yang terpapar dari wajah cantiknya.

__ADS_1


"Dengan senang hati." Bibir Tara terangkat, menyiratkan senyum manisnya menyambut harapan itu.


"Kamu kirim ke E-mailku aja, nanti aku kasih alamat E-mail nya." Tutur Celia penuh semangat.


Tara mengangguk sebagai jawaban dalam bungkaman mulutnya.


"Oh ya, sebenarnya aku datang ke sini buat ajak kamu ke acara pertemuan, aku dari dulu pengen banget punya teman wanita buat menghadiri acara pertemuan gitu." Pinta Celia penuh lirihan dalam kesungguhan yang terpancar dari sorot matanya. Namun, membuat Tara terperangah dalam kejutannya.


Mana mungkin Celia tidak memiliki teman sama sekali? Runtuk Tara membatin lirih turut prihatin kepada mertuanya.


"Mih aku ga yakin mami ga punya temen."


"Teman bersaing banyak, kalau yang tulus mau berteman itu yang langka."


Meski terkejut Tara memendam rasa bahagianya. Bukan hanya Celia yang mendambakan sosok menantu seperti Tara, sebaliknya, Tarapun mendambakan sosok mertua seperti Celia.


"Aku anggap setuju kalau kamu cuma diam." Dalih Celia yang terdengar seperti paksaan oleh Tara yang sudah tersenyum dalam gelengan kepalanya. "Mumpung suamimu ga ada."


Yah benar adanya, dengan demikian Tara mampu menghibur perasaan gundahnya. Pikir Tara teebersit rasa ingin menghibur dirinya.


"Tenang aja, nanti kalau suamimu marah, aku yang akan bantu kamu bicara sama dia." Imbuh Celia melekatkan tatapan pada wajah yang termenung itu.


Baguslah, ini sebenarnya yang di khawatirkan Tara.


"Besok sore aku jemput kamu ke sini." Seolah tau jadwal harian Tara, Celia mampu memperhitungkan waktu Tara menuntut ilmu serta mencari nafkahnya, namun ia tidak mengetahui bahwa Tara memiliki kesibukan lain di hari liburnya, yakni mengunjungi kedua adiknya.


"Besok emang aku ga kuliah dan ga kerja, tapi aku harus pulang ke Bandung." Tolak Tara dalam nada ragunya, pasalnya baru saja ia berpikir dapat melepas penatnya.


"Begitu ya?" Celia menundukan wajahnya meratapi kekecewaannya yang membuat Tara tidak enak hati melihatnya.


"Tapi ke Bandung bisa aku tunda dulu." Balas Tara sebagai isyarat menyetujuinya. Biarkan saja mengorbankan keluarganya untuk sekali ini agar mampu mengambil hati sang mertua tercinta. Batin Tara berimbuh mengatakannya.


Rasa bahagia menyeruak dari asma Celia hingga ia bangkit menyosor tubuh menantunya untuk mendaratkan pelukan pelepas rasa terimakasihnha. "Thanks sayang." Lalu ia mencium pipi menantunya penuh kasih.


Perlakuan Celia membuat Tara menggeleng tidak percaya jika wanita yang terihat lebih tua darinya masih berlaku seperti anak sekolahan saja.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2