Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 144


__ADS_3

"Besok Queena di ambil ibunya," seru Jackson dengan nada lemahnya namun masih dapat terdengar seluruh penghuni.


Hening membaur kala sebuah kejutan menghampiri para insan penghuni ruang bertajuk langit itu, mereka mematung mendengar kabar yang begitu mengerikan itu.


Kabar berita yang begitu memilukan itu mengundang suara petir yang menyambar dari atas langit tanpa ada air hujan yang turun dari sana menembus hati para insan yang kini masih tertegun di tempat.


"Jack, apa itu benar?" tanya Celia memastikan.


Jackson bungkam tat kala sang hati berseru lirih mengingat akan hal itu.


“Sudahlah Celia, udah menjadi hak Natalie untuk mengambil anaknya,” ucap Erick menenangkan sang istri.


Namun rupanya Jackson kian tertegun mendengar ucapan ayahnya bahkan membuat wajahnya tertunduk kaku, ia berusaha menahan amarah pada dirinya sendiri kala rasa sesal kian menusuk batinnya.


Sammuel sadar dengan lirihan yang begitu terlihat dari wajah kakaknya, kini ia mulai mencari caranya untuk menenangkan hati sang kakak tercinta.


"Jack.. gue ga akan larang kalo lo masih sayang sama_" Sammuel menjeda kalimatnya kala tatapannya beralih menuju arah sang istri yang masih terisak dalam tangisnya. "Bini gue!" Rasa berat di dalam angannya untuk mengatakannya membuatnya memejamkan kedua matanya menahan penyesalannya atas ucapannya, namun pejaman itupun bertujuan untuk merasakan lirihan kakaknya.


"Aku juga, setuju," ucap Tara bersusah payah kala isak tangisnya sulit di hentikannya. "Tapi aku juga cuma bisa jadi ade ipar kamu."


"Tara.." Celia melirih melihat pengorbanan dari pasangan suami istri itu, namun membuatnya merasa kagum terhadapnnya.


Lantas Celia mendekap erat tubuh menantunya itu membuat isak tangis sang menantu kian histeris tak lantas membuat Jackson merasa bersalah atas tindakannya.


Jackson melangkahkan kakinya menuju arah sang kekasih di sana, lantas merengkuh di hadapannya, kedua tangannya meraih tangan wanita itu tak lantas mengelusnya di iringi semburan kasih sayangnya.


"Ga usah korbanin hati kamu, cukup kamu jangan nolak kasih sayang dari aku aja aku udah seneng kok,” ujar Jackson menghibur wanita itu dengan senyuman paksaannya kala sorot matanya menatap lekat pasang mata yang telah membengkak itu.


"Aku bisa seneng, kalo kamu ga korbanin Queena." Parau sudah suara Tara, hidung serta matanyapun memerah membuat rasa cemas kedua pria yang berada di sekitarnya merangkak tanpa jeda.


"Oke aku salah soal itu, tapi mamanya yang minta, aku bisa apa?" Jackson kian ingin menepis isak tangis itu, ia pun mengulurkan tangannya menghapus tetesan air mata yang membasahi wajah jelita itu.


Sementara Sammuel yang masih berdiri di tempat, ia tersenyum miris melihat kegiatan dramatis yang telah berlangsung di hadapannya. Namun ketidak berdayaannya membuatnya hanya terdiam tanpa kata, begitupun dengan kedua orang tuanya yang hanya menyaksikannya di sana.


Semantara keadaan Tara kini ia menghentikan paksa tangisannya, lantas menatap ke arah suaminya hanya untuk memastikan keadaannya.


Rasa iba serta haru berhasil menembus angannya kala melihat pasang mata suaminya telah berkaca-kaca, ia mampu merasakan kepedihan atas ketidak relaan sang suami untuk melepasnya kepada kakanya.


Permintaan maaf terucap dalam benak Tara di sertai senyuman lirihannya, bahkan tatapan matanya pun menyemburkan sorotan kepedihan hinggan sang suami membalasnya yang tak kalah melirihnya.


Sementara Jackson merasa lega melihat tangisan yang telah reda itu, namun tubuhnya masih tertahan di sana di mana ia masih merengkuh di bawah sang kekasih hatinya.


"Mommy jangan nangis." Suara imut Queena yang berucap seraya beringsut agar duduk di samping Tara itu membuat Tara tersenyum lebar tanpa mampu menghindari rasa gemasnya.


"Ya sayang mommy ga nangis,” ujar Tara menepis kegundahan hati belahan jiwanya dengan meraih tubuh mungil itu dalam pangkuannya, di tatapnya wajah imut bergaris asia itu dengan tatapan kepedihannya, bahkan tangannya mengulur mengusap puncak kepala mini itu. "Queen, seandainya Queen tinggal sama mommy lain, apa Queen mau?"


"Mommy Queen cuma mommy,” sahut Queena berseru teguh namun nada bicara imutnya begitu menggemaskan bagi Tara.


Tidak lain dengan Tara, si gadis cilik pun merasakan kerancuan batinnya hingga ia mengecup pipi wanita yang di anggapnya sebagai seorang ibu itu dengan penuh kasih dan cinta untuk mengutarakan penolakannya.

__ADS_1


"Masih ada mommy yang lain sayang, yang lebih sayang sama Queena," ujar Tara penuh kelembutan untuk mengutarakan rayuannya.


"Ga mau!" tolak Queena bernada tegas membuat seluruh penghuni ruang tidak mampu melontarkan katanya.


"Kalo Queen ga mau nanti mommy marah ga mau ketemu Queen lagi."


Celia sudah tidak mampu melihat pemandangan dramatis itu, segera ia merebut Queen dari menantunya hingga larut dalam pangkuannya, lantas tanpa kata ia mengayunkan kakinya hingga memburu langkahnya menjauhi para anggota yang masih setia menjadi penghuni ruang bertajuk langit itu.


Tara membiarkan kepergian ibu mertuanya, begitupun dengan yang lainnya yang hanya mampu menatap pungguh Celia hingga hilang sepenuhnya dari hadapan mereka.


"Lihat hasil ulahmu Jack?" ucap Erick di bumbui nada ketus yang menyemburkan emosinya hingga membuatnya beranjak untuk membuntuti langkah istrinya tanpa menunggu suara dari anak-anaknya terlebih dahulu.


Lagi dan lagi Jackson tidak mampu menimpali ucapan ayahnya, yang ia lakukan hanyalah menundukkan wajahnya, menyembunyikan kepedihannya di sana.


Sedang Sammuel beranjak mencoba menenangkannya, ia turut bersimpuh di samping kiri kakaknya.


"Jack.." Tara mampu merasakan hati yang terluka itu hingga ia nenatap dalam wajah Jackson meski hanya separuhnya yang terlihatnya lantaran Jackson masih tertunduk di sana. "Aku yakin ini bukan kemauan kamu, kamu cuma di tuntut bertanggung jawab untuk mereka kan?" Suaranya masih parau membuat kedua pria yang bersimpuh itu kian memendam dosanya.


Jackson mendongkak, menatap lirih wajah Tara tanpa berkata apapun, namun sudut bibirnya terangkat berat menyiratkan senyuman kepedihannya.


"Aku juga pernah ngalamin hal itu, sampe sekarang malah." Tara masih berusaha menghibur Jackson dengan ucapan bernada lembutnya. "Kamu lebih beruntung dari aku Jack, kamu masih punya keluarga yang sayang sama kamu." Ia menyenggal katanya menyiratkan tawa dendamnya tat kala ingatannya membayang pada kedua orang tuanya yang tiada pernah memberikan kasih sayang terhadapnya. "Kamu bisa lihat hidup aku, seumur hidup cuma di manfaatin orang bahkan adik sendiri, parahnya mamaku_" Ia baru tersadar jika ucapan penghiburannya seolah curahan hatinya hingga ia menghentikan ucapannya seketika.


Sammuel pun sadar dengan itu hingga ia beranjak lantas duduk di samping kiri istrinya.


"Art, lakuin apa yang mau lo lakuin, gue dukung lo sampe akhir,” ucap Sammuel berpasrah diri untuk mengalah, meski berat terasa, namun ia mencoba mengabaikan perasaannya hingga ia mengusap puncak kepala istrinya membuat Jackson menatapnya penuh kepedihan. "Sekalipun lo harus berbagi hati sama cowo sial*n ini." putus Sammuel pekat bahkan mempertegasnya dengan menunjuk sang kakak dengan dagunya.


"Gue bisa!" jawab Sammuel menimpal secepat cahaya.


Tara mendengus tidak percaya jika dirinya akan menjadi objek untuk pertarungan cinta kakak beradik itu, ia enggan melanjutkan perbincangannya yang sudah melenceng dari hatinya itu hingga membuatnya menarik napas dalamnya, berat memang untuknya memilih, bahkan jikapun mereka sudi menyerahkan hati mereka, ia yang enggan menerimanya.


Kini ia beranjak dari tempat duduknya untuk menghindari perbincangannya, lantas melangkahkan kakinya mencari keberadaan ibu mertuanya.


Jackson serta Sammuel hanya mampu membiarkannya tanpa mencegahnya sedikitpun.


Seperginya Tara dari hadapan mereka, rupanya Hanson datang menghampiri mereka.


"Kalian di sini juga?" sapa Hanson tanpa acuh beriringan dengan senyuman ledekannya.


"Hmmm." Sammuel menyahut hanya dengan dengungannya.


Tanpa dosa Hanson mengedarkan pandangannya mencari keberadaan adik iparnya, lantas ia duduk di atas sofa yang tersedia.


"Bini lo ke mana Sam?" tanya Hanson.


"Lagi ngurusin mertuanya."


"Kenapa emangnya?"


Sebelum mengucap katanya, Sammuel menatap lirih kakak keduanya, lantas mulai membuka suaranya menceritakan kisah dramatis yang terjadi beberapa saat lalu terhadap kakaknya.

__ADS_1


*******


"Pih mami di dalem?" ucap Tara ketika berdiri di depan pintu kamar tidur mertuanya.


"Yah." Erick yang duduk di tepi ranjang kini beranjak mengayunkan kakinya hingga menepikan tubuhnya di atas sofa yang terdapat di ruang itu seolah menyerahkan sang istri terhadap menantunya.


Tara tidak mempedulikan kegiatan ayah mertuanya, ia segera menghampiri ibu mertuanya yang tengah terbaring memeluk Queena yang sudah tertidur pulas di atas tempat tidur itu.


"Mih.. Queena masih bisa ketemu mami kapanpun mami mau,” ujar Tara penuh kelembutan kala niat hatinya menyerukan untuk penghiburannya.


"Mana mami percaya!" ujar Celia berseru ketus kala sang hati masih sulit untuk melepas sang buah hati kepada ibunya.


Tara terkekeh gemas sebelum melontarkan perkataannya menanggapi tingkah kekanak-kanakan itu. "Aku yang akan bilang sama mamanya Queena."


"Kenal juga engga sama mamanya,” sahut Celia masih dengan nada seperti semula.


"Emang engga, tapi percaya sama aku kalo Queena pasti lebih milih kita di banding ibunya."


Celia beringsut hingga duduk bersejajar dengan sang menantu. "Darah lebih kental dari air Tara."


"Aku tau, tapi anak kecil lebih bisa melihat hati orang."


Akhirnya, ucapan menantunya menbuat Celia menghembuskan napas leganya, baru terpikirankan olehnya jika perkataan menantunya tidak ada salahnya sama sekali.


"Mami cuma ga percaya aja,” ucap Celia malu malu kala sang menantu melontarkan senyum ledekannya.


"Karna mami sayang sama Queena, mami ga rela Queena pergi."


Mungkin memang demikian, meski Celia baru mengenal Queena selama dua tahun ke belakang, namun sipat penyayangnya lah yang membuatnya tulus menyayangi cucu palsu dari suaminya itu.


"Dan lagi, mami masih punya cucu yang lain." Tara masih menghibur mertuanya, dan kini, ucapannya membuat Celia tersenyum miris menatapnya.


"Rainer ga tinggal di sini Tara, dia ga dekat sama mami."


Tara menggelengkan kepalanya bukan untuk menolak ucapan itu melainkan ia teringat seseorang anak yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan mertuanya kini.


"Semua udah ada yang atur mih,” tutur Tara.


Akhirnya Celia membungkam mulutnya, membayang ucapan menantunya yang terakhir di dengarnya, semua memang atas kehendak-Nya, lantas kini ia tidak mampu mencegah bahkan merubahnya sesuai keinginannya.


Hingga pada akhirnya Tara berhasil menjangkau rasa bahagia mertuanya dengan segala ucapan penghiburannya.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2