Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 161


__ADS_3

Brakk!


Tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka dengan kasar. Sepasang netra dari dua insan ini melirik ke arah sumber suara. Betapa tidak, sebab mereka mendapatkan sebuah kejutan dari suara yang melegam tersebut.


Sepasang netra mereka semakin terbelalak melihat seseorang muncul dari balik pintu itu.


"Kamu–" Tara tidak mampu memberikan alasan pada orang itu dikala perbuatan ini tertangkap basah. Tepat di hadapan mata yang kini menatapnya penuh murka.


Jackson melepas dekapan pada tubuh itu setelah menyadari hawa emosi begitu pekat terpampang dari wajah orang yang berdiri di balik pintu ruang itu. Bukan untuk mencegah pertikaian, melainkan ia takut jika saja Tara yang akan menjadi bulanan dari amarah itu.


Untuk memastikan Tara akan baik-baik saja, Jackson memutuskan untuk tidak beranjak dari dalam ruang itu, sehingga ia melangkah menuju meja kerja Tara yang terdapat kursi bekas penopang tubuhnya sebelumnya di sana.


Sementara keadaan Tara, ia memburu langkahnya, menghampiri orang yang baru saja datang berkunjung ke ruang itu.


“Sam... kapan kamu pulang?” Tara tersenyum menyapa Sammuel.


Sammuel mengabaikan sapaan itu, ia berjalan menjauhi Tara tanpa mengucap sepatah katapun. Ia menghampiri Jackson yang sudah duduk santai di sana.


Setelah ia berhadapan dengan kakaknya, Sammuel tertunduk, menatap wajah Jackson dengan pancaran aura sengitnya. Jackson membalas tatapan itu tidak kalah sadisnya, bahkan seringai keji menyertainya.


Mengerti dengan isyarat bibir Jackson, Sammuel melenguh frustasi. Ia melupakan jika dirinya telah berjanji akan membiarkan Jackson masih mencintai istrinya.


Rasa cemburu itu hanya akan terpendam begitu saja. Hingga ia melampiaskan pada sebuah tas kertas yang ada di bawanya saat ia datang, melempar dengan kasar ke atas meja di sampingnya.


Tara gelisah, mengira Sammuel akan memberikan hantaman kepada Jackson. Sehingga ia kembali memburu langkahnya untuk menghampiri Sammuel. Setelahnya ia mendekap erat tubuh suaminya itu.


Keadaan berbalik, Sammuel mendapat kemenangannya dari dekapan sang istri yang membelakangi keberadaan Jackson di sana. Ia menyambut dekapan itu mengecup kening istrinya.


“Baru gue tau rasanya kangen,” ucapnya penuh kesungguhan, membuat Jackson tersenyum miris di sana. Kepuasan belum di dapatinya, ia ingin Jackson merasakan apa yang telah di alaminya beberapa menit yang lalu.


Maka ia mengusap puncak kepala istrinya, memancarkan rasa kasih yang begitu tulus di dalamnya. Senyumanpun tersirat dengan manisnya, berbalas tatapan penuh cinta dari sang istri.


“Sayangnya aku ga kangen.” Tara menggoda dalam gurauan, akan tetapi mendapat balasan pelototan dari Sammuel.


“Jangan bilang gara-gara cowo itu.” Dagu Sammuel bergerak pertanda menunjuk ke arah di mana Jackson berada.


Jakson tersenyum mencibir saat ia tidak dapat berkutik sedikitpun untuk membalas olokan itu. “Lo juga tau Sam dari lampu kelip merah,” ujarnya di sertai tunjukan dengan dagunya menuju di mana sudut lemari buku berada.


Sammuel berdesis kesal, sudah terduga olehnya jika Jackson akan mengetahui jika dirinya telah mengintai sang istri dari balik alat perekam itu. Sementara Tara terdiam seribu bahasa kala ia berusaha mengartikan dari perbincangan kakak beradik itu.


Sammuel tidak ingin mengalah, ia menelusupkan wajahnya pada pundak sang istri. Isyarat dari pergerakan matanya yang memicing, di sambut Jackson dengan mengarahkan pandangan menuju wajahnya.


Sesaat setelah itu, Sammuel menggerakkan mulutnya, membuat suatu kalimat tanpa mengeluarkan suaranya. ‘Sorry, gue udah jatuh cinta sama dia.’ Perlahan ia melakukannya, agar Jackson dapat dengan mudah mengetahui apa yang ingin di katakannya itu.


Jackson membalasnya dengan gerakan bibirnya layaknya yang di lakukan Sammuel sebelumnya, ia mengatakan, 'Gue rela, asal lo sama dia bahagia.' balasnya penuh lirihan. Sesungguhnya, hatinya menolak untuk mengatakan hal demikian.


Jackson termenung bingung, setelah memberikan kalimat itu, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Benarkah ia telah merelakannya, mungkinkah karena ia telah jatuh hati terhadap Fiona?


Tidak!


Batin Jackson menolak alasan itu, ia hanya ingin membuat Tara mendapat kebahagiaannya, meskipun semua itu akan menorehkan luka pada hatinya. Baginya, kebahagiaan Tara merupakan kebahagiaannya jua.


Di balik keheningan itu, Tara menyambutnya dengan hanya berdiam diri. Ia meresapi dekapan penuh kehangatan itu, meluapkan rasa rindu di sana.

__ADS_1


Hingga saat Sammuel meraih tas kertas dari atas meja, dekapan itu terlepas tanpa pelantara. Sammuel lekas menyerahkan apa yang telah di ambilnya itu kepada Tara, di sambut manis oleh Tara dengan segera meraihnya. Di bukanya lipatan tas kertas itu, kemudian melihat isi di dalamnya.


“HP keluaran terbaru?” ujar Tara di sertai senyuman ceria. Ia paham jika Sammuel membawakan buah tangan barang itu untuk dirinya.


“Buat gantiin HP lo yang drop baterai nya gara-gara telponan sama gue semalam.” Sammuel mengucek puncak kepala istrinya saat rasa gemas menjangkau angannya. Namun, tidak membuat rambut Tara berantakan barang sedikitpun.


“Tumben inget istri.” Tara mencibir dalam candanya, menambahkan tawa geli di akhir kalimatnya.


“Demi jadi juara!” ungkap Sammuel penuh keteguhan yang terpancar dari sorotan matanya kala memandang wajah Jackson di sana.


Jackson hanya tersenyum miris menyikapinya, tanpa ingin membalas tatapan keji yang terlihat oleh ujung matanya.


Tara tidak ingin mengurusi pertikaian dengan isyarat pandangan itu, ia melangkahkan kakinya menuju di mana kursi tempatnya bekerja tersedia di sana. Tanpa mau tau situasi tegang yang sudah mereda itu, ia menyibukkan diri dengan menilik-nilik ponsel barunya.


Tidak mendapat respon dari Jackson, Sammuel mengalihkan tatapannya. Di tengah gerakan wajahnya, mata itu menangkap karangan bunga melati yang tergeletak di atas meja sedari tadi.


Bibirnya menyeringai penuh kemenangan, menerka jika bunga itu pertanda putusnya hubungan sang istri dengan kakaknya.


“Jadi kalian udah resmi putus?” Ia meraih karangan bunga itu, memperlihatkan kepada Jackson.


“Kagak! Itu mah buat sajen calon bini gue nanti malem,” cetus Jackson di balas tawa kecil oleh Sammuel dan Tara.


“Lo ngapain ke sini Jack?” Sammuel sudah merasa lega, keceriaan telah di dapatinya dari lambang bunga yang kini di hempaskannya kembali ke atas meja. Ia melangkahkan kakinya


“Ngurusin Tender Plati-“


“Udah gue urus itu, malah udah oprasi dari kemarin,” ujar Sammuel memotong ucapan Jackson.


Jackson membalas dengan anggukan kepala serta senyuman kekagumannya. Tidak terduga sebelumnya bahwa Sammuel akan bergerak dengan cepat untuk membantu menyelesaikan pekerjaannya.


“Jadi lo kemarin pergi ngurusin itu?” tanya Jackson.


“Baguslah.” Perasaan lega semakin leluasa merangkak dari dalam asma Jackson, sehingga helaan napas dalam terdengar oleh telinga Sammuel.


Kriettt..


Di tengah perbincangan itu, pintu ruang terbuka, menampakkan Fiona di baliknya. Tanpa sambutan, Fiona melangkah dengan percaya dirinya. Ia menepikan langkah itu di hadapan dua pria yang telah menatapnya.


“Beneran lo di sini ternyata.” Fiona menggeleng di sela kalimatnya. Menatap wajah Jackson yang telah melenguh di sana.


“Kenapa?” tanya Jackson kepada Fiona.


“Nih.” Fiona menyerahkan sebuah map yang telah di bawa serta bersamanya, di sambut Jackson dengan meraihnya tanpa berbicara. “Soal kasus Cakra.” imbuhnya menjelaskan.


Beberapa hari yang lalu, Fiona mendapat tugas dari Jackson untuk menyelidiki kasus korupsi seorang Manager Acounting dalam perusahaan itu.


Setelah menilik isi di dalam map itu, Jackson tersenyum penuh makna. “Surat izin penangkapannya,” ujarnya bernada lemah kala ucapannya berniat hanya tertuju untuk dirinya sendiri.


“Sayangnya dia udah lari ke luar negeri,” ucap Fiona.


“Udah pasti!” Jackson tersenyum miring, pertanda siasat buruk tersirat di baliknya. Gerakan musuhnya sudah dapat diterkanya, sehingga penjelasan Fiona tidak begitu mengejutkan. “Jangan halangi dia, biarin aja dia liburan bentar buat terakhir kalinya.”


Sammuel yang hanya menyimak sejak perbincangan berlangsung, kini ia turut menyiratkan senyum sinisnya. Menyetujui rencana yang di susun kakaknya.


Tidak dengan Tara yang asik sendiri dengan mainan barunya, ponsel itu masih menjadi bulanan tangannya, membuatnya tidak mencermati perbincangan di sekitar.

__ADS_1


Saat keputusan telah menjadi akhir perbincangan serius itu, Fiona heran dengan kehadiran Tara yang tidak sama sekali membuka mulutnya. Ia menggeleng kala melihat Tara berpusat diripada benda yang berada dalam genggaman tangannya.


Berniat tidak ingin mengganggu kegiatan itu, Fiona melempar tatapannya menuju karangan bunga melati lusuh di atas meja.


“Apaan nih, kenapa bucketnya pake melati?” Fiona terheran-heran, ia meraih karangan bunga itu.


“Buat cemilan lo nanti malam,” seru Jackson mencibir, membuat Fiona memukulnya dengan karangan bunga itu sehingga isinya berserakan ke atas paha calon suaminya.


“Lo kira gue demit apa?” ucap Fiona bersungut-sungut kesal.


Sammuel terkekeh melihat pertikaian itu. “Unik juga adegan romantis lo Jack,” ujarnya membuat telinganya mendengar dengusan sebal dari kakaknya.


“Ra,” panggil Fiona membuat Tara menghentikan kegiatannya untuk menatap ke arahnya. “Lo bisa ke ruang gue sekarang?” Fiona mengedipkan matanya sebagai isyarat suatu rahasia tersimpan di balik ucapannya.


Tara mengangguk penuh semangat, ia tau jika Fiona akan memberikan kabar bahagia kepadanya yang tidak ingin di ketahui Sammuel sehingga Fiona mengajaknya berbincang berdua saja.


“Oke,” sahut Tara sebagai keputusannya.


“Ada apaan sih?” tanya Jackson dalam picingan mata penuh rasa heran.


Tidak ada jawaban yang terucap dari Tara maupun Fiona, mereka hanya memberikan senyumannya saja.


Jackson kian penasaran hingga menatap Fiona dengan kerutan di dahinya. Lain dengan Sammuel yang hanya berdiam diri saja. Sesungguhnya, Sammuel telah memerintahkan seseorang untuk mengintai kegiatan rahasia dua wanita itu.


Sebelum Jackson memaksa, Fiona menyeret tubuh Tara dengan rangkulan pada pundaknya untuk segera meninggalkan tempat itu.


******


Setibanya Fiona serta Tara di dalam ruang kebangsaan Pengacara, Fiona segera mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerjanya.


Sementara Fiona mencari barang itu, Tara mengedarkan pandangan yang membuatnya terheran-heran.


“Si Tri sama si Hans ke mana?” tanya Tara, sejak ia masuk ke ruang itu, ia tidak melihat kehadiran mereka berdua.


“Si Tri masih galau kali.” Fiona menjawab tanpa berpikir, sebab ia masih berpusat diri mencari sesuatu dari laci meja kerjanya.


Tara mendengus paham, ia melupakan jika Triana masih dalam keadaan berkabung. Sudah dapat dipastikannya jika Hanson meliburkan diri untuk menemani Triana.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Fiona mendapatkan apa yang di carinya. Segera ia menyerahkan map berwarna biru itu kepada Tara.


“Sesuai dugaan lo Ra.” Fiona menyeringai penuh kemenangan di balas senyuman lega oleh Tara.


“Bukan si Hans kan pelakunya?”


“Lo lihat aja sendiri.” Fiona menghela napasnya, mewakili perasaan lega. Sejak ia mendapatkan bukti-bukti itu, ia sudah tidak dapat bersabar lagi untuk segera memperlihatkannya kepada Tara.


Tanpa kembali berbicara, Tara meraih map itu tak luput membukanya kemudian melihat isi di baliknya, membaca kalimat yang tertulis di atas kertas tak bergaris itu.


Di tengah kegiatan itu, kelopak mata Tara membelalak nyalang mewakili keterkejutannya.


‘Ga mungkin!’ Batin Tara meruntuk tidak percaya membuat kepalanya menggeleng untuk menyangkalnya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2