
Kerancuan tercipta dari bayangan tak nyata, bayangan semu bekeliaran dalam angan. Jackson terpaku dalam renungan, mengabaikan panggilan bergambar yang masih berlangsung di sana.
Suasana hening membaur, menggiring tiga pria yang terpaku dalam renungan di sana. Sebelum keputusan di dapatkan, Kelvin membiarkan wajahnya terpampang di balik layar, menunggu sang atasan melontarkan suaranya kembali.
Emosi hadir menggugah angan Sammuel, tatkala firasat buruk terbersit dalam ingatan. Kehadiran sosok pria bernama Alev, menjadi sebuah mistery yang tak mudah terpecahkan. Sehingga bayangan kelam mengusik ketenangan.
Sammuel menerka jika berpalingnya hati sang istri terhadap pria itu, terpicu dari wajah serupa dengan kakaknya. Kesimpulan di dapatkan, bahwa pilihan sang istri terjadi lantaran ia menyukai paras tampan itu. Kemungkinan menyertai, sang istri tidak dapat memilih Jackson karena ikatan resmi terjalin dengannya, sehingga Tara mencari pria lain yang memiliki wajah serupa.
Dendam tertahan di dalam sanubari tanpa bisa terbalaskan saat bukti-bukti nyata belum ia dapatkan. Lantas, ia berpikir keras agar dapat mengumbar pancingan kepada sang istri.
Wajah nampak muram, menyembunyikan hawa nafsu yang sudah tidak dapat tertahankan. Baru saja sang hati terbuka untuk menerima seorang wanita, akan tetapi tuba menanti sebagai balasan. Sammuel tidak mengira jika sang istri akan tega menoreh hatinya, sehingga ia menaruh siasat untuk segera membalaskan.
Hamparan hawa suram yang tercipta dari wajah-wajah rancu kedua pria di sekitar telah menyelimuti angan Hanson. Tidak tinggal diam, otaknya pun berputar, mencari celah jawaban dari tindakan itu.
“Lo bilang anak itu mirip sama lo, Jack,” ungkap Hanson memecah suasana hening di sana. Wajahnya mengarah kepada Jackson, pertanda ucapan itu tertuju pada pria yang menjadi pusat pandangannya.
Jackson berdengung dalam anggukan, menjawab pertanyaan itu tanpa melontarkan sepatah kata pun. Pencarian jawaban masih berlangsung dalam ingatan, membuat mulutnya enggan terbuka sedikitpun.
“Mirip banget!” Kelvin memberikan bantuan jawaban penuh ketegasan, setelah melihat bukti yang nampak di hadapannya beberapa hari silam.
“Udah jelas mukanya mirip sama lo, malah di chek DNA sama bokap lo.” Hanson mengungkap kejanggalan dengan olokan dari nada bicaranya.
“Kali aja kejadiannya sama kaya si Devand, dia juga mirip sama gue kan?” Sammuel menangkis ucapan Hanson, berbalas anggukan paham dari sang empunya.
Akan tetapi, seringai pekat tersirat di balik wajah Jackson, menanggapi ungkapan yang di rasanya seperti mengoloknya.
“Kalau gue ga tau tuh anak pernah jalan bareng sama bokap lo, ga mungkin gue punya pikiran kalau mereka ga berkaitan.” Jackson menyahut, mengutarakan tindakannya.
Dua minggu yang lalu, orang suruhannya membawa kabar duka itu. Bahwa, seorang anak berparas serupa dengannya telah melakukan perjalanan wisata dengan ayahnya.
Hanson serta Sammuel mengangguk paham, mengartikannya dengan senyuman kagum yang tertuju untuk kakaknya. Tidak di pungkiri mereka, Jackson di takdirkan memiliki kemampuan di atas rata-rata.
“Kenapa tuh kunyuk mau peduli sama anak itu kalau ga ada hubungan apa-apa?” Jackson berguman tidak karuan ketika ucapannya hanya tertuju untuk dirinya sendiri, akan tetapi lentingan nada suaranya membuat tiga pria menanggapi dengan seringainya.
“Gue rasa bokap lo penasaran sama tuh anak karena mukanya yang mirip sama lo,” sahut Kelvin berseru asal bicara, membuat telinganya mendengar dengusan kesal dari sang atasan.
“Mana ada alasan kaya gitu, lanjut selidiki aja,” balas Jackson berseru penuh penekanan tatkala ungkapannya mengandung titah yang tak bisa di tolak.
Hanya anggukan pertanda setuju yang terlontar Kelvin untuk jawabannya, sementara kedua pria lainnya menyerukan maksud hati hanya dengan saling menatap saja.
Ribuan kemungkinan terbersit dalam ingatan Jackson, akan tetapi tiada satupun yang menyudut ke arahnya. Bahkan, satu kemungkinan terlewati, ia melupakan jika dirinya telah menodai wanita dua belas tahun silam. Sehingga tidak terpikirkan olehnya jika anak itu adalah darah dagingnya.
“Oke, lanjut soal kesepakatan kerja sama di luar negri, mereka masih nolak,” seru Kelvin di sambut dengusan frustasi oleh Jackson. Belum usai satu risalah, risalah lain telah menantinya.
Kali ini, Jackson memerlukan bantuan. Sasaran utamanya adalah dua pria yang duduk besebrangan dengannya. Jackson bimbang menentukan pilihan, ia menatap bergantian kepada kedua adiknya. Pandangannya menepi pada wajah Sammuel, seketika membuat alis Sammuel terangkat mengisyaratkan rasa janggal di sana.
“Sam, kayanya lo harus turun tangan,” ungkap Jackson penuh keraguan, meyakini jika Sammuel akan menolaknya mentah-mentah.
Seperti yang telah di duga Jackson, Sammuel mendelik kesal membalasnya, begitupun dengusan kasar menyertai rasa jengahnya.
“Jangan lupa bawa pengacara,” seru Kelvin menyambung ucapan atasannya.
__ADS_1
“Oke, udah kan?” sahut Jackson memberi keputusan, menepis wajah murka Sammuel yang nampak begitu mengerikan terlihatnya.
“Ada lagi, soal madam-“
“Udah lah ga usah urusin dia dulu.” Jackson memenggal ucapan Kelvin secepat kilat, mendengar sebutan sang nenek terucap dari mulut asistant-nya, menggugah perasaan kesal di dalam jiwa. Sudah dapat di terkanya, jika perintah tanpa perasaan akan mengikuti kalimat itu.
“Dia mau datang ke sini kalau lo ga hubungi dia, dia ngasih waktu seminggu!” balas Kelvin bertegas hati, agar sahabatnya mendengar titah itu.
“Haissss nenek tua itu.. oke lah gue hubungi dia nanti, kalau ga lupa,” ujarnya sebagai penghujung perbincangan di kala tangannya mengulur untuk menekan tombol pengakhir panggilan.
Usai perbincangan itu, kejutan menghadap Jackson. Pertanyaan yang tersirat hanya dengan sorotan mata dari kedua adiknya, membuat gerakan tubuh menyertai rasa kejutnya.
Jackson mendengus kesal ketika pikiran mencerna isyarat di balik sorotan mata yang begitu tajam itu, sudah dapat di pastikan jika kedua adiknya ingin mengetahui makna dari percakapannya saat lalu.
“Kalian bisa ga sih cukup nikmati hasilnya aja?” Jackson memalingkan arah pandang ke sampingnya, menghindari tatapan yang kian tajam menyorot matanya. Ia meraih gelas miliknya, lantas mengangkatnya sebagai ajakan bersulang kepada kedua adiknya.
Sesungguhnya, ia ingin melerai situasi canggung itu. Akan tetapi, gerakan kikuk tidak dapat di sembunyikan.
Sammuel menggeleng menyikapinya, namun ia menyambut ajakan itu dengan melakukan hal yang serupa dengan Jackson. Begitu pula dengan Hanson, setelah tawa cibiran terhenti, ia menyahut ajakan sang kakak.
“Soal si Edwin juga, mending lo tau beres aja Hans. Lo pura-pura ga tau aja, biar gue gampang nyeretnya ke jurang,” tutur Jackson penuh percaya diri, mengikrar sebuah janji setelah berpikir panjang.
Hanson membalas ucapan itu dengan senyuman kagum, tak luput ungkapan terimakasih menyertai di dalam batin. Terlalu banyak pengorbanan yang di lakukan Jackson untuk dirinya, sehingga ia kesulitan untuk membalasnya. Maka, biarkanlah ia mengikuti keinginan sang kakak, sekalipun berbuah kepedihan setelahnya.
“Soal kerja sama tadi.. Sam, gue serahin sama lo, lebih baik bawa si Triana jadi pengacara lo.” Perintah itu membuahkan tatapan kejut dari Sammuel serta Hanson.
Hanson tidak terima untuk berpisah dengan sang kekasih dalam keadaan seperti sekarang ini.
“Kenapa harus sama cewe gue?” tanya Hanson sebagai penolakan keras, sehingga lentingan nada turut menyertai ucapannya.
Hanson melenguh rapuh, tiada yang bisa ia lakukan untuk menanggapi siasat yang tak ada salahnya sedikitpun itu. Meski batin meronta ingin mencegahnya, namun apalah daya tangan tak sampai.
“Ya udah gimana baiknya aja,” ucap Hanson memberi keputusan pilu.
“Udah kelar kan? Gue cabut deh, nanti ada yang manyun lagi.” Setelah beberapa menit menyimak perbincangan itu, Sammuel membuka mulutnya. Tanpa menunggu jawaban, ia baranjak meninggalkan kedua kakaknya.
Ketika pasang kakinya menginjak anak tangga terakhir yang terdapat di samping ruang keluarga, ia sengaja menghentikannya. Kelopak matanya terbuka lebar, menatap sosok wanita yang telah mengingatkannya pada kejadian silam.
Wajah anggun berpoles sedikit riasan, menyentuh bayangan ketika hati sempat menginginkannya menjadi tambatan hati. Tubuh terbalut busana minim bahan namun masih tampak sopan, mengusik kenangan yang telah terpendam sekian lamanya.
Perlahan kakinya bergerak, melangkah menghampiri satu-satunya wanita yang berada di dalam ruang itu. Di tengah langkah lambat itu, tak henti pasang mata menilik sosok itu. Cinta kasih yang telah sirna, kini bersemi kembali.
Seringai picik tersembunyi di balik siasat busuk dalam ingatan. Ini adalah kesempatan untuk memberikan pembalasan terhadap wanita yang telah tega mengkhianatinya.
“Bini gue ke mana Tri?” tanya Sammuel berbasa-basi.
“Ke toilet,” jawab Triana di akhiri dengan senyum mempesona, membuat pria yang telah duduk besebrangan dengannya terhipnotis seketika.
Sammuel menggelengkan kepala, menepis bayangan liar di dalam angannya. Akan tetapi, tatapan kian melekat, membuat Triana bergerak canggung di sana. Untuk pertama kalinya, Sammuel memiliki ketertarikan pada wajah seorang wanita.
Tatapan Sammuel buyar begitu saja, ketika Tara datang menampakkan diri di hadapannya.
__ADS_1
“Udah beres Sam?” tanya Tara.
“Udah.” Sammuel menyahut asal, perasaan bersalah kini tumbuh menyentuh kalbunya.
“Urusan apaan sih?” tanya Tara ketika berhasil duduk di samping suaminya.
“Lo ga usah tau.” Dendam yang terukir di dalam angannya, membuahkan cinta kasih menipis begitu saja. Sehingga, hawa kelam menyertai ucapannya.
“Ya udah kalau gitu, kita pulang yuk,” ajak Tara di sertai gerakan tubuhnya. Ia bangkit berdiri di tempat, seolah enggan jika keinginannya tidak terkabulkan.
“Ga mau pamitan dulu sama cowo lo?” Status sang istri yang selalu menjadi bulanan rasa cemburunya, kini terucap dari mulut Sammuel tanpa rasa bersalah.
“Aihhhh, masih aja bahas itu dodol.” Tara mendengus sebal di akhir kalimatnya, menyikapi ungkapan yang selalu enggan terdengar olehnya.
Seringai keji tersirat di balik wajah Sammuel, berbalas cubitan gemas pada hidungnya. Perlakuan yang dulu di nantinya itu, kini tidak lagi ia menginginkannya. Terlambat sudah sang istri menyambut kasihnya, setelah harapan menjadi puing-puing tak berguna. Romansa tiada lagi akan tercipta, kala sang hati dengan mudahnya berpaling. Kini, perlakuan itu terasa menjijikan baginya.
Sejenak Sammuel melirik ke arah Triana, memastikan jika kegiatannya tidak terlihat wanita itu hanya untuk menjaga hati sang wanita.
Suasana canggung tercipta di saat Triana mengetahui maksud dari tatapan kagum yang terlihat ujung matanya itu, sehingga ia hanya mampu tertunduk untuk menepisnya.
Situasi terpecah di saat Jackson serta Hanson datang menghadap mereka.
“Jack, cewe lo mau balik,” seru Sammuel mencibir dalam senyuman, membuahkan balasan cubitan pada pinggangnya.
“Apaan sih kamu.” ujar Tara.
“Udah putus resmi, kan melatinya udah gue terima,” balas Jackson kepada Sammuel, akan tetapi di sambut Tara dengan gelak tawa riangnya.
Sammuel tersenyum miris, menyikapi tingkah ceria itu. Selama ia hidup dengan sang istri, ia baru menyadari jika tawa pelepas bahagia itu hanya tercurah untuk kakaknya saja. Lantas, keyakinan diri akan pikiran buruk terhadap sang istri kian memantapkan batinnya.
“Aku pulang dulu Jack, besok harus kerja.” Lambaian tangan menyertai ucapan pamit Tara, senyum manis tersirat sebagai pelengkap.
Batin Sammuel kian meringis, melihat perlakuan sang istri terhadap kakaknya.
“Tri, kita juga pulang yuk,” ucap Hanson.
Triana menyahut dengan gerakan tubuhnya, ia beranjak hingga menepi di samping kekasihnya.
Tidak terduga Sammuel, jika ajakan pria itu terhadap Triana telah berhasil menyentuh rasa cemburunya. Terbersit bayangan pilu, bahwa sepasang insan itu akan kembali pada tempat yang sama. Jiwanya meronta, menginginkan sang diri menjadi penggantinya.
Amarah merangkak seketika, kala sepasang matanya melihat rangkulan tangan Triana pada tunangannya. Sammuel sudah tidak sanggup menahan debaran jantungnya, ia kemudian melangkahkan kakinya tanpa membawa istrinya dalam tuntunan.
Terpaksa, seluruh tamu yang tersisa, membuntuti langkah untuk menyusulnya.
Tertinggal Jackson sendiri, rupanya sejak ia menghadap para tamunya, ia terdiam meresapi keadaan. Tindakan yang nampak berbeda dari Sammuel, menyentuh rasa curiga akan terjadinya sesuatu di antara pasangan suami istri itu.
Namun, ia belum dapat mengungkap atau pun menpertanyakannya sebelum keyakinan hati di dapati.
•
•
__ADS_1
•
Tbc