Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 172


__ADS_3

Nasib diri memaksa kehidupan terhempas dari keinginan, puing-puing kebahagiaan perlahan mengikis, memutus harapan menuju masa depan nan cerah. Renungan demi renungan hadir mengusik hari-hari yang dilalui. Seperti yang terjadi siang ini, di dalam ruang kebangsaannya, Jackson terseret hanyut dalam bayangan kelam. Sehingga barisan pekerjaan terabaikan begitu saja.


Bukti-bukti akan jawaban masih ia nantikan, dari para pasukan mata-mata yang telah ia tugaskan. Akan tetapi, gelisah menggugah jiwa, di saat semua belum jua tiba pada waktunya. Hanya harapan tersisa sebagai keputusan terakhirnya, menyadari jika semua yang diinginkan tidak mudah didapatkan.


Terbesit keinginan untuk mencari pundak seseorang, berharap risalah hati dapat terbagi kepada sang tambatan hati.


Tidak! Jackson menyangkal begitu kerasnya, mengingat tiada seorang pun yang mampu mendengar keluh kesahnya. Lantas, kepada siapa ia harus mengadukan kisah prihatinnya itu?


Di tengah pergulatan pikiran yang tak kunjung mendapat penepian, pintu ruang terbuka, menampakkan dua orang wanita di baliknya. Jackson menyambut dengan senyum ceria, tak luput beranjak menghampiri kedua tamunya.


Di hadapan para tamu itu, Jackson bersimpuh tak berdaya, seolah mengucap syukur kepada Sang Esa. Sudut bibirnya kian terangkat jauh, menyiratkan senyuman lebih riang dari sebelumnya. Rasa haru hadir menyentuh sanubari, menembus bendungan air mata seketika.


Sejenak Jackson tertunduk kaku, merapatkan kedua kelopak matanya, menahan agar air payau itu tidak meluncur setetes pun.


“Daddy.” Suara imut itu melerai tindakan Jackson di sana. Queena menyambut sapaan ayahnya dengan rangkulan erat.


Jackson meraih tubuh mungil itu dalam genggaman, ia bangkit berdiri membawa Queena dalam pangkuan.


“Anak daddy, kangen sama daddy, hmm?” Kerinduan tercurah tanpa bisa di cegah, Jackson mengusap puncak kepala Queena tanpa ingin di hentikan. Tatapan cinta kasih menjelma, menatap wajah imut penuh suka cita.


Queena hanya mengangguk membalas ucapan itu, tak luput senyuman imut tersirat di balik wajah mungilnya.


“Aku ga sanggup ngurus dia, Jack.” Natalie melenguh frustasi di akhir kalimatnya.


Semenjak Queena berada di tangannya, tak henti ia merengek meminta kembali kepada ayahnya. Permintaan sepele itu ia abikan, akan tetapi membuahkan kebahagiaan dari sang buah hati tak nampak sedikit pun.


“Ibu macam apa kamu ini, Nat?” Jackson mencibir dengan tawa gelinya, membubuhkan tatapan mengolok terpancar pada wajah cantik yang sempat dikaguminya.


Natalie berdesis ngeri, menyimpan rasa malu di balik delikan matanya.


“Baru sehari dia tinggal sama aku, dia udah demam. Malah selalu manggil nama Mommy-nya,” tutur Natalie berterus terang, menjabarkan alasan kedatangannya.


Jackson kian mengoloknya, tawa kecil pencibir itu terlontar tanpa bisa dicegah. Membuat Natalie tersenyum kikuk membalasnya.


“I–itu cewe kamu kan, Mommy-nya Queena?” tanya Natalie memastikan.


“Bininya si Sam,” sahut Jackson tanpa perasaan, akan tetapi lirihan terbesit di dalam sanubari. Menyambut kepedihan atas status hubungan yang selalu membuat batin meringis sakit.


“Soal Queena–" Natalie menjeda kalimatnya, memikirkan cara sopan untuk mengungkap tujuan selanjutnya.


Beberapa detik Jackson menunggu potongan kalimat itu terucap kembali, membuat picingan matanya tersirat tanpa terkendali.


“A–aku kayanya ga bisa bawa dia lagi, aku serahkan dia sepenuhnya sama kamu.” Ragu mengatakan keinginannya, nada lemah menyertai barisan kata yang terucap. Natalie enggan jika pria yang telah kembali mengoloknya dengan senyum cibiran, mengira dirinya tidak sudi mengurus sang buah hati.


“Apa kamu yakin?” ujar Jackson hanya untuk berbasa-basi. Sesungguhnya, batin berjingkrak kegirangan mendengar kesepakatan yang begitu ia inginkan.


“Ya.” Natalie berpasrah diri, memberikan keputusan setengah hati. Anggukan kepala hanya terukir untuk pelengkap semata, agar pria yang tersenyum kepadanya tidak memikirkan hal lainnya. “Tapi ... aku masih bisa ketemu dia kan?”


“Kenapa engga?” sahut Jackson secepat cahaya, menepis kekhawatiran yang terpampang dari wajah di hadapannya. “Kamu ibunya Nat, darah lebih kental dari pada air.”

__ADS_1


“Seharusnya gitu kan, tapi kenapa dia kaya ga nyaman tinggal bareng aku?” ujar Natalie menyertai ucapan dengan nada lirihan. Namun, seketika perasaan itu kandas, mengingat jika sang diri yang telah tega menjauhi si buah hati. Sehingga, wajar saja jika belahan jiwanya tidak akan mendapat kenyamanan hidup bersamanya.


“Mungkin karna kamu kurang tulus menyayanginya,” ucap Jackson terabaikan lawan bicaranya, di saat ponsel Natalie bergetar di dalam tas kecilnya.


Natalie bergegas menjawab panggilan. Matanya menangkap nama calon suami terukir di balik layar ponsel itu.


“Ya,” sapa Natalie terjeda sesaat, ketika di sebrang sana menyuarakan ucapannya. “Iya, udah ini sama dia,” imbuhnya sebagai jawaban dari ucapan yang tak terdengar Jackson sedikit pun.


Setelah panggilan terputus, Natalie menatap ke arah pria yang sedang asik mengucek puncak kepala si gadis cilik. Senyuman terukir di balik wajahnya, seolah menyerukan rasa lega di sana. Namun, pada kenyataannya, ia menyembunyikan kekhawatiran akan suatu. Saat si buah hati tidak dapat menerimanya, jika saja terpisah terlampau lama.


“Jack, aku serahkan dia sama kamu,” ucap Natalie sebagai keputusan, senyum dalam kepedihan tersirat di balik wajahnya.


Dengan mudahnya Jackson menyibak makna senyum paksaan itu, akan tetapi tiada yang mampu ia lakukan selain menganggukan kepalanya. Ketulusan terpancar di balik sorotan mata menatap wajah cantik itu, memberikan penghibur agar mata yang berkaca-kaca itu tidak meneteskan airnya.


“Aku pamit, masih banyak kerjaan yang harus di bereskan.” Natalie melambaikan tangan, memberikan salam perpisahan setengah hati. Sehingga gerakan itu begitu terlihat lemah.


“Hmm,” balas Jackson hanya dengan dengungan.


Suasana haru menjelma, menembus angan Natalie hingga membuatnya dilema. Akan tetapi, keputusan telah diraihnya, membuatnya segera beranjak dari dalam ruang President Direktur itu.


Tatapan ratap menyorot punggung Natalie, duka terpendam di dalam sanubari Jackson. Tidak ia pungkiri, jika dirinya pun memendam sejuta kepedihan akan perpisahan itu. Lantas, ia turut melangkahkan kakinya, membuntuti Natalie di belakang.


“Ga usah nganter.” Pinta Natalie terucap sebagai penolakan.


“Narsis, aku mau bawa anak kamu ketemu Mommy-nya, kok,” sahut Jackson berbalas tawa kecil dari wanita yang masih berjalan memunggunginya.


Langkah kaki mengayun di atas lantai berbalut marmer itu, menggiring sepasang insan untuk menggapai tujuan masing-masing. Jackson terlebih dahulu tiba, ketika elevator mengantarnya lebih utama.


Ceklek. Suara gaitan pintu terbuka, terdengar nyaring dan menggema menembus suasana hening di dalam ruang.


Baru saja satu langkah menepi di balik pintu, sambutan manis didapati Jackson dari wanita yang berjalan dengan tergesa untuk menghampirinya.


“Queena.” Lengkingan suara dari Tara, menyerukan rasa rindu yang tercurah di sana.


Tidak menyia-nyiakan waktu, setelah Tara menghadap Jackson, ia mengambil Queena dari pangkuan ayahnya.


“Mommy kangen cama Quin?” tanya si gadis cilik dengan nada imutnya, membuat Tara tidak bisa jika tidak mencubit gemas pipi gembul itu.


“Kangen banget sayang,” sahut Tara.


“Repot amat sampai di antar ke sini,” seru Sammuel berbunyi nyaring, agar ucapannya terdengar sepasang insan yang berdiri menjauh darinya.


Tara berdecak ngeri membalas ucapan kelam itu, nada bicara bagaikan hawa di kutub utara selalu menggores batin sejak hari kemarin, tanpa ia tau pasti penyebab dari dinginnya sikap itu.


Hingga saat ini, semenjak ia menginjakkan kaki di dalam ruang kebangsaan milik suaminya, suasana canggung dalam keheningan berhasil mendobrak batas emosinya.


“Kenapa lo Sam?” tanya Jackson menyikapi ucap serta tatapan dingin dari pria yang dikiranya telah mengubah sikapnya sejak mengenal Tara.


Hening ... tiada sahutan dari mulut Sammuel, hanya tatapan dendam terpancar menyorot wajah istrinya.

__ADS_1


Rasa janggal kian merangkak dari dalam sanubari Jackson, akan tetapi ia hanya menyimpan di dalam hati.


“Aku bisa ajak dia keluar dulu bentar ga?” tanya Tara kepada Jackson, terbentuk dari isyarat tatapan harap menuju wajah pria itu.


“Kamu masih banyak kerjaan, beresin aja dulu.” Jackson gemas dibuatnya, sehingga tanpa ragu ia menyentil manja kening Tara, berbalas kerucutan bibir dari sang empunya.


“Keburu Queena pulang,” ujar Tara menimpali, memaksa hati Jackson agar mengabulkan keinginannya.


“Ga akan pulang, Queena udah sepenuhnya akan tinggal sama neneknya, selamanya.”


Mendengar hal itu, sudut bibir Tara terangkat manis. Menyemburkan rasa bahagia yang tidak dapat di sembunyikan.


“Ya udah kamu kerja dulu, aku bawa dia ke sini cuma mau ngasih lihat sama kamu aja,” ucap Jackson.


Tara mengangguk antusias, api semangat yang sempat padam akibat perlakuan suaminya, kini berkobar begitu saja.


Jackson mengabaikan hal itu, ujung matanya berpusat pandang pada pria yang duduk di atas kursi kebangsaannya. Samar-samar suara lenguhan menelusup telinga, ia menerka jika pasangan suami istri ini tengah dilanda perkelahian batin.


Terbesit siasat di dalam ingatan, ia memancing lenguhan itu dengan mengecup kening Tara. Seolah mengerti dengan maksud sang hati, Tara menyambut tingkah itu dengan hanya berdiam diri saja, tanpa ingin meronta sedikit pun. Seringai picik terukir di balik wajah, melihat Sammuel mengabaikan kegiatannya. Sudah dapat di pastikan, jika pria itu telah mengibarkan bendera putih akan perebutan cinta kasihnya.


“Sam, gue pinjem bini lo tar balik gawe, bantuin bawa anak gue ke rumah bokap lo,” pinta Jackson tanpa keraguan, di saat sang hati menerka bahwa Sammuel tidak akan mencegahnya.


“Oke,” jawab Sammuel.


“Besok lo ke luar negri, paspor sama pesawat udah gue siapin,” imbuh Jackson.


“Oke.” Singkat kata yang terucap lebih dari satu kali itu, membuat emosi Tara kian bergejolak.


Seandainya ia mampu, ingin sekali memukul kepala pria itu, berharap pria itu mendapat sedikit kewarasan.


“Art, kamu beresin dulu kerjaan kamu,” titah Jackson berseru tegas, enggan mendapat penolakan. Sehingga, ia meraih si gadis cilik dengan paksaan.


Tanpa menunggu jawaban, Jackson melangkahkan kaki, meninggalkan sepasang insan di dalam sana.


Tara pun demikian, ia mengabaikan pria yang telah mengusap wajah dengan kasarnya. Tak ayal langkah kaki membawa tubuh menuju meja kerja yang tersedia untuknya.


Setelah Jackson hilang dari pandangan, Sammuel melenguh rapuh. Semalam tadi, ia mencoba menghindari sang istri. Namun, apa yang terjadi? Frustasi kian datang menjemput diri.


Tidur terpisah ruang dengan istrinya, merupakan sesuatu yang begitu sukar di hadapi. Tidak banyak berbicara dengan sang istri, adalah sesuatu yang sulit dilakukan.


Sejenak ia tertawa gemas, di saat terbesit ingatan tentang kejadian di pagi hari tadi. Sekuat tenaga ia menahan diri agar tidak menyentuh tubuh sang istri meski hanya dengan kecupan saja, akan tetapi dengan mudahnya niat hati goyah di saat godaan datang menerjang.


Sammuel kembali melenguh frustasi, usai bayangan itu menghilang, pikiran lain terbesit di dalam angan. Ia belum dapat memastikan, jika dirinya akan menyerahkan sang istri kepada pria lain. Seperti apa yang di janjikan terhadap ayahnya. Lantas, ia kewalahan menentukan keputusan.


Kali ini, ia hanya mampu mengikuti alur kisah hidup seperti aliran sungai. Melihat ke mana semesta menentukan arah takdirnya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2