
Tiga hari telah berlalu, pacsa Triana mengikrar sumpah untuk membalaskan dendam Fiona terhadap kekasihnya. Dendam itu tak kunjung datang menjelma, ketika sisi kelembutan dari hatinya menyentuh rasa. Tidak pernah sedikit pun ia akan tega melakukan hal memalukan itu, akan tetapi janji telah terucap dengan pasti, sehingga ia hanya mampu menghindari pertemuan dengannya saja.
Ruang tidur yang terdapat di dalam kediaman Hanson adalah sasaran utama untuk persembunyian, agar ia dapat dengan mudah menghindari kontak mata dengan pria itu. Selimut ia gunakan sebagai penutup seluruh tubuhnya, agar raga tak terlihat oleh target siasatnya. Namun, pintu ruang terbuka lebar, mempermudah Hanson meninjaunya secara berkala. Untuk kali ke limanya, Hanson menampakkan diri di hadapan gulungan selimut berisi kepompong manusia di sana.
Seperti sebelumnya, Triana masih setia pada ringkukan tubuhnya. Tidak beranjak sedikit pun dari sana, bahkan tidak mengubah posisi hanya untuk menyapa tamunya dengan tatapan saja.
Hanson melebarkan sayap, memberikan senjata pamungkas untuk cara yang akan dilakukan. Ia beranjak, membawa diri merebah di samping Triana. Balasan delikan terpampang begitu tajam, tak ayal membawa tubuh bergerak membelakangi pria itu.
Tak akan pernah menyerah, selama tugu monas berdiri kokoh, Hanson tidak akan pernah mundur sedikit pun. Lantas, ia mendekap erat tubuh terbalut selimut tebal itu.
"Ngapain kamu ke sini?" Triana mengungkap ketus, mengusir pria itu secara halus. Namun, tawa gemas menyentuh indra pendengaran, berbunyi sebagai ungkap olokan. Membuatnya menyahut dengan dengusan sebal.
"Udahan dong marahnya." Hanson sengaja menggoda, mengucap kata dengan nada cibiran.
Triana menimpali dengan gerakan, menyingkap selimut dari tubuhnya. Sehingga dekapan tangan dibaliknya ikut terhempas.
"Besok kamu ke luar negri sama si Sam," ujar Hanson disambut rasa kejut dari sampingnya.
Tanpa di sadari, Triana memutar tubuh hingga menghadap pria yang kini tersenyum mewakili kemenangan.
"Minggir!" Tidak berhasil dengan cara halus, Triana mengusir tanpa perasaan. Membuat Hanson melenguh frustasi, akan tetapi ia mengabaikan titah itu. Tangannya kembali mendarat di atas tubuh Triana.
Plak! Jengah dengan tingkah manis itu, Triana memukul keras tangan yang melingkar pada pinggangnya.
"Galaknya," ungkap Hanson menggiring ringisan di akhir kalimat.
Triana bergeming dengan suasana hati kurang nyaman sambil menyesali tingkah lakunya. Ringisan kembali terlontar dari pria itu, membuat batin meronta ingin mengungkap permintaan maaf. Namun, niat itu terpendam di dalam angan, di saat rasa gengsi menembus keinginan.
"Aku ke luar negri mau ngapain?" ujar Triana mengalihkan suasana canggung itu.
"Jadi pengacara dia, ada tugas di sana yang butuh bantuan kamu."
Seraya Hanson menjabarkan alasan, seringai kemenangan terukir sebagai tanggapan. Cara Triana sukses, sehingga anggukan persetujuan terlontar begitu keras. Tak ayal senyum ceria melengkapi perasaan yang membawa semangatnya berkobar.
"Dengan senang hati," seru Triana riang, terukir di balik wajah berseri.
Hanson menanggapi dengan suka cita, mengira jika kepedihan telah sirna darinya. Tidak ingin berpikir lebih, ia merestui kepergian itu, selama berbuah kebahagiaan bagi sang pujaan hatinya.
"Senang hati karna berduaan sama si Sam, hmm?" Hanson mengolok, membubuhkan tawa cibiran di akhir kalimat. Membawa kembali paras di samping mencipta delikan mata.
"Ya, senang banget, ga dapat si Jack juga ga apa-apa dapat adiknya," ujar Triana menimpali sebal.
Tawa geli kembali menusuk indra pendengaran Triana, menembus batas emosi memicu rasa malu di sana.
"Aku juga adiknya si Jack–"
"Kecuali yang ini." Telunjuk Triana melenting ke arah Hanson, memberi tanda pada objek yang di sebutkan.
"Segitu bencinya kamu sama aku?" tanya Hanson hanya untuk bersenda gurau, akan tetapi lenguhan pedih menyertai kesungguhan.
Triana membungkam diri, di saat pasang matanya menyorot wajah meratap di sampingnya.
"Lebih senang bareng sama dia?" tanya Hanson kembali, di saat tiada suara menyahut ungkapan utamanya.
"Kamu juga senang bisa bareng sama mantan kamu 'kan?" seru Triana tidak mau kalah.
"Lumayan." Satu kata gurauan berhasil membuat tawa kecil tersirat di balik wajah lawan bicaranya. Menjadikan perasaan lega terungkap dengan helaan napas.
"Oke selamat, jangan menyesal kalau aku pulang udah berstatus Nyonya Nate!"
__ADS_1
"Silahkan, kalau kamu tega berkhianat sama sahabat kamu," sahut Hanson berhasil membungkam rapat bibir tipis itu.
Kerucutan bibir terukir di balik wajah jelita, di sambut tawa gemas oleh pria di sampingnya. Tak kuasa menahan rasa, Hanson mengecup bibir itu tanpa aba-aba. Sontak membuat Triana terperangah dalam kejutan, akan tetapi ia membiarkan pasang matanya tertutup dengan rapat. Seolah menyambut tingkah itu, sejenak ia menahan posisinya di sana.
Tidak ada tindakan berlebih hingga Triana tersadar membuka kembali kedua mata. Sambutan hangat didapati ketika kecupan itu terjadi untuk kedua kali.
"Bukannya kamu janji ga akan nyentuh aku?" Emosi tak tertahankan menyerukan lengkingan suara. Kedua telapak tangan mendorong keras tubuh Hanson agar segera menjauh dari hadapan. Namun, tiada berbuah hasil lantaran tenaga pria melebihi kekuatannya.
"Maaf." Tiada ketulusan di balik kata itu, terlihat dari kedua tangan Hanson yang terangkat, seolah menyerahkan diri. "Kamu bisa balas sepuluh kali lipat," imbuhnya di sertai isyarat tubuh, ia menyodorkan bibir yang telah mengerucut.
Emosi kian bergejolak, menanggapi permintaan yang sesungguhnya selalu di inginkan. Namun, demi tetap menjaga gengsi tinggi, Triana berpasrah diri memendam keinginan. Amarah tersalurkan pada bibir yang masih saja maju ke depan itu, ia menepuk dengan keras, membuat empunya membalas dengan tatapan sinis.
Nuansa romansa tercipta tanpa di sengaja, sepasang insan itu melanjutkan pertikaian manisnya.
**********
Pagi tak lagi nampak ceria, ketika tambatan hati pergi tanpa pamit. Gelisah kian menggerogoti angan, menuai duka tak dapat tertahankan. Kehampaan melanda hati di kala tiada paras didapati di atas tempat tidur saat mata terbuka. Kepergian Sammuel tanpa ia ketahui kapan itu terjadi, membuat rasa cemas tertimbun di dalam benak Tara.
Tidak terpikirkan olehnya tentang apa yang akan dilakukan, melihat keadaan ini begitu memprihatinkan. Namun, teringat kehadiran belahan jiwa di dalam kediaman mertuanya, ia pun berniat untuk mengunjungi.
Setelah usai bersiap diri, ia bergegas membuka pintu ruang. Namun, apa yang terjadi? Sebelum ia melakukan itu, pintu telah terbuka dari arah luar.
Tragedi pun tak sengaja menimpanya, sehingga tubuh terdorong keras oleh pintu itu, membuatnya bersimpuh di atas lantai.
"Kamu ngapain diam di belakang pintu?" Jackson menyapa dengan pekikan, ketika memasuki ruang di sambut dengan kejutan.
"Ga ada kerjaan banget aku diam di belakang pintu, aku mau keluar juga," sahut Tara berseru gemas, menanggapi ucapan konyol itu.
Jackson mengabaikan sahutan itu, ia bersimpuh di hadapan Tara. Menilik dengan cermat setiap jengkal kulit tubuhnya. Kelopak mata terbuka lebar, menangkap secercah luka tergores di atas lutut itu. Tidak banyak membuang waktu, ia meraih tubuh itu dalam pangkuan. Penepian mudah tergapai, di saat Tara tidak berontak sedikit pun.
Di atas sofa, Jackson melepas pangkuan, menumpukkan tubuh itu dengan penuh kewaspadaan. Lantas, tanpa titah, ia duduk tepat di samping Tara.
"Mau ajak kamu ketemu orang di hotel A," jawab Jackson berbuah kejutan tiada terkira bagi lawan bicaranya.
Nama tempat yang di sebut itu mengundang bayangan kelam terbesit di dalam angan. Penyesalan tak kunjung enyah darinya, sehingga Tara tidak ingin mengingat atau mendengar barang sedikit pun mengenai tempat itu.
"Sorry, aku ga bisa ikut." Tara menolak begitu tegas, setegas tatapan menyorot wajah tampan yang telah tersenyum miris menanggapi ucapan.
Jackson memahami arti dari sikap itu, sehingga ia tidak ragu mencari buah alasan agar Tara sudi menerima ajakannya. Namun, sebelum suara terlontar, baris kata tertahan ucapan Tara.
"Ga ajak Fiona aja?" Tara memelas, mengumandangkan nada prihatin di sela ucapannya.
"Dia sibuk ngurus kasus korupsi."
Tiada sambutan dengan suara, Tara hanya mengangguk sebagai pemahaman. Begitupun mulut Jackson, terbungkam dalam pikiran melayang.
"Kamu takut lihat tempat itu? Apa pertemuan kita di sana waktu dulu bikin kamu trauma?" Jackson mengungkap terkaan, berbalas lenguh frustasi dari lawan bicaranya.
"Bukan sama kamu, tapi sama pria lain," sahut Tara di sambut tatapan kejut oleh Jackson.
Tidak pernah terduga, jika pria lain telah berhasil membuat hatinya terluka. Emosi menyentuh asa, mendengar kenyataan pahit terucap dari sang belahan jiwa. Jika saja Jackson mengetahui siapa pria itu, ia menjamin kerugian batin Tara akan terbayarkan dengan segala siasatnya.
"Pria lain?" Jackson mengulang ucapan, menyemburkan rasa penasaran yang tak tertahankan. "Siapa dia?"
"Aku ga bisa bilang sama kamu," sahut Tara berakhir dengan senyum ceria, ketika terbesit bayangan wajah si buah hati dalam ingatan.
Jackson menanggapi dengan tatap kejanggalan, melihat senyum manis terlontar bukan untuk dirinya.
"Art ..." Satu kata terucap, terjeda sesaat, menunggu wanita itu mengarahkan tatapan kepadanya.
__ADS_1
Sesuai keinginan, Tara mengunci tatapan pada wajah yang memancarkan aura kesungguhannya di sana.
"Oke kamu boleh nolak buat pergi ke sana, tapi buat siapa pria itu ... aku harap kamu mau mengatakannya." Lenguhan pilu mengakhiri ucapan, Jackson mengharap ungkap ratapan itu mendapat jawaban.
Senyum miris terukir di balik wajah jelita, di tanggapi Jackson sebagai olokan.
"Kamu yakin mau dengar siapa dia?" ujar Tara berteguh hati, akan membawakan berita bahagia itu jika memang kini sudah menjadi saat untuknya.
Jackson tidak menyahut dengan ucapan, anggukan antusias mewakili jawaban 'iya'. Lantas, setelah mempersiapkan diri, Tara menatap lekat wajah Jackson. Menyembunyikan debaran jantung yang berdetak tanpa irama, atas apa yang akan terucap sekarang ini.
"Semua ... berhubungan sama kamu. Tentang kenapa aku mencintai kamu!" ungkap Tara hanya sepenggal, akan tetapi di balas anggukan seolah memahami. "Karna kamu mirip seseorang."
"Dia kah itu?" Jackson menerka dengan pasti, wajah percaya diri terpampang begitu tegas. "Alev bukan?" imbuhnya memperjelas, berbalas tatapan kejut dari samping.
Bungkam ....
Tara merapatkan belah bibirnya, lidah terasa kelu meski hanya untuk menjawab satu kata saja. Batin bergemuruh rancu, kembali mempertimbangkan apa yang akan di ungkapkan.
"Bukan? Berarti ayahnya Alev?" Suara Jackson kembali bergeming, sebelum ia mendapat jawaban kata, ia tidak akan memutus introgasi.
Hening ....
Tara terdiam seribu bahasa, hanya tatapan lara terlontar sebagai jawaban.
"Oke aku paham." Hingga pada akhirnya, Jackson memberi keputusan. Mengutarakan terkaan yang tercipta dari bungkaman mulut itu. "Dia ayahnya Alev," imbuhnya berbalas gelengan kepala.
"Jack–" Tiada mampu melanjutkan kalimat, derai air mata mewakili perasaan.
Jackson tercengang melihat derai air mata terjatuh membasahi pipi, segera ia mengulurkan tangan, menghapus tetesan itu dengan penuh kelembutan. Tak kuasa membiarkan ratapan di sana, ia menarik tungkak kepala Tara, membenamkan di atas bahunya.
"Apa yang mau kamu bilang tadi?" Jackson mengusap puncak kepala itu, menyemburkan cinta kasih di balik kelembutan.
Isak tangis kian menyayat, menahan kata yang akan terucap. Namun, Tara memaksakan diri, mengungkap jawaban meski hanya dengan satu kata saja.
"Ka–mu benar a–ku masih menginginkan ayahnya Alev," ujar Tara terbata-bata sehingga hanya suara samar terdengar.
Namun, Jackson meresapi setiap barisan kata yang terucap. Sehingga menyulut api cemburu begitu mudahnya.
"Siapa Alev sebenarnya?" tanya Jackson berseru ketus.
Tara merasa janggal dengan nada bicara yang tak pernah ia dengar dari Jackson, sehingga membuatnya menarik kepala dari bahu sang pria. Ia memaksa tangisan terhenti, agar mampu memberikan senyum penghibur bagi wajah yang telah memendam amarah di sana.
"Dia ... anakku." Tara menyahut pertanyaan saat lalu, senyum lelucon tersirat di balik wajah, membuat Jackson menanggapi ucapan sebagai gurauan.
Emosi telah sering dipendam, tak sedikit pun ingin dia tunjukkan, akan tetapi kali ini semua tertumpah ruah. Rasa cemburu telah merasuk ke dalam jiwanya, membuat emosi Jackson merangkak tanpa ingin di tepisnya.
Bayangan buruk terbesit di dalam ingatan, menyatakan jika wanita yang di cintainya diam-diam memiliki hubungan khusus dengan pria selain dirinya. Bahkan buah dari cinta itu telah tumbuh hingga menjadi pria dewasa. Ia mulai memahami, cinta kasih darinya tidak akan mendapat balasan.
Amarah menyerang asa, menerka jika ayah dari anak yang di sebutkan memiliki paras serupa dengannya. Terbukti dari wajah anak remaja yang sempat di lihatnya saat lalu. Kesimpulan menjadi keputusan, menyatakan jika Tara menginginkan dirinya hanya karena paras yang di miliki. Hal itu, memicu api cemburu kian menjalar membakar seluruh raga.
Kecewa di dapatinya, mengundang amarah kian menusuk ke dalam asma, membuatnya kehilangan kendali diri. Tanpa ucap kata, Jackson berlalu begitu saja dari hadapan Tara.
Tara hanya mampu melenguh pasrah dan membiarkan kepergian Jackson. Ia mengira jika pria itu murka terhadapnya akibat kabar berita yang di sampaikan olehnya saat lalu.
•
•
•
__ADS_1
Tbc