Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 182


__ADS_3

Terik mentari turut memanaskan suasana di tengah lapang basket. Terlihat sorot mata tajam saling membalas dari kedua pria dengan rentang usia berbeda. Jakson kini mengabulkan keinginan dari remaja di hadapannya saat lalu. Dengan begitu, ia akan segera mengetahui hasil secepat mungkin.


Suara peluit menggema di udara menandai mulainya sebuah pertandingan. Sesaat Jackson mendapat kesulitan lantaran tidak mengenakan busana untuk yang seharusnya. Balutan tuxedo pada tubuh bagian atas terpaksa ia lepaskan, tertinggal kemeja merah hati serta celana panjang hitam yang ia kenakan. Meski risih ia rasakan, akan tetapi semangat tak akan pernah goyah demi mendapat keinginannya.


Situasi nampak mendukung mereka, di saat jam istirahat seluruh murid itu tiba. Ratusan pasang mata menyaksikan kegiatan di sana, sorak ramai dari kaum hawa menggema lantang, memberikan penyemangat bagi anak remaja yang memimpin permainan.


Waktu terus berjalan, mereka nampak masih saling memperebutkan sebuah bola. Mereka saling memamerkan kemampuan yang tak kalah hebatnya. Menjadi lawan untuk sementara, saling mempertahankan keinginan untuk menjadi pemenangnya.


Sudut bibir Jackson tertarik manis, di saat mendengar sorakan memanggil nama lawan mainnya. Rasa kagum menelusup ke dalam angan, mengingat para kaum hawa itu menyukai paras yang serupa dengannya.


Detik-detik terakhir permainan akan usai, Alev tersadar akan keadaan. Jika dirinya menjadi pemenang, bagaimana bisa ia memberikan hadiah restu pada ayahnya. Sehingga terbesit niat dalam pikiran, ia terpaksa mengalah untuk memberikan kesempatan kemenangan kepada ayahnya. Sesuai yang di inginkan, Jackson menjadi pemenang pada akhir waktu penentuan.


Usai menyelesaikan satu babak permainan, Jackson duduk berselonjor di tengah lapangan itu. Berusaha menghempas rasa lelah dengan menikmati embusan angin di sana.


Alev mendapat kesempatan untuk memberikan bakti kepada ayah yang tak pernah ia temui sebelumnya. Kali ini, ia memberikan sebotol minuman dingin kepada sang ayah.


Sebelum menyambut pemberian itu, senyum wibawa terukir di balik wajah Jackson. Mengungkap rasa terima kasih hanya dengan siratan wajah ceria saja.


Alev menyambut tindakan itu, ia turut duduk di samping ayahnya. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan emas untuk mendapat kehangatan dari suasana yang tercipta, sehingga tanpa keraguan ia melepas rasa ceria dengan berniat untuk memulai perbincangan. Namun,


"Kamu, hebat juga bocah." Jackson melontarkan pujian, membuat Alev tersenyum bangga menyambutnya. "Tapi ... tetap aja kamu kalah."


"Aku ga kalah, aku hanya mengalah." Alev menyangkal begitu tegasnya, saat kejujuran menyertai ucapannya.


"Kamu malu?" Jackson tidak ingin menjatuhkan harga diri, sehingga mencibir Alev dengan lontaran tawa kecil.


"Sudahlah." Alev melenguh frustasi, tidak dapat memberikan alasan agar sang ayah menpercayai ucapannya. Namun, tawa cibir kembali menusuk indra pendengaran, membuat pasang mata menyorot dendam wajah sang ayah.


Jackson menyeringai gemas, saat mengetahui alasan mengapa emosi itu terpampang begitu jelasnya. Sedikit banyak sikap yang di miliki Alev ada pada dirinya, sehingga dengan mudah ia menerka maksud dari tindakan itu.


"Masih mau lanjut?" tanya Jackson.


"Hei kau pria tua, apa staminamu masih menyanggupi?" Sepasang telinga Alev mendengar helaan nafas terengah-engah sebab kelelahan menyembur dari mulut Jackson. Tak ayal sudut bibirnya naik sebelah sebagai tanda cibiran.

__ADS_1


"Bocah ini ... kamu meragukan staminaku tuan muda. Asal kamu tau, staminaku itu kaya kuda. Aku masih sanggup buat sepuluh kali lipat orang sepertimu." Jackson menyahut cibiran itu dengan gurauan, akan tetapi berbalas decakan dari sampingnya.


"Kau masih bisa mengalahkan seratus orang sepertiku?" Alev berdecak sebal, ia mengetahui jika ayahnya bisa menjadi pemenang lantaran ia yang mengalah. Namun, ia tidak menyadari jika diri telah keliru memberikan arti dari ucapan ayahnya.


Jackson mencipta gelak tawa, menanggapi balasan ucapan dari pria yang masih terlihat polos itu.


"Alev, jangan lupa dengan janjimu," tutur Jackson setelah menghentikan tawanya.


"Lihat nanti, aku belum bisa memutuskan." Alev sengaja menggoda agar rasa suka cita tidak cepat tersingkir darinya.


Seringai gemas membalas ucapan itu, saat Jackson mengingat sikap yang di miliki wanita pujaannya.


"Kamu memang anaknya," ungkap Jackson disertai uluran tangan, mengusap penuh cinta pada puncak kepala Alev. Sejenak, telapak tangan terkunci di sana sambil meresapi suasana menghangat tanpa di sengaja.


Alev memberi kemudahan baginya, ia membiarkan sang ayah meresapi tatapan pada wajahnya. Tidak dapat di pungkiri, ia pun menginginkan hal itu terjadi kepadanya.


"Anaknya siapa?" tanya Alev memecah suasana seketika.


Jackson tidak ingin terlalu dalam tenggelam dalam kekecewaan. Jelas, wajah di hadapannya mengingatkan pada pria saingan dirinya. Sesegera mungkin, ia pun melepas tangan dari sana. Lantas, ia kembali meresapi embusan angin yang perlahan masuk ke pori-pori kulitnya. Wajah mendongkak menatap langit cerah, mengucap harapan di dalam batin agar mendapat kemudahan bagi usahanya merebut hati ibu dan anak itu. Namun, percikan harapan terhenti berseru, saat terbesit ingatan tentang ibu dari anak itu.


"Al, kamu jangan bilang pada mama kamu kalau aku datang mencarimu." Jackson berseru penuh penekanan seolah ancaman tersirat di baliknya. Ketika pasang mata menyorot tajam wajah yang serupa dengannya itu.


"Ho ... ho, kau mengajarkanku untuk berbohong?" Alev menyeringai, mendapat kepuasan akan diri yang tidak dapat menghentikan hujaman penggoda untuk ayahnya.


"Ini semua buat kebaikanmu juga, bocah." Jackson menyahut kian tegas.


"Orang dewasa memang pintar membual." Kembali Alev menerjang angan sang ayah dengan ungkapan cibiran.


"Bocah ini ..." Jackson melenguh pasrah, tidak pernah ia kesulitan menimpali seseorang, bahkan kini oleh seorang anak remaja. "Kamu ga kelihatan kaya anak SMP," imbuhnya setelah mengingat sesuatu.


"Kau bukan orang ke seratus yang mengatakannya."


"Benarkah?"

__ADS_1


Alev menggangguk penuh percaya diri menyahut ucapan itu agar terlihat meyakinkan hati. "Itulah kenapa sekarang di usiaku yang ke dua belas aku udah masuk kelas tiga SMP, karna menurut pakar genius otakku menyerupai anak usia dua puluh tahun."


Anggukkan menyertai Jackson saat memahami tentang anak itu. Ia meyakini jika anak itu memiliki kelebihan di atas rata-rata. Terlihat dari tinggi tubuh yang hanya berbeda satu jengkal saja dengannya, bahkan kemampuan dalam bermain bola basket yang baru saja terlihat olehnya. Dengan demikian, ia tidak merasa heran jika ayahnya mengakui itu semua, sehingga menjalin tali persaudaraan tanpa mengatakan kepada anak-anaknya.


"Tetap aja ... apa kamu ga takut otakmu pecah?" ujar Jackson berbalas picingan mata dari Alev.


"Apa maksudnya?"


"Sudahlah, jangan mengalihkan perbincangan, kamu belum menyetujui permintaanku. Jangan katakan sama mama kamu kalau aku datang menemuimu." Jackson mengulang ucapan di saat jawaban belum di dapat.


Tanpa ia ketahui, Alev lebih merasa takut jika itu terjadi. Maka dari itu, ia tidak usah bersusah payah untuk memaksakan mulut Alev agar tertutup. Mendengar permintaan itu, membuat Alev mendapatkan siasat.


"Maaf tuan, aku ga bisa melakukannya, kecuali kau berjanji untuk membuatku tinggal satu rumah sama mamaku." ungkap Alev berakhir dengan lirihan, berbuah tatapan pedih menyertai setiap baris katanya.


Jackson tersenyum simpul memberikan penghiburan pada wajah yang masih melirih menatapnya. Di balik senyum, ia menggundam kepiluan. Menerka dengan mudahnya jika sang ibu dari anak itu tidak pernah memberikan kesempatan untuk hidup bersama. Lantas,


"Baiklah, aku akan berjanji untuk itu. Tapi, kamu harus bersabar." Turut merasakan apa yang di derita, Jackson mengikrar sumpah tanpa berpikir jika permintaan itu akan sulit ia kabulkan.


Meski tidak mendapat keyakinan, Alev menyambut dengan keceriaan. "Aku setuju."


"Anak pintar." Senyum menawan kembali tersirat di balik wajah Jackson, membalas rasa ceria yang terlihat dari pancaran mata Alev.


Alev mengungkap rasa syukur, merangkul tubuh ayahnya tanpa memikirkan gengsinya yang tinggi. Tiada pernah ia berlaku demikian, akan tetapi kali ini ia memberanikan diri. Melepas kerinduan pada dekapan yang bersambut usapan pada puncak kepalanya. Suasana berganti ceria, tanpa ada rasa haru bagi mereka yang telah terpisah sekian lama.


Seandainya Jackson tidak di butakan cinta, ia akan dapat mengungkap jati diri Alev dengan mudah. Namun, nasib berkehendak lain, ia terpaksa menyayangi darah dagingnya tanpa mengetahui.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2