Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 138


__ADS_3

Di depan pintu ruang President Direktur itu Fiona membeku canggung lantaran Hanson sudah berdiri di sana dengan sebelah tangan yang tengah membuka pintu ruang itu.


Hanson masuk ke dalam ruang itu sejenak menahan langkahnya membukakan pintu untuk Fiona yang membuat wanita itu menatapnya penuh heran.


"Silahkan." Hanson melentangkan tangannya yang menggenggam map hitam itu membuat Fiona mendengus ringan menyikapinya.


"Thanks."


Enggan memperpanjang tatapannya pada wajah tampan yang masih di kagumi hatinya, Fiona pun segera melangkahkan kakinya di susul Hanson di belakangnya.


"Boss, manggil?" tanya Fiona saat ia telah berdiri di hadapan pemilik ruang itu.


"Hmm." Jackson berdengung dalam anggukannya membalas ucapan Fiona, namun tatapannya tertuju pada wajah Hanson yang juga berdiri di hadapannya tepatnya di samping kiri Fiona. "Kenapa Hans?"


"Dia dulu aja,” tunjuk Hanson pada Fiona dengan dagunya.


"Kalian ga pegel apa, sini kamu!" Jackson mengibaskan tangannya pertanda Fiona harus mendekatinya.


Fiona mendengus menyenggal titah atasannya yang di rasanya tidak masuk akal itu, namun suatu siasat terbersit dalam angannya untuk mengerjai pria yang berdiri di sampingnya, lantas tanpa kata ia pun melangkahkan kakinya menuju arah di mana Jackson berada.


Kini Jackson bangkit lantas menyeret lembut tubuh Fiona hingga wanita itu duduk di atas kursi kebangsaanya, sedang ia sendiri kini menyandarkan tubuhnya pada penyandar kursi kebangsaannya dalam posisinya yang berdiri.


Tangan Jackson mengulur meraih lembaran kertas yang telah berserakan di atas meja kerjanya.


"Sayang.. nih konsep pernikahan kita, lo tinggal pilih mau yang mana-mananya." Jackson menyerahkan lembaran kertas itu pada Fiona, namun ujung matanya berpusat pada adiknya di sebrangnya yang tengah tertunduk kaku di tempatnya.


Rupanya Hanson menyembunyikan senyumnya di sana, tidak di pungkirinya jika ia turut merasakan kebahagiaan pada mantan kekasihnya yang akan segera menikah dengan kakaknya.


"Bisa ga kalo gue konsultasi sama cewe lo?" tanya Fiona kepada Jackson.


"Bisa, sekalian konsultasi penyakit jiwa lo,” sahut Jackson mencibir membuat calon istrinya menatapnya penuh dendam.


"Apaan sih?" senggal Fiona merasa malu dengan ledekan dari calon suaminya lantaran seorang pria telah tertawa kecil di sana.


"Udah jelas lo calon bini gue malah ngomongin si Tara cewe gue?" ujar Jackson berseru sebal.


"Lah kenyataannya gitu,” balas Fiona tak acuh mengabaikan kehadiran mantan kekasihnya di sana hingga ia menyambut pertengkaran kecil dari calon suaminya itu.


"Lo pengen denger gue bilang putus sama dia apa?" ucap Jackson kembali.


"Gue pengennya lo ngomong sama gue udah putus apa belomnya,” sahut Fiona.


"Beneran deh lo sakit jiwa, lo kata gue bocah SD apa?" Jackson kian gemas di buatnya hingga ia melotot tajam menatap wajah jelita itu.


"Ya ya ya udah!" Fiona berpasrah diri untuk mengalah meski nada bicaranya terdengar menyebalkan, lantas ia bangkit dari duduknya dengan gaya kasarnya. "Gue temuin dia sekarang kalo gitu."


"Dia ga masuk hari ini,” jawab Jackson seolah menyenggal tubuh calon istrinya yang terlihatnya akan meninggalkan ruangnya.


Namun persetujuan nampak di baliknya kala ia mengambil alih kursi bekas penopang tubuh Fiona itu.


"Loh kenapa?" tanya Fiona cemas jika saja terjadi sesuatu pada sahabatnya yang telah lama tidak berkomunikasi dengannya.


"Ngurus lakinya yang lagi frustasi kali,” ucap Jackson berseru kesal bahkan membuahkan nada lirihan di baliknya.


Perasaan enggan merelakan itu masih bersarang pada benak Jackson yang membuatnya sulit mengakui jika sang kekasih adalah istri dari adik kandungnya, hal itu lah yang membuat nada bicaranya memekik pedih di sela kalimatnya.

__ADS_1


"Si Sam juga ga masuk?" tanya Fiona.


"Hmm." Napas Jackson mulai tersendat menahan nyeri di dalam batinnya setelah menerka sepasang insan yang menjadi objek perbincangannya tengah bersuka ria entah di mana.


"Kenapa emangnya Jack?" tanya Hanson menginterupsi di sambut kakaknya dengan dengusan kesalnya.


"Denger soal gue kawin dia mikirnya gue mau kawin sama bininya, kemaren dia ngaku sambil ngurung diri di lantai 60." Jackson menjabarkan penjelasannya hingga membuat Hanson menggelengkan kepalanya.


Hanson tidak mengira jika pria keras kepala bernama Sammuel Nate Charington itu akan mampu terkoyak hatinya oleh seorang wanita bahkan membuatnya berani melakukan tindakan konyol.


"Dia ngaku sama lo kalo dia udah kawin sama si Tara?" Mulai Hanson tersenyum riang, namun bukan maksud untuk menertawai kakak keduanya yang telah mengangguk ngeri di hadapannya.


"Hmmm." Masih Jackson menahan rasa nyeri di hatinya hingga membuat bibirnya seakan sulit untuk menjawab pertanyaan adiknya.


"Moment langka tuh." Ini adalah ucapan Fiona yang membuat dua pria di sekitarnya menatapnya dalam tawa kecilnya.


"Lumayan lah gue pancing juga masih bisa ternyata." Kini Jackson mengarahkan tatapannya menuju arah Fiona yang masih berdiri di sampingnya. "Lo ga mau balik gawe lagi, apa mau di potong gaji?"


"Ga apa-apa potong gaji, gue punya saham ini di sini." Fiona menyerengeh seraya mengucek puncak kepala Jackson membuat empunya menepisnya dengan ganasnya.


"Gue cabut saham lo, baru tau lo." Lantas Jackson merapihkan kembali rambutnya.


"Ga apa-apa juga, gue punya laki kaya ini." Lagi Fiona memberikan lelucon ringan bertujuan menyindir Hanson.


Benar adanya, Hanson masuk dalam perangkap mantan kekasihnya hingga ia tertunduk kaku merasakan pedih dari hatinya.


"Dia lo ajarin begini Hans?" Jackson mencibir di iringi tangannya yang menunjuk Fiona namun matanya melirik wajah adiknya sejenak.


Hanson tertawa menyikapinya. "Lo yang ngajarin kan?"


"Kapan?" tanya Jackson melupakan segala perintahnya pada calon istrinya saat dahulu kala.


Jackson tertawa ledek melihat tingkah wanita itu, sementara Hanson menggelengkan kepalanya, namun nereka tetap membiarkan kepergian wanita itu.


Setelah Fiona menghilang dari ruang itu, barulah Hanson mengungkap tujuannya, ia menghempas map yang berada pada genggamannya ke atas meja.


"Bukti si Cakra udah ketemu semua di sana,” tunjuk Hanson dengan dagunya pada map itu.


Jackson menyambutnya dengan meraihnya. "Akhirnya kelar juga, ini yang gue tunggu-tunggu."


"Belom kelar kalo masih ada si Edwin."


"Tenang aja, anaknya ada di tangan lo ini." Jackson menyeringai keji mengartikan sebuah siasat tertanam di dalam otaknya yang terlihat Hanson begitu mengerikan.


"Gue ga mau jadiin dia umpan."


Entah mengapa batin Hanson menolak keinginan kakak keduanya yang di rasanya akan merugikan bahkan membahayakan seorang wanita yang kini menjadi belahan jiwanya.


"Lo_ demen sama dia?" tanya Jackson terpenggal sesaat kala ia menaruh map itu ke dalam laci meja kebangsaannya.


"Rencana gue juga mau ngawin dia secepatnya,” sahut Hanson berteguh diri dengan niat sang hati yang terpapar dari nada bicaranya yang tegas.


"Sukurlah kalo lo udah sadar."


"Hmmm, tinggal lo!" Ledek Hanson membuat kakaknya tertawa kecil di sana.

__ADS_1


"Gue mah ga akan bisa sadar kalo si Tara masih jadi ade ipar gue."


"Sinting lo!"


"Udah dari dulu mah gue sinting,” balas Jackson bergurau ringan yang mendapat balasan gelengan kepala dari adiknya. "Sorry Hans gue lupa harus ke rumah bokap lo."


"Oke lanjut."


Jackson hanya mengangguk faham membalas ucapan itu namun tubuhnya mulai bergerak untuk beranjak dari ruang kebangsaannya.


Seperginya Jackson yang sudah menghilang dari ruangnya, Hanson menghampiri Kelvin yang tengah bersibuk ria dengan pekerjaannya menatap layar alat media yang terletak di atas meja di tengah ruang itu.


Tanpa mendapat sambutan, Hanson berhasil mendaratkan tubuhnya di atas sofa besebrangan dengan Kelvin membuat pria itu menghentikan kegiatannya.


"Vin gue yakin lo tau sesuatu soal rencana si Jack sama si Fiona," tanya Hanson di iringi nada lirihnya.


Sejenak Kelvin terdiam untuk mencerna ungkapan itu tak ayal mencari jawabannya di sana, setelah mendapatkannya ia pun melekatkan pandangannya pada mata Hanson di depannya. "Rencana bikin lo jatuh hati sama si Fiona?"


"Hmm." Hanson mengangguk keras mewakili ketegasan sang hati yang ingin sekali mendapat jawabannya sesegera mungkin.


"Akhirnya lo nanya juga, si Fiona emang minta pendapat si Jack, si Jack kebetulan butuh saham bokapnya buat lo biar bisa ngimbangin saham si Sam. Muncullah rencana-rencana aneh dari si Jack, bikin si Fiona jadi anggun lah biar dapet klient yang bisa nunjang kehidupan dia di masa depan, caranya nyuruh dia ikut-ikut arisan bareng Celia, malah dia sampe merintah si Fiona buat sering nge-mall nyari baju bagus kalo datengin acara-acara begituan," ungkap Kelvin menjabarkannya dengan seksama.


Hanson tertegun di sana, yakinlah ia pada sang hati yang telah merundung rasa sesal atas perbuatan kejinya pada wanita itu saat lalu, namun ia menepis rasa bersalahnya tat kala sang hati bergeming jika tidak sepenuhnya kesalahan berasal darinya melainkan dari tindakan kakak keduanya.


"Oke cukup!" Hanson melentangkan tangannya, sudah tidak mampu ia mendengarnya akibat rasa penyesalannya yang menyeruak dari dalam asmanya.


Kelvin tersenyum seraya menggaitkan kedua tangannya di dadanya merasa lega atas sikap rancu yang terpampang dari wajah lawan bicaranya. "Lo ga sanggup denger selanjutnya karna lo udah keterlaluan sama si Fiona?" tebaknya tidak salah sama sekali.


"Ga juga, gue jadi pengen hajar abang sial*n gue." Hanson bergurau hanya untuk menghibur dirinya semata.


Kembali Kelvin menatap wajah Hanson dengan picingan matanya. "Kalo lo tau dari awal si Fiona cewe baik, apa lo masih ga mau terima dia?"


"Gue ga pernah bilang dia baik, lo inget kejadian dia ngeracun si Jack?" senggal Hanson secepat kilat.


Kelvin mulai melirih mengingat kejadian naas itu hingga menbuatnya menarik napas dalamnya lantas menghembuskannya perlahan. "Itu rencana gue biar si Jack mau bantu tuh cewe."


"B*ngke juga lo, sekarang gue malah pengen nonjok lo,” ujar Hanson berseru emosi setelah mengetahui kisah sesungguhnya yang dapat di cernanya secara langsung jika seluruh kesalahan mantan kekasihnya berasal dari orang lain termasuk pria yang telah memaparkan wajah rancunya di hadapannya.


"Awalnya gue pengen jodoin tuh cewe sama si Jack biar dia ngelepasin cewe malem itu, gue ga tau kalo si Tara pinter makanya gue pikir si Tara ga pantes buat si Jack,” sahut Kelvin penuh penyesalan.


"Lo harusnya ucapin makasih sama si Sam, ga di sangka kan dia yang bikin si Jack lepas sama tuh cewe?"


"Gue juga harus makasih sama lo yang udah benci sama si Fiona."


"Ga usah ungkit itu lah, bikin emosi aja.” Hanson belingsatan di sana membuat Kelvin menyeringai faham dengan itu.


"Lo emosi sama diri sendiri Hans, lo nyesel."


"Anggap aja gitu." Batin Hanson mulai rancu, dengan sengaja ia bangkit berdiri untuk mengakhiri perbincangannya yang membuat penyesalan itu semakin membakar perasaannya.


Lantas ia berlalu begitu saja dari hadapan Kelvin yang di biarkan Kelvin dengan hanya menggelengkan kepalanya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2