
Jackson sudah duduk gagah di atas kursi kebangsaannya, ratusan dokumen masih selalu menjadi teman hidupnya setiap harinya. Selepas menenangkan hati Fiona saat lalu, kini ia kembali melakukan rutinitas kesehariannya membuat rasa cemas pada wanita itu berpaling sementara.
Kriettt..
Pintu ruang kebangsaan milik President Direktur perusahaan nomor wahid itu terbuka lebar, nampak di baliknya Hanson tertawa meledek kala melihat pemilik ruangan telah mengacak rambutnya di sertai rasa frustasinya kala tumpukan kertas menjadi sasaran matanya di atas meja sana.
Tanpa permisi Hanson masuk ke dalam ruang itu memburu langkahnya hingga mendaratkan tubuhnya di atas kursi tamu besebrangan dengan kakaknya membuat kakaknya melepas pandangan dari lembaran kertas itu menuju arahnya.
Begitupun dengan dua penghuni lain yang berada di dalam ruang itu, mereka hanya memandangi tubuh Hanson tanpa menyambutnya meski hanya dengan senyuman.
"Thanks udah terima cewe gue jadi asisstant khusus gue," ucap Hanson sebagai sapaannya.
Jackson hanya mengangguk mewakili jawaban persetujuannya, namun senyum ledek terlontar menyertainya.
Hanson mengabaikan itu, ia melempar lembaran kertas yang telah di bawa serta saat lalu dalam genggamannya ke atas meja tepatnya ke hadapan Jackson. "Berkas pemindahan saham si Fiona."
Ucapan Hanson membuat Kelvin yang duduk di atas sofa di tengah ruang itu segera beranjak hingga berdiri di samping Hanson.
Sedang Jackson menatap wajah tampan adiknya yang kini terlihat melirih itu tak lantas meraih apa yang di serahkan adiknya. "Oke gue ganti saham itu, 3% dari gue atas nama cewe lo buat lo."
Hanson tersenyum ledek menatap wajah kakaknya penuh cibiran, ia tidak mampu menerima niat baik kakaknya itu hingga ia berdalih menepisnya. "Seenak jidat lo ngotak ngatik saham?"
"Ini juga gara-gara kalian para bangke, bikin gue repot aja,” sahut Jackson sebagai gurauannya.
"Gue yang lebih repot lah,” sambut Kelvin menginterupsi membuat dua orang pria itu tertawa kecil menyikapinya.
Tiada yang mampu menimpal ucapan Kelvin kala apa yang di katakannya memang benar adanya, segala sesuatu yang berhubungan dengan empat anak seorang pengusaha pria bernama Erick Liu itu selalu menjadi bahan pekerjaannya.
"Berkas koruptor ada di si Fiona, lo ambil aja, gue males nanyainnya,” ujar Hanson berpura tidak mengetahui perbincangan mereka saat lalu hingga ia masih menyembunyikan jika dirinya telah mengetahui kisah sesungguhnya tentang mantan tunangannya.
"Udah ketemu siapanya?" tanya Jackson.
"Hmm, si Cakra,” balas Hanson.
"Bener dugaan lo Jack.” Kelvin berucap di iringi senyum simpulnya.
"Oke tar gue urus ke depannya, lo bisa tinggalin kasusnya biar si Fiona aja yang ngurus,” putus Jackson memerintah pekat saat nada bicaranya tertutur dengan tegasnya.
Hanson mengangguk ragu mewakili jawaban persetujuannya, sedang Kelvin menatap lekat wajah Hanson yang di kiranya anggukan itu tidak terlihat ketulusan menyertainya.
Hening sejenak melanda kala Hanson mengingat kembali kejadian yang membuatnya merasa bersalah atas mantan tunangannya hingga rasa sesal merundung jiwanya seolah menggerogoti batinnya.
"Lo mau kawin?" tanya Hanson.
"Hmm,” balas Jackson berdengung lirih kala sang hati enggan menerima keputusan itu.
Lantas ia kembali menyusun dokumennya untuk mengalihkan rasa canggungnya yang membuat gerakannya terlihat kikuk oleh dua pria di sekitarnya.
"Oke deh selamat." Meski demikian, Hanson melirih di sana hingga membuatnya bangkit dari duduknya, batinnya berkumandang enggan menyerahkan wanita itu kepada kakaknya. "Oh ya soal bodiguard, lo tarik si kembar?"
Jackson mendongkak menatap adiknya yang masih berdiri di tempat. "Gue lebih butuh mereka dari pada si Damar sama si Rian."
__ADS_1
Hanson hanya terkekeh membalasnya, ia tidak bodoh untuk menerka jika samg kakak masih memperdulikan wanita yang telah menjadi istri adiknya.
Lantas tanpa acuh Hanson melangkahkan kakinya berlalu tanpa pamit dari hadapan kakaknya.
Kini Kelvin memgambil alih kursi bekas oenopang tubuh Hanson saat lalu.
"Ini yang mau gue omongin dari kemaren, lo yakin mau ambil mata-mata si Guo jadi bodiguard lo?" tanya Kelvin.
"Mereka masih jadi mata-mata si Guo, cuma informasi yang mereka kasih bukan yang sebenernya.”
"Gue ga ngerti sama jalan pikiran sinting lo,” sahut Kelvin menggeleng pekat.
"Lo bisa manfaatin mereka buat ngungkap kasus si Cakra sama nyokapnya si Triana kan?"
Kelvin mengangguk dalam senyumannya, lagi dan lagi sahabat yang telah menjadi atasannya memberikan siasat yang tidak akan mampu di tolaknya. "Oke sekarang gue ngerti, lo emang cerdik."
Jackson hanya tersenyum meledeknya lantas kembali melakukan kegiatannya.
*****
Senja kelam, membayang awan hitam di atas langit, menutup sinar mentari penerang alam menyambut akan datangnya hujan.
Di tengah hembusan angin pengiring cuaca dingin itu, Tara sudah berdiri di depan gerbang universitas tempatnya menuntut ilmu, ia tersenyum saat melihat Ferrari Portofino marun itu mendarat tepat di hadapannya.
Turunlah Jackson dari sana untuk menyambutnya yang membuatnya tertegun melihat penampilan pria itu dengan pakaian santainya di lengkapi kacamata hitam bertengger di hidungnya membuat ketampanannya melebihi batas bisanya.
Jackson membukakan pintu penumpang itu di iringi senyuman menawannya yang selalu menggoda indra penglihatan wanita pujaannya.
"Mau ke apartement Laseason?" ucap Jackson di iringi tatapan ledek wajah wanita yang duduk di sampingnya sebelum melajukan kendaraannya.
Sontak Tara terperangah mendengar hal itu hingga paparan wajah kejutnya begitu kasat mata terlihat pria di sampingnya, ia tidak mengira jika kekasihnya mengetahui kediamanmya bersama suaminya.
"Ngapain ke sana, bu-bukannya mau ke-kencan?" balas Tara terbata-bata di akhiri dengan tawa kikuknya.
Jackson tersenyum gemas melihat wajah jelita yang telah berpeluh kecil di dahinya itu, lantas dengan sengaja ia menghapus keringat itu dengan telapak tangan kirinya.
"Kencannya di sana aja boleh ga?" Jackson berusaha menggodanya, kembali menatap wajah yang sudah belingsatan itu.
"Ogah!" senggal Tara menekankan hingga menepis kasar tangan pria itu dari keningnya.
Jackson terkekeh lantas segera menarik persneling dan menginjak gas kendaraan itu dengan batas perkiraannya.
Kendaraan roda empat yang memiliki julukan raja jalanan itupun melaju mencahar jalanan yang tidak terlalu padat di sore itu.
Di tengah perjalanannya, suara dering alat panggilan jarak jauh dari alat media kendaraan itu berkumandang pertanda seseorang telah menghubungi Jackson.
Jackson pun menekan tombol pada alat media itu untuk menjawabnya.
"Yo Nick?" sapa Jackson.
"Jack lo bisa balik dulu ke ZhanaZ ga, si Sam ngurung diri di lantai 60,” balas Nicky di sebrang sana membuat Tara yang mendengar percakapan itu mendapat kejutannya.
__ADS_1
Jackson melirik sejenak menuju arah samping kirinya di mana sang kekasih tengah memaparkan wajah gelisahnya. "Ngurung diri ya ngurung diri aja.”
"Meeting tender Ultranium sejam lagi, lo gantiin dia dulu."
"Tunggu lah, bentar lagi juga dia keluar, masih sejam lagi_"
"Dia nelen obat yang ada di laci meja kerja lo."
"What! Kok bisa dia buka laci meja gue?" sahut Jackson melenting nyaring tak lantas kembali melirik wajah kekasihnya yang sudah membelalakan bola matanya.
"Obat apa itu Jack?" Tara membalas tatapan itu dengan pertanyaannya.
"Obat_" Jackson menghembuskan napas kasarnya yang terasa melirih oleh Tara, ia enggan memberitahukannya kepada wanita itu. "Nick jangan suruh dia minum alkohol dulu,” ucapnya mengalihkan bahan perbincangan.
"Mana bisa, dia ngunci ruangnya!"
"Oke gue ke sana sekarang," seru Jackson sebagai penutup perbincangan.
Teg!
Jantung Tara berdenyut nyeri seolah berhenti berdetak kala rasa cemas merangkak dari dalam angannya, tak kuasa ia membayangkan jika sang suami melakukan hal berbahaya yang akan merenggut nyawanya.
Belum cukup persiapan untuknya jika suaminya meninggalkannya secepat ini.
‘Tidak!’ Batin Tara menyangkalnya hingga ia menggelengkan kepalanya dengan pekatnya membuat pria di sampingnya memusatkan pandangan ujung matanya.
"Obat apa itu Jack?" tanya Tara yang belum mendapat jawaban sebelumnya, ia menatap harap wajah Jackson meski tidak mendapat balasan untuk mendapat jawabannya.
"Obat penambah gairah."
"Hah?" Tara kembali mendapat kejutannya membuat nada bicaranya memekik lantang.
Jackson menghela napas rancunya menyikapinya. "Lumayan bahaya juga, itu obat paling tinggi dosisnya makan sebiji aja bisa kewalahan, tapi aku yakin dia kuat."
"Cepetan ke sana Jack please, obat begituan barang paling lakn*t." Rasa cemas yang menyeruak itu membuat bendungan air matanya terkoyak begitu saja.
"Kamu khawatirin dia?" tanya Jackson melirih cemburu.
"Jack." Tak kuasa mengucap katanya saat Bulir bening itu berhasil meluncur dari sudut matanya, Tara melanjutkannya dengan gelengan kepalanya sebagai jawabannya.
Bukan jawaban tidak yang bermakna dari gerakan kepalanya itu, melainkan ia tak mampu mengungkap kejujuran kisah hidupnya untuk saat ini yang di rasanya bukanlah waktu yang tepat.
"Oke oke,” putus Jackson tak lain memendam rasa khawatir yang terpicu dari deraian air mata kekasihnya.
Segera Jackson menekan gas kendaraannya dengan kakinya untuk menambah kecepatan lajunya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc