
"Art, bangun sayang." Jackson mengusap pipi wanita yang masih pulas di atas tempat tidur miliknya.
Di hari pertama Tara menghirup udara pagi yang menyelimuti kediaman Jackson itu, membuat diri mendapat kejutan saat melihat keadaan sekitar nampak asing di matanya. Sebiasanya, ia terbangun di atas ranjang pasien. Setelah satu minggu merawat juga mendapat perawatan, akhirnya Jackson membawa kembali untuk tinggal bersama.
"Sarapanlah dulu, Alev pasti udah tunggu kamu." Tara berucap setelah menyadari diri berada di mana.
"Kita sarapan bareng, oke?" Jackson memaksakan kehendak hati, tidak ingin wanita itu terlambat mendapat asupan gizi. Mengingat jika kini tidak hanya sendiri, melainkan di dalam rahim ada si jabang bayi.
"Aku mau siap-siap dulu."
"Siap-siap buat apa?" Jackson terkesan heran, pasalnya hari kemarin mereka telah memperbincangkan tentang pemberhentian Tara dari perkerjaannya.
"Aku ga bisa kalau harus berhenti kerja, takut Sammuel curiga." Semalam tadi, Tara kesulitan mempertimbangkan, berakhir setelah keputusan penuh keyakinan ia dapatkan.
Lenguhan menembus gendang telinga Tara, rupa-rupanya Jackson menahan diri untuk menyangkal keinginan itu.
"Baiklah, aku hanya berharap kamu ga stress." Pasrah sudah Jackson di buatnya, sehingga meski berat hati di rasakan, ia terpaksa menuruti segala permintaan wanita yang kini telah menjadi sensitif itu.
"Aku tau itu."
Kemudian Tara beranjak dari atas tempat tidur, menuju tempat membersihkan diri. Sementara Jackson undur diri, menggapai tujuan di mana anak semata wayangnya sudah menunggu di sana.
Beberapa menit kemudian ....
Usai Tara bersiap diri dengan busana serta riasan tipis pada wajahnya, ia pun bergegas keluar ruang tidur itu.
Di tengah perjalanan, ketika kaki melintasi ruang keluarga, sejenak ia menghentikan langkah di sana. Tidak sengaja bola mata menangkap sosok Sammuel di balik bingkai kertas bergambar yang melekat pada dinding, tatapan pun terkunci pada sosok itu.
Tiba-tiba saja rasa rindu itu kembali menyerbu hati, seperti apa yang di rasakan saat ia masih berada di rumah sakit. Kali ini pun ia mengira jika perasaan sama tumbuh akibat si jabang bayi yang meminta.
Namun, lain untuk kali ini, ia sudah tidak mampu menahannya lagi. Bahkan bulir air mata menetes mewakilkan keinginan yang terpendam, tanpa ada lagi yang dapat ia lakukan. Tiada ingin terhanyut dalam kepedihan, ia kembali melangkahkan kaki. Menjemput tempat yang akan menjadi penepian tujuan.
Pemandangan indah nampak menyambut kehadiran, menyentuh rasa bahagia hingga terpampang dari senyum ceria.
Di dalam ruang tempat menyantap makanan, Jackson melepas gelak tawa ketika bercanda ria dengan pria remaja yang duduk besebrangan dengannya.
Semua terhenti ketika arah pandang tertuju pada wanita yang berjalan menghampiri, lantas senyum menawan terukir sebagai sapaan.
Kehadiran sosok Alev di sana, sedikit banyak mengobati luka hati. Maka, Tara menyambut suasana ceria dengan turut bersenda gurau bersama.
Usai melakukan santapan pagi, mereka bergegas mencapai tujuan masing-masing.
***
Jackson melepas kehadiran Tara dari sampingnya, ketika ia telah tiba di dalam bangunan tempatnya melakukan pekerjaan.
Di hadapan pintu masuk ruang milik general manager ia melambaikan tangan, memberi salam perpisahan kepada wanita yang membalasnya hanya dengan senyuman. Kemudian Tara memasuki ruang tanpa kembali menoleh ke arah belakang, di mana Jackson masih berdiri di sana.
Seperti kebiasaan sebelumnya, sosok pria yang di rindukan telah duduk di atas kursi kebangsaan. Sejenak ia melepas pandang pada wajah yang tertunduk di sana, dan terhenti di saat tidak mendapat sambutan lantaran Sammuel tidak sedikit pun mengubah arah pandang. Tanpa bertanya ataupun berkata, Tara lekas berjalan membawa tubuh pada kursi yang tersedia untuknya.
Butir-butir kegelisahan berpadu di dalam kalbu, menyemat risalah hati ketika harus menyembunyikan kebenaran.
__ADS_1
Tara kesulitan mengendalikan arah pandang, sehingga ia mencuri-curi pandang ke arah sampingnya, di mana Sammuel menyibukan diri pada lembar kertas dalam genggaman.
Namun, Sammuel menyadari gelagat kaku itu, menerka jika wanita yang akan di ceraikannya nanti memendam suatu ucapan. Hendaklah diri memberi keringanan, kemudian ia beranjak menghampiri.
“Gimana kabar anakmu?” tanya Sammuel tepat setelah tubuh berdiri di samping Tara.
“Sangat baik.” Tara menyahut di sertai senyum manis di penghujung kalimat, berbuah lengkungan bibir dari lawan bicara.
Tidak lain seperti apa yang di rasakan Tara, kerinduan itu pun telah menggerogoti batin Sammuel. Ia mencurahkan pada usapan puncak kepala wanita itu, beserta bubuhan kasih sayang ia lepaskan pada kelembutan.
Tara mendongkak menatap pria yang berdiri di sampingnya, akan tetapi belah bibir tertutup rapat ketika diri meresapi sentuhan.
“Art ... gue udah urus surat perceraian kita,” ungkap Sammuel bebuah tatapan kejut.
Tara tidak mengira jika sang suami bertindak cepat untuk hal ini, seolah telah menantikan perpisahan itu. Merasa diri terhina oleh keadaan, Tara enggan menyambut ucapan. Lekaslah ia beranjak dari dalam ruang, meninggalkan pria yang tertegun kaku di sana.
***
Malam kian mencekam, berteman kesepian membaur suasana ruang gelap yang terdapat di dalam kediaman Sammuel. Ia sengaja tidak memberikan penerangan di dalam sana, agar diri dapat meresapi renungan.
Puing-puing udara berhamburan dari dalam paru-paru, mengingat kejadian siang lalu yang telah menbuat wanita pujaan mendapat goresan hati. Ia menyesali telah mengucap kata itu tanpa dosa, mengira jika sang istri akan menerima dengan lapa dada. Namun, gelagat risau dari kepergian tanpa pamit itu, membuatnya mengerti akan suatu hal. Yakni, diri masih menjadi tambatan hati sang istri.
Rasa sesal hadir menghujam perasaan, ia lampiaskan pada botol minuman dalam genggaman. Menegak isinya hingga hilang separuhnya.
Kekacauan batin terlerai oleh kehadiran seorang wanita yang datang menghampiri tanpa di undang. Sammuel menyambutnya dengan tatapan keji, setelah mengingat bahwa ia telah mewanti-wanti untuk wanita itu tidak mengacau kegiatannya di sana.
“Sam.” Triana menyapa di sela langkah kaki yang belum terhenti.
“Udah gue bilang-“
“Kalau lo keberatan, ga usah urusin gue,” ujar Sammuel berbalas decakan ngeri dari wanita yang sudah berdiri di sampingnya.
“Aku ga keberatan ngurus kamu, yang jadi beban itu karena aku khawatir sama badan kamu.”
Ucap kata dari Triana terabaikan, ketika Sammuel mendapat panggilan dari ponsel yang berada dalam saku celananya.
Sammuel lekas menjawab panggilan, selain penasaran ia pun ingin melerai perbincangan itu.
“Ya, Jack.” Sammuel menyapa pada lawan bicara di balik ponselnya.
“Lo bisa dateng ke rumah gue sekarang?” jawab Jackson.
“Mau ngapain?”
“Ada sesuatu yang harus gue sampaikan sama lo, ga bisa di tunda lagi.”
Kebetulan sekali, Sammuel ingin melepas penat bersamaan menghindari kehadiran wanita yang tidak di inginkan sang hati. Lekaslah ia menatap ke arah Triana sebelum menjawab ucapan kakaknya, bermaksud agar wanita itu mendengarnya.
“Oke, gue meluncur sekarang.”
Usai menutup panggilan, Sammuel tersenyum simpul membalas tatapan heran di sampingnya.
__ADS_1
“Gue harus pergi, lo tidur gih,” ujar Sammuel di sertai nada tegasnya, berharap wanita itu memberi restu akan kepergiannya.
“Ke rumah si Jack?”
Hanya dengungan serta anggukan kepala Sammuel lontarkan sebagai jawaban, sudah enggan ia melihat wanita yang selalu menebar pesona kala berjumpa dirinya.
“Sampaikan salam aku buat sahabat aku, bilang sama dia kalau besok aku kembali kerja.”
“Oke.”
Lekaslah Sammuel beranjak, sebelum wanita itu kembali menghujam batin dengan rayuan. Ia tidak ingin lagi mengkhianati sang hati, seperti hari sebelumnya di mana Triana berhasil memberi penghiburan melalui cumbuan.
***
Setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit itu, akhirnya Sammuel tiba di dalam kediaman kakaknya. Ruang tamu utama menjadi tujuannya kini, maka langkah kaki terhenti di hadapan pria yang sudah duduk gagah di atas sofa yang tersedia.
“Bini gue udah tidur?” tanya Sammuel ketika tubuh menumpu di atas sofa.
Jackson berdesis ngeri, menyikapi ucap kata sindiran yang telah berhasil menusuk jiwanya.
“Bini lo? Calon bini gue kali,” ujar Jackson membalas cibiran dengan ungkapan berduri.
Sammuel hanya tertawa miris membalasnya, lalu meraih sebuah kaleng minuman yang tertata rapih di atas meja.
“Sam, tender villa lo bisa urus sendiri ga?” ungkap Jackson berbasa-basi, memulai ucapan serius yang akan berakhir pada kalimat tragis.
“Ga bisa, bini gue yang mau ngurus sendiri.” Sammuel menimpal dengan tegasnya, mengingat sang istri telah memaksa agar diri tidak menghadangnya.
“Demi anak lo.” Helaan napas lega berembus lantang, Jackson merasa puas akan beban rahasia yang telah terucap.
Setelah mempertimbangkan selama satu minggu, Jackson memutuskan untuk mengungkap keberadaan bakal anak adiknya. Ia tidak ingin ada Alev yang ke dua.
“Anak gue?” tanya Sammuel di serta kernyitan dahi mewakilkan rasa janggal.
“Dia ... hamil anak lo.”
Sammuel terperangah dalam kejutan, akan tetapi perasaan bahagia membalut pikiran kalutnya.
“Gue mau jadi ayah?” Senyum berbinar menyertai barisan kalimat, Sammuel menyerukan dalam nada bicara lantang.
“Sam, dia ga mau lo tau soal ini. Gue harap lo pura-pura ga tau dulu.” Sesal melanda batin Jackson, ia tidak tega jika sang adik menerima nasib serupa dengannya.
Sammuel mengangguk tegas, memberi jawaban tanpa mengucap kata. Rasa bahagia menutupi segalanya, yang ia pikirkan hanyalah bakal anak di dalam rahim wanita itu.
Jackson pun tersenyum menyambut suka cita, melupakan sejenak risalah hati akan kehidupan saat nanti setelah diri menjadi suami wanita itu. Sesungguhnya, ia kesulitan menentukan pilihan.
Haruskah diri memisahkan ayah dengan anaknya yang belum terlahir ke dunia itu?
•
•
__ADS_1
•
Tbc