Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 79


__ADS_3

"Sam." Panggilnya ragu-ragu.


"Hmm?" Sammuel mengelus lengan istrinya dengan tangannya yang menjadi penopang kepala istrinya, memberikan ucapan sayangnya di pengakhir kegiatannya.


Detik kemudian Tara masih membisu, hanya merekatkan dekapannya. Ia ragu untuk mengatakan tentang ibunya, pasalnya ia enggan keburukan ibunya semakin di ketahui suaminya yang sudah di cintainya. Namun tidak di pungkirinya hanyalah suaminya yang mampu membantu dirinya.


"Kenapa?" Sammuel menolehkan arah pandangnya pada wajah istrinya yang sudah tertunduk kaku.


"Aku udah jadian sama Jackson." Akhirnya, ia mengungkap kata dustanya yang malah membuat Sammuel merancu. Ia mendongkak menengok wajah tampan itu yang tengah menepiskan kembali arah pandangnya.


*******


"Baguslah." Ucapannya bertolak dengan hatinya. "Cepet juga lo ngambil hatinya, berarti semua tugas lo udah kelar ya?" Entah mengapa emosi Sammuel menyebar di balik nada ketusnya kala menatap wajah cantik yang sudah terlihat kikuk itu.


"Ya. Semuanya lancar." Lain dengan  Sammuel, Tara tersenyum hanya untuk menyembunyikan kepedihannya.


Sammuel kian enggan menyambut perbincangan yang selalu membuat hatinya tak menentu itu, meski mulutnya menyetujuinya, namun batinnya meronta ingin menepisnya.


Seharusnya ia melega lantaran seluruh rencananya berjalan lancar berkat bantuan istrinya, namun mengapa ia geram terhadap istrinya yang berkata seolah ia menikmati hubungannya dengan kedua kakaknya itu.

__ADS_1


"Sam." Sementara Sammuel membisu, Tara menyapanya kembali dengan menakupkan sebelah tangannya pada dada suaminya.


"Apa lagi?" Sahut Sammuel ketus menyambut ucapan ragu istrinya yang tersembunyi di balik wajahnya yang memerah itu.


"Eumm itu, bo-boleh ga aku minta, minta bonus buat kerjaan aku?" Ungkap Tara ragu-ragu, iapun merasakan jika ucapannya akan menjatuhkan harga dirinya hingga ia melampiaskan rasa jengah terhadap dirinya sendiri pada dekapannya yang kian mengerat.


"Baru juga berapa bulan lo gawe di sana udah minta bonus lagi hm?" Sambut Sammuel hanya untuk menutupi kemenangannya saja. Semua rencana untuk istrinya berjalan lancar, jika sang istri begitu membutuhkan bantuannya, dengan mudahnya ia akan menggenggam wanita itu hingga tidak akan mudah berpaling hati.


"Bukan dari sana, dari berhasilnya aku sama Jackson." Jawab Tara melepas dekapan itu seraya menghembuskan napas kasarnya kala mendapat jawaban yang sudah pasti membuat dirinya terhina.


"Lo mau meres gue apa?" Sewot Sammuel menggoda istrinya dengan memiringkan tubuhnya menghadap istrinya yang terlentang di sampingnya.


Tara kembali menghembuskan napas kasarnya, kini mulutnya terbungkam rapat enggan harga dirinya menjadi bahan emosi suaminya.


"Iya aku lupa kalo aku cewenya." Tara menepis tatapan itu, ia turut memiringkan tubuhnya memunggungi suaminya, menutupi rasa malunya atas penolakan berulang itu.


Ternyata Sammuel geram dengan tingkah istrinya, jika memang benar mencintainya sesuai ucapannya beberapa saat lalu, mengapa dengan mudahnya ia menyebutkan statusnya tanpa rasa bersalah sedikitpun hingga dengan mudahnya wanita itu menghindari tatapannya.


Sammuel melentangkan tubuhnya menghadap langit-langit, melayangkan ingatannya pada risalah hatinya.

__ADS_1


Di kala Sammuel sibuk dengan bayangan keluh kesah hidupnya, Tara beranjak dari tempat tidur itu. Ia menyeret selimut tipis dari tubuh suaminya. Kini kain itu menjadi pembalut tubuhnya, melingkar di sana menggait di dadanya.


Rupanya ia mencari minuman segar penghilang rasa gundah di hatinya. Ketika Tara berhasil menelan segelas minuman segarnya, suara tombol akses pintu tersebut nampak terdengar oleh sepasang insan yang berada di dalamnya.


Segera Tara melangkahkan kakinya untuk mencari busana yang lebih pantas di kenakannya. Namun sayang, baru sempat langkahnya menepi pada ruang tamu, sang pengunjung tengah menampakkan dirinya di hadapannya.


Tara membeku, membatu, bahkan membisu setelah melihat siapa dari orang yang tengah masuk ke dalam kediaman suaminya itu.


Wajahnya memutar melihat lirih arah belakangnya di mana ruang tidurnya berada di sana. Namun kembali ia membeku setelah melihat dang suami berjalan menghampirinya.


"Siapa yang berani dateng ke sini?" Tanya Sammuel dengan nada paraunya di sela langkah rancunya.


Tara kembali terperangah kala menatap suaminya datang menghampirinya hanya mengenakan celana parasutnya, sedang tubuh bagian atasnya terekspose begitu saja.


Tara kian gundah kala menatap wajah dari sang pengunjung yang terlihat terperangah dalam kejutannya, ia menatap lekat tubuhnya yang hanya terbalut sprei tipisnya hingga ia menggenggam gaitan kain pada dadanya mewakili kegelisahannya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2