
Praduga mencipta prasangka, Jackson mengira lenyapnya sosok wanita pujaan dari dalam jangkauan lantaran sedang menikmati hari bersama sang suami. Di lain sisi Sammuel menerka, rangkai sandiwara yang ia ciptakan kemarin hari menyebabkan sang istri lari menggapai rangkulan kakak keduanya. Lantas, tiada yang mengetahui jika wanita itu telah melarikan diri, sehingga tidak ada satu pun dari mereka yang berfikir ingin mencari.
Rasa lega membalut rasa cemburu, hendaklah membawa diri melakukan rutininas tanpa terganggu. Begitu yang di lakukan Jackson di pagi itu, ia membawa diri menuju ruang milik general manager setempat untuk memperbincangkan sesuatu.
Setelah tubuh menumpu di atas kursi besebrangan dengan sang pemilik ruang, Jackson meratap melihat wajah lusuh nan malang. Ia menyibak duka bersirat frustasi itu di sebabkan kegagalan akan usahanya di negri orang.
"Gagal?" Jackson mengungkap sapaan berduri.
"Gue kehabisan cara hadapi orang licik kaya dia." Sammuel melenguh pilu, mengingat kesalahan yang berawal dari datangnya perintah itu.
"Ya udah lah, mau gimana lagi," ucap penenang bertutur menghibur, akan tetapi tiada dapat menghempas risau yang terpancar dari wajah gundah di sana.
Jackson meyakini beban akan kegagalan telah menghujam batin pria di hadapannya, membuat diri berkehendak memberi keringanan meski batin bergeming ingin memakinya.
"Mending kita bicarakan ini sama bokap lo." Tiada mendengar suara parau ciri khas lawan bicara, Jackson kembali membuka suara.
Hening ....
Tak ada sambutan akan ucap kata yang terlontar, manakala batin Sammuel masih memendam sejuta penyesalan. Butir-butir noda tiada kunjung enyah menyiksa diri, menghantam lubuk hati akan rasa bersalah yang begitu mendalam.
"Udah lah, Sam." Tak tahan melihat wajah duka di hadapan, Jackson menghadang di tengah nada bicara lantang dalam ucapan. Menerka-nerka jika kegalauan itu berasal dari apa yang menjadi bahan perbincangan.
Sammuel tergertak rasa kejut, ketika gendang telinga mendengar pekikan nada bicara. Lalu ia menarik wajah, melirik gelagat emosi dari pria yang telah menatapnya dalam amarah.
"Gue masih bisa cari kandidat lain, cuma sekarang mending di rundingkan dulu sama bokap lo di rumahnya nanti," ujar Jackson.
"Oke, si Hans di bawa juga?"
"Haruslah, dia juga punya saham di sana." Jackson menyahut penuh kesungguhan, berbuah hawa serius membaur suasana.
"Bukannya ga ada nama dia di sana?" Sammuel mengingatkan sang kakak, jika dalam perjanjian untuk itu tidak ada sedikitpun nama Hanson tertera di dalamnya.
Rupa-rupanya ....
"Dia pake nama cewenya," ungkap Jackson menyahut tanpa dosa, akan tetapi membuat lawan bicara keliru mengartikan.
"Si Fiona?"
"Si Tri lah, si Fiona kan calon bini gue." Berat hati Jackson mengakui status diri, membuat pekikan nada bicara mengiringi kalimat yang terucap. Namun, senyum ceria terukir di balik wajah, bebalas tatap serta seringai keji dari pria di sana.
Sammuel menerka, sang kakak kegirangan sebab mendapat banyak waktu untuknya bercanda ria dengan istrinya.
Lengkungan sebelah sudut bibir sirna, mengingat ungkap status diri dari mulut itu menyendat napas Sammuel, bahkan membuat belah bibirnya tertutup rapat. Berulang kali ia melupakan status Triana yang kini telah menjadi nyonya ke tiga, memberi kesempatan rasa sesal menerjang kesadaran dirinya.
Detik demi detik di lalui dalam kesunyian, tiada lagi ucap kata terlontar dari kedua belah pihak. Hanya embusan napas dari hempasan asap rokok mengisi pendengaran, sesaat keduanya saling meresapi renungan.
Hingga pada akhirnya, Jackson mengedarkan pandangan. Terhenti pada meja kerja khusus seorang wanita yang kini tiada penghuninya.
"Bini lo ke mana?" tanya Jackson setelah melepas pandangam dari meja itu menuju wajah adiknya.
Sammuel berdesis ngeri, sebelum menyahut dengan ucapan keji. "Lo yang tau dia di mana."
"Gue yang tau apanya? Lakinya baru balik, mana mau dia bareng sama gue." Jackson menyahut tak kalah mirisnya, tanpa melihat gelagat heran dari Sammuel.
__ADS_1
"Gue serius, Jack!"
"Lo kira gue ga serius apa?"
Mendengar pernyataan dalam kesungguhan itu menjangkau rasa cemas Sammuel, terpampang dari siratan wajah rancunya.
"Dia ga sama gue dari kemarin." Sammuel memaksakan diri, mengungkap keadaan untuk memberikan kesempatan kepada kakaknya. Ia mengharap tangkisan akan ucap sang kakak saat lalu hanya untuk menepis kerancuan semata.
Sikap peduli serta pengertian yang di miliki Jackson, membuat Sammuel mengartikan jika sang kakak tidak ingin membuat batinnya terluka. Ia mengira jika Jackson telah menyembunyikan pertemuan dengan istrinya, sebab ingin menjaga perasaan.
"Lo berantem sama dia?" Jackson menerka sesuatu, setelah menilik tindak tanduk adiknya dari awal ia melepas suara untuk sapaan saat lalu.
"Gitulah." Sammuel menyahut singkat, tatkala terbesit pikiran buruk pada istrinya setelah meresapi perbincangan saat lalu.
Tiada lain dengan Sammuel, Jackson pun mendapat pemikiran serupa seperti adiknya.
"Apa mungkin-" ucap kata tersendat tatapan isyarat sebagai jawaban akan kalimat tidak usai terucap. Jackson membalas tatapan itu beriring amarah di baliknya.
Tiada ingin membuang waktu, Jackson bergegas meninggalkan ruang serta pemiliknya untuk segera melakukan sesuatu.
Begitu pula Sammuel di sana, kepergian sang kakak ia abaikan sepenuhnya. Kemudian meraih alat panggilan jarak jauh dari dalam kantung celananya.
"Nick, bisa lacak posisi bini gue sekarang ga?" ujar Sammuel ketika panggilan terhubung.
Tiada sahutan dalam suara, Sammuel hanya membiarkannya saja. Mengetahui jika lawan bicara telah melakukan sesuatu akan titah yang terucap dalam pertanyaan itu.
"Sorry boss, semua jangkauan aksesnya hilang." Suara Nicky menyahut di balik ponsel itu, membuat rasa cemas bergejolak dari dalam asa Sammuel.
Namun, rasa frustasi tiba-tiba sirna. Setelahnya seringai kemenangan terukir di balik wajah yang tak terlihat lawan bicaranya. "Bisa tanya si kembar, 'kan?"
Bangkit sudah rasa frustasi dari dalam asa, sebelah tangan senggang mencengkram rambut hitam legamnya. Melepas emosi pada bagian tubuh sendiri.
Jawaban yang tidak di inginkan ia dapatkan, hendaklah ia mencari dari jalan yang lainnya. Lalu, panggilan ia putuskan, beralih memanggil yang lain.
"Jack, lo tau dia di mana ga?" Tidak membutuhkan waktu lama untuknya menunggu panggilan terjawab, sehingga ucap tujuan ia ungkapkan segera.
"Siapa?"
"Cewe lo lah."
Mengerikan! Batin Sammuel bergeming ketakutan jika saja pikiran buruknya benar akan terjadi.
Tawa riang menusuk indra pendengaran, menembus amarah menanggapi gelak tawa cibiran itu. Rupa-rupanya Jackson kegirangan, mendengar ungkap status kerelaan yang selalu ia inginkan.
"Ada satu kemungkinan, tapi gue ga bisa kasih tau lo dulu sebelum dapat hasilnya."
Mendengar pernyataan itu, Sammuel tertegun lirih. Diri menyesali segala apa yang terjadi kali ini, mengingat tiada pernah ia menyelidiki tentang kehiduapan sang istri. Kali ini, ia mendapat kesulitan sendiri yang membuatnya harus merelakan jika pria yang menjadi bulanan rasa cemburunya mengatur semua.
Terpaksa sudah, "ga usah, lo urus aja."
"Oke." Satu kata terucap sebagai pengakhir percakapan.
Di sisi lain.
__ADS_1
Usai mengakhiri perbincangan mengerikan di balik ponsel, Jackson melenguh pilu. Hujaman kegelisahan menggerogoti jiwanya, lantas ia hanya dapat melampiaskan pada sapuan wajah dengan telapak tangannya.
Bukan hanya Sammuel yang telah melakukan sesuatu, Jackson pun mencari celah dari ponsel yang di berikan kepada anaknya saat lalu.
Namun,
"Semua akses di tutup." Jackson bertutur pedih, tak ayal rasa cemas membuntuti nada bicara lirih.
"Ga ada jalan lain?" tanya Kelvin seolah tidak ingin mengulurkan tangan, pada kenyataannya ia pun kesulitan mencari keberadaan wanita itu.
Jackson menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak, punah sudah semangatnya untuk hanya sekedar mengungkap kata. Isi kepala berperang menerjang waktu, yang mana ia dilema untuk melakukan pertemuan.
Kemudian setelah mempertimbangkan seluruhnya, Jackson menyanggupi neraca pilihan yang lebih berat untuk ia lakukan. Ia melepas tuxedo yang membalut tubuh bagian atasnya, tak lantas dasi pun turut terhempas dari lehernya.
Tanpa mengucap kata, ia bangkit berdiri seraya pasang mata melekatkan pandangan pada pria yang duduk di sana.
"Batalin semua meeting hari ini." Titah terungap penuh ketegasan, tidak ingin mendapat pencegahan.
Mengerti akan hal itu, Kelvin mengangguk mengungkap jawaban untuk pernyataan dari pria yang kini telah hilang dari jangkauan pandangan.
Jackson membawa amarah dalam langkah memburu, membuatnya menggapai tujuan tanpa memakan waktu. Lantai delapan menjadi sasaran dermaga ayunan kaki, membawa diri menghadap seorang berjabatan supervisor di sana.
"Jasmeen ke mana?" Sebelum tubuh menumpu di atas kursi, ia meluapkan amarah pada nada bicara memekik. Kepalan tangan tersembunyi di balik saku celana, akan tetapi emosi terpampang dari raut wajah murkanya.
"Tumben cari dia." Rasa janggal tercurah di sela ucap kata, Maxson mengalihkan pandangan dari atas kertas menuju wajah tamunya.
Kepolosan dari tak acuhnya sahutan itu, membuat telunjuk jenjang Jackson melenting di hadapan hidung pria pemilik ruang.
"Lo umpetin di mana anak gue?" Lantang dan tegas, Jackson mengumbar amarah di balik irama suaranya.
Seringai kemenangan mengabaikan amarah pria itu, Maxson mengucap syukur tanpa menghiraukan ungkap kecemasan di sana. "Lo udah tau anak lo?"
"Max!" Bentakan terlontar begitu nyaring, Jackson kian geram menyikapi perbincangan yang telah menyita waktu berharganya. "Di mana anak gue?"
Melihat kecemasan yang begitu kasat mata, membuat Maxson menyibak suatu makna. Sudah menjadi prasangka, ketika ia bertanya kepada ibu dari anaknya tentang perubahan kepergian diri dengan pria remaja itu, sang kekasih tidak mengatakan alasan meski hanya sepatah kata saja.
"Harusnya ke luar negri sama cewe gue kemarin, tapi ... yang gue tau dia ga bawa anak lo."
Penjabaran alasan dari Maxson, berbuah rasa frustasi kian menyerbu angan Jackson. Ia meyakinkan diri, jika wanita yang di cari telah pergi tanpa ada yang mengetahui.
Lenguhan pilu merengkuh rasa janggal Maxson, sehingga paras mengukir kerutan di dahi. "Ada apa ini, Jack?"
"Cewe gue bawa anak itu pergi." Semangat melunglai, membuat ucapan terdengar lemah oleh lawan bicara. Jackson dilema menentukan, langkah mana yang harus ia lakukan terlebih dahulu.
"Jack, lo tenangin diri dulu. Biarkan dia pergi, mungkin dia lagi ga mau di ganggu dulu makanya dia pergi tanpa pamit." Jawaban dalam penenangan dari Maxson, membuat Jackson keliru mengartikan.
Ia mengira kakaknya telah mengelabuinya, yang mana sesungguhnya sang kakak tidak ingin menbuka mulut tentang keberadaan wanita yang ia cari. Lekaslah ia kembali, membawa beban dalam ayunan kakinya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc