Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 101


__ADS_3

Detik waktu terus berjalan, hari kini telah berganti. 24 jam berlalu sudah, kini Tara tengah kembali mengunjungi taman yang terdapat di perusahaan tempatnya bekerja.


Namun kini bukan untuk menghindari seseorang. Pasalnya, orang itulah yang telah menghindarinya terlebih dahulu.


Pagi tadi hingga saat ini, Tara belum melihat sedikitpun kehadiran suaminya di dalam perusahaan penunjang negara itu.


"Apa dia marah karna cemburu sampai kaya gitu?" Runtuknya membuat senyum seseorang tersirat di belakangnya.


"Dia Jackson atau Sammuel?" Suara berat nan lembut sang pria membuat Tara menolehkan arah pandangnya ke belakangnya di mana pemilik suara tersebut berdiri di sana.


"Hanson. Maaf pak Hanson." Sapa Tara di iringi tubuhnya yang merunduk setelah berhasil berdiri di hadapan pria itu.


"Ga usah kaku gitu." Tepis Hanson menyeringai geli menatap wanita yang bediri di sampingnya."Jack atau Sam?" Tanyanya memastikan ucapannya yang terabaikan saat lalu.


Tara terperangah dalam kejutannya hingga kelopak matanya terbuka selebar-lebarnya. "Hans, kamu tau soal Sammuel?" Sahutnya merancu dalam ketakutan angannya yang memburu jika saja pria yang sudah duduk di sampingnya itu mengetahui status hubungan sesungguhnya dengan pria yang di sebutkannya itu.


"Kamu tau aku orang yang suka nyelidiki seseorang?” Balasnya tak acuh mengabaikan wajah penuh kejutan wanita yang sudah berhasil duduk di sampingnya.


"Apa kehidupan pribadi orang lainpun harus kamu selidiki?"


"Bukan orang lain, dia adik kandung aku." Jawab Hanson dengan santainya menyulut batang rokok yang telah bertengger di sela jepitan jemari tangan kanannya.


"Aku lupa itu." Lenguh Tara mendengus lirih membawa penyesalannya telah melupakan jabatan pria di sampingnya yang telah menertawai ucapannya.


"Aku chek ada tiket penerbangan ke Dubai tadi malem atas nama dia." Seolah tau, Hanson menjawab janggalan wanita di sampingya seharian ini hingga helaan napas kasar dari wanita itu begitu terasa menyentuh angannya.


“Kamu_ apa kamu tau tujuannya ke sana?" Tanya Tara ragu-ragu enggan pria di sampingnya mengetahui jika dirinya tengah cemburu.


"Ga tau." Sahut Hanson singkat namun berhasil membuat wanita itu kian melenguh. "Yang aku tau, di sana ada orang special buat dia." Imbuhnya membuat emosi wanitabitu tersulut tanpa pelantara.


"Cewe?" Tara mulai menggundah, melupakan jika dirinya tidak dapat mencegah hal itu dari suaminya membuat pria di sampingnya membalasnya dengan anggukan kerasnya hanya untuk menggoda semata.


"Kamu cinta dia?" Seru Hanson membuat sang wanita tersenyum di balik lirihannya.


"Sayangnya kakak kamu yang balas cinta aku."


"Mau aku bantu kejar dia?" Tawar Hanson meledek yang tertuju hanya untuk penghiburan pada wanita yang telah tertegun di sana.


Seungguhnya Tara meruntuk dalam batinnya, menerka jika rasa kagum yang tercurah dalam kasihnya untuk suaminya di ketahui oleh pria yang kini menatapnya penuh picingan.


"Ga mau kah?” Tanya Hanson memecah lamunan wanita yang menggelengkan kepalanya. “Atau kamu takut dapat karma yang selalu nolak si Jack berkali-kali?" Percayalah, Hanson kini hanya menghibur wanita itu. Namun rupanya membuat sang wanita kian menderita.


"Anggap aja gitu." Kilah Tara menepis rasa gundahnya dengan bangkit dari duduknya lantas melirik pergelangan tangannya di mana jam tipisnya bertengger di sana. "Hans sorry aku tinggal. Aku harus ngampus sekarang."

__ADS_1


"Oke!” Ujar Hanson menyahut tegas. “Karna si Sam ga ada, aku gantiin dia nganter kamu." Tawarnya setengah memaksa kala tubuhnya berhasil berdiri di samping wanita itu.


"Fiona pas_"


"Jangan pikirin dia!" Penggalnya secepat cahaya mendengar nama wanita yang selalu membuatnya jengah terngiang di telinganya hingga ia dengan mudahnya menerka ucapan selanjutnya dari lawan bicaranya. “Cepetan biar ga telat.” Paksanya kembali di iringi kakinya yang mengayun lamban menunggu langkah pendek wanita itu menyusulnya.


Tanpa kata kembali terucap, mereka berhasil membawa tubuhnya hingga duduk nyaman di atas jok bagiannya.


Di tengah perjalanan yang tidak terlalu padat itu, Hanson mendapat panggilannya dari balik selullernya yang sudah terhubung dengan alat media dari kendaraannya.


"Hmmm." Sapa Hanson berseru sebal setelah melihat siratan sebuah tulisan nama dari sang tunangan tertulis pada layar alat media itu.


"Hans kamu di mana?" Suara Fiona dari balik panggilan itu terdengar nyaring di telinga Tara kala pengeras suara alat media itu di gunakan Hanson untuk panggilannya.


"Nganter Tara." Balas Hanson tak acuh namun membuat wanita di samping kirinya menatapnya gaduh.


"Kamu di tunggu mentri keuangan di gedung negara." Sahut Fiona di sebrang sana dengan suara paraunya seolah menahan isak tangisnya membuat batin Tara melirih tidak enak hati.


"Oke nanti gue ke sana kalau udah nganter dia."


"Mereka udah nunggu kamu."


"Mereka_ atau lo? Seingat gue acara pertemuannya jam 3." Balas Hanson menerka paksaan itu adalah untuk kepentingan diri semata.


Fiona memutus panggilannya sepihak yang di sambut Tara dengan anggukan ringannya.


"Semua orang yang ga tau cerita sebenernya pasti mikirnya gitu." Balas Hanson di sertai senyuman miris penuh emosi.


"Apa aku boleh tau yang sebenernya?" Harap Tara merajuk setengah memaksa.


"Dia_" Sejenak Hanson mendengus memikirkan jika ucapannya akan menyinggung wanita yang masih setia menatap harap wajah tampannya. "Deketin cowo kamu biar dia bisa misahin aku sama kamu." Jelasnya membuat wanita itu menyiratkan tawa kecilnya di sana.


"Kita ga punya hubungan apa-apa, kenapa harus di pisahin?"


"Itulah yang bikin aku makin ga suka sama dia, dan juga dia mau ungkapin hubungan kita sama si Jack, biar kamu di tinggal si_" Hanson menyenggal kalimatnya menatap wajah wanita itu sekilas membuat sang wanita kian merasa penasaran. "Suami kamu." Imbuhnya berhasil membuat jantung wanita itu merancu seolah terhenti sesaat.


Terjawab sudah kejanggalan Tara, benar adanya, Hanson mengetahui status hubungannya dengan suaminya. Lantas,


"Kamu kasih tau dia soal hubungan aku sama Sammuel?" Ungkap Tara memekik emosi seolah langsung melempar kesalahannya pada pria yang menggeleng di sampingnya atas ucapan tebakannya.


"Aku juga ga tau dia dapet info dari mana, yang jelas bukan dia tau dari aku, tapi aku tau dari dia!" Jawab Hanson penuh ketegasan akan kejujuran tersirat di baliknya membuat wanita di sampingnya terpaku hingga membisu bahkan pandangannya kian melirih menatap wajah tampannya.


Hanson memang tidak memalingkan arah wajahnya, namun ujung matanya berhasil menangkap bayangan wajah lirihan itu. "Itulah kenapa aku selalu emosi kalau ngomong sama dia, dia sendiri yang mau hancurin keluarga aku."

__ADS_1


"Cukup Hans!" Penggal Tara penuh ketegasan enggan mendengar kiasan yang akan membuat batinnya kian merancu. "Kamu sadar ga kalau kamu juga salah? Coba kamu sambut hati dia biar dia ga makin ngerusak kehidupan kalian."


"Kamu yakin?" Kembali Hanson tersenyum miris mendengar ucapan yang membuat batinnya teriris. "Kalau denger dia pernah ngeracun si Jack sama obat perangsang biar si Jack di benci sama kamu gimana?"


Teg! Ke dua kalinya jantung Tara membeku seakan berhenti berdenyut sesaat. Air payau mulai menggenang di sudut matanya menahan lirihan batinnya, menyangkal jika sahabatnya telah tega berlaku demikian terhadapnya.


"Dia kenal si Jack karna rencana busuknya itu. Anehnya kenapa si Jack nyambut dia?" Imbuh Hanson menyela mulut yang tertutup rapat itu. "Aku juga baru tau kemarin pas nyelidiki kasus kematian mantan aku." Sahutnya berimbuh kala bibir wanita itu masih terbungkam rapat.


Sesungguhnya, Tara masih berusaha menahan bendungan air matanya agar tidak terkoyak sedikitpun.


"Malah aku baru tau pengorbanan si Jack buat kamu selama ini, sampai rela mutusin kerjasama sama si Guo Ming Shen karna dia tau kamu mantannya." Ungkap Hanson berimbuh penuh paksaan agar wanita itu sudi membuka hatinya untuk kakak keduanya. "Tambah lagi sekarang si Jack masih mau usut tuntas kelakuan busuk mantan kamu buat balas dendam demi kamu."


"Cukup Hans!" Mengalir sudah air matanya membasahi pipinya. Inilah satu-satunya cara untuk menyerukan kegundahannya atas serpihan cintanya yang terhanyut dalam kisah asmara rumitnya.


Masih dalam sorotan ujung matanya, Hanson melihat aliran air mata itu hingga ia memutar stirnya, memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan berbayar itu. Lantas dengan tergesa menyampingkan tubuhnya meraih wajah anggun yang tertunduk itu dengan kedua tangannya.


"Sorry, aku ga maksud_" sesal Hanson di iringi menghapus air mata itu, mempertegas ungkapan penyesalannya.


"Hans_" sahut Tara terpenggal isak tangisnya yang menyendat kerongkongannya untuk kembali menyerukan isi hatinya.


Hanson menawarkan diri, memberikan ceruk lehernya menjadi penumpu tungkak kepala wanita itu yang di raihnya secara paksa. Sebelah tangannya terulur, mengusap lembut tungkak itu, berusaha meredam tangisan memilukan itu.


"Oke aku ga akan bahas lagi soal itu." Ujar Hanson membuat tangisan itu kian meledak.


Hingga dalam beberapa menit kemudian Hanson berpasrah diri, mendengar tangisan di balik ceruk lehernya.


"Hans, aku_" kalimat Tara terpenggal kembali oleh isak tangisnya yang masih tertinggal.


"Hmmm?" Hanson mengarahkan kepala itu menjauh dari ceruk lehernya agar mampu melihat wajahnya dengan jeli.


"Aku harus gimana hiks? Kamu tau hubungan aku sama adik kamu hiks, tapi kamu juga tau hubungan aku sama kakak kamu hiks." Meski air matanya berhenti mengalir, namun isak itu masih membekas di sana membuat kalimatnya terpenggal-penggal.


"Aku yakin ada alasan di balik itu." Hibur Hanson di sertai paparan senyum wibawanya.


Akhirnya Tara melega dengan pernyataan itu yang membuat batinnya menghangat seketika. "Andai aku lebih awal ketemu kamu hiks, mungkin aku ga akan bisa nolak kamu jadi cowo aku hiks.” Ujarnya berucap tanpa tau rasa malu yang tertuju hanya untuk penghibur diri semata.


"Tapi aku yang nolak kamu duluan, kamu ga punya saham. Kamu tau alesan aku mau terima si Fiona?" Ucap penghibur itu berhasil membuat tawa kecil sang wanita melantun dengan merdunya.


Akhirnya Hanson melepas tangannya dari wajah anggun itu, iapun melajukan kembali kendaraannya untuk menggapai tujuan awalnya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2