
Tara sudah tiba di dalam kediamannya, ketika pintu apartemennya terbuka nampak Sammuel berdiri menghadap jendela kaca dengan kedua tangan merogoh saku kanan kiri celana parasutnya.
Tara terhentak mengingat kejadian lalu di mana Sammuel berdiri di sana maka sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya.
"Sam__"
"Jalanan ga macet, kenapa baru pulang jam segini?" Sammuel masih menahan posisinya yang membelakangi istrinya.
Tara mengetahuinya ini akan terjadi, ia segera melangkah memeluk tubuh suaminya dari belakangnya untuk menebar rayuannya. "Apa kamu ga takut kalo aku hamil?"
"Jangan bikin alesan ga bermutu deh." Ketus Sammuel merasa tersindir dengan ucapan istrinya.
"Aku dari bidan dulu tadi, suntik KB, ngantrinya lama."
Sammuel memutar tubuhnya hingga mendekap tubuh istrinya. "Bisa ga lo ngasih kabar dulu?" Leganya terlampiaskan pada dekapannya.
"Aku janji ga akan terulang." Tara mendongkak, menyiratkan senyuman merajuknya yang terasa menjengkelkan oleh Sammuel.
"Mana gue percaya? Lo suka ingkar janji terus gitu." Gemas Sammuel menyentil kening istrinya dalam kekehannya.
"Beneran aku ga akan ingkar lagi." Tara menunduk menyembunyikan rasa bersalahnya.
Sammuelpun menghembuskan napas lega nya mendengar pernyataan istrinya. "Gue udah pasang KB, lo ga usah lanjutin itu lagi."
"Emang bisa cowo di KB?" Tara menatap janggal suaminya yang masih mendekapnya.
"Ya bisa lah, buktinya gue bisa." Balas datar Sammuel seraya melepaskan dekapannya.
__ADS_1
"KB kaya gitu bencana buat cewe tau ga?" Sewot Tara memikirkan sesuatu jika saja itu terjadi kepadanya.
"Lho kok bencana? Bagus dong menghindari hamil di luar nikah." Tebas Sammuel membuat Tara menyeringai menyeramkan.
"Ya kalo yang udah nikah bencana, kalo suaminya selingkuh ga akan ketauan."
Sammuel terkekeh menyikapinya. "Lo ga lupa kan kalo gue bisa selingkuh?" Ia merajuk, mempermainkan helaian rambut istrinya.
"Aku bukan ngomongin kamu, tapi orang lain dodol."
"Tenang aja selama ini di Indo baru keluarga gue yang tau soal KB itu." Sammuel melepas rambut itu, menggantikan tangannya untuk menarik tangan istrinya, membawanya dalam genggamannya. "Udah jam 9 lo ga laper?"
"Tadi udah makan."
Sammuel melepas genggamannya setelah mendapat jawaban itu, awalnya ia berniat menyeret istrinya menuju tempatnya menyantap makan malamnya.
"Lo tidur duluan aja gih, gue masih banyak gawean." Pinta Sammuel di sela kegiatannya membuka laptop yang sudah bertengger di atas meja di hadapannya.
Tara menatap wajah suaminya dalam perasaan gundahnya ketika mengingat pertemuan tidak sengajanya saat tadi. "Sam hari sabtu ini aku jalan sama si Jack."
Sammuel menolehkan arah pandangnya, menatap istrinya dalam aura gelapnya. Mengapa batinnya berdenyut nyeri mendengar hal itu? Bukan kah seharusnya ia mendapat kemenangannya? "Berhasil juga?" Napasnya tersendat hingga sulit menghembuskannya sehingga membuat Tara salah faham dengan tatapan itu.
"Ya gitu lah, tadi aku ketemu dia di kampus." Tara menatap wajah suaminya ragu-ragu, pasalnya aura gelap itu berhasil mengintimidasinya.
"Gue lupa dia lagi ngurusin cewe di sana."
"Cewenya ya?" Tanya Tara tidak sengaja melirih.
__ADS_1
"Kenapa? Apa lo cemburu?"
"Ga juga, ngapain aku cemburu? Orang dia bukan siapa-siapa aku." Tara mulai tertunduk kaku membuat Sammuel menarik dagunya dengan jari telunjuknya.
"Art lo bisa ga cemburu dikit sama dia biar tugas lo cepet kelar?"
Tara hanya terkekeh menyembunyikan kegundahannya.
"Jangan-jangan lo punya gebetan lain lagi." Sammuel gemas, melampiaskannya dengan menjepit hidung istrinya dengan dua jari tangan kanannya.
Seperti sedia kala, Tara akan menghapus jejak itu. "Kamu lupa kalo aku selingkuh yang rugi aku sendiri?"
"Gue cuma ngingetin lo doang, biar gue ga sakit hati juga." Tebas Sammuel tanpa di sadarinya ia mengungkap perasaannya.
"Kalo ga mau sakit hati ya kamu jangan jatuh cinta." Umpat Tara. Namun berhasil membuat Sammuel membeku.
Sammuel merenung, jika apa yang di katakannya memiliki arti lain. Semuanya akan terasa sakit jika ada cinta di dalamnya.
Lantas, apakah ia harus mengakuinya untuk itu atas apa yang di rasakannya kali ini?
Rasa sakit yang telah menggerogoti hatinya dari apa yang menjadi bayangannya jika istrinya akan segera menjadi milik orang lain.
•
•
•
__ADS_1
Tbc