
"Aku kangen." Bisik Jackson tepat pada telinga Tara.
Tara menundukan wajahnya menyembunyikan rasa malunya yang di yakininya terpampang dari wajahnya yang kian merona. "A-apa maksud." Ucapnya tersenggal dalam kerongkongannya tidak mampu menyambut ucapan itu.
**
Dua minggu sudah Tara menyandang status sebagai kekasih Jackson meski tidak terucap dari mulut keduanya, namun mereka menganggapnya demikian.
Meski Tara masih menyenggal hubungan itu lantaran ia masih bersikeras pada keinginannya semula bahwa ia menyandang status itu demi tugasnya. Sesungguhnya, yang di cintainya kini adalah suaminya.
"Dia bilang gitu." Jackson mengarahkan pandangan ke bawah kirinya di mana Queena berdiri di sana.
"Monyet ini_ berani ngerjain aku ya?" Meski menggerutu, Tara tertawa kecil di sela kalimatnya. "Bilang kek dari tadi, kan aku jadi kesel." Ia segera meraih tubuh Queena hingga berada dalam pangkuannya.
"Tara." Suara Celia mengejutkan Jackson serta Tara di hadapannya.
Jackson serta Tara segera menolehkan arah pandangnya ke belakangnya di mana Celia berdiri di sana dengan kedua tangan yang sudah penuh dengan beberapa tas penyimoanan barang yang telah di belinya.
Tatapan Celia menjanggal menuju Queena yang berada dalam pangkuan Tara. Ia menerka jika hubungan keduanya tidak biasa saja. Terbukti dari si gadis cilik itu yang mendekap erat leher Tara.
"Mami!" Pekik Jackson terheran-heran melihat kedekatan wanita yang berdiri di sekitarnya.
"Oh Jackson kenalin ini Tara, mena___"
"Temen tante Celia." Potong Tara secepat cahaya membuat Celia emosi di sana.
"Tante?!" Pekik Celia tidak terima.
"Oh ia lupa sorry, kakak Celia." Tara membuat nada bicaranya menjadi sebuah ledekan menepis emosi gurauan dari mertuanya.
__ADS_1
Jackson tertawa kecil melihat tingkah wanita yang selalu mengisi hatinya itu, kali ini tawa itu mengandung makna lebih bagi Jackson di mana ia merasa gemas dengan tingkah Tara yang membuat hatinya kian tergugah untuk segera memilikinya dengan ikatan resmi.
"Mami ajak anak ini belanja? Kok bisa?" Jackson tau betul jika sang pujaan hati sangat tidak menyukai kegiatan itu.
"Jangankan dia, papi kamu aja berhasil aku rayu." Ucap Celia dengan polosnya.
Jackson membahakkan tawanya yang membuat Tara menjanggal tidak memahami dengan situasinya. Sedang Celia memukul manja bahu anak tirinya.
"Ga usah di rayu kali si papi mah, udah dapetin perawan, cantik, umur lebih muda lagi. Bego aja kalo ga mau." Ujar Jackson berucap setelah menghentikan tawanya.
"Mami." Panggil Queena melerai situasi ceria kala itu. Ia menengadahkan kedua tangannya pada Celia.
Celia segera menyambutnya, namun sebelumnya ia menyerahkan barisan tas penampung barang yang berada dalam genggamannya kepada Jackson. Jacksonpun meraihnya tanpa bicara. Akhirnya Queena berada dalam pangkuan nenek mudanya.
"Mami, mommy." Tutur Queena mengarahkan pandangannya kepada Tara serta Celia secara bergantian membuat Celia mendapat kejutan atas panggilannya terhadap menantunya. "Quin mau es kim."
"Mommy?" Heran Celia menatap janggal wajah Jackson.
Merekapun mengayunkan kakinya menuju tempat yang di inginkan si gadis cilik.
Di sela langkah kakinya, Jackson menjelaskan tentang apa yang di maksud panggilan ratu kecilnya terhadap wanita pujaan hatinya.
Celiapun melepas kesalah fahamannya yang sebelumnya mengira bahwa Tara adalah kekasih Jackson yang padahal kenyataannya demikian.
Tibalah mereka pada sebuah restauran Italia yang masih berada di sekitar. Pas sekali waktunya dengan mereka sebiasanya menyantap makan malamnya hingga mereka melakukannya di tempat tersebut.
"Aku ga tau kalo kalian ternyata temenan." Ujar Jackson menatap wajah Celia serta Tara bergantian.
"Udah dua tahun kan ya kita temenan?" Celia mengedipkan matanya kepada Tara mengisyaratkan atas ucapan dustanya agar di sambut oleh Tara. Lantas dengan segera menepis pandangannya menuju ravioli yang sudah terhidang di hadapannya.
__ADS_1
Tara membisu tidak mampu menyambut ucapan kepalsuan mertuanya yang duduk di sampingnya.
"Udah selama itu makanya kita deket banget." Imbuh Celia, kini kebohongannya di tutupinya dengan gerakannya yang meyeruput es cappucinonya yang sudah terhidang.
"Oh jadi waktu kamu jadi LC di The Views juga udah kenal sama mami?" Meski ucapannya tertuju pada Tara, Jackson mengarahkan pandangannya pada Celia menyela kegiatan menyantap Friselle nya sejenak.
Es cappucino yang belum masuk ke dalam tenggorokannya menyembur dengan keras dari mulut Celia mendengar pernyataan Jackson itu.
Tara segera meraih tisyu lalu memberikannya kepada Celia lantas kembali menyantap spagetinya dengan lahapnya.
Celiapun mengusap celana bahan berwarna hitamnya yang terkena tetesan air cappucino dari mulutnya itu.
"Kamu tau juga dia kerja di sana?" Cerdiknya Celia dalam bersandiwara hingga mampu menepis perkataan anaknya. Namun wajahnya tertunduk melihat tangannya yang masih sibuk membersihkan celananya seraya menyembunyikan wajah rancunya.
"Ya lah, aku kan nge Dj di sana juga." Tepis Jackson masih merasakan jika ucapan ibu tirinya mengandung sebuah arti tanpa kebenaran.
"Ah yah aku ga mau tau soal kamu yang itu, makanya aku lupa kalo kerjaan kamu kaya gitu." Akhirnya Celia mengangkat wajahnya meski berat hati, takut-takut anak tirinya yang cerdas mengetahui tingkah dustanya.
Dalam percakapan anak dengan ibunya, Tara menggundam rasa canggungnya hingga melampiaskannya pada spageti yang tinggal sepruhnya itu hilang dari atas piringnya dalam waktu singkat. Seusainya, ia menyuapi Queena yang berada dalam pangkuannya.
Celiapun kini membeku dalam suasana hati canggungnya. "Kayanya aku harus bersihin ini pake air." Lantas tergesa ia bangkit hingga melangkahkan kakinya.
Tarapun segera menyerahkan si gadis cilik kepada ayahnya, lalu ia memburu langkahnya menyusul mertuanya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc