Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 147


__ADS_3

Bayang malam berhias sunyi, menelantarkan bintang yang tak nampak di atas sana kala awan kelam menyelimuti langit, udara lembab terpicu membaur saat hujan tak kunjung turun.


Triana ingin melepas rasa gerahnya setelah berhasil membasuh tubuhnya dengan air dingin kini menginginkan minuman segar sebagai pelepas dahaganya, handuk putih berukuran mini menjadi penutup kepalanya saat ini, busana tidur berwarna merah muda adalah pilihannya untuk membalut tubuhnya.


Keadaan tubuh yang masih berbau harum itu terbawa langkah kakinya yang berjalan menuju suatu tempat di mana keinginannya akan tercapai di sana.


Dalam langkah yang tak goyah, angannya melayang membayang nasib sang ibunda tercinta yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur sudah sekian lamanya.


Tiada lelah ia memanjatkan harapannya untuk kesembuhan ibunya di setiap detik yang di laluinya membuat hari-harinya penuh dengan lamunan pedihnya.


Rasa lelah akan menanti sebuah harapan lekas terkabul kini telah berbuah menjadi keputus asaan, namun demi mencari penyemangat hidup dari sikap ibunya seperti saat-saat lalu membuat semangat terpicu dari dalam asanya.


Terlalu keras ia berkhayal dalam lamunan setiap malamnya membuatnya mengabaikan suara langkah kaki yang terdengar lemah di sekitarnya.


Hanson sengaja nencari keberadaan kekasih barunya saat ia tidak melihatnya di dalam kamar tidurnya, ia tersenyum tat kala pasang matanya menagkap sosok itu telah membungkuk di hadapan tempat minuman dingin tersedia.


"Besok jadwal suntik hipotiroidisme mama kamu Tri," sapa Hanson tanpa basa-basi mengungkap tujuan awalnya.


Namun rupanya suaranya membuat sang wanita yang telah asik membuka penutup minuman kalengnya bangkit dengan tergesa menyambut rasa kejutnya.


"Kyaaa!" kejut Triana dengan suara memekik nyaring hingga ia menutup pintu kulkas itu dengan kasarnya, beruntung kalengminuman yang sudah terbuka tutupnya itu tidak terjatuh dari tangannya.


Hanson terkekeh gemas di iringi tepukan ringan pada kening kekasihnya. "Besok jadwal suntik mama kamu, jadi besok kamu pulang duluan aja dari kantor ga usah urusin kerjaan."


"Jam berapa?"


"Jam empat sore," jawab Hanson berbalas anggukan faham dari wanitanya.


Rasa dahaga rupanya menyentuh tenggorokan Hanson hingga ia nerebut kaleng minuman dari wanita yang kini menatapnya penuh kejutan yang terurai dari matanya yang membulat.


Kelopak mata Triana kian terbuka lebar tat kala ia melihat sang kekasih dengan santainya menyeruput minuman dari kaleng yang mendapat jejak bibirnya di sana, ia menerka jika tindakan itu adalah sebuah jawaban atas ketulusan hati sang pria untuk mencintainya hingga sudi menelan air yang terdapat pada tempat yang sama dengannya.


"Ga mau ya?" tanya Hanson di sela tatapan herannya pada wajah sang kekasih setelah setengah menit tiada mendapat jawabannya.


"Mau kok, lagian tugas aku dari kantor belum banyak, lebih banyak tugasnya di kasih Fiona kan?" Triana menentang ucapan kekasihnya saat rasa cemburu sosial menggerogoti keinginannya.


"Kamu cemburu?" tanya Hanson berakhir dengan tawa kecil sebagai ledekannya membuat sang kekasih bergerak kikuk di sana.


Tanpa ingin memperpanjang bahasan yang menurutnya akan membuat hawa canggung membaur di sekitarnya, Triana mengayunkan kakinya perlahan untuk menghindari ruang itu.


Hanson segera membuntuti langkah pendek itu hingga berjalan beriringan dengan kekasihnya. "Kamu cemburu hmm?" ulang Hanson berseru gemas memancarkan harapan untuk jawaban yang di inginkannya dengan merangkul pundak sang kekasih.


"Hmm, aku cemburu kalo tugas aku ga banyak kaya dia."


"Harusnya kamu seneng dong, kan ga banyak kerjaan?"


"Iya tapi aku ga dapet penghasilan lebih." Tanpa berpikir Triana menimpal ucapan kekasihnya untuk mencari alasannya karna ia gengsi mengungkap rasa cemburunya.


Setelah tersadar, rasa malu berhasil membuat wajah Triana mengumbar ronanya yang dapat di pastikannya lantaran hawa panas menyembur dari wajah itu.


"Tenang aja, buat kasus selanjutnya pasti aku bawa kamu terus kok," ujar Hanson berseru lembut untuk menepis wajah yang memerah itu, ia mengira sang kekasih memendam dendam terhadapnya.


"Kamu ngelakuin ini bukan buat bales dendam sama Fiona kan?" tanya Triana penuh rasa cemas jika saja pikiran buruknya menggapai kebenaran kisahnya.


"Bales dendam apaan, kamu juga tau harusnya yang bales dendam si Fiona sama si b*ngke Jack." Hanson menepis tegas hingga membuahkan nada nyaring yang memekik gendang telinga Triana.


Perbincangan terpenggal saat mereka menepikan langkahnya di dalam ruang keluarga dan langsung saja duduk di atas sofa yang tersedia secara berdampingan.


"Tinggal lima kali lagi suntik, moga aja bener kata dokter, mama kamu bisa bangun kalo hipoglekimianya udah kelar," ujar Hanson penuh lirihan batin membuat wanita di sampingnya merasa haru yang akan di wakilkan pada tetesan air matanya.


"Dulu di Korea juga gitu, tapi hasilnya nihil." Triana membatin pedih hingga nada bicaranya mendayu sendu.


"Kamu jangan putus asa, selama masih ada harapan kita bisa coba semua." Hanson tersenyum penuh kepalsuan saat tujuan dari itu hanyalah untuk menghibur sang kekasih semata.


"Jangan berlebihan bantuin aku Hans, aku ga mau punya utang budi," ujar Triana tidak enak hati beriringan dengan tatapan sendu pada wajah kekasihnya.


Tidak lain dengan Triana, Hanson pun turut merasakan kepedihan itu, bahkan setelah mendengar suara yang lemah akibat menahan isak tangisnya, rasa iba mulai menelusup palung hatinya membuat tangannya terulur untuk mengusap tempurung otak kekasihnya.


"Dia!" imbuh Hanson yang tertahan tat kala bayangan ilustrasinya menangkap sebuah sosok wanita yang masih menjadi incaran hatinya. "Kamu jangan gitu biar aku cepet lupain dia."


Triana tersenyum simpul memaknai ucapan yang tertuju untuk sahabatnya itu. "Tergantung hati kamunya, kalo kamu ga anggap aku pelampiasan pasti bisa."

__ADS_1


Ucapan Triana berhasil membuat batin Hanson merasa dilema, ia tertunduk menyembunyikan kegundahannya. "Sorry Tri, anggap aja yang aku lakuin sama kamu buat bayar rasa aku itu."


"Kalo gitu ceritanya lain lagi, dengan senang hati aku terima bantuan kamu," ujar Triana di iringi senyumannya.


Sesungguhnya ia pun belum memiliki rasa lebih terhadap kekasihnya, mungkin hanya pelampiasan semata atas kegagalannya menggait hati Jackson yang belum tercapainya hingga kini.


**********


Lanjutan Bab 146.


Bulan tersembunyi di balik awan kelam, hawa panas membaur di sekitar ruang tamu yang telah berpenghuni dua pria tampan anak dari pengusaha nomor wahid dalam negri.


Keadaan Sammuel kini masih membawa sang istri di dalam pangkuannya yang sudah tertidur dengan pulasnya.


"Tender premium lo cabut dari dia!" titah Jackson pekat, dagunya bergerak menunjuk wanita idamannya.


Sejenak Jackson mengunci tatapannya pada wajah jelita yang tertidur itu, ia merasa jika pesona dari kecantikannya melebihi sebiasanya.


"Ga usah lo suruh juga gue udah lepasin dia dari sana, masalahnya papi lo masih maksa biar dia yang megang," sahut Sammuel menimpal tak kalah tegasnya.


Sammuel geram terhadap tatapan kakaknya pada istrinya yang masih berlangsung tajam di hadapannya, lantas ia mengusap puncak kepala istrinya itu seraya menatapnya penuh cinta dan kasih hanya untuk membuat sang kakak sadar diri jika wanita itu adalah miliknya.


"Mau ngapain lagi tuh orang, gue ga ngerti sama jalan pikirannya." Jackson mengalah pasrah tat kala sang hati tidak mampu menyembunyikan rasa cemburunya, ia bangkit berdiri di tempat membuat adiknya mendongkak untuk menatapnya.


"Lah gue juga sama, ga ngerti sama jalan pikiran lo."


Jackson mengabaikan ucapan itu, ia melangkahkan kakinya menjauhi adiknya tanpa berpamit terlebih dahulu seolah ia memendam rasa kecewa yang mendalam dan ingn membawanya peegi menjauh dari sana.


Sammuel tersenyum simpul menanggapinya, ia yakin jika usahanya untuk menjauhkan sang istri dari kakaknya telah berhasil di lancarkannya.


Hingga beberapa menit kemudian, Jackson kembali dengan membawa sepuluh kleng bir dalam genggamannya membuat Sammuel menggelengkan kepalanya.


"Lo mau mabok apa?" ujar Sammuel seraya menatap barisan kaleng itu.


"Mabok pala lo oleng, mana bisa gue mabok sama beginian?" Jackson menimpal tak lantas menaruh kaleng-kaleng itu di atas meja dan mengambil salah satunya, membuka rekatan tutupnya, di serahkannya kepada adiknya.


"Tumben_"


"Rencananya sama perumahan, cuma masih tahap penggarapan lahan," sahut Sammuel penuh kejujuran dan berakhir dengan meneguk minumannya perlahan untuk mengobati rasa cemasnya terhadap istrinya jika saja sang istri kewalahan dengan pekerjaan yang di berikannya.


"Gue pasang saham 50% di sana."


"Ga bisa!" Sammuel menolak dengan tegasnya memngingat sesuatu rencana terdapat di dalamnya yang tidak ingin ada satu orangpun terlibat selain dirinya. "Tender itu khusus buat dia, termasuk penghasilannya."


"Oke gue ga akan minta hasilnya sepeserpun, kalo gagal kerugiannya juga gue tanggung." Dengan santainya Jackson meneguk minuman di akhir kalimatnya tanpa mau tau jika ucapannya membuat sang adik merasa geram terhadapnya.


"Lo ngarep gagal apa?"


"Inilah busuknya lo dalam bisnis, pikirin paitnya dulu sebelum manisnya."


"Mantan cewe lo ini yang ngajarin berani kalo bisnis," tunjuk Sammuel dengan menatap istrinya, menahan tatapannya sejenak, memberikan elusan pada pipinya membuat Jackson menggelengkan kepalanya, menyadarkan dirinya yang ingin sekali memotong jari tangan yang mengelus pipi wanita itu.


"Kalo gitu lo harus siap juga kalo gagal."


"Sebenernya engga siap sih, duit yang gue pake buat itu dari warisan nyokap lo," sahut Sammuel berbuah rasa sebal dari Jackson hingga ia menghembuskan napas jengahnya.


Dalam diam yang tertahan akibat memendam rasa cemburunya, Jackson meraih bungkusan rokok yang telah tergeletak di atas meja.


Biarlah sepuntung rokok akan mewakilkan rasa cemburunya. "Saran gue lo taroh aja duit warisan itu, lo pake dana pribadi lo buat tender itu."


"Kalo lo mau bantu kekurangannya sih gue siap," ujar Sammuel malu-malu tat kala rasa gengsi membakar kalbunya, tidak biasanya ia meminta bantuan terhadap orang lain sekalipun itu kakaknya.


"Oke 90%, gue siap nanggung kalo gagal."


"Lo s*nting apa?" Sammuel enggan lagi memperpanjang perdebatannya yang di rasanya akan memojokkan dirinya, ia bangkit berdiri masih membawa istrinya dalam pangkuannya.


"Gue punya dana ngendap, kalopun di pake buat tender itu ga akan ngabisin 10% nya." Jackson mendongkak menatap harap wajah adiknya berbalas tatapan jua dari pria itu.


"Tar lah gue pikirin lagi." Tanpa ragu, Sammuel melangkahkan kakinya segera. "Besok gue nyetir, gue bawa dia tidur nyaman dulu." Dan berlalu begitu saja dari hadapan kakaknya.


Jackson pun membiarkannya tanpa ingin mencegahnya sedikitpun.

__ADS_1


Setelah adiknya lenyap dari hadapannya, ia mulai membatin lirih yang tercurah pada khayalannya. Percayalah, sejak Tara berada dalam pangkuan suaminya, ia berharap dirinya lah yang melakukan itu bersama wanita pujaannya itu.


Ia menggelengkan kepalanya mencoba menyadarkan dirinya dari apa yang di harapkannya yang akan membuat rasa kecewa mengikisnya.


Lamunannya buyar kala seorang pria menghampirinya.


"Max!" sapanya penuh kejutan yang terpapar dari nada bicaranya yang lantang. "Ngapain lo ke sini?"


Maxson melenguh seraya menghempas tubuhnya di atas sofa bekas penopang tubuh Sammuel sebelumnya. "Hari ini gue udah kaya sales keliling."


Jackson hanya membalasnya dengan tawa kecilnya seolah meledek wajah lelah yang terlihat oleh kedua matanya.


"Pergi ke rumah bokap lo suasana lagi kacau, pergi ke rumah si Hanson malah ga ada sambutan, pergi ke rumah lo malah di sambut setan," ujar Maxson menjabarkan keluhannya yang telah mengalami hal buruk beberapa saat lalu.


Jackson kembali tertawa kecil mendengar keluhan s*nting itu. "Kenapa lo?"


"Berantem sama cewe gue gara-gara anak lo," sahut Maxson tanpa mengingat akan suatu wejangan dari ibu anak yang di sebutkannya bahwa keberadaan anak itu harus tetap di sembunyikan.


Keberuntungan menghampirinya kala Jackson tidak begitu menanggapi ucapannya itu.


"Anak gue apanya sih?"


Atas pertanyaan Jackson, Maxson terperanjat mendapat kejutannya yang membuatnya bergerak kikuk di sela mencari alasan untuk jawabannya.


"Anaknya cewe gue maksud gue."


"Anaknya bukannya di Spanyol?" Jackson mulai memicingkan matanya, mencari sesuatu dari rasa janggalnya yang terpicu dari ucapan kikuk kakaknya.


"Ya itu, dia pengen anak itu balik ke sini, tapi nenek lo nolak keras." Sudah tidak mampu Maxson bersandiwara, ia melampiaskannya pada kaleng bir yang di raihnya dari atas meja.


"Ya salah lo juga kali, kenapa dulu lo malah pisahin dia sama anaknya."


Maxson membeku, memang benar yang di katakan adiknya, hanya saja semua itu telah mendapat solusi, kini ia merasa bingung sendiri harus mengatakan apa lagi untuk melanjutkan sandiwaranya. "Ada kabar si Sam nikah sirih sama cewe lo?"


Jackson melenguh tajam, ia mulai enggan menyambut perbincangannya. "Gitu lah."


"Lo lepasin dia Jack, cuma si Sam yang bisa bikin nyokap tirinya ancur."


"Lo ngarep itu, jahat banget lo sama gue." Jackson melengos dalam wajahnya yang memerah membuat kakak tirinya menatapnya tidak enak hati.


"Gue cuma ngasih saran." Maxson mencari penyenggalnya dengan meneguk birnya hingga habis tak bersisa. "Kecuali lo bisa balikin perusahaan bokapnya si Tara sama anak-anak Marlin Hasim."


Jackson menyeringai, ia melupakan suatu hal penting yang dapat membuat rencananya berhasil di lancarkannya. "Itu urusan lo kan Max?"


"Urusan gue?" ulang Maxson penuh rasa heran. .


"Lo rebut dulu perusahaan Interior cewe lo dari nenek lampir itu, baru bokapnya si Tara bisa buka matanya."


"Itu lagi_"


"Itulah kenapa gue terima kerjasama Jas Interior di ZhanaZ." Suara Sammuel menginterupsi di sela langkahnya yang mengayun menuruni anak tangga membuat kedua kakaknya mengarahkan tatapannya terhadapnya. "Gue ga bener-bener terima dia di ZhanaZ, tapi buat perumahan yang baru gue garap."


Jackson serta Maxson saling menatap, mencurahkan rasa janggalnya dalam bungkaman mulutnya, namun mereka saling memahami maksud dari apa yang ingin mereka ucapkan.


"Gue mau ancurin dia dari sana!" ujar Sammuel penuh keteguhan hati di sertai seringai liciknya.


"Lo ancurin perusahaan itu berarti lo ancurin cewe gue Sam," protes Maxson bersungut sebal, ia tidak dapat menerimanya jika ia tau bahwa perusahaan itu adalah milik Jasmeen kekasihnya.


"Lo ga bisa di andelin banget sih Max," cibir Sammuel di iringi tepukan pada pundak Maxson kala ia berhasil duduk di samping pria itu.


"Maksud lo?"


Sudut bibir Sammuel terangkat lekat, menyiratkan senyuman pertanda buruknya sebelum mengutarakan pendapatnya.


Dan..




__ADS_1


Tbc


__ADS_2