
"Kalo ga mau sakit hati ya kamu jangan jatuh cinta." Umpat Tara. Namun berhasil membuat Sammuel membeku.
Sammuel merenung, jika apa yang di katakannya memiliki arti lain. Semuanya akan terasa sakit jika ada cinta di dalamnya.
Lantas, apakah ia harus mengakuinya untuk itu atas apa yang di rasakannya kali ini?
Rasa sakit yang telah menggerogoti hatinya dari apa yang menjadi bayangannya jika istrinya akan segera menjadi milik orang lain.
*******
Tidak! Ia masih menyangkal untuk itu.
Sammuel menolehkan arah pandangnya pada wajah istrinya. "Art Tara__ bukan cuma karna jatuh cinta orang bisa ngerasain sakit hati. Gue udah banyak berkorban buat lo, apa ini balesannya?" Nada dingin dari Sammuel kembali menyayat indra pendengaran Tara.
"Tuan Nate kebaikan anda ga akan bisa tergantikan dengan uang sebanyak apapun, jadi saya cuma bisa membalasnya dengan kebaikan lagi." Balas Tara menepis nada dingin suaminya dengan merangkul tubuh suaminya.
Sammuel membeku dalam bibirnya yang membisu, namun wajahnya kembali mengarah pada alat media di hadapannya. Jantungnya berdenyut nyeri menyambut perbincangan dari istrinya.
Sementara Tara, ia kembali merenung atas perasaannya yang memutar ulang ingatannya di mana hingga kini ia masih mengagumi sosok pria yang berada dalam perbincangannya dengan suaminya, namun iapun tengah membuka hatinya pada suaminya.
Rasa suka itu memaparkan perbedaannya yang begitu terasa oleh Tara, ia memutar ingatannya kembali di mana ia mengagumi sosok Jackson hanya demi seseorang yang memiliki paras serupa dengannya. Lain terhadap suaminya yang begitu saja dengan mudahnya hatinya telah terjatuh.
Ataukah ia telah terperosok ke dalam pesona sang pria yang memiliki hawa pemikat yang pekat pada kaum hawa, ataukah ia hanya merasa berhutang budi terhadapnya? Itulah yang menjadi gumaman benaknya saat ini.
"Sam, si Jack curiga sama mobil aku."
"Lah kenapa dia bisa tau?" Cemas Sammuel melepas keras dekapan erat pada tubuhnya agar dapat melihat wajah istrinya.
"Tadi aku ngobrol sama dia di depan mobil, dia liat flat nya. Tapi aku bilang mobil itu punya temen aku nama nya Triana." Tara menghembuskan napas kasarnya menyela katanya. "Dia kayanya masih curiga soalnya mobilnya kebagusan kalo buat di pinjemin."
"Dia emang cerdas, lo bisa ga yakinin dia sama alesan lo?" Ungkap Sammuel dalam lirihannya, ia tidak mengerti dengan perasaannya. Seolah memaksa istrinya untuk merenggut hati kakaknya, namun batinnya masih ingin mencegahnya.
"Udah, aku bilang temen aku berhutang nyawa sama aku." Jelas Tara membuat Sammuel melega di sana.
"Lah secara ga langsung lo ngomongin gue dong." Guraunya hanya untuk menutupi lirihan batinnya semata. Kembali ia menatap heran wajah istrinya.
"Apa hubungannya dodol?"
"Yang ngasih tuh mobil kan gue?"
Tara tertawa yang baru pertama kali terlihat Sammuel, meski tawa itu tidak tulus dari asmanya. "Kamu emang punya utang nyawa sama aku?"
"Mau bikin dulu?" Kini Sammuel merangkul pinggang istrinya untuk menggodanya.
"Kamu kira ketoprak apa? Pake bikin dulu segala."
"Ga ngerugiin gue ini, lo tinggal minum racun demi gue kan jadi ga bikin alesan bohong."
"Racun pala mu sengklek." Sebal Tara menepuk keras tangan suaminya yang merangkul pinggangnya hingga rangkulan itu terlepas begitu saja.
__ADS_1
Hening mengambil alih suasana, pasalnya Tara enggan membuat kesalahan pada suaminya yang akan sangat merugikan keuangan serta hatinya di kemudian hari. Jangan lupakan, hingga kini ia masih mencoba mengambil hati sang suami.
Sedang Sammuel kembali memusatkan pandangan serta kedua jari-jari tangannya pada alat medianya.
Tara mencoba melerai situasi canggungnya dengan mencari bahan pembicaraan. "Soal jadwal aku, jadwal kuliah cuma senin sampe kamis, kerja senin sampe jum'at. Itu maksudnya sabtu sama minggu aku bisa ke Bandung buat ketemu keluarga aku?"
"Sesuai janji, lo bisa atur sendiri kan?" Balas Sammuel, pandangannya tidak teralih sama sekali, menyela napasnya yang terpecah saat emosinya belum mereda.
Ah benar sudah ada dalam perjanjiannya, Tara membatin. Sesungguhnya, ucapannya hanya untuk mengalihkan pembicaraan semata. "Oke kalo gitu aku tidur duluan boleh kan?"
"Bukannya gue yang nyuruh lo tadi?" Cetusnya tanpa mau tau ungkapan itu membuat istrinya tertegun.
Lagi dan lagi nada dingin itu berhasil mengintimidasinya. Tara berlalu enggan mendapat petaka dari tingkah suaminya.
Ia segera membersihkan dirinya, mengguyur kepalanya berharap dapat menyegarkan otaknya.
Selepasnya ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya, meski ruang tidur itu tidak tertutup pintunya, dengan percaya diri ia mengenakan pakaian tidur transparannya.
Beberapa jam kemudian Tara masih sulit memejamkan matanya hingga ia beranjak menuju ruang tamu untuk menemui suaminya kembali.
Namun saat berada di ambang pintu yang menghubungkan ruang tidur serta ruang tamu itu, ia mendengar celotehan suaminya dari perbincangan di balik selulernya. Rasa penasaran Tara membuatnya menguping di balik pintu itu.
"Pih aku udah bilang ga akan ambil uang itu dulu."
Tara menguping dalam keadaan berdiri di balik pintu ruang tamu itu. Hingga apa yang di dengarnya begitu jelas merasuk telinganya.
"Uang cuma segitu gimana bisa ga di pake sama sekali?"
"Aku ga punya ide sama sekali mending uang itu jangan dulu kasih aku deh."
Sesaat hening melanda.
“Pih awas jangan suruh mami buat bujuk aku."
Sampai di sana, Tara tidak lagi mendengar suara ocehan suaminya.
Tara mulai mengayunkan kakinya hingga menepi di samping suaminya. Bokongnya berhasil mendarat tepat di samping kanan suaminya.
Sedang Sammuel bersusah payah menelan ludahnya, menepis pandangannya pada tubuh yang terbalut pakaian transparan itu. Selalu saja Tara berhasil menggodanya, bahkan hanya dengan gerakannya saja.
"Ada masalah?" Tara merangkul tubuh suaminya dengan kedua tangannya, di sandarkannya kepalanya pada ujung pundak suaminya membuat tenggorokan suaminya bergerak naik turun tanpa jeda.
Sammuel membiarkannya meski hatinya berontak. "Lo ga mungkin ngerti." Tebasnya, menolehkan wajahnya menatap puncak kepala istrinya.
"Ga akan ngerti kalo kamu ga bilang." Protes Tara, menatap harap sebuah jawaban dari suaminya yang kini menatapnya penuh luka.
Sammuel tersenyum membalasnya. "Art Tara." Pasrah sudah ia di buatnya.
"Ya?"
__ADS_1
"Andai lo punya duit 2 triliun, tapi duit itu ga boleh berkurang dalam waktu dua tahun. Lo mau apain duit itu?"
Tara melepas dekapan mesra pada suaminya, tatapannya memandang arah lurusnya. Kesempatan baginya untuk menguji otaknya dari ilmu yang di pelajarinya saat mengandung dahulu kala. "Kalo gue yang pegang duitnya bukan cuma ga berkurang, malah pasti beranak"
"Caranya?"
"Beli beberapa bangunan kostan. Harga bangunan makin tahun makin naik, bukan cuma duit itu beranak di kemudian hari, tapi juga dapet penghasilan dari sana setiap bulannya."
Sammuel menatap lekat wajah istrinya memaparkan kekagumannya meski tidak mendapat balasan. Ia baru menyadari jika istrinya sepintar ini. "Apa konglomerat itu yang ngajarin lo?"
"Bukan, dia malah ga pernah nyuruh aku keluar rumah, apa lagi urusan kerjaannya aku ga tau sama sekali."
"Jadi gue harus bilang kalau cewe nakal ini pinter?" Sammuel baru tersadar jika ayah mertuanya pengusaha property. Pantas saja Tara mengerti dengan apa yang di ucapkannya.
Sesungguhnya, Tara tidak pernah mendapat kesempatan untuknya bercampur tangan dalam perusahaan ayahnya. Hanya saja ia tetap memiliki rasa ingin membantu ayahnya dalam bisnisnya.
Namun semua rasa suka rela itu sirna setelah ia mendapat seorang ibu tiri, hingga sekarang sedikit banyaknya ia dapat membantu suaminya.
"Aku ga maksa dan ga minta itu." Tara menatap kikuk wajah suaminya yang sudah menatapnya terlebih dahulu.
Sejenak kembali keheningan mengisi ruang mereka dalam kedua mata saling memandang, membuat hasrat keduanya meluap untuk saling melepasnya.
Hanya beberapa detik, Sammuel melepas pandangannya. Wajahnya bergerak, menepis jarak dengan leher istrinya. Hidungnya berhasil mengendus leher berbau rose istrinya.
Desahan kecil berhasil lolos dari bibir Tara membuat Sammuel semakin berhasrat untuk menghujamnya.
Kini bibir itu beralih membungkam mulut istrinya hingga membuahkan suara decakan dari bibir yang saling bertautan.
Napas mereka mulai memburu, menikmati cumbuan tanpa perasaan itu. Terlalu kasar bagi Tara yang baru saja mengetahui apa yang di namakan cumbuan harmonis, namun tetap saja membuatnya larut dalam dunia gairahnya.
Tidak hanya Tara, Sammuelpun menikmati kegiatannya hingga membuat wajahnya memerah menahan udara yang berserakan dari dalam paru-parunya. Hasrat kian merangkak menyentuh sanubari hingga mencengkram ubun-ubunnya membuat cumbuan itu kian ganas dan brutal.
Batin Tara tidak mampu menahan gairahnya, ia mendorong kasar tubuh suaminya merasakan paru-parunya telah kehilangan sebagian pasokan udaranya.
Sammuel menyembunyikan redaman hasratnya dalam tatapan dingin yang memancarkan aura gelapnya.
Tara sadar dengan tatapan iblis itu akan membuahkan petaka baginya hingga ia segera mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya. "Ga mau kasih aku jeda ngambil napas dulu apa?"
Berhasil rupanya membuat Sammuel tersenyum hingga mengelus bibirnya dengan ibu jarinya.
Napas Sammuel masih tersenggal akibat hasrat yang tertahannya. "Gue harus beresin kerjaan, lo tidur aja." Tolak Sammuel kembali mengulurkan tangannya pada alat medianya.
Sedang Tara kembali merangkul pinggang suaminya dengan kedua tangannya serta menumpukan kepalanya pada ujung bahu suaminya seraya ikut menatap layar alat media di hadapan suaminya.
Sammuel memejamkan kedua matanya, ingin sekali ia menghempas tubuh istrinya dari sampingnya yang akan selalu menggugah hasratnya, namun ia takut istrinya akan semakin menggodanya hingga ia membiarkan kegiatan istrinya itu berlangsung begitu saja.
•
•
__ADS_1
•
Tbc