
Beberapa saat kemudian, tepat ketika Tara usai mempersiapkan seluruh minumannya, Jackson telah kembali menampakkan dirinya di hadapannya.
Jackson membantu Tara membawakan seluruh minuman itu dengan bantuan nampan menjadi alas bagi mereka. Akhirnya, Tara berjalan tanpa membawa bebannya.
Di tengah perjalanan menuju ruang yang di tuju Jackson, Tara melewati sebuah ruang yang dapat di tebaknya ruang itu adalah ruang keluarga.
Langkahnya terhenti kala melihat sebuah bingkai foto -yang menampakkan gambar wajah Sammuel di dalamnya- tersusun rapih di atas bufet penyekat ruang tersebut.
Ia merekatkan jarak pandangnya pada bingkai itu agar matanya mampu melihat dengan jeli wajah pria yang di rindukannya.
Atas penglihatannya itu, ia tersadar dengan hatinya yang tidak menentu. Apakah ia nampak seperti wanita murahan yang akan dengan mudah hatinya tergoyah dari satu pria ke pria yang lainnya? Sungguh kisah asmaranya merendahkan martabatnya.
"Sorry." Gumamnya seraya menyiratkan bayangan wajah Jackson dalam ingatannya.
Benar itulah keputusan yang harus di raihnya, mau bagaimanapun hati tidak dapat di dustai, ia lebih memilih Sammuel, sedang untuk Jackson ia hanya menjalankan tugasnya.
Meski kasih dan cintanya tidak akan terbalaskan oleh suaminya, namun inilah jalan hidup pilihannya. Tidak ada yang memaksanya untuk menentukan pilihan itu, lantas selanjutnya ia hanya mampu menerima segala resikonya.
Lamunannya buyar ketika Celia menghampirinya. Celia menyibak makna lain ketika melihat Tara memandangi bingkai foto -yang berada dalam genggaman menantunya- penuh lirihan yang terlihatnya lebih seperti sebuah penyesalan.
"Ambil buat di apartement kamu." Celia yang berdiri di belakang Tara, ia menopangkan kedua telapak tangannya pada bahu Tara.
Tara menolehkan wajahnya ke sampingnya di mana wajah Celia tertanam di atas pundaknya. Lantas ia menyiratkan senyumannya seraya meraih bingkai itu.
Celia merebutnya dari Tara untuk memandangnya sejenak. Di usapnya bingkai itu di sertai tatapan kagumnya. "Cakep bukan?" Kini ia memandangi wajah Tara seraya menyiratkan senyum manisnya.
"Sayangnya bukan anakmu." Ledek Tara menepis rasa gundahnya dengan gurauannya, ia kembali merampas bingkai itu dari tangan mertuanya.
"Aku juga punya anak yang cakep kaya dia, sayang dia ga ada di sini." Balas Celia di balas anggukan oleh menantunya.
Devand! Tara mengingat itu, kini ia mengetahui jika mereka memiliki wajah serupa lantaran berkaitan satu sama lainnya.
Tidak ada kata kembali terucap, Celia melangkahkan kakinya di buntuti Tara hingga menepi pada sebuah ruang di mana Jackson tengah duduk sambil berbincang dengan ayahnya di sana.
Wajah yang baru pertama kali di lihat Tara menjadi bahan tebakannya berikutnya. "Ayahnya Jackson?" Dengan nada lemah ia mengucap tepat di samping telinga Celia.
"Suamiku." Jawab Celia melengos.
"Oh anak mertuamu." Balasnya yang mendapat gelak tawa dari Celia. Lantas ia kembali melangkahkan kakinya.
Dalam langkah Tara saat lalu, Erick tak lepas memandangi wajah Tara yang membuat Tara tertunduk kaku.
Erick menggebu, pasalnya wajah itu serupa dengan mantan istrinya yang telah berpulang ke asalnya. Tidak begitu relevan, hanya saja jika memandangnya sekilas atau dari dalam lubang sedotan, ataupun dari ujung menara monas maka akan terihat begitu serupa. Sebisa mungkin Erick menenangkan batinnya yang mulai merancu merindukan wajah itu.
Hingga pada Akhirnya Tara berhasil mendaratkan bokongnya di samping Jackson, sedang Celia duduk tepat di samping suaminya yang besebrangan dengan Tara, pandangan Erick mulai menghindar.
Dalam tingkah canggungnya, Tara memasukkan bingkai foto suaminya ke dalam tas nya, hingga bermenit ia memandangi isi dalam tasnya mencurahkan rasa rindunya hanya pada kertas bergambar wajah suaminya.
__ADS_1
"Diakah wanita itu?" Bisik Erick pada Celia yang tidak akan terdengar oleh yang lainnya.
Celia mengangguk lembut.
"Quin mau tidul cama mommy." Pinta Queena melangkahkan kakinya hingga merangkak duduk di pangkuan Tara membuat Jackson menyambut ucapannya.
"Queen, mommy harus pergi, Queen tidur sama daddy aja oke?" Bujuk Jackson, ia bangkit hingga berdiri di samping Tara.
"Mommy mau ke mana?" Queena melirih dengan nada imutnya.
"Mommy harus pulang sayang." Balas Tara mengelus puncak kepala Queena penuh cinta dalam suatu bayangan yang selalu membuat batinnya tersiksa. Seandainya ia dapat bertemu setiap saat dengan anaknya__
Ah sudahlah, ia enggan menitikan air matanya di tengah kerumunan keluarga sableng itu.
"Kenapa mommy ga tidul sama daddy? Mommy yang lain biasa tidul sama daddy sama ade bayi." Ungkap Queena menatap memelas wajah Tara membuat Celia terperangah di sana.
"Queena!!!" Celia terkejut hingga tidak menyadari ia membentak cucu kesayangannya.
Sontak Queena terkejut hingga meluapkan tangisannya membuat Jackson meraihnya dari pangkuan Tara untuk menghiburnya agar menghentikan tangisannya.
Ia kini duduk di tempat semula dengan anaknya berada dalam pangkuannya yang masih meluapkan tangisannya.
"Queen sayang nanti mommy sama daddy pasti tidur sama Queen, tapi ga bisa sekarang." Hibur Jackson seraya mengelus puncak kepala anaknya hingga si gadis culik itu menghentikan tangisannya.
"Jackson." Celia melirih seraya menatap wajah anak tirinya.
Sungguh Tara memendam rasa rancunya hingga ia undur pamit dari hadapan mertuanya.
Setelah Tara hilang di balik pintu ruang tersebut, Erick menatap janggal wajah Jackson.
"Dia kah yang kamu bilang lagi kamu kejar Jack?" Tanya Erick penasaran.
"Ya, gimana?" Senyum sumbringah itu membuat Erick membalasnya dengan tawa ledekannya.
"Lihat Queena tadi, aku yakin dia bukan cuma anak yang pinter, tapi juga baik hati."
Sesungguhnya Erick hanya mendengar kisah Tara dari istrinya yang menyatakan kepintaran wanita itu. Sedang untuk hubungan dengan anak kandung ke tiganya, Celia masih menimbunnya lantaran enggan mengingkari janjinya.
"Aku juga mikir gitu." Jawab Jackson penuh kepastian.
"Cobalah lebih gigih lagi." Pinta Erick menatap lekat wajah anaknya berharap ia segera menyandang seorang menantu sungguhan dalam kehidupannya.
"Susah." Ucap Jackson dalam keraguannya yang selalu mendapat penolakan dari wanita itu. "Kayanya dia marah, titip dia dulu." Jackson menyerahkan anaknya pada Erick, lantas ia memburu langkahnya mencari keberadaan sang pujaan hati dan mendapatinya yang tengah duduk di teras depan rumahnya.
"Art, mau aku anter pulang sekarang?" Ujar Jackson setelah berdiri di samping Tara.
"Ga usah!" Sahut Tara menolak yang enggan menunjukan kediamannya pada pria yang telah menatapnya penuh kejut itu lantaran kini ia berdiam diri dalam apartement milik adik dari pria itu. Takut-takut kisah hubungannya akan terungkap.
__ADS_1
"Kamu ga bawa mobil kan?"
"Emang engga, tapi aku ga mau kamu anter." Sahut Tara menimpal tanpa alasan.
Jackson menghembuskan napas kasarnya yang selalu mendapat penolakan pekat itu. "Di daerah ini grab ga bisa masuk, mending kamu ke rumah aku dulu, di sana baru bisa pesen grab."
Tara melega meski menjanggal dengan ucapan Jackson, namun hanya sesaat janggalan itu telah sirna. Bagaimana tidak ia mendapat jawaban kejanggalannya dengan cepat setelah mengingat tempat di mana kini ia berada adalah sebuah rumah yang terletak di tepi pantai langka penghuni.
Namun itu bukan permasalahannya, poin pentingnya bahwa rumah itu memiliki halaman yang terlampau luas serta penjagaan yang begitu ketat terdapat di dalamnya.
Mungkin inilah yang membuat kendaraan dari luar tidak akan mampu menerobos masuk begitu saja. Akhirnya ia menyetujui gagasan Jackson dengan anggukan serta senyumannya.
Sesungguhnya, pemikirannya tidak masuk akal sama sekali. Nanti, setelah ia tiba di dalam kediaman Jackson, pemandangan serupa akan di dapatinya di mana keadaan kediaman Jackson tidak kalah luas serta penjagaannya yang ketat serupa dengan kediaman mertuanya.
Tanpa di sadarinya bahwa Jackson memiliki kekhawatiran lebih terhadap dirinya hingga Jackson mempersiapkan seorang sopir pribadinya yang akan berperan sebagai pekerja Grab nantinya.
Selama di perjalanan, rupanya mereka saling membungkam mulut lantaran hati serta ingatan mereka mengambang pada kejadian sebelumnya.
Hingga mereka tiba pada ruang bawah tanah di mana Jackson selalu memarkirkan kendaraannya di sana, hening tak lantas menyertainya.
Tarapun turun dari kendaraan itu dengan perlakuan Jackson yang kembali menggugah hatinya di mana pria itu membukakan pintu kendaraan serta sabuk pengaman yang di kenakannya.
Namun gejolak hasrat itu dengan mudah Tara menepisnya setelah mengingat janjinya beberapa saat yang lalu untuk tetap mempertahankan hatinya yang hanya menyambut suaminya saja.
Kala ia berdiri di samping kendaraan roda empat milik Jackson yang tengah mengantar perjalanannya, ia mendapat pemandangan yang kembali menggugah hasratnya di mana sebuah mobil Ferarri Portofino berwarna merah hati terparkir di hadapannya.
Bukan itu yang membuat hatinya tergugah melainkan nomor yang tersirat pada flat kendaraan tersebut dengan nomor B 1 TR.
Ia mengingat bahwa kendaraan miliknya yang di berikan suaminya memiliki huruf akhir yang sama, di mana ia menebak bahwa TR adalah huruf inisial dari namanya.
Mungkinkah Jackson menebak merci merahnya dari kendaraannya yang memiliki huruf itu. Dan lagi, apakah cinta Jackson terhadap dirinya terukir di balik kendaraan mewahnya. Namun lamunannya buyar ketika sebuah mobil sedan berwarna hitam menghampirinya.
"Grab nya udah dateng." Lirih Jackson yang enggan berpisah dengan kekasihnya.
"Oh cepet banget ya?"
"Aku udah pesen pas di rumah mami tadi." Jawab Jackson asal.
Tara mengangguk seraya melambaikan tangannya yang tidak mendapat balasan dari Jackson.
Akhirnya perpisahan itu terjadi begitu saja, sesungguhnya Jackson enggan mengakhirinya secepat itu. Namun ada alasan lain yang membuatnya berlaku demikian.
•
•
•
__ADS_1
Tbc