
Sammuel duduk gelisah di atas kursi yang terdapat di ruang tunggu tempat di mana sang istri menjalani oprasinya.
Puluhan kali sudah ia menatap alat pengukur waktu yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya selama dua puluh menit ke belakang.
Kini rasa cemas menjelma dalam pikiran buruknya yang membuat rasa frustasi mengepul menyentuh jiwanya. Ia menumpukan kedua tangannya pada tungkak kepalanya, kedua sikutnya tertumpu di atas dengkulnya membuat pria yang berdiri di sampingnya menatapnya tidak percaya.
Baru kali ini wajah serta tindakan khawatir itu menjelma pada diri seorang Sammuel Nate Charington yang sebiasanya terkenal akan sikap dinginnya terhadap siapapun.
"Masih belom kelar?" Sahut Nicky membuat Sammuel menatap ke arahnya. "Baru gue liat lo kaya gini." Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Kayanya lo beneran demen deh sama dia."
Sammuel tersenyum miris menatap kejam wajah sahabatnya mendapat ucapan itu yang di yakininya akan membuat pasang telinga di balik dinding penyekat ruang itu memasang ancang-ancangnya. "Otak lo mikir kejauhan Nick, gue cuma takut bikin anak orang sakit aja." Dalihnya dalam matanya yang melirik sejenak ke arah dinding di depannya.
"Bukannya lo udah sering bikin anak orang sakit?" Lengos Nicky tak acuh terkekeh di akhir kalimatnya seolah mengabaikan peringatan picingan mata atasannya.
Sammuel mengabaikan ucapan sahabatnya agar tidak menjalar kejauhan. "Gimana urusan Sonia Meretta?" Penggalnya mengalihkan bahan perbincangannya.
"Aman. Udah mulai kerja sama dua bulan lalu." Sahut Nicky percaya diri namun membuat Sammuel membisu, mengumandangkan siasatnya dalam benaknya.
Mencari cara untuknya segera mempertemukan istrinya dengan wanita yang menjadi bahan perbincangannya.
Setelah mendengar pengungkapan istrinya tentang hubungannya dengan kakak keduanya, ia yakin semua rencananya akan berjalan mulus.
Sang istri akan di buatnya membalaskan dendam terhadap wanita iblis bernama Sonia Maretta itu.
Namun sejenak ia menggeleng, menyangkal tindakannya. Mengapa ia harus perduli dengan itu semua? Bukankah seharusnya ia serahkan semua itu pada kakak keduanya?
Sammuel teringat sesuatu jika seseorang akan dapat membantunya hingga ia melirik tembok yang berada di hadapannya. "Rena, Reno. Ga usah sembunyi lagi."
Ucapan Sammuel membuat Nicky tersadar dari keadaannya. Berdetik kemudian sepasang manusia berpakaian formal menghampiri Sammuel.
"Kalian jangan lapor dulu sama boss kalian soal Tara sebelum tau hasil akhirnya." Titah Sammuel tegas, setegas hatinya yang masih merancu merasakan cemas yang tak kunjung berakhir.
"Baik." Serempak sepasang insan kembar itu berucap sebagai balasan pekatnya.
"Masih inget wejangan buat kalian kan?" Tanya Sammuel di balas anggukan keras oleh sepasang manusia itu.
"Yes sir, kami masih merahasiakan kedekatan hubungan anda dengan nyonya Tara." Jawab Reno yang selalu menjadi pemimpin pada barisannya.
Begitulah adanya, Sammuel mengetahui jika kakak ketiganya membuntuti istrinya untuk mencari tau hubungan istrinya dengan mantan kekasihnya yang telah lenyap dari muka bumi ini.
Dengan demikian, ia takut jika kakak ketiganya mengetahui hubungan dengan istrinya meski sebelumnya telah menegaskannya jika hubungannya dengan Tara hanya sebatas teman biasa yang membuatnya menarik Tara ke dalam kediamannya untuk memberikan bantuan semata.
"Oke, buat ke depannya semua yang berhubungan sama nyonya, kalian lapor juga padaku." Perintahnya tanpa ragu membuat Nicky kembali terperangah. Iapun ingin mengetahui segala sesuatu tentang istrinya untuk mencegah ucapan mengejutkan dari istrinya seperti semalam tadi.
Nicky menoleh pada wajah atasannya seraya menyiratkan kejanggalannya. "Lo yakin Sam?" Tanyanya memastikan agar atasannya tersadar jika titahnya akan membuat batinnya kian tersiksa.
__ADS_1
"Hmm, mau gimana juga dia bi__" Sammuel tertawa kecil menyenggal kalimatnya. "Dia cewenya si Jack."
Nicky menepuk bahu Sammuel di sela paparan senyum ledekannya. Ia yakin jika sahabatnya hampir saja mengungkap rahasianya.
"Akhir-akhir ini apa yang bikin dia butuh uang banyak?" Tanya Sammuel menatap bergantian ke arah Rena serta Reno bermaksud ungkapannya tertuju kepada sepasang insan yang masih berdiri tegap di hadapannya.
"Yang saya tau ibu nyonya mau nikah sama Raymond." Jawab Reno di sambut tawa geli oleh Sammuel serta sahabatnya.
"Raymond? Maksudnya Raymond Syahputra?" Tanya Sammuel memastikan meski ia telah menerkanya sebelumnya.
"Benar tuan." Sahut Reno.
Sammuel menggerutu dalam batinnya mengingat istrinya telah meminta sejumlah harta terhadapnya, ia menerka jika sang istri membutuhkannya untuk menutupi kebutuhan pernikahan ibunya. Ia tidak percaya jika istrinya sudi mengulurkan tangannya untuk hal menjijikan yang membuatnya menghela napas jengahnya berulang kali.
Memang sudah di tebaknya sebelumnya, namun kini ia semakin yakin jika tebakannya tidak salah sama sekali.
"Perlu di atasi?" Tanya Nicky memyeringai menyiratkan makna yang sudah dapat di tebak atasannya jika ia akan bebuat sesuatu terhadap pria yang akan menjadi ayah mertuanya itu.
Sammuel menggeleng, bukan untuk menjawab pertanyaan Nicky, melainkan membayang tidak percaya jika sahabat masa kecilnya bernama Raymond itu tengah sudi memeras seorang janda tua.
Ada yang menjanggal baginya, namun ia menyimpannya dalam lubuk hatinya yang terdalam hingga menbuat suasana hening sejenak melanda.
Hanya sesaat, Sammuel tersadar akan tingkahnya yang telah berlebihan memperhatikan wanita yang akan di jodohkannya dengan kakak keduanya itu. Namun, ia enggan mengabaikan sang hati yang tengah menggundam rasa cemas yang dalam hingga ia sudi menjatuhkan harga dirinya untuk kali ini.
Kali ini saja, hanya sekali biarkan ia mengikuti kata hatinya. Runtukan itulah yang membuatnya percaya diri untuk mengulurkan rasa khawatirnya dengan bantuannya.
Sedang Nicky kian menggeleng, ia menerka jika Sammuel berlaku demikian atas rasa khawatirnya. "Lo, yakin Sam?" Tanyanya kembali memastikan berulang kali.
Sammuel memgangguk ragu, pasalnya iapun belum meyakininya sepenuhnya. "Kita liat pertunjukan menarik dari Sonia Maretta." Ia menyeringai, menyimpan ribuan makna di dalamnya.
"Beliau ibu kandung Vira." Ucap Reno menepisnseringai yang dapat di pastikannya akan membuahkan petaka besar bagi objek buruan dendamnya.
"Aku tau, ibu tirinya Tara." Balas Sammuel membuat Reno tercengang namun tersenyum simpul mendapat berita mengejutkan itu untuk segera memberitaukan kepada atasannya. "Sonia Maretta, ibu kandung dari Raymond Syahputra, ibu tiri dari Art Tara, apa yang terjadi kalau tau dia akan jadi mertua dari ibu kandung Tara?" Ia terkekeh geli di sela kalimatnya.
Benar! Nickypun tidak menyangkal ucapan sahabatnya. Terlalu rumit jalan hidup mereka yang berputar di sekitar tentang hubungannya. "Balasan perebutan ayah Tara dari Marlin Hasim?"
"Tepatnya karma." Jelas Sammuel membuat si kembar terkekeh geli.
"Buat pembalasan dendam seharusnya mereka dapetin dari Nyonya Tara bukan?" Ujar Nicky di balas anggukan oleh pria yang kembali menyiratkan seringai iblisnya.
"Dan Jasmeen." Imbuh Sammuel.
Ketiga orang itu mengangguk membenarkan ucapan Sammuel. Inilah seharusnya. Hanya Tara serta Jasmeen yang menjadi korban ketamakan mereka, maka sudah sepantasnya kedua wanita iblis itu mendapat pembalasan dari Jasmeen serta Tara.
"Gue heran, kenapa dua perusahaan itu bisa berjaya di atas penderitaan orang?" Janggal Nicky membayang pada dua perusahaan milik Rizal Prayuda serta Sonia Maretta.
__ADS_1
"Karna itu bukan milik mereka." Jawab Sammuel membuat ketiga lawan bicaranya mengangguk faham. "Jas Interior, seharusnya milik Jasmeen, Art Residence seharusnya milik Art Tara. Udah jelas dari nama perusahaan juga siapa pemiliknya kan?"
Ucapan Sammuel kembali membuat Reno tersenyum penuh kemenangan, selama ini ia tidak mengetahui kabar itu. Yang ia ketahui kini, bahwa Art Residence sudah di kelola oleh Stevhanus Jidan Brawidjaya, seorang pria yang pernah bertemu dengan Tara dalam sebuah pesta yang membuat Sammuel meluapkan api cemburunya.
Perbincangan tersendat kala pintu ruang di samping Sammuel terbuka menampakkan ahli medis serta perawatnya di sana.
"Siapakah wali dari pasien?" Tanya sang ahli medis segan, mengedar pandangan pada empat orang yang berada di hadapannya.
"Dia." Tunjuk Sammuel pada Reno.
Reno yang faham ia segera menghadap sang ahli medis tersebut. "Bagaimana keadaannya dok?"
"Oprasinya berjalan lancar, hanya saja butuh satu hari untuk rawat inap di sini." Jelas sang ahli medis yang membuat Sammuel melega tiada terkira.
"Baik terimakasih dok." Sahut Reno menyiratkan senyumannya tak lain dengan Sammuel iapun melega di sana.
"Pasien masih belum sadarkan diri, tapi anda sudah dapat melihatnya." Sang ahli medis menunjuk sopan ruang tempat di mana Tara berada.
Sammuel menyambut ungkapan sang ahli medis dengan bangkit lantas melangkahkan kakinya tanpa pamit menuju tempat yang di tunjukan sang ahli medis saat lalu membuat si kembar terkejut, lain dengan Nicky yang kembali menggelengkan kepalanya.
Sammuel telah berdiri di samping Tara yang masih terbaring tak berdaya di sana. Kedua tangannya merogoh saku celana jeans panjangnya menyembunyikan kepalan tangannya.
Ia menatap lirih namun jengah wajah itu, wajah yang selalu menarik perhatiannya yang kini memejamkan matanya dengan pulasnya. Kulit putih segarnya berganti pucat memudar.
Hanya sesaat, tatapan itu berakhir kala ia kembali melangkahkan kakinya menghampiri tiga orang yang masih setia berdiri di luar ruang itu.
"Sekarang kamu udah bisa kasih tau boss kamu." Tutur Sammuel yang sudah menatap wajah Reno di sela langkahnya.
"Baik tuan." Balas Reno serta Rena serempak mengangguk.
"Nick, lo bawa kerjaan gue yang tertunda ke rumah gue." Titah Sammuel pekat sepekat tatapannya pada wajah sahabatnya yang sudah tersenyum membalas tatapan pekatnya.
"Udah di beresin kakak pertama lo." Sahut Nicky di balas senyuman lega oleh atasannya yang sudah melangkahkan kakinya.
"Pengertian juga dia." Ucap Sammuel ketika melihat sahabatnya menyusul langkahnya di sampingnya.
Beberapa jam kemudian, setelah Reno serta Rena menghilang dari dalam ruang yang membuatnya memendam kekhawatiran yang mendalam itu.
Kelopak mata Tara melepas rekatannya, ia mengerjapkannya berulang kali, memperjernih pandangannya. Lantas mengedarkannya dan berakhir pada arah sampingnya di mana seorang pria tampan nan rupawan duduk gelisah di sana.
Ia menyambutnya dengan senyumannya yang langsung mendapat balasan senyuman penuh pesonanya. Lantas segera ia bangkit di bantu sang pria mengarahkannya, membuatnya meresapi kehangatan sentuhan itu.
•
•
__ADS_1
•
Tbc