
Pagi berseri berhias bunga dalam angan Tara yang telah merasakan kebahagiaan entah apa sebabnya. Sudut bibirnya tak luput terangkat manis menyiratkan sebuah senyuman penuh arti menyertai rasa riangnya.
Dari awal ia membuka matanya kala meninggalkan alam mimpinya, senyuman itu selalu tersirat dari wajahnya. Hingga kini tat kala ia berada di dalam ruang kerjanya, bibirnya selalu tesenyum bahkan ia melihat berkas-berkas itu dengan senyuman manisnya.
Senyumannya semakin melebar kala sang suami datang menghampirinya yang telah berdiri di hadapannya.
Plukkk.. glundung.. glundung..
Sammuel melempar kasar kotak merah ke atas meja kerja sekertarisnya hingga kotak itu berguling-guling dan menepi di atas rok hitam sang sekertaris.
"Apa ini?" Tara meraih kotak itu lantas membuka lipatannya. Senyumnya kian melebar kala melihat sebuah cicin tertanam di baliknya. "Buat aku?"
"Buat cewenya si Jack!" balas Sammuel meledek membuat sang istri mendelik menyikapinya.
Hingga kini, Tara masih enggan menerima status dirinya yang di katakan sebagai kekasih dari pria bernama Jackson Jordan Charington.
"Tumben?"
"Bukannya lo pengen hadiah ultah?" ucap Sammuel penuh keraguan. Pasalnya, tidak ada dalam kamus hidupnya jika dirinya sudi memberikan sesuatu kepada seorang wanita, tidak terkecuali istrinya sendiri.
"Meskipun telat, tapi lumayan juga," balas Tara bersahut gembira hingga senyuman itu kian melebar tersirat di balik wajah cantiknya.
Lantas Tara melepas cincin pemberian kekasihnya yang menyemat pada jari tengahnya. Seusainya, ia menarik cincin lain dari kotak merah yang masih berada pada genggamannya kemudian mengenakannya pada jari tenganya.
"Ini yang kamu dapet dari Dubai?" seru Tara tanpa menoleh ke arah suaminya kala ia sibuk melirik-lirik cincin yang sudah bersemayam pada jari tengah tangan kanannya.
Ucapan Tara rupanya membuat pria yang berdiri di hadapannya terperangah dalam kejutan terpampang dari kelopak matanya yang terbuka lebar.
"Dari mana lo tau itu?"
"Tuh!" Tara menunjuk Nicky dengan dagunya, lantas kembali melirik benda yang melingkar pada jari tengahnya itu di sertai senyumannya.
Sementara Sammuel segera melangkahkan kakinya menuju sofa yang terdapat di tengah ruang kebesarannya untuk menghampiri asisstantnya yang sudah tersenyum kikuk menyambut kehadirannya.
Plak! Tanpa perasaan, Sammuel memukul keras kepala sahabatnya.
"Dia nanya, ya gue jawab!" ujar Nicky berseru ketus saat niatnya berkumandang untuk berprotes terhadap tingkah atasannya.
"Setan juga lo! Ga bisa pegang omongan. Gue udah bilang jangan bocor!" Sammuel bersungut-sungut penuh emosi. Ia enggan harga dirinya terjatuh jika istrinya mengetahui niat baiknya.
"Dia bini lo Sam, berarti atasan gue juga!" sahut Nicky menepis kesalahannya dengan memperingati sang atasan.
Sammuel membisu membenarkan ucapan asisstantnya hingga bibirnya kelu sulit menimpali ucapan itu. Lantas, tanpa peduli ia kembali melangkahkan kakinya menuju meja kebangsaannya.
Sementara Tara yang telah mendengar perdebatan pagi itu, ia melipat bibirnya menahan tawanya di sana.
Sore menjelang, Tara sudah berada di dalam kediaman mertuanya. Sengaja ia meminta sang suami untuk mengantarkannya menuju tempat itu.
Dalam langkahnya yang mengayun lamban, senyuman yang selalu tersirat dari pagi hari hingga kini, tak luput menghiasi wajah anggunnya membuat suaminya terheran-heran tanpa mau bertanya alasan di balik senyuman itu. Senyumannya bertambah lekat kala ia melihat Devand tengah asyik bermain bersama gadis cilik sang belahan jiwanya.
Rasa bahagia yang terpicu dari ajakan suaminya untuk melakukan kencan dengannya, kini membuat langkahnya memburu menghampiri si gadis cilik yang telah menengadahkan kedua tangannya untuk meminta pangkuan terhadapnya.
"Mami ke mana?" sapa Tara kala matanya terhenti mengedar mencari keberadaan mertuanya yang tidak terlihat di sekitarnya.
"Ngantor belum balik," sahut Devand.
__ADS_1
"Kamu tumben pulang jam segini?" tanya Tara berbasa-basi.
Sesungguhnya ucapannya bukan hanya untuk berbasa-basi, memang benar adanya jika ia terheran saat melihat adik iparnya berada di tempat kediamannya yang sebiasanya mereka bertemu saat makan malam saja.
"Emang tiap Jum'at aku balik jam segini, kamunya aja yang ga pernah ada di sini tiap Jum'at. Kamu sendiri tumben ga ke Bandung?"
Sengaja memang Tara tidak menemui keluarganya setelah mengingat janji suaminya yang akan membawanya berkencan namun entah kapan. Maka dari itu ia menunggu tanpa kepastian yang membuatnya mengabaikan tugasnya di hari ini.
"Banyak tugas di sini," dalih Tara berucap kikuk kala merasa jika sorot mata suaminya menatap tajam wajah cantiknya.
Rasa takut telah menghantam jantungnya hingga ia mencari cara agar tatapannya beralih dari wajah tampan milik suaminya. Lantas, ia membawa si gadis cilik dalam pangkuannya.
"Ini mommy cama uncle daddy," seru Queena melerai rasa canggung ibu angkatnya kala ia memperlihatkan sepasang boneka barbie yang berada dalam genggamannya.
"Uncle daddy siapa?" tanya Tara menjanggal.
Queena memutar wajahnya melihat arah samping kirinya di mana Sammuel berdiri di sana. "Uncle daddy!" Tunjuknya pada pria yang telah duduk bersila di samping istrinya.
Tara menyiratkan senyum lebarnya, benaknya kembali bergumam menyatakan ingin sekali rasanya segera membawa Sammuel menuju kehidupan normalnya. Hingga terpikirkan olehnya, seseorang tengah menanti kehadirannya nun jauh di sana.
"Apaan? Kamu mau jodohin uncle kamu sama mommy?" sahut Devand berprotes pada si gadis cilik yang telah menerima usapan gemas pada puncak kepalanya dari tangan kanannya.
"Jujur banget kamu cewe imut." Sammuel berucap memberikan aba-aba pada adiknya seraya mencubit gemas sebelah pipi si gadis cilik yang masih berada di atas pangkuan istrinya.
"Cakit uncleeee!" protes Queena tak lantas menghapus jejak itu dengan gaya imutnya membuat ke tiga insan di sekitarnya menatapnya penuh gemas.
Drrttt.. drrtttt..
Phone cell Devand bergetar di balik saku celananya, iapun meraihnya lantas menjawab panggilan bergambarnya, kemudian ia mengarahkan layarnya pada wajahnya.
"Hmm," jawab Devand.
"Mami lo belom balik?"
"Belom."
"Ya udah deh gue ke sana ya?"
"Ga usah lah!” tepis Devand secepat cahaya jika dirinya sangat enggan bertemu dengan wanita yang menjadi lawan bicaranya di balik panggilan bergambarnya. “Lo mending kerjain tugas aja," imbuhnya merajuk tat kala ujung matanya menangkap bayangan sorot mata kakaknya serta kakak iparnya yang menatapnya penuh dendam.
"Licik banget lo! Sabtu ultah si Steven lo ke The Views kan?" seru Gea menebar paksaannya untuk ajakannya.
"Tau! Liat entar." Devand kini melirik wajah Sammuel yang tengah memaparkan aura kelam pada tatapan kejinya.
"Harus bisa lho, dia abang gue Van." Gea merajuk, membuat lawan bicaranya menghempas napas kasarnya.
Devand mulai kebingungan, harus bagaimana ia menolak ajakan itu di depan wanita yang selalu menjadi pengisi hatinya. Tiada yang mengetahui jika dirinya masih menginginkan kakak iparnya untuk menjadi kekasih hatinya.
"Ya udah lah ya gue masih sibuk lo mending__"
Plak!
Sammuel memukul keras kepala adiknya hingga ucapan adiknya terpenggal seketika kala alat panggilan jarak jauh itu terhempas dari genggaman pemiliknya.
"Apaan sih lo!" pekik Devand berseru kesal seraya meraih alat medianya yang tergeletak di sampingnya.
"Lo judes juga sama cewe lo," ujar Sammuel memperingati.
__ADS_1
"Rese ah lo!" balas Devand melenting namun batinnya melega kala ia melirik layar alat media itu yang rupanya panggilannya telah terputus.
"Lo kalo ga demen sama dia kenapa lo mau jalan sama dia?" tanya Sammuel di balas tatapan ledek oleh istrinya.
Tara melirikan wajahnya menuju arah suaminya, ia berdecak ringan mendengar ucapan suaminya yang sesungguhnya seharusnya terucap untuk suaminya sendiri.
"Malesin jadian, dianya aja ngejar gue, guenya mah ogah!" sahut Devand berteguh diri.
"Bohong lo! Gue tau lo sering jalan sama tuh anak si Edwin." ujar Sammuel kian membuat sang istri menatapnya penuh ledekan.
Devand kembali melirik ke arah wanita yang rupanya kini sang wanita berpusat perhatian pada gadis cilik yang berada dalam pangkuannya.
"Itulah gue baru nyesel pas tau dia anak si Edwin, tadinya mau gue putusin tapi dianya ga mau," ujar Devand merancu yang terpampang dari nada bicaranya yang memelas.
"Anaknya ga salah apa-apa, lagian si Edwin ga ada urusannya sama perusahaan lo."
"Mommy, Kuin mau poto cama mommy cama uncle." Suara imut gadis cilik itu menginterupsi membuat perbincangan tegang kedua pria yang memiliki wajah serupa itu terlerai begitu saja.
Sementara Tara tersenyum membalas ucapan si gadis cilik. Lantas ia meraih alat medianya dari dalam tas selempangnya.
"Sama uncle yang mana?" ujar Tara berseru untuk si gadis cilik hingga ia menatap dalam senyuman wajah imut yang telah menatap wajah suaminya.
"Uncle daddy." Telunjuk mungil itu mengacung ke arah Sammuel.
"Oke siap." Tanpa acuh Tara menyerahkan alat medianya kepada adik iparnya yang langsung di raih Devand tanpa hambatan.
Tara mengambil posisinya, menyodorkan bibirnya untuk mencium pipi kanan si gadis cilik, begitupun dengan Sammuel yang menyodorkan bibirnya untuk mencium pipi kiri bocah imut itu.
Namun, entah petaka atau keberuntungan melanda mereka, sang gadis cilik merunduk meraih mainannya yang terjatuh hingga kedua bibir itu berhasil saling bersentuhan.
Tara terperangah hingga membelalakan bola matanya, lain dengan Sammuel yang malah melepas lidahnya serta mengulurkan tangannya menekan tungkak kepala istrinya seolah enggan ciuman itu terlapas begitu saja.
Plak!
Kini Devand membalaskan dendamnya memukul keras kepala kakaknya namun kakak iparnya lah yang meringis menahan sakit akibat mendapat luka pada bibirnya.
"Sinting lo!" pekik Sammuel bersungut dendam hingga menatap kejam wajah adiknya.
"Lo yang sinting! Bisa-bisanya nyosor kakak ipar lo!" balas Devand dengan tatapan yang tak kalah kejamnya.
Sammuel mengabaikan umpatan adiknya kala ia menepis tatapannya menuju wajah istrinya, di lihatnya bibirnya yang meneteskan darahnya di sana, lantas ia segera menghapusnya dengan ibu jarinya.
"Dia kakak ipar lo, bukan kakak ipar gue!” ungkap Sammuel berseru penuh misteri membuat sang istri terperangah mendapat kejutannya.
Tara menerka jika suaminya akan mengungkap status hubungannya dengannya kepada pria yang kini menatap suaminya penuh picingan.
"Lo kata si Jack bukan kakak lo apa?" Devand melotot, melihat muram wajah kakaknya di sana.
“Bukan itu kadal,” sahut Sammuel mencoba mengumpulkan keberanian untuk segera memberitahukan sesuatu kepada adiknya.
•
•
•
Tbc
__ADS_1