
Petang yang terasa gersang, terlihat dari sengatan mentari yang begitu melelehkan permukaan kulit Tara yang tengah duduk manis di atas sofa ruang tamu kediaman baru adiknya.
"Key, suami mama kamu itu si Raymond Syahpurta bukan?" Tanya Tara memastikan jika adiknya yang duduk besebrangan dengannya tengah mengetahui calon ayah tirinya.
"Iya. Kakak kenal dia?" Jawab Keyla tak ayal menyerukan pertanyaannya untuk memastikan sesuatu.
"Cuma tau aja." Mulai Tara melirih mencari sebuah gagasan dalam otak cerdasnya yang berkelit tidak karuan membuat adik keduanya yang duduk di sampingnya menatapnya penuh kejutan.
"Kakak tau dia rupanya." Seru Calista di balas anggukan ringan oleh kakaknya yang telah meraih selembaran kertas dari atas meja di hadapannya.
"Kak itu penghasilan utama aku, dari 8 rumah, baru terisi 100 kamar." Seru Aldi menjabarkan isi di balik kertas yang di raih kakak iparnya saat lalu.
"Sesuai perjanjian, upah kamu 500 ribu buat satu kamar." Ujar Tara membuat samg adiknipar tidak enak hati.
"Segitu juga udah makasih." Sahut Aldi di sambut sang istri dengan anggukan kerasnya membuat Tara melepas senyumnya.
Perbincangan terpenggal kala sebuah alat media berseru nyaring dari dalam tas selempangnya Tara menbuat sang empunya bergegas meraihnya tak lantas menatap tulisan yang tersirat di baliknya. Melihat sebuah nama yang tersirat sebagai 'paman Sam' iapun segera menjawab panggilannya.
"Kenapa?"
"Ke sentra duta sekarang, tar gue kirim alamatnya." Titah Sammuel di sebrang sana di balas dengusan lawan bicaranya.
"Harus sekarang banget?"
"Mau syarat ke 5 lo gue setujui ga?" Sahut Sammuel penuh paksaan namun sejenak terabaikan kala samg lawan bicara mempertimbangkannya.
Tara tidak enak hati hingga ia menatap wajah adiknya serta adik iparnya bergantian seolah meminta pamin dalam rajukan yang di balas anggukan oleh sepasang insan yang duduk di sebrangnya itu. "Kerjaan aku masih belom beres."
"Terserah lo deh, gue ga jamin kalo gue ga akan berubah pikiran."
Tara berdecak yang pasti terdengar Sammuel di sebrang sana. "Aku bisa nyampe sana sekitar sejaman."
"Lo di mana sih? Kok lama gitu?"
"Di Buahbatu, di sini daerah macet."
"Ya udahlah, lewat dari itu gue ga jamin ya!"
Kembali Tara berdecak menyerukan rasa gemasnya atas dasar sang hatinyang tidak dapat menolak keinginan pria itu. "Boss sialan kamu, hari libur masih nyuruh kerja." Umpatnya melengos namun membuat seseorang di sebrang sana menjengah.
"Ya udah kalo ga mau syaratnya serah lo." Putus Sammuel tegas hingga sang istri tidak lagi mendengar suaranya kala panggilan di akhirinya.
"Key, Al sorry aku ada panggilan." Sesal Tara berundur diri meski sang hati berat di rasa jika harus berpisah dengan sang adik tercinta yang langka sekali dapat di temuinya.
__ADS_1
"Yah, katanya janji mau jalan-jalan ke mall." Protes Calista merajuk membuat sang kakak pertama yang sudah bangkit berdiri di sampingnya melenguh dilema.
"Besok aja ya?" Putus Tara ragu-ragu kala menatap wajah adik bungsunya yang merajuk, namun ia melega melihat adik pertamanya yang telah menyiratkan senyumnya di sana.
"Yang tadi atasan kakak ya? kok bahasanya gitu?" Seru Keyla meledek membuat sang kakak terkekeh gemas.
"Atasan di ranjang." Balasnya tak acuh membuat seluruh penghuni ruang menertawainya kecuali si gadis cilik sang keponakan yang telah tertidur di atas pangkuan ibunya.
"Kakak pergi aja sebelum bos kakak marah." Usir Keyla penuh segan di iringi memberikan kecupan pada punggung tangan kakaknya, begitupula dengan yang lainnya.
Tanpa menunggu waktu yang akan terbuang percuma bahkan membuat sang suami murka atas keterlambatannya, Tara bergegas pergi meninggalkan rumah sederhana itu.
Sunyi yang terngiang membaur di sepanjang perjalanan langkah kakti Tara yang telah berpijak di atas lantai berbalut marmer di dalam sebuah bangunan mewah.
Matanya tak henti mengedar, menilik setiap ruang berhias benda-benda antik yang menarik perhatiannya. Hanya mampu sebatas melihat saja membuatnya mengemban rasa penasaran ingin menatapnya lebih lama yang tidak terkabulkan kala mengingat sang suami memberikan waktu sempit kepadanya membuat langkahnya memburu menyusuri perjalanan panjang untuk menempuh tujuan di mana suaminya berada.
Sebuah ruang di tengah bangunan itu menjadi pengakhir langkahnya kala ia melihat sosok sang suami telah duduk di atas sofa yang tersedia.
Tara melangkah ragu melihat sang suami yang masih terpaku menatap lembaran kertas yang bertengger di atas meja hingga tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya kepadanya.
"Lo telat 10 menit." Sapa Sammuel berprotes ledek kala sang istri berdiri di hadapannya membuatnya lebih enggan melirik wajah yang selalu membuat batinnya berseru rindu itu.
"Maaf!" Sesal Taraterucap dengan nada jengahnya membuat seorang pria mendengus tanpa meliriknya di sana. "Nyari alamatnya susah, aku pake GPS malah di suruh muter-muter." Jelasnya merancu kala ia duduk di samping pria itu terbersit wajah serius yang menyorot alat medianya tanpa sudi meliriknya barang sedetikpun.
"Terserah kamu deh! Kamu emang jagonya bikin alesan." Sahut Tara berpasrah diri namun nada bicaranya penuh emosi membuat sang suami menatapnya dengan gemasnya hingga sebelah tangannya terulur melingkar pada pinggangnya.
"Oke gue kasih kesempatan lo buat ingkar janji lagi, lo bisa dapetin syarat itu asal lo juga mau terima syarat gue." Seru Sammuel menyeringai sejuta makna di sambut delikan penyembunyi rasa bahagia oleh sang istri yang masih berada dalam dekapan sebelah tangannya. "Gue juga kasih bonus lo dapet jatah syarat ke 6." Imbuhnya merajuk, menghempas wajah memberengut itu seketika hingga menatapnya penuh harapan.
"Setuju!" Jawab Tara secepat cahaya enggan sang suami menarik kembali ucapan yang membuat api semangatnya berkobar tanpa terkendali. "Syarat ke 6 aku bebas milih tender." Imbuhnya di balas tatapan kejut sang suami.
"Apaan? Lo gila apa?" Seru Sammuel menggemas dengan ucapan asal itu membuat batinnya bergejolak ingin menerkamnya hingga hanya dengan satu gerakan tangannya saja, sang istri telah berada di atas pangkuannya.
"Kamu yang udah bikin aku gila Sam." Cibir Tara menyahut, namun membuat samg suami berseru ceria menerima pengakuan tanpa sengaja yang tertutur olehnya itu.
"Ya udah gue hapus syarat ke enamnya kalo gitu." Balas Sammuel tidak mau kalah mencurahkan rasa gemasnya pada jemari tangannya yang telah berhasil menjepit manja hidung mungil itu membuat empunya meringis sesaat.
"Ya udah ya udah aku kalah lagi." Putus Tara berpasrah diri menerima apa yang di berikan sang suami membuat suaminya tersenyum oenuh kemenangan.
"Inget! Itu syarat bener-bener yang terakhir. Ga akan ada syarat tambahan lagi, kecuali lo mau cerai sama gue." Seru Sammuel mewanti-wanti namun terasa ancaman pekat bagi sang istri hingga membuat sang iatri membatu kaku mendengar kata perpisahan yang terucap tanpa dosa itu. "Gue anggap setuju kalo lo diem." Imbuhnya yang tertuju hanya untuk penghiburan semata tat kala mulut itu terbungkam rapat dalam paparan wajah rancunya. Namun,
Hening melanda kala sang wanita masih berpusat ingatan akan ketidak inginan mendapat sebuah perpisahan dari sang pria yang kini mencengkram keras dadanya membuatnya memekik dalam ringisan.
__ADS_1
"Akhhhh!!" Jerit Tara meringi hingga memukul keras tangan yang berada di atas dadanya itu. "Bisa ga kamu jangan bikin dia layu?" Ujarnya penuh emosi untuk permintaannya.
"Ga akan kalo lo sering pergi sama Celia." Sahut Sammuel tanpa dosa kembali mencengkram dada itu namun kini sang wanita berdiam diri tanpa perlawanan sedikitpun.
"Ogah amit!" Sahut Tara memekik mengingatkan akan sesuatu yang selalu ingin di hindarinya.
"Gue juga ogah bales hati lo kalo gitu." Balas Sammuel menggoda hingga menghentikan kegiatan tangannya membuat sang istri menatap kehilangan pada tangan yang kini mengusap pipinya.
"Ga nyambung ah."
"Nyambung lah, lo ogah-ogahan ngurus diri lo sendiri, gimana bisa ngurusin gue nantinya?" Sahut Sammuel berteguh diri agar sang istri mengabulkan keinginannya. Namun rupanya sang istri keliru menanggapinya kala tangan jenjang itu kembali meraih dadanya membuatnya menerka jika sang suami tidak akan melepasnya hingga nanti.
"Oke aku nurut deh, demi kamu." Putus Tara penuh ceria menganggap ucapan suaminya telah menyambut sang hati.
"Bagus!" Keceriaan Sammuel tersembunyi di balik wajahnya yang menepis arah pandang dari istrinya. Namun tangannya kini kian meraja lela hingga menelusup masuk ke dalam kaos berlengan panjang istrinya.
"Sam, ini rumah siapa?" Seru Tara yang terpendam sejak ia menginjakkan kaki di sela ruang itu.
"Rumah lo lah, kan gue janji ngasih lo rumah sama mobil." Sahut Sammuel melenting, selantang wajahnya yang telah menelusup ke dalam dada sang istri yang menyambut ucapannya dengan sentilan pada daun telinganya membuatnya menatap emosi wajah istrinya.
"Sam kamu mau bikin aku tambah ga mau lepasin kamu apa?"
"Lepasin gue apa harta gue?" Sammuel meledek menyembunyikan batinnya yang melompat-lompat di dalam sana menyambut ucapan penyerahan diri sang istri sesaat lalu.
"Dua duanya kali ya?" Balas Tara menggoda dengan senyuman manisnya membuat sang suami menahan senyuman cerianya akibat gengsinya tersulut dari asmanya.
"Mulai lo ya serakah." Seru Sammuel meluapkan pada leluconnya yang di balas sang istri dengan tawa kecil menggida membuatnya tidak tahan diri hingga mengecup sekilas bibir itu. "Gue ke sini cuma mau ngomongin ini, lo bisa balik lagi ke rumah ade lo." Usir Sammuel terpaksa enggan membuat waktu sang istri tersita. Nyatanya, sang istri menanggapnya demikian hingga ia mendengus penuh umpatan.
"Perjanjiannya berlaku mulai kapan?" Tanya Tara tanpa ragu menganggap hal itu begitu penting baginya yang akan mendapat kabar berita kemanapun sang suami pergi.
"Senin nanti!" Jawab Sammuel percaya diri. "Surat perjanjiannya gue taroh di kantor." Imbuhnya di balss seringai penuh kemenangan oleh sang istri membuatnya merasa takut akan siasat busuk terbersit dalam ingatan sang istri .
"Oke lah. Aku pulang sekarang kalau gitu." Seru Tara berpamit diri tanpa mau mendapat umpatan samg suami ia bergegas bangkit berdiri, melepas kegiatan romantis yang selalu membuat hatinya menghangat.
"Hmm." Sahut Sammuel mendengung kala manik matanya berpusat pandangan pada wajah sang istri yang terlihat lebih ceria dari biasanya membuatnya melega tanpa terkira.
Tara hanya tersenyum menyikapinya, lantas melambaikan tangannya mempertegas ucapan pamit yang sesungguhnya ingin sekali sang suami mencegah kepergiannya lantaran sang angan masih merindu untuk berduaan bersamanya.
Seperginya Tara, Sammuel termenung, merebahkan punggungnya pada penyandar sofa dalam tatapan kosongnya ke atas langit-langit. Kembali ia mengingat kejadian pagi tadi yang membuat kekhawatiran menjalar di dalam asmanya.
•
•
__ADS_1
•
Tbc