
Di hari yang masih dini, batin Tara sudah meronta-ronta. Ia belum terbiasa jika sang suami tidak menjemput pandangannya kala matanya baru saja terbuka setelah menerjang alam mimpinya semalaman tadi.
Kendati demikian, ia tetap melangsungkan kegiatannya di hari liburnya ini untuk mempersiapkan santapan pagi seluruh penghuni kediaman mertuanya.
Meski pekerjaan itu seharusnya di lakukan pekerja rumah tangga, namun untuk menepis kepedihan lantaran kehilangan kehadiran suaminya, iapun melakukannya tanpa berkeluh kesah.
Bukan semakin mereda rasa itu ketika samg ibu mertua berada di sekitarnya merecok dengan perbincangan mengenai suaminya.
"Aku dengar Sammuel pergi lagi tanpa pamit?" Tanya Celia memaksakan diri menatap wajah menantunya meski sang tangan bersibuk diri dengan sayuran yang menjadi buruan tangannya untuk di cucinya.
"Mami tau dari mana?" Sahut Tara menimpal pertanyaan mertuanya hingga membalas tatapan itu menjeda kegiatan tangannya yang sibuk mengaduk bahan santapan di dalam kuali.
"Hanson." Jawab Celia singkat tat kala tubuhnya berpindah tempat hingga berdiri di hadapan meja tanpa pasangan kursinya di sana.
"Aku udah biasa sama kelakuannya itu." Tepis Tara melerai lirihannya agar sang mertua tidak terlalu mengkhawatirkannya.
"Harus ekstra sabar menghadapinya bukan?" Tanya Celia penuh emosi hingga sayur dalam tangannya terhempas keras ke atas meja.
"Mami tau ga cerita tentang cewe yang di Dubai?" Tanya Tara penasaran ingin mengetahui penjelasan kakak iparnya saat lalu.
"Kurang ta_"
"Dia pacar pertama Sammuel." Suara Erick menginterupsi membuat kedua wanita itu meliriknya dalam kejutannya. "Kenapa kamu tanya soal dia?" Janggalnya terlihat tegas dengan picingan matanya yang mengerutkan alisnya.
"Cuma penasaran aja." Sahut Tara menjawab asal membuat pria yang telah berdiri menyandarkan tubuhnya pada meja di sampingnya kian menyorot wajah kikuknya.
"Penasaran sama kehidupan Sammuel?" Sahut Erick kian menyorot wajah cantik menantunya membuat sang empunya tertunduk penuh rasa takut.
"Lao gong_" Celia merajuk melerai introgasi dari tatapan pekat suaminya dengan meraih tangan suaminya. "Anakmu itu udah kabur lagi, Tara kebingungan sama kerjaannya." Jelasnya namun terabaikan sang suami yang membungkam diri.
Erick tidak mudah di kelabui hingga ia masih menjanggal di sana bahkan melepas tangan yang tergenggam istrinya dengan cepatnya. "Yakin suamimu ini ga boleh tau sesuatu?" Imbuhnya merajuk meminta jawaban hingga ia menjepit dagu sang istri agar mampu menatap mata indah itu, mencari jawabannya di sana.
"Aku yakin kamu akan mencari taunya sendiri kalau aku ga mengatakannya." Balas Celia yang mulai terkaku-kaku menepis pandangan itu, menyiratkan senyum manisnya membuat jepitan pada dagunya terlepas begitu saja. Lantas ia menghindari tatapan itu dengan melangkahkan kakinya, menutupinya dengan mempersiapkan piring-piring untuk hidangan yang berhasil di racik menantunya.
Tara hanya mampu membisu di sela kegiatan memotong sayurnya, kini ia menghindari pandangan Erick dengan kembali meraih ikannya.
"Mih apa makanan kesukaan Devand?" Tanya Tara mengalihkan bahan perbincangan yang membuatnya canggung itu.
"Ikan yang kamu goreng itu sama soup ayam." Jawab Celia mengerti dengan maksud hati sang menantu tercinta namun membuat sang suami kian memaparkan wajah penasarannya.
"Kamu jangan lampiaskan rindu kamu sama Devand yang mirip Sammuel Art." Ucap Erick dengan lembutnya namun langkahnya terlihat kasar oleh kedua wanita yang kembali memaparkan wajah kejutannya.
Tara tertegun dengan ungkapan ayah mertuanya yang di rasanya tidak masuk akal sama sekali. "Adakah anggota keluarga kalian yang ga pinter?" Gumannya yang membuat sang mertua wanita terkekeh gemas.
"Sudahlah, aku yakin Sammuel pergi ke sana bukan buat temuin pacar pertamanya." Celia menyahut lembut melerai kegelisahan menantunya hingga menyela sejenak kegiatan tangannya yang telah berhasil mengiris bawang bombai.
__ADS_1
"Semoga gitu." Balas Tara dalam tatapan kosongnya, tanpa di sadarinya ia meremas udang yang tengah menjadi bahan kerajinan tangannya membuat sang mertua mengelus singkat pundaknya.
"Oh ya, jum'at besok kamu bisa temenin mamih ke acara pesta?" Seru Celia bermaksud ingin menghibur sang menantu tercinta.
"Besok aku harus ke Bandung mih." Tolak Tara segan hingga menghentikan sejenak kegaitan tangannya yang tengah menabur tepung pada udang itu, menatap wajah sang mertua yang sudah mengerutkan bibirnya.
"Bisa kan ke Bandungnya minggu depan aja?" Celia merajuk di iringi tetesan air payau membasahi pipinya membuat sang menantu terkekeh gemas di sampingnya.
"Aku ada masalah penting yang harus di urus di sana." Sahut Tara tak lantas mengulurkan tangan berlumuran tepung itu pada wajah cantik mertuanya untuk menghapus tetesan air payau di pipinya. "Jadi jangan cengeng." Imbuhnya meledek membuat sang mertua membalasnya dengan melempar kasar sang bawang bombai dari genggaman tangannya.
"Aku yakin muka ini udah kaya donat tepung." Sahutnya di sambut tawa kecil oleh sang menantu tak lantas tangan itu terlepas dari wajahnya.
"Udah simpen aja bawangnya, nanti aku yang iris aja." Tawar Tara mempertegas perintahnya membuat sang mertua berpasrah diri meraih bahan lainnya untuk menjadi buruan pisau yang berada pada genggamannya.
"Masalah penting apa di Bandung?" Imbuh Celia mengingatkan perbincangannya yang terbengkalai saat lalu.
"Masalah keluarga aku_" Jawab Tara terpenggal kala kedua tangannya besibuk diri pada sebuah piring yang di raihnya untuk penumpu hidangannya di atasnya. "Dan juga Sammuel ngasih bisnis sama aku di sana." Imbuhnya di balas senyuman riang oleh mertuanya.
"Lumayan ada kemajuan juga." Ujar Celia menerka-nerka jika anak tiri ke empatnya telah membuka hati terhadap sang menantu tercinta. Terbukti jika sang anak tiri sudi memberikan sejumlah harta kepada wanita itu.
"Apaan sih?" Tara menepis senyuman itu kala berusaha menyembunyikan rasa bahagianya. “Kayanya aku juga ga bisa pulang hari sabtu, aku sama Nicky mau urus bisnis itu dulu sampai minggu." Imbuhnya di balas anggukan teguh oleh sang mertua.
"Aku ga bisa larang kalau soal itu." Ujar Celia berpasrah diri.
Tara terperangah mendapat kehadiran sosok kakak ipar ke tiganya berada di sekitar yang sudah duduk di atas kursi yang tersedia. "Hanson, tumben ke sini."
"Aku mau nginep di sini, besok harus nganter kamu ke kantor." Sahut Hanson dengan nada santainya namun berhasil membuat tangan Tara yang telah menaruh piring di atas meja terhenti seketika.
Namun, Tara mengabaikannya, tidak terlalu memusingkan keadaan pria yang telah tersenyum di sana."Aku bisa bawa mobil sendiri, besok aku masih harus kuliah." Tolaknya tak bersarat mengetahui jika sebuah paksaan akan di lakukan pria yang duduk besebrangan dengannya itu.
"Tara, ini perintah Jackson!” Ujar Hanson penuh penekanan tidak menerima penolakan sedikitpun. “Selama dia ga ada, aku yang di kasih tugas itu. Ga ada protes!" Imbuhnya kian mempertegas nada bicaranya setegas tatapan wanita di hadapannya memandangi wajahnya.
"Ya udahlah mau gimana lagi." Ujar Tara mengalah yang tersirat paksaan di dalam batinnya.
Seperti sebelumnya, acara santap menyantap makanan akan di lakukan dalam keheningan. Hingga pada akhirnya kegiatan berlangsung sedemikian adanya kala situasi sepi membaur di sekitar mereka.
*******
72 jam berlalu begitu saja.
Kala itu, seusai Tara mengantar kedua adiknya untuk mencari rumah yang akan di tempatinya kelak, Tara sengaja melakukan santapan malamnya pada sebuah restauran siap saji tanpa seorangpun yang menemani.
Tepat saat santapannya meluncur ke dalam perutnya seluruhnya, seorang pria muda seusia dengan suaminya menyapanya.
"Nyonya Jordan, akhirnya kita bertemu." Tanpa sambutan, ia langsung mendaratkan bokongnya pada kursi yang besebrangan dengan wanita yang telah menatapnya penuh kejutan.
__ADS_1
Tara membelalakan kelopak matanya sebagai sapaan utama pada siapa yang datang menghampirinya. "Raymond Syahputra?"
"Benar nyonya." Sahut Raymond menyodorkan tangannya meminta jabatan sambutan pada wanita yang masih menatapnya lekat-lekat. "Calon ayah tirimu." Imbuhnya di balas decakan keras wanita itu.
"Ngapain lo kesini?" Ujar Tara menjengah hingga mengabaikan uluran tangan itu begitu saja.
Raymond melemas dalam bungkaman mulutnya mengabaikan pertanyaan itu seperti tangannya yang melunglai tanpa sambutan. Namun matanya berpusat pandangan pada wajah cantik yang terlihat begitu menarik perhatiannya sejak saat pertama kali mereka bertemu.
"Heh lo!" Sapa Tara dalam nada jengahnya memecah tatapan penuh keinginan pria di hadapannya. "Jangan harap gue restuin kalian." Sambungnya menerka tujuan pria yang mengabaikan ucapannya adalah untuk meminta restunya.
"Pantes si tua bangka itu keleyengan sampai nyuruh gue nguntit cewe ini." Niat hatinya bermonolog, namun pusat perhatian yang berpencar dari tatapannya yang belum di akhirinya membuatnya mengabaikan ucapan wanita yang telah menatapnya penuh murka di hadapannya bahkan sang wanita menjanggal dengan dengan ucapan sepenggalnya.
"Lo bisa ga ngomong yang jelas?" Tanya Tara penasaran dengan maksud dari ucapan yang seharusnya tidak tertuju untuknya itu.
"Oke gue jujur sama lo, kalau bukan karna si Guo Ming Shen itu gue ga bakal mau nikahin nyokap lo." Jawab Raymond penuh kesungguhan hati mengungkap tujuan awal menemui calon anak tirinya.
Tara mengerutkan dahinya, matanya memicing mencari makna dari perkataan lawan bicaranya membuat bibirnya terbungkam rapat hingga pada akhirnya lawan bicaranya kembali mengutarakan isi hatinya.
"Gue ga akan nikahin nyokap lo kalau lo berhasil masukin saham gue ke ZhanaZ." Imbuh Raymond di sambut seringai iblis oleh calon anak tirinya.
Tara menyilangkan tangannya di dadanya mempertegas rasa leganya. Faham sudah ia dengan keadaannya. "Jadi tujuan lo ZhanaZ ya?"
"Gue harap kita bisa kerja sama."
"Gue lebih hargain laki gue, kalau lo tau siapa dia mending lo batalin niat lo." Ujar Tara penuh penekanan membuat calon ayah tirinya tak lekas mampu menyembunyikan rasa kecewanya.
"Oke kalo gitu jangan nyesel gue jadi bokap tiri lo." Balas Raymond berpasrah diri, tidak mengira calon anak tirinya yang masih membungkam rapat mulutnya sulit di hadapi. "Mending lo pikirin dulu maksud gue, gue siap ngasih tau semua rencana mantan lo itu kalau lo mau kerja sama." Dengan santainya ia melambaikan tangannya di balik kekecewaan yang telah merangkak menembus angannya mengiringi ungkapan pamitnya dengan gerakan tubuhnya.
"Silahkan nikmati jadi suami ibu Marlin Hasim." Ledek Tara menyahut pamitan itu dalam tawa sarkasnya.
Raymond melangkahkan kakinya dalam kekecewaannya. Tidak pernah di ketahuinya jika sang anak tiri bukanlah orang yang mudah terbujuk rayuan lelaki, apalagi dari seorang Raymond Syahputra yang telah menghancurkan kehidupan keluarganya.
Kini Raymond baru menyadarinya jika calon anak tirinya memiliki otak di atas rata-rata. Pantas saja seorang Jackson Jordan Charington yang terkenal hebat mampu di buatnya bertekuk lutut padanya.
Sedang keadaan Tara, kini ia mampu menyibak banyak makna hanya dari satu kalimat yang terucap dari pria yang telah sepenuhnya menghilang dari hadapannya.
Sepasang mata yang selalu terlihat olehnya tengah membuntutinya, ia yakin adalah seorang kiriman dari mantannya. Lantas untuk pasang mata yang lainnya, iapun masih mengira jika suaminyalah di balik itu semua. Hal itu terlihat dari keadaan mereka yang selalu terpisah menjadi dua kelompok, ia yakin mereka tidak berada pada kubu yang sama.
•
•
•
Tbc
__ADS_1