
Burung berkicau, menyambut mentari pagi yang bersemi mengempas embun dari dedaunan rindang, udara dingin ciri khas pagi hari berembus menusuk hingga ke tulang Tara yang tengah bergelut dengan peralatan memasaknya di dapur.
Kini ia kembali mendapat tugas menjadi seorang istri setelah 28 bulan berlalu tidak merasakan itu. Namun, kali ini membuatnya bersemangat lantaran pernikahannya dalam status yang diakui.
Karena aktivitas pagi itu, udara dingin tak terlalu memengaruhinya. Biasanya ketika seseorang yang bersemangat beraktivitas dan dan ditambah suhu panas api, tak akan ada yang namanya dingin.
Seperti sedia kala, saat ia usai mempersiapkan santapan paginya, sang suami tengah duduk gagah di atas kursi ruang makan, menunggu di sana untuk menyambut hasil karya tangan istrinya.
Acara masak-memasak segera usai beberapa waktu kemudian, Tara menyajikan hasil pekerjaan yang telah digelutinya beberapa waktu yang lalu. Ia bergabung di meja makan setelah menyajikan semuanya. Mereka duduk di sana dengan makanan yang tampak melambai, menggugah selera dan makin membuat perut menderu minta diisi.
"Nanti malam sama besok gue ga balik ke sini, lo jangan coba-coba nakal lagi." Sammuel memberikan ancaman tegas seraya menyuapi dirinya dengan santapan yang telah terhidang. Tara menyentuh sarapannya setelah pria itu memulai lebih dulu.
"Iya, aku tau,” balas Tara singkat lantaran mulutnya penuh dengan santapannya. Hasil kerjanya tidak buruk, malah sempurna, menurutnya. Bahkan dia pikir, ini harusnya mendapat apresiasi. Sayangnya sang suami malah memberi info dan ancaman, sama sekali tak menyinggung mengenai makanan yang disantapnya.
"Senin depan, lo udah harus siap-siap kuliah sama kerja." Sammuel berujar, lebih ke arah memberikan keterangan tegas, ia masih memasukkan segigit demi segigit rotinya tanpa menoleh ke arah istrinya, itu membuat sang istri menaruh rasa curiga jika sang suami masih kesal terhadapnya lantaran peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu.
Tara hanya mengiyakan dan menyetujui apa yang Sammuel katakan. Meski tanpa mengucapkan dan memberi respons, Sammuel tahu jika wanita itu akan setuju.
"Oh iya, aku hampir lupa soal itu, apa persyaratan yang harus aku bawa?" Tara meneguk teh yang tersedia, lantas menatap wajah suaminya berharap mendapat balasan.
"Nanti Nicky yang atur. Ga perlu repot dan mikirin lagi soal itu semua." Sammuel masih tidak mengalihkan arah pandangnya meski ia tahu jika istrinya tengah menatapnya.
"Buat bajunya juga?" Kembali ia menggigit rotinya mendapat kekecewaannya dalam tatapannya yang tidak terbalas. Kenapa sih dengan lelaki ini? Apa nyaman bicara tanpa bertatap muka dengan lawan bicara? Memangnya ini sedang melakukan panggilan telepon apa?
"Semuanya! Lo tinggal dateng aja dulu ke sana." Roti itu telah masuk seluruhnya ke dalam perutnya, barulah ia menatap wajah istrinya yang telah tersenyum dengan manisnya.
"Enak bener." Tara menggumam, ia hanya tinggal pergi, semua urusan mengenai ini-itu sudah ada yang urus.
"Udah janji gue kan?" Sammuel meledek, lantas menyeruput kopinya yang terhidang menenangkan batinnya dari rasa iba terhadap wajah yang memelas itu.
Tara berdecak mendapat sindiran dari suaminya. "Kamu ngomongin janji melulu, maksudnya nyindir aku apa gimana, sih?" runtuknya dengan nada yang memilukan, ini membuat Tara yakin atas kecurigaan sikap suaminya. Sammuel hanya terkekeh menyikapinya lantas dengan santai kembali meneguk kopinya. Karena tak dapat balasan, Tara melanjutkan percakapannya dengan topik lain.
"Soal dua cowok yang ada di dalam perjanjian nikah ...,” ucap Tara yang sedikit agak ragu-ragu dengan topik ini, merasa bingung apakah ia harus menyinggungnya atau tidak. Tara sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Kenapa?" Sammuel memicingkan matanya, menatap janggal wajah istrinya, lantas ia meraih bungkusan rokok.
"Itu ....” Ia bingung harus bicara seperti apa agar percakapan nyaman tanpa merusak suasana, tapi pada akhirnya ia mengurungkan semuanya. “Emmm .... Ga jadi deh." Ragu ia mengatakannya, namun membuat Sammuel menggelengkan kepalanya.
Lantaran gelisah, Tara meneguk habis tehnya menenangkan hatinya dari kegelisahan tak berdasar.
"Mereka ada di tempat kerja lo nanti, lo bisa mulai tugas lo di sana." Sammuel menyulut rokok itu, mengempas asapnya menyerukan rasa leganya di sana.
"Ini tujuan kamu sebenernya?" Tara menggumam lirih. Pasalnya, entah sejak kapan ia jatuh cinta pada pria yang telah menjadi suaminya sekarang. Awalnya semua ini terjadi akibat dari perjanjian saja, kebutuhan sehari-hari yang mengawalinya. Tapi entah mengapa, ini semua malah berkembang semakin dalam saja tanpa bisa ditahan dan dihentikan Tara sendiri.
Sammuel membisu, batang rokok yang baru disulutnya sudah dipadamkannya lagi. Ia bangkit dari duduknya.
Sedang Tara segera meraih sebuah dasi berwarna navy bercorak garis putih yang telah dipersiapkannya sebelumnya.
__ADS_1
Ketika Sammuel bangkit, Tara bergegas memasangkan dasi tersebut pada leher suaminya.
Karena Sammuel memiliki tubuh yang lebih tinggi 20cm darinya, Tara perlu sedikit mendongak agar apa yang ia lakukan sesuai keinginan dan tak berantakan, begitu pula dengan Sammuel, karena berbeda antara tinggi itu, dia agak menundukkan kepala agar bisa melihat ekspresi istrinya yang sedang bekerja melakukan tugas plus melayaninya.
Dalam keadaan wajah yang menunduk, Tara yang saat itu mengenakan piama berkancing, satu kancing baju paling atasnya terbuka hingga sedikit terekspos, menampakkan belahan dadanya sontak saja terlihat jelas oleh Sammuel.
Tentu saja pemandangan itu membuat Sammuel kembali menelan ludah kasarnya. Sial sekali rasanya karena lagi-lagi tanpa sengaja pandangannya mendapatkan sesuatu yang memancing hasrat yang jelas-jelas harus ditahannya kuat-kuat.
Sungguh Sammuel jengah dibuatnya, lantaran gairahnya kembali bergejolak. Hingga Tara usai memasangkan dasi untuknya, ia segera mendaratkan sebuah cumbuan mesra pada bibir Tara, melampiaskannya dengan hanya sebatas cumbuan.
Bagaimana Tara mampu menolaknya jika sang adam yang terkenal memiliki rayuan maut pemikat dari apa yang dilakukannya, kini hal tersebut dilakukan kepadanya hingga ia larut dalam kenikmatannya.
Tara hanyut hingga membalas perlakuan suaminya. Tangannya terulur mengelus sesuatu dari tubuh pria itu.
Sammuel yang tersadar atas pergerakan istrinya, meski sebelumnya ia mendesah, ia segera menepis tangan istrinya. Bisa bahaya jika tanpa sadar ia melakukan hal yang lebih dari ini. Terpampang singkat raut wajah wanita itu yang tampak kecewa dan sebal dikarenakan aktivitas itu dihentikan ketika keadaan mulai memanas.
"Cuma dipancing dikit doang udah berani nakal, hm? Apa lo biasa ngelakuin itu sama cowok lain?" ejek Sammuel seraya menahan nyeri di jantungnya akibat harus mengempas keras gairah yang sudah merangkak itu. Harusnya memang dilepaskan dan dipuaskan, apalagi sang wanita memberikan jalan, sama sekali tak ada penolakan.
"Resek ah." Tara merona, ia mendorong tubuh suaminya yang membuat Sammuel tertunduk meresapi emosinya.
Pergerakan Sammuel membuat Tara mengingat kembali kesalahannya. "Maaf, aku udah berani, tapi aku ga pernah lakuin itu sama cowok yang belum aku nikahi." Tara menundukkan kepalanya menyembunyikan rasa malunya. Hal yang dilakukan dikarenakan kerinduan dan daya tarik dari suasana yang ada.
"Kecuali konglomerat,” sangkal pria itu.
"Jangan bahas itu lagi, oke?" ucap Tara malu-malu yang lantas menyembunyikannya dengan mengerucutkan bibirnya. Pura-pura kesal dan sebal.
Sammuel terkekeh melihat tingkah istrinya yang menggemaskan baginya. Ia tak sepenuhnya serius menyinggung tentang konglomerat. "Inget, malem ini sama besok gue ga balik ke sini,” ucapnya, ia bicara bernada menegaskan.
Sammuel tidak menjawab atau membalas ucapan Tara, melainkan ia meraih alat medianya, lalu melakukan panggilan pada nomor istrinya.
"Udah." Sammuel memperlihatkan layar ponsel yang sudah diputuskan panggilan sebelumnya pada wanita itu, sekadar memberi bukti bahwa itu panggilan darinya.
Tara mengangguk mengonfirmasi setelah melihat layar itu, lantas Sammuel memutar tubuh membelakangi istrinya hingga berjalan maju berlalu dari hadapannya, tanpa kata-kata lebih dan embel-embel lain. Tara juga paham dan sudah memaklumi hal itu, ia mengabaikannya.
Setelah Sammuel menghilang dari hadapannya, Tara kembali menuju ke dalam kamar tidur. Diraihlah ponsel miliknya yang tergeletak begitu saja di atas meja untuk menyimpan nomor suaminya.
Lantas ia melakukan kegiatan lainnya di mana ia akan membersihkan setiap ruang yang terdapat di dalam kediamannya. Setelah semua selesai dikerjakan, maka langkah terakhir yaitu, ia langsung membersihkan dirinya.
Tepat saat ia tengah usai melakukan seluruh tugasnya, suara dering ponsel di atas meja rias di dalam kamar tidurnya bergema nyaring.
Ia pun meraih benda itu lantas melihat layarnya, mencari tahu siapakah gerangan yang melakukan panggilan. Tapi yang ia lihat hanya nomor saja, tak ada sebuah nama yang tertera di balik layarnya, itu menandakan si penelepon adalah orang yang asing di mana nomornya tak dia simpan. Maka dengan ragu ia menjawab panggilannya.
"Maaf, dengan siapa? Dan Anda cari siapa ya?" sapanya takut-takut seraya duduk pada kursi meja rias berhadapan dengan cermin di sana.
"Art Tara?" Suara dari balasan di seberang menyerukan namanya, tepatnya menerka-nerka saja. Terdengar jelas dari nada bicaranya.
"Ya, saya sendiri, siapa ini?" Jantungnya berdegup kencang, ia berpikir bahwa yang memanggilnya adalah seseorang yang ingin dihindarinya, jika memang iya, maka keputusannya untuk jujur memberitahu identitas dirinya pada si penelepon jelas keliru.
__ADS_1
"Masih inget cowok di The Views yang bantu kamu nangkis pukulan cewek?" tanya pria itu dalam gurauan.
Tara memutar ingatannya hingga beberapa detik ke depan. "Oh iya, Hanson ya?" Tara menggumam lirih mengingat nama tersebutlah yang tertera di balik perjanjian pernikahannya.
"Masih inget juga nama aku." Hanson tertawa kecil yang pasti terdengar Tara di sana di balik selulernya. Kalimat itu secara tak langsung mengonfirmasi tebakannya. Rasa lega mengenyahkan ketakutan yang sebelumnya telah menguasai dirinya tatkala yang melakukan panggilan padanya adalah orang lain.
Bagaimana Tara tidak mengingatnya, jika nama itu telah tertera di balik perjanjian pernikahannya yang membuatnya selalu menggundam kepedihan hatinya.
"Ada apa kamu ... eh, Anda nya ....” Tara mengoreksi kalimatnya sendiri, sebelum selesai bicara, ucapan disela si penelepon.
"Santai aja, ga usah kaku gitu, aku juga ga kaku, kan?" pinta Hanson yang terasa merayu oleh Tara.
Tara tersenyum pada dirinya sendiri di balik cermin. "Kenapa kamu nyari aku?" Kini Tara berbicara lebih baik dari sebelumnya.
"Ada yang bilang kamu butuh pengacara buat urusan sama rentenir, ya?"
Untuk sesaat, Tara terdiam, mengingat sesuatu atas apa yang diucapkan suaminya dahulu kala jika Hanson adalah seorang pengacara. "Oh iya. Kamu mau bantu jadi pengacara aku?" Kembali Tara tersenyum.
"Ya."
"Makasih sebelumnya."
"Udah bilang santai aja."
Tara membisu meresapi perbincangannya yang dia diyakini bahwa suaminya ada di balik semua ini, tebakan saat ini yang ia duga adalah agar ia dapat kembali bertemu dengan pria itu.
"So, kapan mau ketemu mereka?" tanya Hanson.
"Aku sih, kapan aja bisa, tergantung kamu bisanya kapan."
Hening sejenak melanda, membuat Tara melihat layar selulernya untuk memastikan panggilannya masih terhubung. Sepertinya pria itu sedang mempertimbankan dan mencari waktu yang sesuai, Tara sendiri sabar menunggu.
"Besok kamu bisa?" Akhirnya kalimat yang ditunggu muncul juga.
"Bisa, bisa."
"Oke, kalo gitu kamu hubungi dulu mereka sekarang. Kita ajak ketemu di Restaurant Cempaka Food besok.”
"Oke, siap," jawabnya antusias. Langsung sepakat begitu saja.
"Sampe ketemu besok." Hanson mengucap kata perpisahan dan segera memutus panggilannya.
Selepas itu, Tara termenung mengingat ucapan suaminya pagi tadi yang menyatakan untuknya melakukan tugas. Mungkin waktu itu tiba lebih cepat dari perkiraannya, ia pun harus mempersiapkan diri serta mentalnya.
•
•
__ADS_1
•
Tbc