
Rinai peluh bercucuran membasahi permukaan dahi, melambangkan kegundahan yang tak kunjung enyah dari dalam jiwa. Frustasi kian merajalela, menggerogoti setiap tulang sendinya.
Di dalam kendaraan mewah yang sedang melaju mencahar jalanan, pikiran Jackson tak habis mencari celah tentang keberadaan ibu dari anaknya. Tiga tempat sudah menjadi sasaran tujuan, akan tetapi tiada membuahkan hasil sedikitpun manakala yang di cari tiada kunjung di temukan.
Seluruh jangkauan yang memungkinkan telah ia telusuri, mulai dari kediaman orang tua wanita itu hingga kediaman rekannya. Bahkan ia telah menghancurkan harga diri demi mencapai tujuan, ia rela menginjakan kaki dalam kediaman ayah dari wanita itu. Namun, tetap saja pencarian tiada membuahkan hasil sedikitpun.
Gundah berakhir lelah, ingatan tak lagi dapat menemukan kemungkian. Lantas, ia berniat mencari tempat peristirahatan, kebetulan janji temu bersama seluruh keluarganya telah ia ikrarkan. Maka, segeralah ia menggapai tujuan, memberi arah kendaraan menuju kediaman ayah tercinta.
Setelah tiba di dalam ruang tamu bertajuk langit itu, ia menghempas tubuh ke atas sofa yang tersedia. Sambutan tanpa sapaan ia dapatkan dari kakak serta kedua adiknya. Sementara sang ayah menyapa dalam tatap kejanggalan, melihat wajah lusuh seolah memendam sejuta kekacauan dalam pikiran.
Jackson tidak ingin memberi alasan pada tatapan heran dari sampingnya, ia mengedarkan pandangan mencari sosok yang tidak berada di tempat.
"Si Sam belum datang?" tanya Jackson kepada seluruh penghuni, bermaksud pertanyaan dapat di jawab oleh siapa pun yang berkenan.
"Belum." Erick menyahut singkat, nada tegas mengiringi kata yang terucap. Membuat pria yang duduk di samping kanannya menoleh ke arahnya.
Jackson memahami tatapan heran yang masih berlangsung itu, kemudian lenguh frustasi terlontar sebelum membuka suara.
"Tara hilang." Hingga pada akhirnya Jackson mengemukakan jawaban, di sambut sang ayah dengan senyum cibiran.
"Ini kah yang membuatmu batalkan meeting penting hari ini?" sahut Erick mengolok anak sulungnya, tak ayal tawa lelucon ia lontarkan di akhir kalimat.
Rupa-rupanya kehilangan sosok president direktur dari pagi hingga sore hari ini telah sampai pada telinga Erick, sengaja ia memantau segala kegiatan anak sulungnya itu setelah pertemuan kemarin hari yang di yakininya akan membuahkan bencana bagi empunya.
Jackson memberikan jawaban dengan isyarat tubuh, menganggukan kepala tanpa menyerukan suara.
Ungkapan dari mulut Jackson saat lalu, membuat rahang Hanson mengerat tegas. Mengumbar amarah yang tak dapat tersalurkan. Ia meyakini jika kepergian wanita itu di sebabkan ulah adik pertamanya.
Berbeda dengan paparan emosi pada mimik wajah itu, lenguhan pilu berseru dari mulut Maxson. Ia menyesali tidak dapat membantu sedikitpun, karena sang pemilik jawaban enggan membuka mulut terhadap dirinya.
"Sorry Jack, gue ga bisa bantu," ucap Maxson penuh rasa sesal.
"Dia di kubu yang sama, pasti cewe lo bantuin cewe gue." Jackson menyahut ucapan itu, ketika terbesit ingatan akan beban yang terpendam dalam jiwa kakaknya.
"Setidaknya gue dapat kabar mereka masih ada di dalam negri," ucap Maxson berbuah lengkungan bibir tersirat di balik wajah seluruh penghuni ruang.
Rasa lega menghujam suasana, akan tetapi hanya sesaat bagi Jackson merasakannya. Gundah gulana kian menggerogoti diri, sebelum ia dapat membawa wanita pujaannya kembali.
"Gue kira ga bakalan begini." Usai meredam amarah, Hanson menyerukan isi kepala. Ungkap kata penuh teka-teki darinya berbuah tatapan-tatapan kejanggalan menyorot pada wajah.
"Kenapa emangnya?" ujar Devand, menyambut sepenggal ucapan yang membuat rasa penasaran menyeruak dari dalam jiwa. Sehingga tanpa berpikir panjang ia menyerukannya.
__ADS_1
Baris pertanyaan terabaikan, ketika suara langkah kaki menelusup indra pendengaran seluruh insan. Hendaklah pasang mata menyambut kedatangan, menatap ke arah pria yang tengah berjalan.
Amarah kembali menyerbu angan, Hanson tidak tahan untuk tetap menimbunnya. Ia bergegas menghampiri Sammuel sebelum pria itu menumpukan tubuh, kembudian tercurah pada cengkraman kerah kemeja yang di kenakan Sammuel. Pasang mata menyorot nyalang wajah sang adik, begitu pula hawa dendam membaur di baliknya.
Sammuel berpasrah diri, mengetahui maksud dari amarah itu. Lantas, ia menerima hukuman atas perbuatan yang telah di lakukan terhadap sang istri, berharap sedikitnya dapat menebus akan dosanya. Manakala melihat kepalan tangan berayun menuju wajahnya, ia meyakini jika hantaman akan mendarat pada anggota tubuh.
Bugh!
Seperti dugaan, pukulan keras mendarat pada wajahnya. Tiada ingin ia membalas, bahkan tidak akan sedikitpun ia mengelak.
"Br*ngsek lo, ga tau terimakasih banget!" Amarah belum sepenuhnya tercurah, maka ungkapan pedas beriring pekikan nada bicara tercurah dengan lepasnya.
Tiada satupun melerai aksi mengenaskan itu, seluruh penghuni ruang hanya menyaksikan petikaian yang sedang berlangsung di sana.
Sementara pemeran kegaduhan tertegun dalam ringisan, mendapati pukulan pada rahang hingga menembus ke dalam palung hatinya. Senyum duka tersirat mewakilkan penyesalan, membuat amarah pria di hadapan kian bergejolak tanpa bisa di cegah.
Bugh!
Kepalan tangan kembali menghantam bagian tubuh Sammuel, akan tetapi kini mendarat pada perutnya.
Tiada kalimat terucap dari setiap insan yang berada di sana, seolah asik menyaksikan perkelahian yang berlangsung tanpa ada sebab dan akibat itu. Mereka yang duduk di sana tidak pernah mengetahui dari mana asal amarah itu, sehingga hanya menunggu celah membuka jawaban saja.
Belum cukup hanya sampai di sana, Hanson kembali menghujam rahang Sammuel dengan pukulan yang lebih keras dari sebelumnya. Buah dari petaka menggores mulut Sammuel, sehingga darah menetes dari sudut bibirnya.
Sammuel kian membungkam diri, enggan menghadang ataupun membalas perlakuan keji itu. Batin belapang dada, menerima hukuman dengan penuh ketulusan. Sehingga rasa sakit dari hantaman itu terbalut oleh rasa penyesalan.
Tidak adanya perlawanan memberi kesempatan pada amarah yang masih belum mereda, Hanson kembali menghujam tubuh Sammuel dengan pukulan mematikan.
Rasa penasaran sudah tak terbendung lagi, Jackson beranjak menghampiri dua pria yang masih bersitegang di sana. Hendaklah telapak tangan menepuk pundak Hanson, berusaha menyadarkan pria itu dengan tindakan.
"Bisa jelasin dulu ga kenapa lo murka kaya gini?" tanya Jackson kepada Hanson.
"Tanya sama dia." Hanson menyahut dendam, sebelum dapat sepenuhnya mehempas amarah. Dagu bergerak menunjuk pria yang sedang mengusap darah pada bibirnya, di sambut Jackson dengan tatapan menuju wajah Sammuel.
"Gue selingkuhin dia sama si Triana." Tak acuh Sammuel mengungkap alasan, memancing amarah Jackson hingga langsung melampiaskannya.
Bugh! Tubuh Sammuel kembali mendapat hujam pukulan, kali ini lebih mematikan dari kepalan tangan sebelumnya.
Jackson murka lantaran ungkap kesalahan tanpa dosa itu, sehingga ia tidak dapat menahan diri untuk memberikan pukulan tambahan pada perut adiknya.
Kali ini, tubuh semampai itu melunglai, merengkuh di atas balutan marmer. Bukan tak kuasa menahan sakitnya dari hantaman bertubi itu, akan tetapi barisan dosa terhadap sang istri hadir menerjang jiwa. Sehingga membuatnya tak kuasa meski hanya untuk sekedar membangkitkan semangat jiwa.
__ADS_1
"Lo harus tanggung jawab, cari dia sampai ketemu." Telunjuk Jackson melenting di depan wajah Sammuel, mengungkap kekesalan pada nada bicaranya.
Tidak tahan melihat keadaan, Maxson bergegas meraih tubuh Sammuel di sana. Lalu menuntunnya hingga duduk di atas sofa yang tersedia.
"Mana bec*s, biarkan ayah br*ngsek kalian ini yang melakukannya." Erick mengambil tindakan, meski hanya dengan ucapan saja akan tetapi mampu melerai situasi. Terbukti dari seluruh anaknya yang berdiri, kini mereka telah menumpukan tubuhnya kembali.
"Pih, kau harus mengurus kerjasama dengan pihak luar. Mana ada waktu buat urus yang lainnya?" cetus Jackson mengingatkan tugas sang ayah.
"Untuk itu ... aku udah menemukan solusinya, maka kalian fokus sama urusan kalian." Erick mencabik kekhawatiran anak sulungnya, setelah menerka apa yang menjadi kecemasan itu. "Dan aku berharap kabar ini jangan sampai pada istriku."
Hening ....
Seluruh insan pengisi ruang saling meresapi renungan, manakala Maxson membeku dan membisu. Ia menyesali diri tidak dapat membantu barang sedikitpun meski hanya sekedar mendapat infosmasi.
Sementara Hanson belum mampu melepas amarah yang hanya dapat tercurah pada tatap penuh dendam menuju wajah Sammuel yang sudah tertunduk kaku di samping kanannya.
Mengerti akan gelagat murka itu, Sammuel memendam lirihan batin, ia mencoba berusaha menyembuntikan air mata penyesalan di balik wajahnya yang tertunduk. Ia baru menyadari jika perbuatan telah melampaui batas kesabaran sang istri.
"Lo nyesel?" Maxson berucap kata, mencabik suasana hening seketika. Tatapan mengarah pada wajah Sammuel yang sudah terangkat di sana, pertanda ucapan tertuju untuknya.
Sammuel mengangguk mewakilkan jawaban, tiada ingin menyahut dengan ucapan ketika lidah terasa kelu.
"Lo beresin hasil karya lo ini sendiri, Sam." Hanson mengutarakan amarah untuk terakhir kalinya, setelah berhasil melerai dengan pekikan nada bicara.
"Gue usahain." Pada akhirnya Sammuel mengangkat wajah, menatap ke arah di mana Jackson berada. Ungkap itu ia persembahkan sebagai sumpah kepada objek yang menjadi buruan pasang matanya, membuat empunya mengangguk menyahut ucap kesungguhan itu.
"Sudah!" Erick melerai percakapan yang di yakini akan membuahkan petaka, lantas nada tegas terlontar sebagai larangan keras. "Sementara aku akan mencari menantuku, kalian lakukan pekerjaan seperti biasanya."
Jackson tidak terima dengan permintaan itu, akan tetapi ia enggan untuk menyuarakan keinginan. Hanya lenguh pilu berseru di sela ingatan berpusat pada rancangan yang akan di lakukannya nanti.
Hening kembali membaur di dalam ruang bertajuk langit itu, membuat Devand mendapat kesempatan untuk membungkam diri saja.
Hingga pada akhirnya, mereka berusaha menenangkan diri dengan tidak lagi mencari bahas perbincangan.
Beruntung Esmerald telah berpulang ke negrinya, sehingga tidak menyaksikan tragedi mengenaskan dari para cucunya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc