
Satu minggu sudah Jackson menjalani hari dalam kehampaan, hingga saat ini ia belum menemukan keberadaan ibu dari anaknya. Hari yang di lalui terasa menyakitkan, apa lagi saat bintang bertaburan di atas langit. Seolah mengolok diri yang terpuruk dalam kerinduan.
Sudah menjadi kebiasaan di malam hari, ia mengunjungi ruang rahasia yang terletak di dalam perusahaan miliknya. Tidak berbeda seperti sebelumnya, kali ini pun ia meraih botol berisikan minuman keras dari dalam lemari kaca yang tersedia di sana.
Kemudian ia menumpukan tubuh di atas sofa besebrangan dengan Kelvin, setelahnya menikmati minuman itu tanpa menawarkan kepada pria yang selalu setia menguntit kegiatannya.
Kelvin paham dengan keadaan itu, setelah tujuh hari menyaksikan kebiasaan penepis kepiluan dari sang atasan. Ia sudah mengetahui apa yang harus di lakukan, yakni menunggu tubuh pria itu terkapar akibat pengkonsumsian minuman alkohol berlebihan.
Sesaat itu terjadi, tubuh lemah itu terdampar di atas sofa. Kelvin tak tahan jika hanya membiarkannya saja, segeralah ia mencari bantuan. Menghubungi Sammuel melalui alat panggilan jarak jauh.
Tidak membutuhkan waktu lama, Sammuel tiba menghadap pria yang terkujur lemah di atas sofa. Rasa heran hadir menghujam angan, ia lampiaskan pada tatap kejut menuju mata yang terpejam.
"Sejak kapan dia begini?" tanya Sammuel kepada pria yang berdiri di sampingnya.
"Udah seminggu," jawab Kelvin singkat, akan tetapi berhasil membuat Sammuel terhentak.
Sammuel berdesis ngeri, tidak terduga olehnya jika apa yang di alami diri jua menjadi pengalaman kakaknya. Ia tertegun meratapi kesalahan, rupa-rupanya dosa yang telah di perbuat telah merenggut kebahagiaan orang lain.
"Jack." Salah satu tangan Sammuel mengguncang tubuh pria yang terpanggil namanya, ia berusaha membangkitkan kesadaran sang kakak.
Lalu, Jackson menyahut dengan tindakan, ia bangkit dari rebahan sebelum membuka suaranya. Dengan bantuan uluran tangan dari sang adik.
"Art Tara-" ucap kata tersendat di dalam tenggorokan, mengingat kerinduan pada pemilik nama yang terucap dari mulutnya tiada kunjung dapat ia curahkan. "Gue nyakitin dia."
Sammuel membatin pedih, jeritan duka tertahan di dalam asa. Mendengar ucapan seolah menyindir dirinya, ia menyibak bukan hanya diri yang telah menyakiti batin sang pujaan hati, melainkan sang kakak pun tak ayal menghujam dengan kepedihan. Pantas saja wanita itu melarikan diri, mungkin ia lelah menghadapi nasib diri.
"Lo nyakitin dia?" tanya Sammuel memastikan, ingin mendengar penjabaran alasan dari kakaknya.
"Dia punya anak dari gue." Seolah tak acuh Jackson menyahut, ketika nada datar menyemat di sela kata yang terucap.
Namun, Sammuel kian terhentak, mendapat kejutan dari kalimat itu. Katup mata terbuka kebar, tak ayal belah bibir turut terprovokasi.
"Anak-"
"Alev, dia anaknya." Kelvin menyahut, memenggal ucap heran yang telah di ketahui ke mana arahnya.
Rasa tidak percaya membuat kepala Sammuel menggeleng tegas, lantaran mengingat tragedi memilukan tiga belas tahun silam. Mengukur dari usia anak yang di sebutkan Kelvin, ia meyakini jika ungkapan itu nyata.
__ADS_1
Sammuel melunglai, sudah dapat di pastikan jika diri tiada dapat berebut kasih dengan kakaknya. Kehadiran darah daging itu, membuatnya yakin jika kemenangan menjadi milik sang kakak.
"Di mana anak itu sekarang?" tanya Sammuel berpasrah diri, mengalah demi mengobati luka hati kakaknya.
"Gue ga tau, dia bawa kabur anak gue," ungkap kata terlontar dari mulut Jackson, membuat batin kian mendapat goresan luka. Air mata terjatuh tanpa bisa di cegah, bahkan tubuh terasa rapuh sehingga terjatuh di atas paha adiknya.
Sammuel lekas meraih tubuh itu, menuntunnya agar dapat berdiri tegak. Lalu membawa tubuh itu menuju tempat di mana kendaraan roda empat terparkir, tak luput ia meminta bantuan kepada Kelvin.
Setelah menempuh perjalanan melelahkan, akhirnya Sammuel tiba di dalam kediaman miliknya. Tubuh lemah dalam rangkulan tangan, di sambut Triana dengan tatapan heran.
"Kenapa dia, Sam?" Triana menyapa heran, akan tetapi tangan segera mengulur memberi bantuan.
"Lo belum dapat kabar soal sahabat lo?" Sammuel menyahut dengan ungkap misteri, berbalas anggukan paham dari wanita yang kini turut membopong tubuh lemah itu.
"Belum." Lirihan berperan dalam kerancuan, Triana tau betul apa yang di rasakan pria yang masih menjadi tambatan hatinya.
Keadaan prihatin itu, rupa-rupanya memberi suatu pengertian bagi Triana. Ketika ia menyaksikan kegalauan hebat dari Sammuel yang selalu terpampang ketika malam tiba. Begitu besarnya cinta kedua pria itu terhadap sahabatnya, hingga menbuat keduanya terpuruk hebat.
Tiada kata kembali terucap, sebab kesulitan membawa tubuh itu untuk segera membaringkannya di atas tempat tidur yang tersedia. Hingga setelah mereka menggapai tujuan, Triana lebih dahulu menghempas napas lelahnya.
"Sampai segininya dia galau?" ujar Triana kepada Sammuel, akan tetapi tatap cibiran tertuju kepada tubuh yang sudah terlentang di atas tempat tidur.
"Lo bisa bantu gue urus dia?" tanya Sammuel.
Triana mengangguk lemah, manakala lenguh prihatin menyemat di sela ungkapan bahasa tubuhnya. Di tengah kerancuan, pikiran Triana membayang pada suatu siasat. Ia mengira kesempatan datang menghampiri, untuk dapat mempertemukan cinta kepada pria sang pujaan hati.
Hendaklah seringai kemenangan terukir di balik wajah anggun, ia memantapkan hati untuk melakukan sesuatu pada tubuh yang terbaring itu. Lantas, ia berlalu dari hadapan Sammuel tanpa mengucap sesuatu.
Setelah wanita itu hilang dari pandangan ....
"Br*ngsek juga lo, Jack." Sammuel mencibir keji, meskipun ucapan hanya tertuju untuk dirinya sendiri. "Katanya mau ngurusin pencarian bini gue, kalau gini caranya, mana bisa?" umpatan kesal terungkap dalam imbuh kalimat, bertujuan hanya melepas rasa jengah saja. Namun,
Tiba-tiba saja Jackson bangkit dari rebahan, ia membawa tubuh terduduk di atas tempat tidur itu.
"Mending gue di selingkuhin, dari pada harus di tinggalin." Nada lemah layaknya orang mabuk, di sambut Sammuel dengan gelengan kepala.
"Sorry, itu semua salah gue."
__ADS_1
"Emang." Kesadaran Jackson belum sepenuhnya sirna, sehingga otak masih dapat menangkap maksud dari percakapan.
"Lo mau gue gerak?" tanya Sammuel.
"Ngaco lo!" Tegas, namun terdengar lemah. Jackson mengumpat di kala lidah terasa berat untuk bergerak. "Lo yang bikin kaya gini, malah-"
"Ya udah lah." Secepat angin topan melalap isi dunia, Sammuel menghadang ucap sindiran terhadap dirinya.
Perbincangan terlerai, ketika Triana kembali membawa segelas minuman pereda mabuk dalam genggaman. Tanpa bicara ia menyodorkan kepada Jackson, akan tetapi tangkisan ia dapati sebagai balasan.
"Minum ga?" Sammuel geram, sehingga menuai ancaman di balik kata yang terucap dengan tegasnya. "Atau mau di suapin mulut dia?" imbuhnya di sertai lentingan telunjuk ke arah Triana di sana.
Terpaksa sudah Jackson meraih gelas yang masih tersodor itu, meneguk isinya hingga habis tak bersisa.
"Sebegitunya lo ga mau dia sentuh?" Sammuel mencipta gurauan, akan tetapi ucap kata terasa berduri bagi wanita yang kini duduk di tepi ranjang.
Sebelum merebahkan tubuh kembali, Jackson mengukir tawa cibiran. Usai mendapat posisi nyaman, sebelah tangan mengatup pasang matanya.
Sammuel menggelengkan kepala, akan tetapi terhenti kala bola mata menangkap penglihatan air mata menetes di balik tangan itu. Suara isak yang tertahan, menyemat kepedihan begitu dalam. Sammuel tidak tega melihat memandangan itu, bergegaslah ia meninggalkan sepasang insan di dalam ruang.
Sementara Triana memaksakan diri, menyaksikan kepedihan pencipta rasa cemburu di sana. Ia hanya ingin memberikan pelayanan sebagai ungkap ketulusan rasa sayang kepada pria itu.
Bahkan ia berpikir akan menemani sepanjang malam, meski tidak akan mendapat kepulasan tidurnya. Demi membalas budi pada pria yang telah membantunya dahulu kala, ia rela melakukan apapun itu.
Dan, ia merangkak menuju tempat tidur, membaringkan tubuh di samping pria yang masih menahan isak tangisnya di sana. Tangannya terulur, memberi sapuan dari telapak pada puncak kepala pria itu.
"Tidurlah, aku yakin Tara akan kembali."
Ungkap penenang seolah mantra paling mujarab, setelah kalimat usai terucap, Triana tidak lagi melihat air mata menetes dari sudut mata yang terpejam itu. Senyuman lega tersirat di balik wajah, kemudian ia segera meninggalkan ruang untuk menghempas kegundahan di dalam ruang yang lainnya.
Triana merasa jika diri terlihat seperti murahan, pada kenyataannya ia masih mencari kasih yang tulus terhadap dirinya. Tiada yang mengetahui jika kisah asmara yang ia dapatkan, lebih mengenaskan di bandingkan dengan yang lainnya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc