
Ruang mewah berlapis cermin di sekeliling dinding itu telah berpenghuni seorang wanita yang sedang berbahagia. Dibalik cermin ia menatap gambar wajah diri telah berpoles hiasan tipis, gaun putih berhias batu swarovski menjadi pembalut tubuhnya. Nampak indah dipandang mata, membuat bibir merekah menyertai rasa kagum pada diri sendiri.
Dibalik cermin ia melihat sosok seorang pria telah berjalan menghampiri, kemudian memutar tubuh untuk menyambut kehadirannya. Tak ayal lengkungan bibir turut mempersembahkan sapa kepadanya.
"Jack," ucapnya memanggil pria yang sudah berdiri di sampingnya.
Jackson terdiam membisu, menahan tatapan pada wajah cantik yang terlihat lain dari biasanya. Hati terketuk panggilan cinta, sekilas ia kembali menginginkan wanita itu menjadi miliknya. Namun, ia menyadarkan diri, jika apa yang ia rasakan hanya keinginan semata. Hingga pada akhirnya ia berpasrah diri, dan mengucap kalimat ....
"Udah siap?" tanyanya seraya tangan mengulur, memberikan sambutan untuk wanita itu segera menjemput hari indahnya.
"Kamu jadi penyerah pengantin wanita?" Melihat sekeliling telah berada kru pengabadi acara, Tara mengucap terkaan penuh keyakinan.
Jackson mengangguk melengkapi jawaban, akan tetapi hati bertolak dengan tindakan. Entah mengapa ia tidak ingin merelakan wanita itu pergi.
"Aku harus menyerahkanmu buat dia, 'kan?" ucap Jackson berbalas gelengan kepala dari hadapannya.
Seharusnya, sang ayah mempelai wanita yang melakukan itu. Namun, tidak sedikitpun Tara melihat sosok itu menemuinya. "Keluarga aku—"
"Ga ada satu pun dari keluarga kamu yang datang," ucap kata bernada lembut, akan tetapi begitu menusuk batin sang wanita.
Sesaat wajah jelita tertunduk, menyembunyikan jeritan hati yang tertahan di dalam angannya.
'Mengapa?' Batin Tara mempertanyakan alasan di balik semua, sehingga membuat keceriaan punah seketika.
Jackson menyadari jika kalimat yang ia ucapkan akan menggores hati wanita ini, maka lekaslah ia meraih wajah itu agar menatapnya. Melihat mata sudah berkaca-kaca, ia lantas memberi senyuman penghibur.
"Jangan nangis ... nanti riasannya luntur," ujar Jackson berseru menghibur, mendapat keberhasilan saat wanita itu mengumbar tawa kecilnya.
"Aku ga mempermasalahkan mamaku, tapi ... papaku?"
"Ada yang ga beres, aku akan cari tau itu."
Seperti sudah mengetahui skenario hidup wanita itu, dengan mudah Jackson menyibak sesuatu dari tindak tanduk anggota keluarga Tara. Begitu pun wanita itu memahami bagaimana sanak saudara memperlakukan dirinya.
Tiada ingin merusak suasana gembira, Tara melepas pikiran buruk itu segera. Ia melepas pandang pada mata memicing di sana, dan tersenyum menandakan jika diri telah siap untuk melangkah keluar ruang itu.
Sebagai salam perpisahan, Jackson meraih sebelah tangan yang menggenggam bucket bunga. Mengecup punggungnya kemudian ia mengatakan, "semoga bahagia."
"Harus."
Dan lekaslah Jackson memberi isyarat kepada seluruh kru untuk segera memulai aksinya, mengabadikan seluruh kegiatan pengantin dari mulai kini hingga acara usai nanti.
__ADS_1
Alat perekam sudah siap menyorot wanita itu, Jackson memulai dengan menarik slayer untuk menutup wajah jelita. Kemudian ia membawa sang wanita dalam tuntunan langkah kakinya.
Saat ini, mereka telah berjalan beriringan, kedua pasang kaki melangkah menyusuri karpet merah di tengah barisan kursi tamu undangan. Sepasang bocah cilik mengiringi langkah mereka sebagai penabur bunga, dua wanita cantik turut berjalan di belakangnya sebagai pengiring kedua pengantin.
Getaran tubuh menyentuh asa, Jackson tau jika wanita itu ketakutan akan goyah langkahnya. Ia pun menggenggam erat tangan yang merangkul lengannya, kemudian memberi ucap pelerai untuk rasa gerogi itu.
"Jangan takut, aku ga akan biarin kamu jatuh." Suara berat sang pria terabaikan lawan bicara.
Pusat pandangan Tara menuju pada seorang pria berpakaian serba putih yang berdiri menunggu kehadirannya. Meskipun belum terlihat jelas di pandang mata sebab arah masih sedikit menjauh, akan tetapi ia tau sosok itu adalah sang mempelai pria.
Arah tatap tak kunjung berakhir, begitu pun setelah Tara tiba di hadapan pria itu. Mereka saling berbalas senyuman, membuat pria lainnya mengumandangkan rasa cemburu pada lenguhan pilu.
Tiada ingin melihat pemandangan indah terlalu lama, Jackson menyerahkan tangan wanita itu kepada pemilik aslinya.
"Gue titip dia sama lo, jangan sakitin dia," ujar Jackson penuh penekanan nada bicara. Mewanti-wanti agar adiknya tidak lagi menyakiti hati wanita itu.
"Pasti." Setelah satu kata terucap, senyum ceria menjadi penghujung kalimat.
Waktu pun menunjukan saat diri mengucap janji suci, hanya sesaat semua telah terjadi. Kini, mereka telah mengikat hati, bersamaan dengan cincin menyemat pada jari manis kedua mempelai.
Tiba saat yang paling di nantikan Sammuel, tanpa membuang waktu setelah restu ia dapatkan. Ia membawa tubuh sang istri ke dalam dekapan. Membawa terbang bersama menuju lembah kenikmatan, mengarungi lautan asmara hanya berdua saja.
Awal mula Sammuel menerjang bibir tipis berlapis pewarna merah itu dengan mulutnya, meresapi rasa manis yang telah lama tidak ia cicipi. Kelembutan gerakan lidah membawa Tara larut dalam kebahagiaan, terutama saat suara decapan mendayu merdu menghiasi indra pendengaran. Mereka telah terhanyut di dalam surga dunia, juga melentangkan sayap cinta memburu kenikmatan. Suara tepuk tangan bergemuruh mengiringi kegiatan, akan tetapi tiada sedikit pun mereka kegaduhan.
Sementara kedua mempelai saling meresapi kegiatan, Celia nampak terlihat bersedih hati. Air mata jatuh membasahi pipi, menggiring rasa haru akan keberhasilan hati yang telah menyatu. Hal serupa terasa oleh Erick, akan tetapi demi gengsi yang tinggi ia berusaha menahan tetes air mata agar tidak jatuh sedikit pun.
Begitu pula dengan Fiona, ia menatap wajah tampan di sampingnya, senyum merekah menggambarkan diri turut merasakan kebahagiaan di hadapan. Ia meluapkan rasa haru pada tautan jemari tangan sang kekasih, beserta tungkak kepala menepi di atas bahu pria itu.
Pemandangan manis di hadapan, rupa-rupanya membuat batin seorang wanita di terpa kerancuan. Triana cemas jika diri tiada dapat membahagiakan suaminya kelak, sebab nasib buruk menimpa tanpa ada penawarnya.
Jackson menyadari gelagat gundah itu, ia memberikan penghiburan dari dekapan sebelah tangan. Senyum mewakilkan segalanya, sebelum kemudian ia berkata, "aku terima kamu apa adanya."
Bisikan suara merdu menelusup indra pendengaran, Triana berpasrah diri jika ungkap itu hanya bualan semata. Siapa yang akan sudi menerima wanita mandul sepertinya?
***
Acara penyatuan hati telah usai, akan tetapi pesta meriah telah menanti para tamu undangan.
Hari mulai gelap, angin dingin berembus menyejukan aula yang terdapat di dalam gedung mewah milik seorang pengusaha bernama Erick Liu. Di dalam sana sudah ramai pengunjung, salah satunya sepasang pengantin yang telah berdiri di atas pelaminan.
Waktu menunjukan untuk mereka melempar karangan bunga, maka mereka berdiri membelakangi para tamu undangan yang telah siap menyambut lemparan bucket itu.
__ADS_1
Dalam hitungan ke tiga, karangan bunga melayang di udara. Hanson memasang ancang-ancang agar mendapatkan benda itu. Nahas ... Jackson lah pemenang dalam pertandingan, padahal ia hanya berdiam diri saja di samping ruangan.
Seolah nasib mendukung keadaan, Jackson beranjak menghampiri mempelai wanita. Tepat ketika mata saling memandang, ia bersimpuh tanpa mengucap kata. Membuat seluruh pasang mata mengarah pandang terhadap dirinya, menyerukan rasa cemas jua heran akan apa yang dilakukan selanjutnya.
Sammuel nampak terlihat lebih khawatir dari yang lainnya, menerka jika pria itu akan mengacau keadaan.
Namun ....
"Hei bocah, kenapa diam di sana?" tanya Jackson kepada sepupunya yang berdiri di balik tubuh mempelai wanita.
Sepasang pengantin tertarik akan ucapan itu, mereka pun mengalihkan pandangan menuju seorang anak berusia lima tahun di sana.
Sammuel mengusap dada, merasa lega setelah tau jika kakaknya tidak berniat mencari perhatian dari sang istri.
"Batu di baju ini ... terlihat mahal." Fraser menyahut di sertai tawa kecil di penghujung kalimat, kemudian ia melangkah menghampiri pamannya di sana.
"Kamu tertarik dengan itu?" tanya Jackson berbalas hanya dengan anggukan saja. "Uncle akan memberimu, tapi ... sekarang ikut uncle ke suatu tempat, oke?"
Seperti sebelumnya, Fraser menyahut hanya dengan anggukan kepala. Setelah tangan Fraser berada dalam genggaman, Jackson menyerahkan karangan bunga kepada mempelai wanita.
"Aku ga ada persiapan buat lamaran, mending kamu lempar lagi bunganya," ucap Jackson.
Tara meraih benda itu setelah Jackson usai mengucap kalimat, dan menyahut hanya dengan senyuman saja.
Kembali ... karangan bunga berada dalam genggaman sepasang pengantin. Jua hitungan ketiga menjadi penentu kapan benda itu harus terlepas dari genggaman.
Hanson berhasil menggapai keinginan, ketika karangan bunga berada dalam genggaman. Ia kemudian berlutut di hadapan seorang wanita, mempersembahkan benda itu sebagai ungkapan rasa cinta.
Tatapan kasih menyorot wajah jelita itu, kemudian ia berkata, "will you—"
"Yes, i do." Fiona lekas menyahut separuh kata terucap, sebelum tangis haru menyendat tenggorokannya. Namun, rupanya mengundang gelak tawa seluruh insan yang menyaksikan kegiatannya di sana.
Hanson bangkit berdiri, dan meraih kotak merah dari dalam kantung celana. Semua orang tau benda itu adalah tempat penyimpanan sebuah cincin, dengan begitu ia menyematkan cincin itu pada jari manis sang wanita.
Sorak gembira menggema di udara, para tamu undangan turut memberi ungkapan bahagia kepada mereka.
•
•
•
__ADS_1
Tbc