Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 100


__ADS_3

Awalnya Rara berharap Fariz datang pas di hari raya, agar bisa di kenalkan kepada keluarganya sebagai temen dekat dirinya, namun Rara harus kecewa kembali saat Fariz memberi tahu jika dirinya akan main ke rumahnya di hari esok.


"Tak datang juga tak apa - apa, kan sudah nguapin lewat telepon" sahut Rara ketus sekaligus kecewa.


"Ko bicara seperti itu ?" tanya Fariz bingung.


Tadi sikapnya dingin, sekarang ketus, aneh sekali dasar cewek sifatnya memang sudah di tebak. gerutu Fariz dalam hatinya.


"Emang gitu kenyataannya" ketus Rara.


"Besok aku kerumah kamu antara sore atau malam, karena siangnya aku harus ikut keluarga berkunjung ke rumah keluarganya istri kak Bani" jelas Fariz.


"Terserah kamu saja" ketus Rara.


Akhirnya Fariz mengakhiri panggilannya, menurutnya Rara sedang sibuk berkumpul dengan keluarganya hingga Rara bersikap ketus karena Fariz mengganggunya.


...*****...


Sama halnya seperti Syifa, tahun ini adalah tahun pertama Salwa merayakan hari lebaran dengan status sebagai istri, di tahun pertama Salwa merayakan hari lebaran di rumah kedua orang tua Salwa, awalnya Robby tidak setuju, namun karena Salwa merengek memaksa mau tak mau Robby pun menyetujuinya.


Setelah bersilaturahmi dengan keluarga besar Salwa, Robby dan Salwa pun kini waktunya berkunjung kerumah orang tua Robby.


Salwa dan Robby membawa beberapa kotak kue dan juga parsel buah - buahan sebagai buah tangan saat mengujungi rumah Mamah Erni.


Tiba di rumah orang tua Robby, keadaan rumah terlihat sepi, hingga akhirnya Robby pun menghubungi mamahnya.


"Hallo mah, mamah dimana, Robby di depan rumah nih" ujar Robby saat mamah Erni menjawab panggilan teleponnya.


"Mamah dan adikmu di rumah Syifa, mamah dan adikmu juga sudah ke makam papah mu" jelas Mamah Erni.


"Ya sudah Robby dan Salwa nyusul ke sana, tapi Robby mampir dulu ke makam papah" ujar Robby lalu menutup teleponnya.

__ADS_1


Robby dan Salwa melaju menuju kepemakaman sang papah, tempatnya tak begitu jauh dari perumahan tempat tinggal keluarga pak Umar. Robby melantunkan doa - doa untuk almarhum sang papah.


Robby dan Salwa meninggalkan area pemakanan, dan melanjutkan perjalanan menuju rumah Abi Umar, sampai di sana Salwa kaget karena di depan rumah Abi Umar banyak mobil yang terparkir.


"Ayo turun kita sudah sampai" ujar Robby membuyarkan lamunam Salwa.


"Di dalam banyak orang ya ?" tanya Salwa.


"Ya tentu, di dalam banyak saudara karena biasanya kita akan kumpul di rumah Abi Umar, Syifa dan Bani juga pasti ada di dalam" ujar Robby.


"Aku pulang saja, aku gak mau ikut ke dalam" ujar Salwa dengan raut wajah ketakutan.


"Kenapa ?" tanya Robby bingung.


"Salwa males kalau di tanya kapan hamil, ko gak hamil - hamil, Salwa bingung harus jawab apa" ujar Salwa dengan mata yang sudah berkaca - kaca. pertanyaan semacam itu kadang membuat Salwa menjadi orang yang nggan bergabung dengan dunia luar.


"Kan ada aku, biar aku yang menjawab, Intinya kamu jangan gabung sama tim Ibu - ibu, kamu gabung dengan Syifa, kak Shela, dan yang lainnya yang sebaya dengan kamu" ujar Robby.


Salwa dan Robby masuk secara beriringan, tangan Salwa tak lepas dari genggaman Robby pertanda sebagai kekuatan untuk Salwa. Robby dan Salwa menyalami satu persatu keluarga yang hadir di sana termasuk mamah Erni. tak lupa Robby juga memperkenalkan Salwa sebagai istrinya pada saudara yang ketika pernikahan Salwa dan Robby tidak hadir.


"Istri kamu cantik sekali Robby" puji saudara Robby. "Maaf ketika kalian menikah tante gak bisa hadir karena waktu tante sedang di rawat di rumah sakit" jelas saudara Robby.


"Cantik sih tapi belum hamil - hamil" ketus mamah Erni, walaupun suaranya pelan namun dapat di dengar oleh Salwa.


"Jangan berkecil hati" ujar Tantenya Robby seraya menepuk bahu Salwa memberi sebuah kekuatan. "Dulu mertua kamu menikah tiga tahun baru bisa punya Robby, dan tante juga menantinya selama dua tahun baru di beri kepercayaan untuk memiliki anak, yang penting kita berusha dan juga berdoa" jelas Tantenya Robby.


"Ishh kenapa dia membuka aib ku" gerutu mamah Erni dalam hatinya.


"Sendirinya juga nunggu tiga tahun, lah aku yang belum setahun udah di katain mandul, kalau bukan mertua ku sudah ku lem tuh mulutnya" gerutu Salwa dalam hatinya.


"Iya tante kita selalu berusaha dan berdoa ko, dan menurut medis juga kita berdua baik - baik saja, mungkin hanya tinggal nunggu waktu saja" jelas Robby.

__ADS_1


Salwa merasa sedikit lega karena ada yang membela dirinya, hingga dirinya tak terlalu terpojokan dengan kata - kata kapan hamil.


...****...


Syifa dan Bani baru tiba di kediaman Abi Umar, terlihat dari luar kalau di dalam rumah keluarga besarnya sedang berkumpul, canda tawa dan juga tangisan anak - anak terdengar sampai luar rumah.


"Asalamualaikum" ucap Syifa dan Bani berbarengan.


"Waalaikumsalam" jawab semuanya dengan kompak.


Syifa langsung menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk di kursi, menyalami Abi dan Ummahnya secara bergantian, lalu meminta maaf secara lahir dan batin, Syifa menangis tak kala sedang meminta maaf kepada Ummah dan juga Abinya. sedangkan Bani terlebih dahulu menaruh barang bawaannya ke dapur lalu mengampiri mertuanya dan juga meminta maaf secara lahir dan juga batin. setelah meminta maaf ke orang tua Bani dan Syifa kini meminta maaf pada Abian dan juga shela selaku kakaknya. lalu berpindah kepada sanak keluarga yang lainnya.


Hingga Tiba Syifa meminta maaf pada Mamah Erni, Salwa dan Juga Robby. ada rasa gugup ketika Salwa dan Syifa akan bersalaman.


"Maafkan atas semua kesalahan saya, baik yang di sengaja atau pun tidak di sengaja" ujar Salwa pada Bani dan Syifa


"Iya, Maafkan juga jika ada perbuatan kami yang kurang berkenan di hati kalian" ujar Bani pada Salwa dan Juga Robby.


Mereka berempat saling maaf - maafan, mencoba melupakan masa lalu yang pernah terjadi dan menguburnya secara dalam - dalam, mencoba menata masa depan dengan pasangan masing - masing. Begitu pun dengan Salwa yang kini sudah bisa melupakan Bani seutuhnya dan mampu mencintai suaminya secara utuh dengan seiring berjalannya waktu. Salwa banyak bersyukur bisa mendapatkan lelaki seperti Robby yang mau menerima dirinya dengan apa adanya dan tak banyak menuntut untuk sempurna. walaupun mertuanya kurang baik dalam memperlaukan dirinya apalagi setelah Salwa tak kunjung hamil, tapi semua itu Salwa anggap sebagai bumbu dalam membina rumah tangga, karena sejatinya tak ada rumah tangga yang tanpa ujian.


"Syifa selamat atas kehamilannya ya" ucap mamah Erni namun matanya melirik ke arah Salwa dan menekan intonasi di kata hamil.


Apa Syifa hamil ? ko aku gak tau ya. pasti mamah akan meminta ku segera hamil juga. gumam Salwa dalam hatinya.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


Alhamdulilah gak nyangka bisa tembus hingga bab 100, dan semua ini tak lepas dari dukungan kalian semua para readers.


Author banyak - banyak mengucapkan terimakasih atas semua saran dan kritikannya, tanpa kalian semua Author bukanlah siapa - siapa. Author juga mau mengucapkan mohon maaf jika author jarang balas komen kalian di kolom komentar.


Terimaksaihh

__ADS_1


__ADS_2