
Keesokan hari keadaan Syifa sudah membaik, namun Bani tetap ingin membawa Syifa ke rumah sakit.
"Nanti sore pulang kerja kita ke rumah sakit ya" ucap Bani.
"Aku sudah sembuh" sahut Syifa.
"Bukankah kita akan ke dokter kandungan untuk konsultasi" ucap Bani membuat Syifa terdiam.
Bani berangkat bekerja seperti biasanya, karena kantornya sudah kembali beroperasi. Syifa duduk termenung di atas tempat tidurnya, ternyata Suaminya benar - benar menginginkan seorang anak, hingga Bani mengajak Syifa untuk konsultasi ke dokter kandungan, Syifa merasa gagal menjadi istri karena tak mampu untuk segera hamil.
pikiranya melayang, bagaimana jika dirinya tak kunjung hamil, bagaimana kalau dirinya di vonis tak bisa hamil, akankah Bani mempertahankan dirinya sebagai istri, atau Bani akan menceraikannya atau malah memberinya seorang mandu. semua pertanyaan itu terlintas di kelapa Syifa, ia tak bisa membayangkan jika harus mendapat gelar seorang janda di usia yang sangat masih muda. Air matanya mengalir membasahi pipi.
...*****...
Fariz dan Zidan sedang menyurvei tempat yang akan di jadikan cabang restonya. lokasi yang di pilih Zidan terletak di tengah - tengah kota, tempatnya cukup strategis.
"Gimana menurut kamu tempat ini ?" tanya Zidan.
"Bagus, aku suka" jawab Fariz senang.
Mereka terus berkeliling memperhatikan lingkungan sekitar, hingga mereka akhirnya deal untuk membeli ruko tersebut, dan Fariz juga sudah punya desain sendiri untuk restonya. setelah menyelesaikan pembayarannya Fariz dan Zidan kembali ke restonya.
"Ternyata kamu sering ke sini juga" tegur seseorang saat Fariz dan Zidan hendak melangkah memasuki restonya.
"Kamu, ngapain di sini ?" tanya Fariz.
"Hmm, ya mau makanlah, ini kan resto" ucap seseorang tersebut.
"Kamu gak ngikutin aku kan ?" tanya Fariz lagi.
"Untuk apa aku ngikutin kamu, gak ada kerjaan banget" ucap seseorang itu.
Fariz pun meninggalkan seseorang tersebut, Fariz terus melangkah menuju ruangannya karena masih banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan untuk persiapan pembukaan cabang baru restonya.
Setelah Syifa lebih memilih Bani, Fariz kini tak lagi fokus memikirkan soal pasangan, ia lebih memilih menyibukan diri dengan bekerja, melupakan seseorang yang pernah singgah di hati itu bukanlah hal yang mudah, namun Fariz terus berusaha melupakan Syifa yang kini sudah resmi menjadi kakak iparnya.
__ADS_1
Banyak wanita yang selalu mencoba mendekat seperti temen - temannya di masa sekolah, namun tak ada satupun yang dapat menggetarkan hati Fariz. ia tak ingin mencintai seseorang karena belas kasihan atau pun karena keterpaksaan.
...****...
Syifa merasa jenuh berada di dalam rumah, ia pun mencoba berkeliling pesantren, sebagian santri sedang mengikuti kegiatannya, hingga Syifa mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan temannya yaitu Mila dan Nayla. walaupun mereka tinggal di dalam satu lingkungan pesantren, namun Syifa jarang menemui temennya itu karena kesibukan masing - masing.
Mengenang masa di mana pertama ia menginjakan kaki di pesantren ini, hingga ia mendapatkan suami di pesantren ini juga, kehidupannya sungguh sangat beruntung, mempunyai mertua yang menyayanginya dan juga Suami yang tak pernah memperlakukannya secara kasar.
Teman seusianya masih banyak yang sedang mengejar cita - citanya, dan ada juga yang masih menikmati kehidupan remajanya, namun berbeda dengan Syifa yang kini sudah menyandang status sebagai istri, namun ia merasa bahagia karena suaminya tak banyak menuntut atau pun mengantur hidupnya, Syifa di perbolehkan melakukan apa saja sesuai ke inginannya asal masih dalam batas normal.
Syifa kini belajar lebih dewasa dalam menghadapi persoalan hidupnya, tak lagi mengandalkan emosi saat menyelesaikan sebuah masalah yang terjadi.
Bani masih sibuk dengan pekerjaannya, karena sudah ada beberapa pesanan, walupun karyawan mereka terbatas karena banyak yang mengundurkan diri gara - gara kejadian kebakaran tersebut, Bani sudah memerintahkan Tio untuk merekrut beberapa karyawan baru.
"Gimana jadi ketemu si Malik ?" tanya Tio.
"Belum, gue masih sibuk, si Tama juga belum menanyakan hal ini lagi ke bagaian ke polisian" ujar Bani yang masih sibuk dalam berkasnya.
"Nanti gue pulang duluan ya" sambung Bani.
Bani sesuai janji pada istrinya untuk pulang lebih awal, namun saat Bani akan keluar dari kantornya ada seseorang yang menunggu Bani di ruang tunggu.
"Pak ada seseorang yang menunggu bapak, katanya penting" ucap salah satu resepsionis.
Bani menghampiri orang yang menunggunya.
"ada yang bisa di bantu ?" tegur Bani.
"Bani" ucap seseorang itu senang.
"Untuk apa kamu datang ke sini ?" tanya Bani.
"Aku ke sini sengaja untuk menemuimu, kalau aku datang ke rumah mu, aku males ketemu istrimu yang lugu itu" ujar seseorang tersebut.
"Jangan pernah hina istriku, dia istri terbaik ku" bentak Bani tak terima jika ada istrinya di hina seseorang.
__ADS_1
Bani pun meninggalkan seseorang tersebut dan menuju mobilnya, berbicara dengan orang tersebut hanya buang - buang waktu saja.
"Bani tunggu aku mau bicara" teriak seseorang tersebut sambil berlari mengejar Bani.
Bani tetap melajukan mobilnya, tak memperduliakan seseorang tersebut yang terus teriak dan mengejar mobilnya. Bani bernafas lega saat seseorang tersebut tak lagi mengikutinya.
Sampai di rumah, Bani mencari istrinya di kamar namun keadaan kamar kosong. Dimana Syifa. Gumamnya. Bani kembali turun ke lantai bawah dan mencari istrinya di dapur namun tetap saja tidak ada.
"Bi, Syifa mana ?" tanya Bani pada Bi Tuti.
"Neng Syifa di taman" jawab bi Tuti.
Bani pun berlari ke arah taman rumahnya, dan Bani bisa melihat Syifa sedang duduk sendiri.
"Abang sudah pulang" sahut Syifa saat Bani menghampirinya.
"Kan Abang sudah janji bakal pulang cepat, kita ke dokter yah" ucap Bani membuat Syifa terdiam. "Ayo siap - siap, nanti keburu sore" sambung Bani.
Syifa melangkahkan kakinya menuju kamarnya, dan di ikuti Bani. "Kamu sakit lagi ?" tanya Bani saat Syifa terlihat murung.
"Bang, apa yakin kita mau konsultasi ?" tanya Syifa balik.
"Emang kenapa, gak ada salahnya kan kita sebagai pasangan yang baru menikah terus berkonsultasi tentang kehamilan" Jelas Bani.
"Bang, Gimana kalau nanti Syifa di vonis gak bisa hamil" ucap Syifa pelan.
"Astagfirullah, kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu ?" tanya Bani kaget hingga tak sadar jika Bani telah menaikan intonasi bicaranya. membuat Syifa berkaca - kaca.
"Dengerin Abang" pinta Bani, menakupkan kedua tangannya di pipi Syifa, Hingga pandangan mereka saling bertemu. "Dokter boleh memvonis apa saja tentang manusia, tapi ingat dokter bukanlah Allah yang maha mengetahui segalanya, kita hanya meminta kepada Allah, manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa, Allah yang menentukan bukan dokter" jelas Bani membuat Syifa berurai air mata.
"Apapun yang terjadi, Abang janji gak bakalan meninggalkan Syifa, kita hadapi semua sama - sama, cobaan rumah tangga itu banyak bukan selalu tentang harta, masih banyak yang lainya seperti keturunan, keluarga dan yang lainnya, Syifa pahamkan" jelas Bani, dan langsung memeluk Syifa yang tengah terisak.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Buat para reader yang setia, terimakasih atas dukungan dan doa buat Author, mohon maaf gak bisa balas komen kalian satu persatu. intinya dukungan kalian sangat berharga buat author.
__ADS_1