
Syifa membereskan meja makannya setelah selesai makan, sedangkan Bani pergi ke kamar duluan, tubuhnya merasa lelah karena seharian terus bekerja. saat Syifa masuk ke kamarnya terlihat suaminya sudah tertidur dengan pulasnya.
Hmm, kamu pasti cape ya kerja sampai malam, harusnya Abang gak usah ngajakin Syifa liburan jika Abang masih banyak kerjaan. gumam Syifa dalam hatinya seraya menatap wajah sang suami yang sedang tertidur pulas.
...******...
Hari ini Fariz mengajak Rara untuk bertemu di restonya untuk membahas soal persiapan acara lamaran mereka.
"Bagaimana dengan acara kita ?" tanya Fariz.
"Keluarga ku minta di adakan di hotel, karena kalau di rumah sepertinya gak cukup, rumah ku terlalu kecil" jawab Rara.
"Tapi kita mau ngadain acaranya di hotel mana ?" tanya Fariz lagi.
"Kak Tama lagi nyari - nyari tempatnya, katanya untuk tempat biar kak Tama yang urus" jawab Rara.
"Kenapa harus kak Tama".
"Aku gak tau, Cuma kata kak Tama bilang semuanya biar yang atur kak Tama saja, kita terima beres saja". jelas Rara.
"Semoga ini tidak merepotkan kak Tama".
"Kak Tama seneng katanya kalau aku sudah nikah dia bakalan bebas gak repot - repot jagain aku pagi". ucap Rara.
"Oh iya Untuk bajunya katanya kita nanti fitting di temennya mama aku dan untuk seragam keluarga juga nanti di buatnya juga di sana biar sekalian". ujar Rara lagi.
"Ya sudah kalau masalah itu aku serahkan ke kamu saja, soalnya aku kurang paham soal masalah baju" ujar Fariz. "Ada sesuatu yang harus aku sampaikan" sambung Fariz.
"Soal apa ya ?" tanya Rara penasaran karena raut wajah Fariz tiba - tiba serius.
"Jadi gini, ketika nanti kita nikah, aku mau kamu berhenti bekerja, aku mau kamu fokus mengurus keluarga saja" jelas Fariz.
"Iya aku juga inginnya seperti itu, tapi kontrak kerja ku masih ada enam bulan lagi, jadi ketika kita menikah sisa kontrak masih empat bulan lagi, Aku sudah bicara dengan atasan ku, dan aku tidak bisa begitu saja meninggalkan kerjaan ku, aku harus menyelesaikan kontrak kerjanya" Jelas Rara membuat Fariz sedikit kecewa.
"Gak ada cara lain untuk berhenti kerja" ucap Fariz dengan raut wajah yang sangat kecewa.
"Gak ada kecuali aku harus ganti rugi atau bisa - bisa aku di laporkan ke pihak yang beewajib" jawab Rara. "Kamu pasti kecewa ! Seru Rara.
__ADS_1
"Aku gak papa, mungkin ini jalan yang terbaik untuk kita" ujar Fariz.
Mereka pun melanjutkan obrolan mereka tentang konsep acara yang akan di gelar dan juga membahas tentang tamu undangan, siapa saja yang akan mereka undang untuk acara tersebut.
...*********...
Robby baru pulang dari luar kota dan langsung menjemput sang istri di rumah orang tuanya. Karena hari sudah sore Robby pun langsung mengajak Salwa pulang, karena Robby terus - terusan di hubungi mamah Erni agar segera datang ke rumahnya.
"Mamah mau ngapain ya ko nyuruh kita ke sana ?" tanya Salwa.
"Mungkin hanya rindu kan kita sudah lama tidak datang ke rumah mamah" jelas Robby.
Mereka pun tiba di rumah mamah Erni malam hari, karena jalanan yang macet membuat mereka terlambat datang.
"Mah Tasya langsung ke kamar ya" ujar Tasya saat selesai makan malam bersama. Tasya tak ingin terlibat dalam pembicaraan mamah dan kakaknya.
"Salwa juga izin sebentar ya, ingin buang air kecil" ujar Salwa seraya berlari ke toilet.
Hanya tersisa Robby dan juga mamah Erni yang berada di ruang makan.
"Robby bagaimana istri mu itu ?" tanya Mamah Erni.
"Bukan itu".
"Lalu apa ?".
"Istri kamu sudah ada tanda - tanda hamil belum ?". tanya mamah Erni.
"Kenapa sih yang di pikiran mamah selaku itu saja, jika mamah mengundang kami ke sini hanya untuk bertanya itu lebih baik aku dan Salwa langsung pulang saja" bentak Robby kesal karena mamahnya selalu membahas soal itu.
"Kamu sekarang berani membentak mamah demi wanita seperti itu" ujar mamah Erni tak terima jika di bentak sang anak.
"Bukan seperti itu mah, aku hanya tak ingin mamah menanyakan soal ke hamilan Salwa !" seru Robby yang kesal karena mamahnya terlalu keras kepala.
"Mamah peduli dengan kamu nak, biar nanti ada penerus keluarga kita" jelas mamah Erni.
"Kalau mamah peduli harusnya mendukung bukan malah menekannya" ujar Robby. Salwa lebih memilih mendengarkan pertengkaran itu dari balik lemari.
__ADS_1
"Robby sebaiknya kamu menikah lagi saja !" Seru mamah Erni.
Salwa terkejut memejamkan matanya, mencerna kata - kata yang di katakan oleh mertuanya. sakit, itu sudah pasti.
"Mamah ini sudah tidak waras ya, mana ada wanita yang ingin di madu". bentak Robby yang sudah habis batas kesabarannya.
"Mau menunggu berapa lama lagi kamu hah, ini udah hampir satu tahun, jika memang tidak ada masalah kenapa Salwa tak kunjung hamil juga".
Dengan langkah yang gontai perasaan yang campur aduk, Salwa pun mendekat ke arah mertua dan Suaminya. "Ya Allah, jika ini cara yang terbaik dari mu, hamba ikhlas" . gumam Salwa dalam hatinya.
"Masih banyak jalan lain mah, lagian mamah kan sudah tahu anak dan keturunan itu sudah sangat jelas menjadi hak perogatif Allah, mana bisa di paksakan !". ujar Robby seraya menggenggam erat tangan sang istri.
"Sudahlah, mas, yang di katakan Mamah tidak sepenuhnya salah, jika memang itu jalan yang paling baik, Salwa ikhlas dan rela". bibir yang sedari tadi hanya terdiam, terkunci rapat itu mengutarakan isi hatinya, akan tetapi itu bukan sepenuhnya dari hati, Meski mulut Salwa berkata ia rela dan ikhlas, tetapi terlihat jelas guratan batinnya sangat terluka.
Robby mengabaikan perkataan Salwa, menganggap apa yang baru saja di katakan istrinya adalah angin lalu. tidak terlintas sedikit pun dalam otak lelaki itu untuk membagi hatinya apalagi sampai menikah untuk kedua kalinya.
"Jangan kamu masukan dalam hati, masih banyak cara yang bisa kita lakukan" ujar Robby kemudian menarik sang istri agar segera pergi meninggalkan rumah orang tuanya.
"Robby jangan pergi dulu, mamah belum selesi bicara" teriak Mamah Erni. namun Robby tidak menggubrisnya. ia lebih memilih pergi.
"Dasar anak keras kepala, sama persis seperti bapaknya" gerutu mamah Erni saat menyaksikan mobil anaknya meninggalkan rumahnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
...******...
Hari ini Bani pulang kerja pukul empat sore, ia lebih memilih membawa kerjaannya kerumah dari pada harus mengerjakannya di kantor.
"Sudah pulang bang ?" tegur Syifa.
"Iya Abang lemburnya di rumah saja". sahut Bani.
Bani memilih membersihkan badannya terlebih dahulu sebelum ia kembali mengerjakan pekerjaannya, Syifa pun kembali bertempur di dapur untuk menyiapkan makan malam mereka.
Syifa melihat gurat lelah di wajah sang suami, hingga ia pun berinisiatif membuatkan suaminya sebuah minuman untuk menemani kerjanya.
"Abang mau di bikinin teh apa kopi ?" tanya Syifa.
"Kopi saja sayang" jawab Bani.
__ADS_1
"Bentar bang, Syifa buatkan dulu". Syifa bergegas membuatkan secangkir kopi untuk sang suami. namun saat Syifa akan menyajikannya kaki Syifa tersandung dan kopi tersebut tumpah pad berkas - berkas penting milik Bani.
"Syifa, apa - apaan ini !" teriak Bani saat mengetahui berkas pentingnya sudah basah kuyup tersiram air kopi.