
Bani dan Tio nampak serius mendiskusikan masalah ini di ruangan kerjanya. Tio pun berjanji akan membantu Bani dalam menyelesaikan permasalahan ini.
Tio terlihat terus menerus mengulang rekaman cctv tersebut, bahkan Tio mencoba mengulang rekaman cctv beberapa hari sebelumnya. hingga Tio menemukan sebuah rekaman dengan motor yang sama dan ciri - ciri orang yang sama.seperti sedang mengawasi rumah Bani dari sebrang jalan.
"Lihat, sepertinya ini motornya sama" ujar Tio seraya menunjuk ke arah gambar.
"Apa kamu yakin ?" tanya Bani. untuk gambar motor hari memang tidak terlihat begitu jelas, namun gambar motor di beberapa hari yang lalu sangat lah jelas.
"Aku akan cek terlebih dahulu" bukan Tio namanya kalau tidak bisa berbuat sesuatu. Tio melacak plat nomor tersebut, namun sayang ternyata plat tersebut palsu. "Sepertinya ini sudah di rencanakan". ujar Tio.
"Lalu apa yang harus di lakukan ? gak mungkin aku membiarkan teror seperti ini terus terjadi, apalagi ini menjelang Syifa melahirkan". ujar Bani.
"Tenang bro, aku akan terus mencoba mencari siapa pelaku dari semua ini" ujar Tio.
Tio memindahkan beberapa rekaman yang menurutnya penting ke ponsel milik nya. dan setelah itu Tio pamit untuk kembali ke kantornya.
Ketika Tio pulang, Fariz dan Tama baru saja datang. mereka datang terlambat karena saat Rara menghubunginya, ia sedang berada di sebuah pengadilan bersama sang kakak ipar untuk menghadiri sidang dari bosnya Rara. harusnya sidang itu sudah selesai dari dulu, namum dari pihak bosnya Rara selalu banyak alasan dari sakit dan masih banyak drama lainnya yang mereka lakukan demi terbebas dari kasus yang menjeratnya. Bosnya Rara di dakwa dengan dua pasal tentang sebuah teror pengancaman dan juga pelecehan seksual. dan hari ini adalah pembacaan vonis, bosnya Rara di nyatakan bersalah dan mendapat hukuman sepuluh tahun penjara dan denda tiga ratus juta.
"Apa yang terjadi ?" tanya Tama. ia melihat Rara, Umi dan juga Syifa dengan wajah yang tegang.
"Tadi ada orang yang sengaja melempar petasan ke pekarangan rumah" jelas Bani.
"Bocah kecil ?" tanya Tama Lagi, karena menurutnya bocah - bocah kecil sering iseng dengan melempar petasan kepekarangan rumah.
"Bukan anak kecil, tapi orang dewasa" sahut Syifa.
"Wah itu orang sepertinya kurang kerjaan saja melempar petasan ke pekarangan rumah orang" seru Tama.
"Ini bukan petasan sembarang petasan !" seru Bani.
"Maksudnya ?" tanya Fariz penasaran.
__ADS_1
"Itu merupakan sebuah petasan rakitan yang sengaja di lempar ke dalam pekarangan rumah oleh orang yang tidak bertanggung jawab" jawab Bani.
"Ini tidak bisa di biarkan, nanti ke enakan". ujar Fariz.
"Iya, tadi sudah minta bantuan pada Tio untuk mengungkap semuanya" ujar Bani.
"Bagus, sekali - kali orang seperti itu harus di kasih pelajaran bukan hanya di maafkan saja" ujar Tama.
Fariz, Tama dan Rara pamit pulang duluan, sedangkan Umi masih ingin berada di rumah Syifa, ia bener - bener khawatir dengan kondisi menantunya.
"Umi, tak perlu khawatir yang berlebihan ya, insya Allah semua ini akan baik - baik saja" ujar Bani, ia mengerti ada sebuah ketakutan yang tergurat dari wajahnya.
Siang itu Bani memutuskan untuk tidak kembali ke kantornya, ia juga khawatir jika teror itu akan kembali terjadi. Bani kembali keruangan kerjanya dan kembali memutar rekaman cctv tersebut. ia mengulang - gulang remakan tersebut namun belum menemukam seusatu yang di maksud.
Apakah ini ulah dia lagi ? tapi masa ia dia belum kapok juga. gumam Bani Pelan.
Astaghfirullah, aku tidak boleh soudzon seperti ini, mungkin ini hanya sebuah musibah atau peringatan agar lebih ketat lagi dalam melindungi keluarga. batin Bani.
"Nak Umi pulang dulu, kamu jaga diri baik - baik ya, kalau ada apa - apa segera hubungi Umi" ujar Umi pada Syifa.
"Iya Umi, tenang saja kan ada Abang yang jagain Syifa" ujar Syifa seraya tersenyum. mereka mengantarkan Umi hingga ke depan rumah.
Usai Umi pulang, Syifa dan Bani langsung memasuki kamar mereka. tak ada pembicaraan serius mereka sama - sama diam dalam gemingnya. Bani membersihakan badannya untuk persiapan shalat Ashar, sedangkan Syifa menunggu giliran dengan bersandar di atas tempat tidur. pikiranya masih terngiang - ngiang tentang ledakan tadi. ia sebenarnya masih syok dengan kejadian tadi namun ia berhasil menutupi semuanya agar suami dan juga mertuanya tak terlalu mengkhawatirkan kondisi dirinya.
Bani dan Syifa melaksankan shalat ashar berjamaah, setelah itu mereka sama - sama berdoa agar selalu di beri kesehatan, keberkahan, keselamatan dan juga agar selalu di lindungi dari perbuatan orang - orang jahat.
lantunan bait - bait doa pun terpanjatkan dengan khusyuk. dengungan panjang dari doa yang di ucapkan Bani dan Syifa sehingga mereka menutupnya dengan Aamiin, serta mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Jangan pikirkan tentang kejadian tadi, aku gak mau kamu dan calon anak kita kenapa - kenapa" ujar Bani.
"Iya bang" ujar Syifa.
__ADS_1
Ponsel Bani berdering, tanda ada panggilan masuk, segera Bani menjawab panggilan tersebut.
"Asalamualikum, ada apa Tio ?".
"Waalaikumsalam, Bani kamu sekarang datang ke sini deh, nanti alamatnya aku kirim lewat wa" ujar Tio dari sebrang telepon.
"Ada apa emangnya ?" tanya Bani penasaran.
"Datang ke sini saja dulu, nanti aku cerita di sini, datang sekarang juga" ujar Tio, lalu menutup panggilannya.
Bani terdiam sejenak, ia masih menunggu chat dari Tio yang akan mengirim sebuah alamat. setelah Bani menerima chat dan membacanya, alamatnya menurutnya tidak terlalu asing.
"Bang ko diem ?" tanya Syifa. "Siapa yang menghubungi abang ?" tanya Syifa lagi.
Bani menoleh kearah istrinya. "Tio menghubungi abang, ia menyuruh abang buat datang ke sebuah alamat" ujar Bani.
"Untuk apa ?".
"kata Tio nanti di jelaskan di sana" jawab Bani.
"Ya sudah sana pergi biar nanti pulangnya gak terlalu malam". ujar Syifa.
Bani memang ingin pergi karena ia juga penasaran dengan maksud Tio, namun ia juga tak ingin meninggalkan istrinya di rumah sendirian, apalagi setelah kejadian tersebut.
"Kalau mau pergi, pergi saja, aku ada Bi Tuti yang akan menemani ku selama kamu pergi" Syifa mengerti akan khawatiran sang suami ketika harus meninggalkannya sendirian.
Setelah banyak pertimbangan Bani memutuskan untuk pergi, setelah sebelumnya meminta Bi Tuti untuk menjaga istrinya. Syifa di larang keluar kamar selama dirinya pergi dan akan di temani oleh Bi Tuti.
"Abang pergi dulu, gak usah di antar sampai depan, kamu di sini saja" ujar Bani pada sang istri dan Syifa pun mengangguk tanda setuju dan mengerti.
"Bi titip Syifa ya" ujar Bani pada asisten rumah tangganya.
__ADS_1
"Ia pak, bapak hati - hati di jalan" ujar bi Titi.