Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 182


__ADS_3

Rasa cemburu membuat Rara tak bisa berpikir secara positif. ia sangat kecewa dengan suaminya, di saat dirinya berjuang untuk anak yang ada di dalam rahim nya Tapi suaminya malah asik dengan perempuan lain. pulang kerja telat karena banyak kerjaan menjadi sebuah alasan klasik untuk menutupi semua kebohongannya.


Air mata lolos begitu saja, hatinya bener - bener hancur saat melihat foto tersebut. ingin ia teriak sekencang - kencangnya namun ia masih ingat dengan keadaannya yang kini sedang mengandung.


Tama datang untuk menjenguk adiknya, tapi ia sangat terkejut melihat adiknya sedang menangis.


"Apa yang terjadi ?" tanya Tama panik.


Rara langsung memberikan ponselnya dan terpangpang jelas Foto Fariz sedang dengan wanita lain. Rahangnya mengeras ia murka terhadap Fariz. bahkan Tama tidak menyaka dengan apa yang di lakukan Fariz terhadap adik kesayangannya. jika ada Fariz di hadapannya sekarang mungkin Tama sudah menghajarnya habis - habisan.


Ponsel Rara kembali mendapat pesan dari nomor yang sama, segera Tama membaca pesan tersebut.


Jadi kamu tau kan, siapa yang jahat, aku atau suami mu. isi pesan tersebut.


Tidak sengaja Tama menggeser layar ponsel tersebut, hingga nampaklah beberapa pesan dari nomor tersebut, Tama di buat terkejut karena semua isi pesan tersebut adalah sebuah ancaman semua.


"Kamu kenal dengan nomor ini ?" tanya Tama. Rara hanya menggelengkan kepalanya.


"Apa ada yang tidak suka dengan hubungan kalian ?" tanya Tama dan lagi - lagi Rara hanya menggelengkan kepalnya.


"Jangan - jangan wanita ini adalah orang suruhan yang punya nomor ini" tebak Tama.


"Kenapa kakak bisa berpikir seperti itu ?" tanya Rara melirik kakaknya.


"Ya bisa saja, dari kemarin dia selalu mengirim pesan nada ancaman lalu sekarang mengirim foto Fariz berdua dengan seorang perempuan, atau perempuan ini hanya sebatas rekan bisnis yang fotonya di ambil secara diam - diam oleh orang ini". jelas Tama.


"Kakak benar, bisa saja orang ini ingin menghancurkan rumah tangga ku, mungkin dia jika menyuruh aku menceraikan Fariz lewat ancaman gak bakalan mempan, makanya dia mengirim foto Fariz dengan perempuan lain agar aku dan Fariz berantem lalu aku minta pisah" ujar Rara. "Ahh kenapa tadi aku tidak bisa berpikir sampai sana" gerutu Rara.


"Makanya jangan menelan berita mentah - mentah, pikir dulu baik - baik" ujar Tama.


"Kaya sendirinya tadi tak emosi saja" sindir Rara dan Tama pun hanya tersenyum, tak bisa di pungkiri jika ia pun langsung marah saat melihat foto tersebut.


"Sudah gini saja, kakak akan mencoba lacak siapa pemilik nomor tersebut, lalu kakak juga akan mencari tahu siapa wanita tersebut" ujar Tama.


"Makasih kak" sahut Rara dan langsung memeluk erat sang kakak, ternyata walaupun dirinya sudah menikah tapi kakaknya masih mau pasang badan saat adiknya ada masalah.


...*****...

__ADS_1


Hari ini Syifa dan Bani akan menjenguk tante Erni, dan sekalian menginap di rumah Abi dan Ummah.


"Sayang, cepetan ih" ujar Bani.


"Bentar sayang" sahut Syifa.


Mereka berangkat hanya berdua saja, karena Abi dan Uminya tak bisa ikut karena ada kegiatan yang tak biasa mereka tinggalkan


Tujuan pertama mereka adalah rumah sakit. Bani berjalan menggandeng sang istri menyusuri lorong rumah sakit.


Tak berapa lama mereka sampai di ruang perawatan tante Erni.


"Asalamualikum" ucap Bani dan Syifa secara bersamaan.


"Waalaikumsalam" jawab yang ada di ruangan kompak.


"Syifa, Bani, Ayo masuk" ujar Robby.


"Gimana keadaan tante ?" tanya Syifa, namun yang di tanya malah diam saja.


"Mamah sudah mulai membaik" jawab Robby seraya menyuapi mamahnya makan.


Kini Syifa beralih untuk menyapa Salwa yang sedang duduk sofa. ia terlihat sangat sedih dengan kondisi mertuanya.


"Kak Salwa apa kabar ?" tanya Syifa.


"Baik, kamu gimana ? selamat atas kehamilannya, udah berapa bulan ?".


"Alhamdulilah baik juga, Kak Salwa juga selamat atas kehamilan anak kembar tiganya. aku jalan enam bulan kalau kak Salwa ?".


"Hmm sama - sama, Berarti barengan yah kita hamilnya, aku sih baru enam minggu lebih sih".


"Semoga lancar yah sampai lahiran nanti".


Salwa dan Syifa asik berbincang - bincang, sedangkan Bani hanya setia mendengarkan pembicaraan mereka. Robby masih sibuk menyuapi mamahnya.


Tak lama kedua orang tua Syifa juga datang menjenguk, mereka akan bergantian jaga, karena yang jaga semalam adalah Robby Salwa dan Tasya, namun tadi pagi Tasya harus pulang karena ada jadwal sekolah.

__ADS_1


"Eh kamu sudah sampai di sini, Ummah kira kamu akan ke rumah dulu" ujar Ummah saat melihat ada anak dan menantunya di sana.


"Sekalian Ummah, biar gak bolak - balik" ujar Syifa.


"Bayu, Salwa kalian pulanglah dulu, istirahat" ujar Abi Umar.


"Tapi Abi, Mamah bagaimana ?".


"Kan ada Abi dan Ummah yang jaga" sahut Ummah.


"Iya, Kasian istri kamu kurang istirahat, dia sedang mengandung, kalau mau pulang, pulang saja kerumah Abi dan Ummah, di sana Ada Bi Ida" ujar Abi Umar.


"Kita pulang ke rumah mamah saja Abi" ujar Robby.


Robby dan Salwa pamit ke mamahnya untuk pulang sebentar, mereka janji akan segera kembali untuk menjaga mamahnya.


Setelah kepergian Salwa dan Robby Tante Erni mulai berbicara pada Abi Umar.


"Umar kenapa aku mengalami hal seperti ini ?" tanya Mamah Erni.


"Ini ujian dari Allah, mungkin selama ini kamu lalai dalam melaksanakan kewajiban kamu sebagai umat muslim" ujar Abi Umar.


Tiba - tiba tante Erni menangis, entah apa yang di rasakananya, sebuah penyesalan atau hanya kesediahan karena dirinya tak bisa berjalan apalagi untuk kumpul bareng dengan teman - teman gank arisannya.


"Jangan menangis. inget kata dokter ini hanya sementara dan nantinya kamu juga bisa jalan kembali seperti biasanya" ujar Ummah menyemangati tante Erni.


Berlama - lama di rumah sakit membuat Syifa menjadi mengantuk, ia berkali - kali terlihat menguap.


"Nak, pulang saja kalau ngantuk, biar istirahat di rumah" ujar Ummah.


"Iya Ummah" sahut Syifa. "Tante, Syifa pamit pulang dulu, semoga tante lekas sembuh" ujar Syifa.


"Terima kasih, Syifa sudah menjenguk tante" ujar Tante Erni lirih.


Syifa dan Bani berpamitan untuk pulang kerumah Ummah dan juga Abi, mereka akan menginap satu malam di sana.


Sebelum sampai rumah Bani dan Syifa memilih mencari makan terlebih dahulu karena Syifa merengek sudah lapar, semenjak hamil lima bulan nafsu makan Syifa bertambah, ia sehari bisa sampai empat atau lima kali makan.

__ADS_1


Selesai makan kini Syifa menuju minimarket untuk membeli cemilan. Bani pun hanya mengiakan saja yang penting istrinya senang dan tidak berpengaruh buruk terhadap calon buah hati mereka.


Karena sudah lelah, sampai rumah Syifa langsung masuk ke kamarnya, merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya. sedangkan Bani hanya duduk di atas tempat tidur seraya mengecek laporan yang telah di kirim Tio lewat Email.


__ADS_2