Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 101


__ADS_3

Saat Syifa, Bani, Salwa dan Robby sedang asik berbincang - bincang, tante Erni datang menghampiri mereka.


"Syifa selamat atas kehamilannya ya" ucap mamah Erni namun matanya melirik ke arah Salwa dan menekan intonasi di kata hamil.


Apa Syifa hamil ? ko aku gak tau ya. pasti mamah akan meminta ku segera hamil juga. gumam Salwa dalam hatinya.


"Terima kasih tante" ujar Syifa seraya tersenyum.


"Kalian memang hebat, tak seperti orang yang ada di samping kalian" ujar mamah Erni. sedangkan Salwa hanya menundukan kepalanya.


"Mamah jangan bicara seperti itu, mamah harus bisa jaga perasaan Salwa" ujar Robby yang geram dengan tingkah orang tuanya yang selalu merendahkan sang istri karena tak kunjung di beri keturunan


"Bela terus aja bela" ujar Mamah Erni dan berlalu meninggalkan mereka berempat.


Syifa maupun Bani hanya bisa mengelus dada mereka masing - masing, kata - kata Tante Erni seperti peluru yang langsung menembus ke hati. Andai Syifa belum hamil pasti dirinya akan meresakan betapa sakit hati ketika di tanya soal keturunan.


Bani dan Robby di panggil Abi Umar untuk bergabung bersama, dengakan Salwa dan Syifa masih terdiam di tempat masing - masing.


"Ustazah ayo kita gabung dengan kak Shela" ajak Syifa pada Salwa.


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi" protes Salwa.


"Maaf, aku panggil kak Salwa saja boleh ?" tanya Syifa.


"Boleh" ujar Salwa senang.

__ADS_1


Salwa dan Syifa menghampiri Kak Shela yang sedang duduk sendiri di taman belakang rumahnya.


Mereka duduk bertiga sembari memperhatikan bunga - bunga yang tumbuh bermekaran.


"Kak Shela kapan prediksi lahirannya ?" tanya Salwa memberanikan diri untuk bertanya.


"Kalau hpl dokter sih dua mingguan lagi" jawab Shela dengan antusias.


"Gak sabar ingin melihat keponakan pertama ku" ujar Syifa senang.


"Kakak juga sama, tak sabar menantikan anak kamu" ujar Shela. Salwa kembali terdiam, kepalanya menunduk, asa rasa sedih dan juga iri kepada dua wanita yang ada di dekatnya, karena mereka di permudah dalam mendapatkan keturunan, sangat berbeda dengannya.


"Jangan bersedih, maafkan jika ada kata - kata kami yang menyinggung perasaan kamu" ujar Shela yang menjadi tak enak hati melihat kesedihan di wajah Salwa.


"Aku baik - baik saja, aku hanya merasa iri, kenapa sampai sekarang aku belum juga di berikan keturunan, padahal aku sudah berkali - kali cek dan konsultasi, dan kata dokter kami berdua baik - baik saja" ujar Salwa.


"Sepertinya kamu terlalu banyak beban pikiran, bisa saja itu jadi faktor kamu menjadi sulit hamil" ujar Shela yang merasa jarang sekali melihat wajah ceria di muka Salwa.


"Apa stres bisa membawa faktor buruk bagi ibu hamil ?" tanya Syifa.


"Kalau kita tidak bisa mengontrol emosi kita maka bisa saja berdampak buruk bagi si calon bayi, dan yang lebih patal bisa menyebabkan keguguran, kenapa ketika hamil kita bisa dengan gampangnya terpancing emosi dan stres, karena ketika hamil hormon dalam tubuh kita akan bertambah" jelas Shela.


"Nah untuk pasangan yang sedang berjuang mendapatkan garis dua juga tak boleh mengalami stres, karena itu bisa berpengaruh dalam proses kehamilan, stres nyatanya dapat mengganggu tingkat kesuburan wanita. Tingkat stres yang tinggi dapat mengacaukan ovulasi. Sebab saat stres, tubuh akan mengirimkan sinyal ke hipotalamus, yaitu bagian otak yang bertugas untuk mengontrol ovulasi" jelas Shela.


"Sebuah penelitian menemukan bahwa β€˜memelihara’ stres dapat menurunkan peluang wanita hamil hingga 30 persen. Dan satu hal yang terlihat biasa, namun nyatanya dapat membuat stres adalah mencoba terlalu keras untuk dapat hamil.Untuk segera mendapat kehamilan, mungkin memutuskan untuk melakukan sederet kegiatan dan mengonsumsi minuman atau obat pendukung kehamilan, yang terkadang tanpa di sadari terlalu berlebihan. Akhirnya, usaha itu malah membuat semakin berharap dan berujung dengan rasa kecewa dan stres" jelas Shela.

__ADS_1


Syifa menyimaknya dengan baik, Syifa merasa senang dapat berbagi cerita dengan kakak iparnya sehingga ia bisa mendapatkan ilmu yang baru. begitupun dengan Salwa yang menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Shela. dirinya kini sadar bahwa secara tidak langsung bawa Salwa sedang dalam keadaan tertekan atau stres.


Kenapa Salwa tak kunjung hamil, padahal dokter bilang baik - baik saja, faktor utamanya karena Salwa stres dan juga ada dalam tekanan. di awal menikah Salwa merasa stres karena dirinya menikah bukan dengan orang yang ia cintai, hingga secara perlahan cinta itu tumbuh di hati Salwa, namun ketika cinta itu sudah tumbuh,Salwa kembali mendapat tekanan dari sang mertua yang menuntutnya untuk segera hamil, bahkan mertuanya akan datang ke apartemen mereka hanya untuk mengantarkan ramuan yang dapat menyuburkan kandungan, namun hal itu belum bisa membuat Salwa hamil dan berujung sebuah kekecewaan.


"Jangan banyak pikiran di bawa happy saja" ujar Shela yang melihat Salwa tengah melamun.


"Terimakasih atas semua sarannya, saya akan mencoba untuk lebih enjoy, dan tidak akan memikirkan hal - hal yang kurang penting" ujar Salwa.


"Aku yakin kak Salwa orang hebat dan kuat" ujar Syifa seraya mengusap punggung Salwa. Salwa pun hanya membalasnya dengan senyuman.


Dari kejauhan Robby memperhatikan istrinya yang sedang mengobrol dengan saudaranya, Robby merasa senang melihat keakraban di antara mereka, namun di sisi lain Robby mengkhawatirkan kondisi Salwa yang takut merasa minder karena kedua saudaranya sedang mengandung. namun hal itu terbantahkan saat melihat Salwa terlihat tertawa di sela - sela obrolan mereka.


"Aku permisi dulu, izin mau ke toilet" ujar Salwa dan berlalu menuju toilet yang berada di bagian ruangan televisi, Salwa bisa mendengar dengan jelas jika mertuanya dan saudara lain sedang membicarakan soal cucu.


Semua saudara yang sebaya dengan Mamah Erni hampir semua sudah mempunyai cucu, hanya tinggal mamah Erni saja yang belum, hal itu membuat mamah Erni yang selalu mendesak Salwa agar segera hamil.


Aib mantu belum hamil terus di sebarin ke mana - mana, secara tidak langsung dia sedang membuka aibnya sendiri. gerutu Salwa dalam hatinya.


Bener apa yang di katakan Shela, aku terlalu stres dan banyak pikiran gara - gara masalah ini. gumam Salwa seraya merapihkan kerudungnya di depan cermin.


Setelah itu Salwa kembali ke taman, dimana Syifa dan Shela berada, menurutnya bergabung dengan Syifa dan Shela lebih membuatnya serasa tenang dari pada harus selalu ada di dekat mertuanya membuat dirinya semakin berada di dalam tekanan.


Mereka kembali berbincang - bincang tentang seputar kehamilan, membuat Salwa begitu antusias mendengarkan setiap penjelasan Shela. Harusnya aku baca - baca tentang artikel seputar persiapan ke hamilan. Gumam Salwa dalam hatinya.


***

__ADS_1


"Salwa kamu sudah berbulan - bulan menikah tapi ko gak hamil - hamil ?" tanya Tante Lusi yang di kenal dengan mulut nyinyirnya di lingkungan keluarga Syifa dan Robby. bagi keluarga yang lainnya mereka sudah tak mau menggubris setiap omongan yang keluar dari mulut tante Lusi, berbeda halnya dengan Salwa yang baru mengenalnya menurutnya itu cukup membuat Salwa merasa terhina "Jangan - jangan kamu mandul ya" tebak tante Lusi yang membuat Salwa tak mampu memendung emosinya, kata - kata tersebut membuat Salwa yang awalnya merasa tertantang untuk membungkam setiap mulut yang bertanya kapan dia hamil, kenapa gak hamil - hamil.


......πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ......


__ADS_2