Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 29


__ADS_3

Asyifa kemudian membalikan badannya dan kembali melangkah. " Hei saya bicara pada anda, apa anda tidak bisa mendengar ?" hal itu sontak membuat Asyifa dan kedua temannya kembali membalikan badanya.


"Ustaz nanya pada saya ?" tanya Asyifa.


"Bukan" jawaban ketus Bani.


"Ya sudah, ayo kita masuk saja sebentar lagi shalat berjamaah akan di mulai" ujar Asyifa mengajak temnnya untuk segera masuk ke surau.


"Apa seperti itu contoh santri yang baik" Sindir Bani seraya tersenyum licik.


"Terserah ustaz saja, karena ustaz selalu benar" ujar Asyifa lalu bergegas meninggalkan ustaz Bani.


Dasar cewek aneh.gerutu Bani seraya memasuki surau.


Setelah shalat ashar Bani mendapat bagian untuk mengajar di bagaian santri laki - laki, dan Kyai Hasan memerintahkan ustaz Ali untuk mendapinginya.


Sepanjang proses mengajar Bani mencoba untuk berkonsentrasi melupakan sejenak permasalahanya. Ustaz Ali dengan sigap membantu ustaz Bani saat kurang fokus dalam mengajarnya.


Malam hari jam sembilan semua santri sudah memasuki asramanya masing - masing, sebelum tidur Asyifa dan kedua temennya selalu meluangkan waktu untuk menceritakan keluh kesah mereka.


"Menurut kalian ustaz Bani aneh gak sih ?" tanya Mila.


"Aneh apanya ?" tanya Nayla.


"Masih sama - sama ngeselin, aneh di mananya" timpal Asyifa.


"Tapi tadi dia perhatian". jawab Mila.


"Tapi iya tumben banget dia nanyain kaki kamu" sahut Nayla.


"Kalian ini, apa kalian tadi tidak mendengar kalau ustaz Bani bukan bicara dengan aku" jelas Asyifa.


"Lalu sama siapa, cuma kamu yang sakit kakinya" jawab Mila makin bingung.


"Mungkin dia sedang ngomong sama jin iprit" jawab Asyifa santai.


...******...


Lima Hari berlalu setelah acara khitbah ustaz Bani dan Ustazah Salwa, namun ustazah Salwa belum kembali ke pesantren sehingga tugas ustazah Salwa di gantikan oleh ustazah Nissa.


Desas - desus tentang Khitbah mulai bermunculan, banyak yang berasumsi kalau Bani menolak ustazah Salwa, dan ada juga yang bilang orang tua Salwa tidak merestui Salwa dan Bani.


Keluarga Kyai Hasan menutup rapat tentang permasalahan tersebut, mereka berpura - pura tidak mengetahui apa pun yang terjadi dengan ustazah Salwa, begitupun dengan ustazah Aisyah dan ustaz Ali. banyak rekan ustaz di pesantren yang mencoba menghubungi ustazah Salwa namun nomornya sudah tidak aktif lagi.


"Ustazah kenapa ya ko Salwa jadi gak bisa di hubungi ?" tanya ustazah Nissa yang penasaran.

__ADS_1


"Hmm aku juga kurang tau" jawab ustazah Aisyah.


"Menurut informasi juga keluarga ustazah Salwa sudah pindah rumah" timpal ustazah Sari.


"Khitbahnya di tolak ya " celetuk ustazah Nissa.


"Bisa jadi" jawab Ustazah Sari.


Ustazah Aisyah pergi meninggalkan ustazah Nissa dan Sari, karena jika dia terus - terusan di sana akan di todong berbagai pertanyaan tentang Bani dan Salwa.


Keluarga ustazah Salwa memang pindah rumah, Mereka pindah kerumah yang sudah di sediakan oleh Robby. karena Salwa sudah bersedia untuk di nikahi oleh Robby karena menurutnya tidak ada pilihan lain. pernikahan mereka akan di selenggarakan secara tertutup dan di hadiri oleh keluarga terdekat saja.


"Asyifa besok kamu pulang ?" tanya Mila dengan raut wajah yang sedih.


"Iya aku pulang, tapi tenang ko aku bakalan kembali lagi" ujar Asyifa tersenyum.


"Kita bakalan ke sepian kalau kamu gak kembali lagi" sahut Nayla.


"Lebay ah, tidur yuk udah malam" jawab Asyifa. ia tidak ingin membicarakan hal ke pulangannya karena akan membuat sedih ke dua temennya.


Sementara di dalam ruang keluaraga di rumah Kyai Hasan sedang di adakan kumpul keluarga, Kyai Hasan ingin memberitahukan tentang pernikahan Salwa dan Robby dan kebetulan keluarga Kyai Hasan termasuk ke bagian tamu dalam acara tersebut.


"Selasa besok Salwa akan menikah dengan Robby, kita di undang" jelas Kyai Hasan.


"Kalau kamu gak sanggup gak usah datang nak" sahut Umi.


"Bani gak papa, Bani yakin ini yang terbaik ko" jawab Bani seraya tersenyum untuk meyakinkan orang tuanya bahwa dirinya baik - baik saja.


Setelah mendapat kesepakatan bahwa keluarga Kyai Hasan akan datang pas acara akadnya saja, satu persatu meninggalkan ruang keluarga pertama Bani di susul oleh Fariz dan hanya tinggal menyisakan Kyai Hasan dan Umi.


Fariz melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di lantai atas, Kamar Fariz juga melewati kamar Bani, karena kamar kakaknya terbuka, maka Fariz nyelonong masuk ke kamar Bani.


"Kak Bani" panggil Fariz karena Bani tak ada di kamarnya.


"Kakak di balkon" jawab Bani ketika mendengar adiknya memanggil. Fariz menghampiri kakaknya.


"Kak apa kakak yakin mau datang ke sana ?" tanya Fariz yang tak yakin jika kakaknya akan datang ke pernikahan Salwa.


"Ya yakin lah, emangnya kenapa ?" tanya Bani balik.


"Kakak gak sakit hati ?".


"Untuk apa sakit hati, kamu tau gak kenapa kakak nerima Salwa ?" dengan spontan Fariz langsung menggelengkan kepalanya. " Kakak nerima Salwa karena kakak gak mau Abah dan Umi kecewa" jelas Bani.


"Berarti kakak terpaksa dong" tebak Fariz.

__ADS_1


"Bisa di bilang seperti itu, aku hanya berdoa Jika Salwa yang terbaik maka akan di lancarkan jalannya, dan Jika Salwa bukan jodohku maka jauhkanlah".


"Apa kakak sudah punya pilihan untuk pendamping hidup, karena kakak tau Abah dan Umi ingin sekali melihat kakak menikah, apa kakak mau nerima jika di jodohkan lagi dengan seseorang ?" Fariz melontarkam berbagai pertanyaan kakaknya.


"Jika allah memberi jalan dengan cara di jodohkan orang tua kakak ikhlas" jawab Bani.


"Oh ya siapa wanita yang ingin kamu khitbah" tanya Bani.


"Haha masih rahasia doang" ujar Fariz dan bergegas meninggalkan kamar Bani.


Aku rela jika aku di langkahi adikku. gumam Bani dalam hatinya.


...*******...


Pagi hari keluarga Asyifa sudah datang ke pesantren untuk menjemput anaknya, pak Umar dan Ummah mendatangi bagian informasi untuk mengatakan maksud ke datangan mereka, pak Umar juga bertanya tentang jadwal libur anaknya.


"Jadi syifa dapat libur hari sabtu dan minggu, syifa bisa kembali ke pesantren senin pagi atau minggu sore" jelas bagian informasi.


"Apa libur anak saya bisa di tambah, karena hari selasanya akan ada acara pernikahan kerabat saya" ujar pak Umar menjelaskan.


"Untuk itu saya akan tanyakan ke pihak pengurus lainnya, dan tentunya atas persetujuan pemilik pesantren ini" jelas pihak informasi.


"Baiklah, saya akan berbicara langsung dengan Kyai Hasan" ucap pak Umar.


"Silahkan pak".


Pak Umar dan Ummah berjalan ke ruangan Kyai Hasan, di antar oleh petugas informasi.


namun saya ternyata Kyai Hasan tidak ada di ruangannya, Kyai Hasan masih berada di rumahnya.


Akhirnya Pak Umar dan Ummah pergi ke rumah Kyai Hasan.


"Asalamualaikum". pak Umar mengucap salam seraya mengetuk pintu rumah Kyai Hasan.


"Waalaikumsalam" jawab dari penghuni rumah tersebut, seorang wanita paruh baya membuka pintu tersebut.


"Kyai Hasanya Ada ?" tanya pak Umar pada wanita paruh baya tersebut yang merupakan asisten rumah tangga di keluarga Kyai Hasan, yaitu Bi Tuti.


"Ada, silahkan masuk dan duduk dulu" Bi Tuti mempersilahkan tamu majikannya masuk. "Bapak dan Ibu mau minum apa ?" tanya Bi Tuti sopan.


"Hmm tidak usah repot - repot, kita hanya ingin bertemu Kyai Hasan sebentar" Jelas Ummah.


Bi Tuti menuju kamar Kyai Hasan dan di ketuknya pintu tersebut.


"Ada apa Bi ?" tanya Umi.

__ADS_1


__ADS_2