Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 176


__ADS_3

Sombong ? tentu itu bukan sifat Bani. namun ia punya Alasan kenapa dirinya enggan menemui Malik. atau Bani menyimpan dendam pada Malik ? tentu tidak ada dendam sama sekali. Bani sangat mengetahui sifat Malik yang keras. ia takut jika diri nya sering datang di kondisi seperti ini akan membuat Malik tambah membenci dirinya.


Secara diam - diam juga Bani mengetahui tentang Malik yang sering mencoba kabur dengan berbagai macam cara dan bantuan, bahkan sudah ada empat orang yang di tangkap akibat mencoba membantu Malik kabur dari tahanan, salah satunya pihak petugas rutan yang mau di suap oleh anak buah Malik. Namun Bani pura - pura tidak tahu saja, ia hanya waspada jika ada anak buah Malik yang ingin mencoba mengusik ketenangannya dan keluarganya.


Akhirnya Syifa dan Bani juga ikut pergi meninggalkan resto setelah membayar makanan mereka. kini Syifa dan Bani menuju rumah mereka.


"Bang kenapa ya Ko Malik gak berubah - berubah ?" tanya Syifa.


"Hmm, mungkin belum waktunya sayang, Malik itu orangnya keras, jadi jika ia di paksa untuk menyadari kesalahannya susah, harus nunggu dia sadar dengan sendirinya" jelas Bani.


"Oh seperti itu ya sayang".


"Ibarat sebuah rating yang bengkok, jika di paksa lulus maka akan langsung patah, jadi untuk meluruskannya butuh trik khusus dan juga kesabaran". jelas Bani. "Malik itu orang baik banget, ia yang sering motivasi abang buat bikin usaha sendiri". sambung Bani.


"Abang, ini gimana sih, bilang Malik baik, tapi kenapa ia tega berbuat jahat pada abang" protes Syifa.


"Memang Malik itu baik, Tapi entah kenapa ia bisa berubah, hanya Allah yang tahu karena hanya Allah yang bisa membulak - balikan hati manusia" ujar Bani yang masih fokus pada kemudinya.


Sementara Fariz dan Rara baru saja pulang dari rumah sakit, mereka mampir terlebih dahulu ke umi untuk mengambil barang - barang mereka.


"Asalamulaikum" salam Rara dan Fariz secara bersamaan.


"Walaikumsalam" jawab Umi.


"ko sepi Umi ?" tanya Fariz.


"Iya tadi Zahwa sudah pulang beserta anak dan Suaminya, begitu pun dengan Bani dia juga sudah pulang" jelas Umi dan Fariz hanya manggut - manggut.


"Sudah periksanya ?" tanya Umi.


"Sudah Umi, menurut dokter usia kandungannya baru masuk minggu ke empat dan janin nya saja belum terlihat hanya ada kantong kehamilan nya saja" jelas Rara.


"Kamu harus banyak istirahat, jangan beraktivitas yang berlebihan, dan jangan lupa makanannya juga harus di atur" Umi menasehati menantunya.


Setelah pulang dari rumah Umi dan Abah, kini Rara dan Fariz menuju kediaman orang tua Rara, ia akan memberikan kabar bahagia tentang kehamilan Rara.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kepala ku pusing ya ?" Rara memegang kepalanya yang mulai pusing, bahkan sekilas padangan Rara pun menjadi kabur.


"Apa kita ke dokter lagi saja ?" tanya Fariz panik.


"Tidak usah, aku mau ketemu mamah ku saja". sahut Rara seraya menahan sakit di kepalanya.


Selama perjalanan menuju rumah orang tuanya, Rara mencoba menahan pusing di kepalanya di tambah bau parfum yang ada di mobil membuat Rara semakin tak tahan dengan kepalanya. ada rasa mual namun Rara mencoba menahannya.


Tiba di rumah orang tuanya. Rara turun dari mobil dengan di bantu oleh Fariz. wajah Rara terlihat sangat pucat.


"Nak kamu sakit ?" tanya mamanya saat menyambut kedatangan Rara dan Fariz.


"Kepala ku pusing ma, apa mama punya obat untuk sakit kepala ?" tanya Rara .


"Ada, ayo masuk" Mama nya Rara membantu memapah Rara, kemudian di dudukan di kursi ruang tamu.


"Kenapa kamu ?" tanya Tama yang baru keluar dari kamarnya.


"Adik kamu kepalanya pusing, sana kamu carikan obat sakit kepala di kotak p3k" titah mama nya.


"Kamu makan dulu sedikit saja, kan mau minum obat " bujuk mama nya dan Rara pun hanya mengangguk pelan.


"Sebenarnya kalian habis dari mana sih ? kok Rara sakit malah di bawa ke sini, orang mah bawa kerumah sakit !" ujar Tama yang kembali dengan membawa obat untuk adiknya.


"Semalam kami menginap di rumah Umi, dan kami ke sini karena ada sesuatu yang harus di sampaikan. sebelum ke sini juga kami habis dari rumah sakit, namun tadi kondisi Rara baik - baik saja. tapi pas di jalan menuju ke sini Rara tiba - tiba mengeluh sakit kepala dan aku mencoba mengajak Rara untuk kembali ke rumah sakit namun Rara menolak, malah minta cepet - cepet sampai ke sini" jelas Fariz, ia paham jika Tama sedang mengkhawatirkan kondisi adik nya.


"Siapa yang sakit ?" tanya Mama nya Rara.


"Oh itu tadi hanya memeriksa kondisi Rara saja ma". jawab Fariz.


"Jadi gini mah, tadi pagi Rara mencoba untuk tes pack karena sudah telat dan hasilnya garis dua, Umi menyarakan kami tunduk memeriksakan Rara, dan kata dokter bener Rara sedang hamil dan usia kandungannya masih empat minggu" ujar Fariz menjelaskan.


"Jadi kamu sedang hamil nak ?" tanya Mama nya Rara kemudian memeluk erat sang anak. "Alhamdulilah Akhirnya mama akan punya cucu juga" ujarnya senang.


"Sekarang mama paham, jadi kamu pusing itu karena hamil na, orang hamil memang seperti itu, malah ada yang sampai mual muntah juga" ujar mama nya Rara.

__ADS_1


Rara hanya menganggu, kepalanya bener - bener pusing bahkan kini badannya pun ikut lemas. "Tama taro lagi obat pusingnya" titah mama nya.


"Kenapa mah, Rara kan sakit kepala jadi harus minum obat biar sakitnya hilang" ujar Tama.


"Adik mu sedang hamil, jadi tidak boleh minum obat sembarangan, resikonya tinggi, untung saja Fariz cepat cerita" ujar mama Rara.


"Oh" ujar Tama yang langsung berlalu.


Rara di ajak mama nya untuk beristirahat. tak lupa juga mama nya membuatkan minuman jahe untuk menghilangkan pusing kepalanya.


Sedangkan Fariz malah memilih di ruang Tamu dan di temani sang kakak ipar. ia tak ingin mengganggu waktu istirahat istrinya.


"Tokcer juga kamu ya, sudah cepat bikin adik gue bunting".


"Alhamdulilah sudah di percaya untuk mendapat keturunan" ujar Fariz.


"Ahh nanti gue di panggil om" gurau Tama.


"Iya om tanpa tante" ujar Fariz sambil menahan tawanya.


"Tante nya caming soon" ujar Tama.


"Bagaimana dengan kondisi resto kamu ?" tanya Tama.


"Untuk resto cabang Alhamdulilah sudah banyak pengunjungnya, dan untuk resto yang pertama masih tetap setabil" ujar Fariz menjelaskan.


"Bagus, kalau ada masalah jangan sungkan cerita sama gue" ujar Tama dan Fariz hanya mengangguk.


Fariz pun pamit pada kakak iprnya, ia ingin melihat kondisi sang istri. Fariz pun berlalu menuju kamar Rara yang berada di lantai dua.


"Ma bagaimana keadaan Rara ?" tanya Fariz.


"Sudah membaik, biarkan istrimu istirhata".


"Iya ma, tapi jika nanti di rumah Rara pusing lagi bagai mana ?" tanya Fariz.

__ADS_1


"Pusing, mual dan muntah itu sudah wajar bagi wanita yang sedang hamil muda. jangan makan obat sembarangan tanpa resep dokter ya" ujar mama nya Rara.


__ADS_2