
setelah bujuk rayu Syifa pun Akhirnya mau di ajak konsultasi ke dokter kandungan, Bani dan Syifa pun sudah siap untuk berangkat kerumah sakit.
"Kalian mau ke mana ?"tanya Umi yang baru datang dari pengajian di lingkungan rumahnya.
"Kita mau jalan - jalan sore" jawab Bani bohong membuat Syifa kaget. entah apa alasan Bani berbohong pada Uminya.
"Emangnya Syifa udah sembuh ?" tanya Umi lagi.
"Syifa baik - baik saja" jawab Syifa cepat, ia tak ingin suaminya berbohong lagi pada orang tuanya.
Tiba di rumah sakit, Syifa dan Bani menuju tempat pendaftaran. selesai mendaftar Syifa dan Bani di arahkan ke ruang tunggu tempat dokter spesialis kandungan praktik.
Di sana banyak ibu - ibu hamil yang sedang menunggu antrian juga. banyak yang penatap ke arah Syifa dan Bani dengan tatapan heran, karena orang bakal mengira Syifa dan Bani adalah adik dan kakak, bukan pasangan suami istri.
"Udah hamil berapa bulan ?" tanya ibu - ibu yang duduk di samping Syifa.
"Saya gak hamil, cuma mau konsultasi saja" jawab Syifa ramah.
"Ohh, suaminya ke mana, ko di anter sama kakaknya ?" tanya Ibu - ibu itu lagi, tentunya membuat Syifa dan Bani saling tatap menatap.
Setua itukah aku, hingga mereka menyangka aku adalah kakaknya Syifa. gerutu Bani dalam hatinya.
Kenapa orang lain selalu menganggap aku dan Abang itu adik kakak, apa aku gak pantas jadi pendampingnya abang. ucap Syifa dalam hatinya.
"Ini bukan kakak saya, dia suami saya" jawab Syifa seraya tersenyum getir.
"Hmmm pasti kalian korban perjodohan orang tua" tebak ibu - ibu tersebut.
"Bukan orang tua yang menjodohkan kami, tapi Allahlah yang telah menjodohkan kami" jawab Bani tegas. lalu ibu - ibu itu terlalu dengan tatapan sinis karena namanya di panggil oleh tim perawat.
"Jangan di masukin ke hati ya omongan ibu - ibu tadi" ucap Bani seraya mengusap halus pundak sang istri. Syifa pun mengangguk pelan.
...*******...
Hari ini hari yang sangat melelahkan untuk Fariz hingga ia memutuskan untuk pulang lebih awal, Fariz ingin menceritakan rencana pembukaan resto cabangnya kepada keluarganya.
"Zi aku pulang duluan yah" ucap Bani pada Zidan.
"Mau ketemu cewek tadi ?" tebak Zidan.
__ADS_1
"Sembarangan saja kalau ngomong" ucap Fariz.
"Cantik lo yang tadi" goda Zidan.
"Kalau suka ambil saja" ucap Fariz ketus.
"Nggak ah gue takut di gantung sama ayang mbep kalau main serong" ujar Zidan.
"Dasar cemen" ledek Fariz.
"Bukan cemen, tapi gue menghargai perasaan dia, makanya sana cari pacar biar tau rasanya pacar marah kalau kita main mata" ujar Zidan.
"Gue gak mau pacaran, gue mau langsung nikah, lo aja pacaran bertahun - tahun gak nikah - nikah, pacaran apa lagi kredit rumah" ledek Fariz.
"Gue akan nikah, tapi nanti setelah lo punya pasangan, biar lo datang gak sendirian, sangat menyedihkan" ejek Zidan.
"Berisik lo, gue pulang" ucap Fariz sambil berlalu meninggalkan Zidan dan menuju mobilnya.
di tengah perjalanan Fariz melihat orang sedang berkerumun. Ada apa itu ? tanya Fariz dalam hatinya. lalu menepikan mobilnya ke pinggir jalan, dan bertanya pada orang yang sedang berlalu lalang.
"Apa apa itu bu ?" tanya Fariz pada seorang ibu - ibu yang sedang berjalan.
"Ada seorang anak gadis yang di jambret" jawab ibu - ibu tersebut.
"Kamu" tegur Fariz.
Wanita itu langsung menoleh ke arah sumber suara. "Fariz tolong aku, aku di jambert, tas ku di bawa" ucap wanita tersebut sambil terus menangis.
"Kenapa kamu gak lapor polisi, itukan ponsel kamu masih ada "Sahut Fariz seraya menujuk kearah ponsel yang ada di genggaman wanita itu.
"Ponselku mati" ujar wanita tersebut.
"Ini temen saya, jadi lebih baik kalian bubar saja" ucap Fariz pada warga yang sedang berkerumun.
"Apa aku boleh pinjem ponsel kamu, aku ingin menghubungi kakak ku" ucap Rara. wanita yang sedang menangis karena di jambret adalah Rara, wanita yang pernah bertemu Fariz di restonya.
"Boleh, Lebih baik kita ngobrolnya di Cafe sana saja" ucap Fariz seraya menunjuk sebuah cafe yang ada di sebrang jalan.
Sampai di cafe tersebut Fariz langsung duduk di bangku yang kosong. "kamu pilih saja makanan dan minuman sesuai ke inginan kamu" titah Fariz.
__ADS_1
"Tapi aku tidak punya uang, kartu dan uang ku ada di tas yang di jambret" ujar Rara.
"Biar aku yang bayar" sahut Fariz.
"Hmm, Kemaren kamu yang bayar, harusnya sekarang giliran aku yang bayar, Gini saja nanti biar kakakku yang bayar gimana" ujar Rara.
"Sekarang pesen saja dulu, soal bayar urusan nanti" sahut Fariz.
Fariz dan Rara mereka hanya memesan sebuah minuman saja, karena perut mereka masih sama - sama masih kenyang. "Mana ponsel kamu, aku ingin menghubungi kakak ku" ujar Rara. lalu Fariz pun menyerahkan ponselnya ke Rara
Rara pun menghubungi kakaknya, memberitahu peristiwa yang menimpa dirinya, Rara mengaku bahwa menggunakan nomor temannya, dan menyuruh kakaknya datang ke cafe untuk menjemputnya. namun awalnya kakaknya tak percaya jika yang menghubungi adalah adiknya, mungkin saja ada orang iseng yang ingin mengerjainya, hingga kakaknya pun mengajukan beberapa pertanyaan dan di jawab benar oleh Rara membuat kakaknya yakin bahwa itu adiknya. dan berjanji akan menjemputnya segera.
...********...
Sudah satu jam setengah Syifa dan Bani menunggu antrian, namanya tak kunjung di panggil juga, hingga Syifa merasa bosan. bau menyengat rumah sakit membuat kepala Syifa kembali mengalami pusing, namun ia menahannya agar suaminya tidak tahu.
"Sabar yah" ucap Bani yang tahu kalau istrinya sudah bosan menunggu.
Dua jam menunggu akhirnya nama Syifa pun di panggil oleh perawat. dengan langkah yang gontai karena menahan pusing di kepala, Syifa pun memasuki ruangan tersebut dengan perasaan tak menentu, sekujur tubuhnya bergetar.
"Sore ibu Asyifa dan Bapak Rabbani" sapa dokter Della Ramah.
"Jadi gini dok, saya dan istri saya baru menikah dua bulan yang lalu, jadi kami datang ke sini untuk konsultasi dan juga program kehamilan" jelas Bani pada Dokter.
"Hmm, Silahkan Ibu Syifa berbaring di ranjang terlebih dahulu, kami akan periksa kondisi ibu" ucap Dokter Della.
"Saya mau di apain dok ?" tanya Syifa.
"Saya akan mengecek rahim ibu, apakah rahim ibu bagus atau ada masalah" sahut Dokter Della seraya tersenyum.
Syifa hanya menurut saja, ia belum paham apa yang akan di lakukan dokter tersebut, detak jantungnya sudah tak beraturan.
Syifa menapat layar monitor tapi ia tak mengerti apa yang ada di layar monitor tersebut, lalu padangan Syifa menuju ke arah dokter yang sedang serius menatap kelayar monitor.
"Kapan ibu terakhir mentruasi ? tanya dokter Della.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Kira - kira siapa ya kakaknya Rara ?
__ADS_1
Apakah Syifa Hamil ?
Semua jawaban ada di tangan Author ( kalau kata readers)