Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 95


__ADS_3

Sikap Fariz tentunya membuat Bani merasa curiga, tak seperti biasanya adiknya akan bersikap seperti itu.


"Kamu itu kenapa sih ? Tama hanya akan membicarakan masalah pekerjaan saja" jelas Bani tapi tetap Fariz tak bisa percaya begitu saja. namun jika ia terus merengek ikut pastinya akan membuat kakaknya akan semakin curiga.


"Aku berangkat dulu" ujar Bani dan berlalu meninggalkan Fariz.


Fariz berlari kekamarnya, memikirkan sesuatu apa yang harus ia lakukan, tapi jika dirinya mengikuti sang kakak maka pasti akan ketahuan oleh kakaknya yang akan menambah kecurigaan terhadapanya. ia mun mencoba menenagkan diri, untuk mencari cara agar mengetahui apa yang akan di bicarakan kakaknya dan Tama.


kecemasan Fariz membuat dirinya tak mampu berpikir banyak, hingga ia memutuskan untuk datang ke restonya lebih awal, ia menyakini jika di resto ada Zidan yang akan membantunya dalam berpikir.


...******...


Bani Tiba di kantornya, ia pun memasuki ruangan kerjanya, dan mengerjakan berkas - berkas yang harus segera ia selesaikan, tak lupa Bani juga menghubungi Tama bahwa Bani menunggunya di kantor. selesai memgerjakan berkasnya Bani mendatangi ruangan Tio yang berada di sebelahnya.


"Ada apa bro ?" tanya Tio.


"Aku dan Tama mau bertemu dengan anak buahnya Malik" jelas Bani. "Mau ikut gak ?" tanya Bani.


"Untuk apa kamu menemui mereka ?" tanya Tio Balik.


"Mereka yang meminta untuk bertemu" jelas Bani.


"Aku ikut, ingin melihat si kutu busuk itu memakai baju tahanan" ujar Tio. "Ayo berangkat" ajak Tio.


"Ya nanti dululah nunggu Tama" jawab Bani.


*****


Jam Sepuluh Bani, Tama dan Tio berangkat menuju tahanan tempat di mana anak buah Malik di penjara, Mereka bertiga berangkat menggunakan mobil Tama, dan ternyata Tama juga sudah janjian dengan pengacara anak buah Malik.

__ADS_1


Sampai di tahanan, Bani, Tama dan Tio menuju ke ruang kunjungan di sana pengacara dari ketiganya sudah menunggu, Bani dan Tio memperkenalkan dirinya terlebih dahulu ke pengacara yang di ketahui namanya bapak Raden.


Tak berapa lama ketiga anak buah Malik di bawa keruangan kunjungan mereka berjalan beriringan, dengan kepala menunduk, lalu duduk berhadap - hadapan dengan Bani, Tio dan juga Tama.


"Saya mewakili ketiga klien saya, mengucapkan mohon maaf atas semua tindakan yang di lakukan oleh ketiga klien saya, mungkin mereka melakukan semua ini dengan alasan tertentu dan juga keterpaksaan, Klien saya siap menerima semua hukumannya, namun sebelumnya izinkan kami untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan saja" jelas pak Raden.


Dari pertama melihat ketiga orang tersebut, Tio sudah kesal, rasa ingin menghajarnya pun muncul begitu saja, dan tiba - tiba mereka ingin menyelesaikannya secara kekeluargaan membuat Tio semakin gram, tak kala ia ingin mengeluarkan semua unek - uneknya terhadap ketiga pelaku tersebut namun Bani seolah - olah mengisyaratkan Tio untuk diam terlebih dahulu.


"Maka dari itu, klien kami bertiga siap mengganti rugi semua kerugian yang di tanggung oleh perusahaan pak Bani" jelas pak Raden tersebut.


"Saya sangat menghargai niat baik kalian semua, Namun mungkin sejak awal kejadian ini dan mengetahui siapa pelakunya, saya sudah mempunyai keputusan yang mana keputusan tersebut sudah saya pikirkan matang - matang mengenai baik dan buruknya, dan semoga dengan keputusan saya ini membuat para pelaku merasa jera, dan berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi" jelas Bani.


"Apa Bapak sudah yakin dengan keputusan bapak ?, Bapak bisa memikirkannya kembali keputusan bapak tersebut" ujar Pak Raden.


Bani tersenyum ke arah pengacara tersebut. "Keputusan saya sudah bulat pak" jelas Bani.


Ketiga anak buah berdiri dan berjalan ke arah Bani kemudian ketiganya bertekuk lutut memohon Bani agar tidak leporkan mereka dan mau berdamai dengannya.


"Makanya sebelum bertindak itu di pikirin dulu, ini mah udah ke tangkap aja baru mohon - mohon, kemaren - kemaren ke mana saja " ujar Tio yang memang sudah geram akan tindakan ke tiganya.


"Kalian berdiri dulu, saya belum selesai bicaranya" titah Bani pada ketiganya.


"Tapi bapak janji dulu tidak akan melaporkan kami" pinta ketiganya.


"Berdiri sekarang kalau gak berdiri juga maka saya akan laporkan kalian sekarang juga" bentak Bani tentunya dengan cepat ketiganya langsung berdiri di hadapan Bani. "Sekarang kalian duduk di tempat kalian" titah Bani.


"Saya memang sudah mempunyai keputusan, namun saya belum menjelaskan apa keputusan saya, maka dari itu saya akan menjelaskannya, dan dengarkan baik - baik" ujar Bani.


"Jadi gini, Saya tau dalang dari semua ini Malik yang merupakan teman saya sendiri, dan alasannya dia melakukan itu, mungkin kalian sudah mengetahuinya. dan kalian juga tahu ini bukan kelakuan Malik yang pertama untuk menghancurkan usaha kami, Namun apapun yang Malik dan kalian lakukan sudah saya maaafkan, saya menganggap semua ini sebagai musibah, karena itu saya memutuskan untuk tidak melaporkan kalian, tapi saya harapa dengan semua kejadian yang menimpa kalian di jadian sebuah pelajaran untuk kalian dan tidak di lakukan di masa yang akam datang" jelas Bano tentunya membuat ketiganya bisa bernafas lega,karena hukuman mereka tidak akan ti tambah.

__ADS_1


"Tuh denger betapa baiknya Bani, tapi kalian tega menyakitinya" ujar Tio.


"Pak Tio, maaafkan kami juga ya" ujar ketiganya kompak.


"Kalau aku jadi Bani sudah ku biarkan kalian membusuk di penjara" geram Tio. "Karena Bani sudah memaafkan kalian, maka dengan terpaksa saya juga akan memaafkan kalian" ujar Tio.


"Terima kasih atas kebaikan kalian semua, saya akan pastikan jika klien kami bener - bener menyesali perbuatannya dan mau berubah menjadi lebih baik lagi" ujar pak Raden. "Dan untuk ganti rugi, saya serahkan ke pak Bani, berapa total yang harus kami bayar, insya allah kami akan melunasinya walaupun dengan cara mencicil" sambung pak Raden.


"Untuk masalah itu, jika kalian memang mempunyai uang, lebih baik berikan pada keluarga kalian seperti anak dan istri kalian, karena pastinya mereka akan membutuhkan semua itu" ujar Bani yang menolak ganti rugi dari ketiga pelaku.


"Tapi pak, itu sebagai bentuk tanggung jawab Kami, jika bapak tidak menerimanya kami akan merasa sangat bersalah banget" ujar salah satu dari ketiga pelaku.


"Saya sudah menerimanya, namun saya berikan untuk keluarga kalian, pasti mereka membutuhkannya apa lagi setelah kepala keluarga mereka tak bisa memberi nafkah lagi" jelas Bani.


"Kami sangat malu dengan pak Bani, betapa baiknya bapak terhadap kami yang jelas - jelas telah melakukan kejahatan terhadap bapak" ujar salah satu dari ketiganya.


"Semuanya sudah selesai, kami izin pamit, karena masih banyak kerjaan yang harus kami kerjakan" ujar Tama kemudian pamit dan di ikuti oleh Bani dan Tio.


Tama kembali mengantar kembali Tio dan Bani ke kantornya. namun di perjalanan Tio mendapat telepon dari satpam kantor.


"Ban sebaiknya kamu pulang saja" ujar Tio setelah selesai telepon dengan satpam kantor.


"Menangnya kenapa ?" tanya Bani penasaran.


"Dari tadi kita pergi ternyata ada seorang cewek yang maksa ingin bertemu kamu, sekarang dia masih menunggu kamu di luar karena satpam tak membiarakan dia masuk, sepertinya wanita itu Asiha"Jelas Tio, tentunya membuat Tama kaget, karena selama ini Tama belum mengetahui tentang kabar Aisha yang terbaru.


...🍃🍃🍃🍃🍃...


Hhuhuhu pelakor lagi pelakor lagi,

__ADS_1


Banyak yang bilang pelakor gak tau diri, pelakor tak tau malu dan sebagainya.


Kalau pelakornya tau malu mungkin mereka gak akan menjadi pelakor namun mencari calon yang lebih baik, bener gak sii ??


__ADS_2