Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 142


__ADS_3

Acara akad pun di tutup dengan doa, ke dua pengantin di arahkan menuju kamar hotel yang telah di sediakan, begitupun dengan keluarga inti mereka juga di persilahkan istirahat di kamar yang sudah di sediakan. sedangkan para tamu undangan sudah pulang.


Fariz dan Rara merasa canggung harus berada berduaan dalam satu kamar, Fariz terlebih dahulu membersihkan badannya, sedangakan Rara sedang membersihkan sisa make upnya.


tak ada yang berani membuka pembicaraan, Fariz memilih duduk diam di pinggir ranjang, sedangkan Rara memilih duduk di depan cermin.


Sifat Rara yang cerewet dan juga bawel mendadak hilang seketika. "Aku istirahat dulu" ujar Fariz seraya merebahkan dirinya di atas ranjang. Rara pun tak mengeluarkan sepatah kata pun, ia hanya menganggukan kepalanya.


Acara resepsi pun di mulai, dengan senyum sumringah Fariz dan Rara saling bergandengan berjalan menuju tempat pelaminan, di belakangnya di ikuti oleh keluarga dari kedua pihak, namun ada pemandangan yang tak biasa dalam iring - iringan pengantin tersebut.


Semua tamu undangan pun bertanya - tanya siapa wanita yang berdampingan dengan Tama, sosok wanita tersebut baru terlihat, karena selama acara akad wanita itu tak menampakan batang hidungnya.


Serangkaian acara resepsi pun di mulai, Para tamu undangan silih berganti memberikan selamat pada ke dua mempelai.acara resepsi pun di gelar dengan konsep pesta moderen. suara nyanyian dari pengisi acara pun menggema menemani sepanjang jalannya acara.


Tama pun memperkenalkan wanita yang ada di sampingnya pada setiap anggota keluarganya, kecuali mama dan adiknya yang sudah mengenal wanita tersebut, setelah pada keluarga Tama pun memperkenalkan wanita tersebut pada kedua sahabatnya Tio dan juga Bani.


"Chieee bawa gandengan" goda Tio.


"Apaan sih kalian" sahut Tama. "Kenalin ini Tio dan Bani, mereka sahabat ku, dan dua wanita itu adalah istrinya Tio dan juga Bani" Tama memperkenalkan sahabatnya pada wanita tersebut.


Akhirnya mereka pun berkenalan, wanita itu memperkenalkan dirinya "Nama saya Amelia, panggil saja Amel, aku temen deketnya Tama" wanita itu memperkenalkan dirinya.


"Sudah lama kenal Tama ?" tanya Tio.


"Sudah, kami kenalan ketika Tama mengantarkan adiknya kuliah di singapura" jawab Amel dengan jujur.


"Kerja di mana ?" tanya Bani.


"Aku merupakan dosen di tempat Rara kuliah" jawab Amel.


"Jadi kapan kalian mau di resmiin biar kaya kita - kita ?" tanya Tio.


"Insya allah secepatnya". sahut Amel dengan malu - malu.


Acara resepsi pun berakhir di jam dua belas malam, kecanggungan pun kembali terjadi, dimana Fariz dan Rara harus berada dalam satu ruangan yang sama tapi harus berdua.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam terus kalau kita berada di kamar ?" tanya Fariz.


"Nggak tahu" sahut Rara singkat.


Rara terlebih dahulu membaringkan tubuhnya di ranjang, seluruh badan terutama kakinya terasa sangat pegal karena ia harus berdiri terus untuk menerima selamat dari tamu yang datang. kemudian di susul Fariz.


"Apa kamu akan melakukannya malam ini juga ?" tanya Rara ragu dan tentunya menahan malunya.


"Jika kamu belum siap, aku gak akan maksa" sahut Fariz. sejujurnya ia juga ingin melakukan yang seperti pasangan pengantin lainnya lakukan, namun ia bingung harus di mulai dari mana.


"Jika kamu mau sekarang silahkan saja" sahut Rara pelan.


"Hmm apa kamu yakin ?" tanya Fariz. Rara pun menganggukan kepalanya, seraya tertunduk, Rara tak sanggup jika harus memandang wajah sang suami.


Malam membungkus langit dengan selimut gelap. semilir angin menerpa dan bintang pun ikuti bersinar menemani sepasang pengantin yang sedang menikmati malam pertamanya. tubuh dua insan yang sedang di mabuk cinta bersatu dalam gelora cinta yang halal, hingga mereka mencapai titik kenikmatan yang hanya mereka rasakan. hal itu meraka lakukan berkali - kali hingga tubuh mereka sama - sama merasa lelah dan terkulai lemas di atas tempat tidur.


Pagi hari Fariz bangun terlebih dahulu untuk membersihkan tubuhnya sebelum menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim, saat melihat tubuh sang istri yang polos tanpa sehelai benang, Fariz pun hanya tersenyum senang, apalagi mengingat kejadian semalam yang mereka lakukan. sebelum ke kamar mandi Fariz pun menyelimuti tubuh Rara.


"Aaahhhhhhhh" teriak Rara yang terkejut saat terbangun dengan keadaan tanpa busana, ia pun merasakan sakit di bagian daerah sensitifnya dan di gunung kembarnya banyak terdapat tato merah.


"Kamu kenapa ?" tanya Fariz panik.


"Ahhhhhh, ngapain kamu di kamar saya ?" Rara kembali teriak saat melihat Fariz hanya menggunakan handuk, dan terlihat jelas dada bidang yang seksi.


"Ini kamar kita bukan kamu" sahut Fariz.


"Kita ?".


"Ya kita, karena kamu dan aku sudah menikah" jelas Fariz.


Konyol sekali kamu Rara, pernikahan yang baru terjadi kemaren saja kamu lupa. Rara merutuki dirinya sendiri.


"Cepetan bersih - bersih, kita shalat subuh berjamaah" titah Fariz.


"Tutup mata kamu, aku ingin ke kamar mandi" ujar Rara.

__ADS_1


"Aku sudah melihat seluruh badan kamu, untuk apa aku menutup mata ku, bahkan aku sudah menikmati setiap inci tubuh kamu".


"Fariz aku mohon".


"Iya deh iya".


Saat Fariz menutup matanya dengan secepat kilat Rara berlari ke kamar mandi dengan keadaan tanpa busana, melihat tingkah sang istri Fariz pun hanya tertawa.


Semua keluarga yang ikut menginap di hotel pun melakukan sarapan pagi bersama - sama sebelum mereka melakukan cek out. pengantin baru juga ikut bergabung sarapan bersama, dan mereka menjadi pusat keisengan para anggota yang lainnya.


"Fariz apa kamu sudah mencetak gol ?" tanya Tama. yang di tanya pun menjadi salah tingkah, begitu pun dengan Rara wajahnya langsung merah merona.


"Ceritakan saja apa yang sudah kalian kalukan dari semalam hingga tadi pagi, biar si Tama juga jadi mengebet pengen nikah" ujar Bani.


"Lah kenapa jadi aku ?".


Semua pun tertawa, Amel yang memang ikut bergabung pun hanya tertunduk dan malu - malu. kehangatan keluarga pun tercipta dari canda dan tawa mereka.


"Abah, Umi, mungkin untuk hari ini Fariz akan pulang kerumah Rara" ujar Fariz saat mereka melakukan cek out hotel.


"Terserah kamu mau pulang ke mana saja, Abah tidak akan memaksa, sekarang kamu sudah berkeluarga, kamu berhak menentukan semuanya, apalagi sekarang kamu sudah menjadi Imam dan juga kepala keluarga" sahut Abah Hasan.


Keluarga Kyai Hasan pulang duluan, sedangkan keluarga Tama masih beres - beres barang bawaan mereka.


"Mama pulang bareng Rara dan Fariz saja, aku mau langsung antar Amel ke bandara" ujar Fariz.


"Kak Amel mau balik lagi ke singapura ?" tanya Rara.


"Iya, saya harus kembali ke sana, karena ada kerjaan yang tak bisa di tunda" sahut Amel.


"Hmm, aku kira akan lama di sini".


"Mungkin lain kali".


"Terimakasih sudah mau datang ke sini" sahut mamanya Rara.

__ADS_1


"Sama - sama, Sekali lagi selamat ya buat kalian berdua" sahut Amel. "Kalau gitu saya pamit ya, tante, Rara dan Fariz".


__ADS_2