Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 118


__ADS_3

Pagi menjelang Bani sudah bangun sejak jam tiga pagi, seperti biasa ia akan selalu melakukan shalat malam. bahkan sepanjang malam Bani tak dapat tidur nyenyak karena ia masih dalam suasana emosi, kekesalannya terhadap Aisha yang sudah melewati batas kesabarannya.


Syifa mengerjapkan matanya tatkala dirinya merasa ada dalam pelukan seseorang.


"Abang ngapain di sini" Syifa kaget jika suaminya berada di sampingnya, Syifa bangin dan menjauhkan dirinya dari suaminya.


"Ini kan kamar istri abang" seru Bani dengan santainya. "kalau lagi cemburu kecantikannya makin nambah deh" goda Bani.


Syifa hanya terdiam, di dalam kepalanya kembali terlintas perkataan - perkataan Aisha yang sangat menyayat hatinya.


"Dengerin Abang" Bani mendekat kearah Syifa memegang kedua pipinya dan pandangannya di arahkan pada dirinya. "Jangan pernah perpikir buruk tentang Abang, cinta abang hanya untuk Syifa, apapun yang terjadi kita akan melewatinya berdua. Syifa adalah satu - satunya wanita yang akan selalu ada di hati abang, banyak di luar sana yang mencoba menggoda abang tapi percayalah abang tak akan pernah tergoda karena hanya Syifa ratu di hati Abang" ujar Bani yang tulus dari hatinya.


"Jangan pergi tinggalin Abang lagi, abang panik ketika kamu tak ada di rumah sakit, abang cari kerumah tapi gak ada kerumah Umi juga gak ada, Abang akan rapuh tanpa Syifa" Bani mengungkapan isi hatinya dengan mata yang berkaca - kaca. Syifa hanya terdiam, mulutnya terasa di kunci, ia bingung harus bicara apa pada suaminya.


"Abang cuma ingin dengar, apa Syifa masih mencintai abang ?" tanya Bani. namun Syifa masih terdiam. "Jawab sayang" pinta Bani memohon.


Syifa diam, kemudian dengan pelan Syifa menggelengkan kepalanya, membuat Bani tersenyum. "Sayang jika kamu sudah tak mencintai abang lagi, mana mungkin kamu akan pergi begitu saja, bahkan dengan sengaja kamu melarang Abi agar tidak memberitahu tentang keberadaan Kamu" ujar Bani lembut.


Yang di katakan Bani memanglah benar, cinta Syifa untuk Suaminya begitu besar. ia hanya sedang berusaha menghilangkan semua rasa itu agar saat Bani akan menikah lagi maka hatinya telah siap untuk di madu atau pun di tinggalkan.


Bani memeluk istrinya namun Syifa tak menanggapi semua pelukan suaminya ia masih diam mematung, hingga Bani pun kemudian melepaskan pelukan itu. "Sayang abang minta kamu ceritakan bagaimana Aisha bisa menemui dan apa saja yang telah di katakannya" pinta Bani namun tak ada respon dari Syifa.


"Ayo sayang cerita, atau memang kamu ini bener - bener ingin kehilangan Abang".


Seketika Air mata Syifa berjatuhan dari kelopak matanya, perasaannya campur aduk. "Jangan pernah kamu keluarkan air mata yang indah ini" Bani menyeka air mata di pipi Syifa. "Ayo cerita sayang" pinta Bani.

__ADS_1


Dengan air mata yang bercucuran Syifa menceritakan dimana Aisha mendatangi dirinya di ruang perawatan, dan Syifa juga memceritakan semua yang Aisha katakan padanya.


"Sayang dia hanya sedang berusaha mengancurkan rumah tangga kita, jika kamu lemah seperti ini itu dia akan kegirangan karena merasa menang, Kalau abang masih mencintainya maka dari dulu juga abang akan menerimanya" Bani mencoba memberi pengertian dengan hati - hati dan juga lemah lembut, Namun nyatanya dalam hati dia sedang di landa emosi akibat ulah Aisha.


Bani menyenderkan kepala Syifa pada bahunya, ia tahu wanitanya sedang rapuh dan juga lemah. "Jangan lakukan hal bodoh seperti ini lagi ya" ujar Bani.


"Tapi pasti abang kecewa karena Syifa gagal menjaga calon anak kita" seru Syifa yang masig berlinang air mata.


"Kecewa sudah pasti, namun semua itu sudah menjadi takdir yang tak akan pernah bisa hindari, kita bisa ambil hikmah dari setiap kejadian yang kita alami, mungkin dengan kejadian ini tuhan memberikan waktu untuk kita menghabiskan waktu hanya berdua" Ujar Bani lembut seraya mengelus - mengelus kepala dan juga pipi sang istri.


Kemesran itu berakhir ketika terdengar suara ketukan dari luar, Ummah datang untuk melihat keadaan Syifa dan juga mengajaknya sarapan.


"Kita sarapan di bawah, dan sekalian ada sesuatu yang akan kami omongin" ujar Ummah.


Usai sarapan Abi Umar mulai berbicara.


"Iya Abi, hari ini juga Bani akan memberi efej jera pada Aisha agar tidak menganggu rumah tangga ku, karena ini bukan yang pertama ia datang mengganggu, ia bahkan sering datang ke kantor, namun tak pernah Bani temui" jelas Bani.


"Kalau itu Abi serahkan padamu, intinya kasih pengertian dan juga penjelasan agar ia bisa menerima kenyataan ini" ujar Abi umar. "Selesai sarapan Abi dan Ummah mau langsung kerumah sakit untuk menengok Shela" sambung Abi Umar.


Mendengar akan ke rumah sakit membuat Syifa senang, ia pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan berlari menuju arah tangga.


"Kamu mau kemana ?" tanya Bani.


"Aku mau siap - siap, Syifa mau ikut ke rumah sakit" teriak Syifa seraya berlari kecil ke arah kamarnya, kemudian Bani menyusul istrinya kekamar.

__ADS_1


Setelah semua siap, mereka pun berangkat kerumah sakit dengan menggunakan mobil Abi Umar karena Bani tak membawa kendaraannya, Bani kini duduk di balik kemudi, menjalankan mobil dengan kecepatan rata - rata rumah sakit bersalin tempat Shela melahirkan.


Syifa langsung memberikan ucapan selamat pada kakaknya, Syifa pun mengendong keponakannya yang berjenis kelamin laki - laki. tak ada yang berani bertanya kondisi Syifa, semua itu demi menjaga perasaannya. melihat Syifa tersenyum bahagia membuat Abi dan Ummah merasa senang.


"Abi, Ummah dan semuanya, Bani izin mau pulang dulu, ada sesuatu yang harus di selesaikan" ucap Bani.


"Kalau mau pergi pakai mobil Abi saja" titah Abi Umar.


"Tidak usah Abi, Bani akan di jemput Tama, dan nanti sekalian mau ambil mobil di pesantren" jelas Bani.


Mendengar nama Tama membuat Syifa yakin jika suaminya akan menyelesaikan sebuah masalah,Syifa pun menaruh kembali keponakannya ke tempat tidur, lalu menarik tangan Suami agar ikut keluar dengannya.


"Kenapa abang di jemput Tama, kenapa gak di jemput Fariz ?" tanya Syifa.


"Abang dan Tama akan menyelesaikan masalah yang mengganggu rumah tangga kita" jawab Bani jujur.


"Abang mau nemuin Aisha ?"tanya Syifa dengan tatapan tajam.


"Nggak sayang, Abang mau bertanya pada Tama bahwa hal seperti ini bisa di laporkan ke pihak yang berwajib apa tidak" jelas Bani.


"Abang mau jeblosin Aisha kepenjara, emang abang gak kasian, dulu waktu Malik ko abang gak melaporkannya juga ?".


"Abang hanya ingin memberi efek jera, kalau dia mau berjanji tidak akan mengganggu kita lagi maka Abang akan membebaskanya dengan surat perjanjian" jelas Bani. "Ini beda kasusunya dengan Malik, memang Malik telah membuat kita rugi dan juga kehilangan materi, namun semua itu masih bisa abang cari lagi, tapi Aisha dia akan menghancurkan rumah tangga kita, harta mudah di cari tapi mencari wanita yang seperti kamu itu tidaklah mudah, bahkan tidak ada di dunia ini manusia yang bener - bener sama, yang kembar saja ada bedanya". penjelasan Bani sungguh membuat hati Syifa melayang - layang, Syifa merasa menjadi wanita yang beruntung karena memiliki suami seperti Bani.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃...

__ADS_1


Andai di dunia ini ada suami seperti Bani, akhhh author mau satu. .


__ADS_2