Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 189


__ADS_3

Hari yang cerah, Syifa menyambut pagi dengan seuntai senyuman yang merekah, perutnya semakin membuncit, pipinya semakin membulat serta kaki yang mulai membengkak.


Syifa sudah tak bisa berkativitas banyak, untuk menaiki tangga saja ia sangat butuh perjuangan.


Hari ini Syifa kedatangan Rara dan juga Umi, mereka sengaja berkunjung kerumah Syifa karena sudah lama tak berkunjung, bahkan sejak Rara hamil perhatian Umi padanya sedikit berkurang, namun hal itu tak membuat Syifa kecewa karena bagaimana pun Rara menantunya umi juga.


"Asalamulaikum". ucap Umi dan Rara saat memasuki rumah Syifa.


"Waalaikumsalam" sahut pemilik rumah. Syifa bergegas menyambut mertua dan adik iparnya. walaupun Rara usianya lebih tua dari Syifa, namun di di hadapan keluarga besar, Rara selalu memanggil Syifa dengan sebutan kakak.


Kehamilan Rara juga sudah menginjak usia tiga bulan jalan, mungkin karena hamil tunggal jadi perut Rara belum terlihat begitu menonjol berbeda dengan Syifa yang di usia kehamilan tiga bulan sudah terlihat perut buncitnya.


"Kak temenin aku makan rujak yah, aku bawa mangganya, sambalnya aku ingin seperti yang dulu waktu aku pernah bawain kak Syifa mangga muda" ujar Rara seraya menunjukan sekantong mangga yang masih muda.


"Hmm itu dulu bi Tuti yang bikinin" sahut Syifa.


"Ya sudah sini mangganya biar Umi kupasin sekalian ke dapur nyuruh bi Tuti bikin sambalnya" ujar Umi.


Rara mengambil satu buah mangga muda dengan ukuran yang agak kecil. lalu di bawanya ke dapur untuk di cuci. Rara memakan buah mangga muda itu seperti sedang menikmati coklat. Syifa yang menyaksikan hal tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Emang itu tidak asam ?" tanya Syifa penasaran.


"Dikit tapi lebih ke seger aja gitu" sahur Rara yang masih menikmati mangga muda tersebut.


Umi datang dengan membawa sepiring potongan mangga muda dan juga semangkuk sambal rujak yang di buat bi Tuti.


"Syifa jangan makan banyak - banyak sambalnya nanti anak kamu bisa kepanasan di dalam" ujar Umi mengingatkan Syifa.


"Iya Umi" sahut Syifa.


Melihat cara makan Rara yang begitu menikmati rujak mangga muda membuat Syifa bergidik ngeri, pasalnya mangga itu baginya terasa sangat masam, namu menurut Rara itu bukan asem tapi segar.


Selsai makan rujak, kini Syifa mengajak Umi dan juga Rara untuk melihat - lihat kamar calon buah hatinya.


"Kak Syifa ko kamarnya warna pink dan biru, emang jenis kelaminnya sudah di ketahui ?" tanya Rara saat memasuki kamar bayi tersebut

__ADS_1


"Insya allah sepasang" sahut Syifa seraya tersenyum senang.


"Wah bagus deh, biar nanti gampang bedainya" ujar Rara.


Duaaaarrrrrr


Suara ledakan mengagetkan Umi, Syifa dan Rara yang tengah asik mendengarkan cerita pengalaman saat Umi mengurusi ketiga anaknya yang masih kecil - kecil.


"apa itu ?" tanya Umi dan kedua menantunya itu kompak mengangkat bahunya tanda mereka juga tidak tahu.


Mereka bertiga pun turun ke lantai bawah, dan segera keluar mencari asal muasal ledakan tersebut.


"Ada apa ini pak Yanto ?" tanya Syifa.


Pak Yanto berlari mendekat ke arah majikannya. "maaf neng tadi ada orang lewat dengan sengaja melempar petasan ke dalam pekarangan rumah" jelas pak Yanto yang merupakan security di rumah Syifa.


"Astagfirullah, tapi pak Yanto tidak kenapa.- kenapa kan ?".


"Saya baik - baik saja neng, maaf tadi saya sedang kebelakang untuk buang air kecil, ketika saya kembali ada dua orang dengan menggunakan sepeda motor berhenti di depan gerbang, lalu salah satu dari mereka ada yang melemparkan petasan ke dalam sini setelah itu mereka langsung pergi" jelas pak Yanto.


"Pak, bekas petasan jangan di apa - apain dulu, soalnya suami saya mau pulang sekarang" ujar Syifa pada mang Yanto.


"Baik neng" ujar pak Yanto.


para tetangga yang mendengar suara ledakan tersebut berbondong - bondong mendatangi rumah Syifa karena mereka yakin ledakan itu berasal dari rumah milik Syifa dan Bani.


"Apa yang meledak neng Syifa ?" tanya salag satu tetangga.


"Itu katanya ada orang iseng melempar petasan ke pekarangan rumah" jelas Syifa.


"Astaghfirullah, tapi tidak ada yang terluka kan ?".


"Alhamdulilah tidak ada bu" sahut Syifa.


satu persatu tetangga pun meninggalkan rumah Syifa dan tak lama kemudian Bani datang bersama Tio.

__ADS_1


"Sayang kamu baik - baik saja kan, anak kita bagaimana ?" Bani menodongkan pertanyaan kepada istrinya.


"Aku baik - baik saja, anak kuta juga baik - baik saja dan semua juga baik - baik saja, kita semua hanya kaget mendengar ledakan tersebut" jelas Syifa mencoba menenangkan suaminya.


Tio di temani pak Yanto memeriksa sisa sepihan petasan yang meledak.


"Sepertinya ini sebuah petasan rakitan" gumam Tio.


"Apa bapak yakin ?" tanya pak Yanto.


"Coba saja lihat serpihanya keras polos semua, kalau di jual bebas walaupun tak ada merek tapi biasanya bakal ada gambarnya" jelas Tio.


"Iya bapak bener !" seru pak Yanto.


"Kamu inget gak ciri - ciri orang yang melempar ini ?" tanya Tio.


"Saya tidak mengenalinya, mereka memakai pakaian serba hitam serta menggunakan helm dan motor matic hitam. kalau lebih jelasnya kita lihat di cctv saja" ujar pak Yanto.


"Pak serpihan ini di bersihin saja taruh di sebuah plastik tapi jangan dulu di buang" ujar Tio dan berlalu mendekati Bani dan keluarganya.


"Kita lihat rekaman cctv" ujar Tio dan di setujui oleh Bani.


Semuanya ikut keruang kerja milik Bani kecuali bi Tuti yang kembali ke dapur dan juga pak Yanto yang sedang merapihkan serpihan kembang Api.


Bani memutar rekaman cctv waktu kejadian, dari rekaman tersebut memang ada yang sengaja melempar petasan tersebut namun sangat di sayangkan sekali Flat motor yang di gunakan tidak jelas, membuat mereka kesulitan untuk melacak pelakunya.


"Apa kalian sering mendapat teror seperti ini ?" tanya Umi yang mulai mengkhawatirkan kondisi Syifa yang jelang melahirkan.


"Baru kali ini saja Umi, dulu pernah ada yang selalu memperhatikan rumah tapi sudah di tangkap karena mereka komplotan pencuri" jelas Bani yang mengerti tentang ke khawatiran Uminya.


"Nak lebih baik Syifa tinggal di rumah Umi lagi saja, Umi takut terjadi apa - apa dengan kalian" ujar Umi.


"Kami akan baik - baik saja Umi, mungkin orang iseng saja" sahut Bani. Syifa pun menenangkan Umi sedangkan Rara menghubungi suaminya agar segera datang ke tempat kakaknya.


Syifa membawa Umi keluar dari ruangan tempat Bani kerja di ikuti oleh Rara, Sedangkan Tio dan Bani masih di dalam, ia sedang membicarakan tentang bagaimana mengetahui pelaku dan juga motif dari pelemparan kembang api.

__ADS_1


__ADS_2