
Asyifa mengotong karung yang isi kacang tanah hasil petikan dirinya dan kedua temenya. namun saat menggotong karung tersebut tanpa sengaja kaki Asyifa terserosok pada lubang yang kedalamannya hanya 20cm. tak begitu dalam namun membuat kaki Asyifa menjadi terkilir dan tertimpa karung, karena Nayla dan Mila tidak tahan menopang beban karung tersebut.
"Aw sakit" rintih Asyifa.
Dengan sisa tenaga yang ada, Nayla dan Mila mencoba mengangkat karung yang ada di atas kaki Asyifa.
Fariz yang melihat kejadian tersebut langsung berlari ke arah tersebut di ikuti oleh beberapa ustaz yang ikut panen.
Ustaz Zaki dan ustaz Yusuf mengangkat karung sedangkan Fariz langsung menggendong Asyifa ke klinik.
Lebay banget, begitu doang harus di gendong, tapi untung tidak ada Bani di sini. gumam seseorang.
penjaga klinik langsung memeriksa kaki Asyifa. dan Fariz bertanya tentang kejadian tersebut.
"Kenapa bisa terjadi seperti tadi ?" tanya Fariz sedikit emosi.
"Tadi kita sedang menggotong hasil petikan kita untuk di kumpulkan. namun di tengah perjalanan tanpa sengaja kaki Asyifa menginjak lubang dan terpeleset, karena kami gak sanggup menahan beratnya karung tersebut jatuh menimpa kaki Asyifa"Jelas Nayla yang merasa takut karena tatapan Fariz begitu tajam.
"Dasar Ceroboh, Harusnya kalian tadi minta tolong untuk di bawakan bukan membawanya sendiri, lihat akibatnya, teman kalian yang menjadi korban". ujar Fariz yang sudah emosi.
Fariz bener - bener mengkhawatirkan ke adaan Asyifa, bukan takut karena nanti akan di introgasi oleh orang tuanya atau pun orang tua Asyifa, tapi ke khawatiran itu timbul dari lubuk hati dia yang sangat dalam.
"Asyifa yang meminta kita untuk menggotongnya padahal kami sudah menyarankan untuk meminta bantuan" jelas Mila.
"Sudahlah, lebih baik kalian membersihkan badan kalian masing - masing karena sebentar lagi adzan dzuhur, Asyifa biar perawat yang mengurus" titah Fariz.
Karena sudah ketakutan setengah mati Nayla dan Mila tanpa banyak basa - basi langsung menuju Asrama mereka.
"Kenpa kak Fariz bisa semarah itu sama kita ?" tanya Mila penasaran.
"Entah aku juga tidak tau, mungkin takut pak Kyai dan Umi marah" jawab Nayla.
Sementara Bani sedang ke bingungan apa yang harus di katakan pada Abah dan Uminya.
"Abah, Umi apa Bani boleh mengatakan sesuatu ?" tanya Bani pelam takut Abah dan Uminya marah.
"Jangan bilang kamu mau menolaknya" tebak Umi.
"Bukan itu, ada sesuatu yang harus Abah dan Umi ketahui" jawan Bani.
__ADS_1
"Apa kamu sudah mempunyai calon ?" tanya Umi lagi.
"Bicaralah Bani" titah Abah penuh kelembutan.
Bani menceritakan tentang Salwa yang selalu mengirim surat untuknya, membuat Umi tersenyum, karena ia merasa Bani tidak akan menolak lagi untuk segera menikah.
"Bani sudah shalat isthikaharah, tapi Bani tidak mendapatkan jawaban apa - apa, Bani bingung harus bagaimana untuk menjawab semua itu" jelas Bani.
"Berarti kamu menolak Salwa" tebak Umi yang merasa kecewa.
"Bani gak menolak Umi, Bani bingung di setiap doa Bani selalu menyebut nama Salwa untuk menjadi jodoh Bani. tapi bukan Salwa yang membayangi pikiran Bani, tapi seseorang yang tak pernah menampakan wajahnya, tapi Bani meras itu bukan Salwa" jelas Bani lagi.
Abah dan Umi terdiam sesat, ia bingung harus berbicara apa.
"Tapi Jika Abah dan Umi memaksa Bani untuk nikah dengan Salwa, Bani siap, Bani akan belajar mencintainya setelah nanti menikah" jelas Bani yang sudah pasrah dan tak ingin membuat Abah dan Uminya kembali kecewa.
"Lebih baik kamu pikirkan lagi, masih ada waktu dua hari lagi" titah Abah.
"Baik Abah, Bani permisi ke kamar terlebih dahulu" ujar Bani pamit.
Bani pergi ke kamarnya sedangkan Abah dan Umi pergi ke ladang untuk mengecek hasil panen.
"Fariz tadi ke klinik membawa Syifa karena kakinya terkilir" jawab ustaz Zaki.
"Apa Syifa terkilir ?" Umi terjekut.
"Iya Umi" Jawab ustaz Yusuf.
Umi langsung berlari menuju klinik dan di ikuti oleh suaminya yaitu Kyai Hasan. Sampai depan klinik Umi melihat anaknya sedang duduk depan klinik. melihat kedatangan orang tuanya Fariz langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Mana Syifa ?" tanya Umi ketika menghampiri Fariz.
"Di dalam Umi" jawab Fariz.
petugas klinik bernama Bella mendengar suara Umi langsung membuka pintu ruangan klinik.
"Pak Kyai, Umi " sapa Bella sambil menundukan kepala memberi hormat pada pemilik pesantren.
"Bagaimana kondisi Syifa ?" tanya Umi panik.
__ADS_1
"Syifa baik - baik saja, kakinya hanya terkilir dan sudah saya berikan krim pereda nyeri dan bengkak, satu dua hari kakinya akan kembali normal" Bela menjelaskan kondisi Asyifa.
Umi dan Abah bernafas lega karena kondisi Asyifa tidak terlalu parah, Umi, Abah dan juga Fariz kini masuk ke dalam klinik dimana Asyifa sedang berbaring.
"Nak mana yang sakit ?" tanya Umi saat menghampiri Asyifa.
"Di bagian kaki, tapi tadi perawat sudah memberikannya obat, jadi Syifa akan baik - baik saja" ujar Asyifa yang melihat raut wajah Umi yang cemas.
"Lain kali hati - hati ya" Sahut Abah.
"Pak Kyai, Umi, Syifa boleh minta tolong jangan memberitahu tentang kejadian ini sama Abi dan Ummah, pasti mereka akan cemas" pinta Asyifa dengan wajah yang memelas.
"Baiklah" jawan Kyai Hasan singkat.
Bani sedang merenung di balkon kamarnya, keputusan apa yang harus dia ambil, mengikuti ke inginan orang tua atau keinginan sendiri. dalam lamunanya bayang wajah Asyifa menari dalam pikirannya, membuat dirinya semakin membenci Asyifa.
Ya Allah kenapa wajah perempuan itu selalu saja ada di pikiran ku, atau dai jodohku, tapi gak mungkin, apa kata orang kalau aku menikah dengan gadis yang masih belia. Gerutu batin Bani.
Bani kini asik dalam lamunannya, entah kenapa dia jadi memikirkan dimana dia bertemu dengan Asyifa memarahinya dan menyenggolnya dengan sengaja, apalagi ketika ia teringat saat Asyifa tersungkur ke dalam gundukan sampah, membuat Bani tersenyum. Astagfirullah, Bani kenapa kamu melapunkan perempuan itu, inget kamu akan di jodohkan dengan Salwa. Gerutu batin Bani.
Bani kini tersadar saat pintu kamarnya di gedor oleh adiknya.
"Kakak buka pintu !" teriak Fariz.
Bani berlari ke arah pintu kamar dan membuka pintu tersebut.
"Kamu itu selalu saja mengganggu orang, menggedor pintu kamar orang sudah bagaikan rentenir sedang menagih hutang" Sindir Bani pada Adiknya.
"Terserah kakak saja, Aku kesini hanya ingin memberi tahu kalau panen sudah selesai, dan juga ada insiden yang tidak dinginankan" ujar Fariz dengan wajah yang sedih.
"Insiden apa ?".
"Asyifa jatuh kakinya terkilir dan kakinya juga tertimpa karung berisi kacang tanah" jelas Fariz dengan wajah yang sedih.
"Lalu bagaimana kondisi Syifa ?".
Entah kenapa Bani terlihat panik saat mengetahui bahwa Asyifa mengalami insiden.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1