
Terlintas dalam pikiranya sebuah pertengkaran antara dirinya adiknya."Sudah kakak bilang jangan ikut campur urusan kakak, kenapa kamu itu keras kepala banget sih, andai kamu biasa diam mungkin ini semua tak akan terjadi, apa kamu memang sengaja ingin membuat nama baik kakak itu jelek, lihat apa yang barusan terjadi kita di usir warga hanya karena statusku yang seorang janda". gumam Aisha dalam hatinya.
Saat seperti ini Aisha merindukan sosok seorang pendamping bisa merangkulnya saat terpuruk, namun angan hanyalah angan karena nyatanya Aisha harus bisa bangkit sendiri dari setiap permasalahannya, berjuang demi kebahagiaannya.
Lampu ruang operasi telah di padamkan.itu nyatanya operasi sudah selesai, Aisha dan Bayu segera mendekat ke arah pintu ruangan. dan dokter pun keluar dengan ekspresi yang datar.
"Dok bagaimana adik saya ?" tanya Aisha.
"Untuk operasinya sudah selesai dan berjalan lancar, namun saat ini adik anda dalam keadaan koma, dan untuk sementara waktu tidak bisa di temui hingga masa observasinya selesai" jelas dokter.
"Koma ?, kapan adik saya akan sadar dari komanya ?" tanya Aisha lagi.
"Untuk itu saya tidak bisa pastikan, intinya bantu doa agar adiknya bisa melewati masa ini" jelas dokter.
...**********...
Bani merasa kesal, karena adiknya tak bisa di hubungi, padahal ia hanya ingin menanyakan acara untuk besok, Bani mendengus kesal sudah satu jam nomor Fariz tidak bisa di hubungi.
"Hadeuh giliran penting susah banget di hubungi" gerutu Bani.
Melihat sang suami terus mendengus kesal Syifa pun mencoba menenangkannya. "Kenapa gak hubungi Umi saja, tanyakan kenapa nomor Fariz tidak bisa di hubungi" usul Syifa.
"Iya juga yah, kenapa gak kepikiran".
"Makanya jangan bisanya ngomel - ngomel doang".
"Abang gak pernah ngomelin Syifa ko" Bani membela dirinya.
"Masa sih nggak, bukannya sering" ledek Syifa.
"Hah kapan ?".
"Dulu waktu Syifa sering ngelamun waktu di pesantren".
"Ishhh itu dulu, posisinya sebagai guru dan murid" jelas Bani.
"Biar pun dulu tapi pernah dong" sindir Syifa.
"Iya deh iya abang pernah, tapi maaf ya".
"Maafin gak yah ?" Syifa pura - pura berpikir.
"Maafinlah, allah saja maha pemaaf".
__ADS_1
"Jangan ceramah di sini, bukan tempatnya" protes Syifa.
Bani pun menghubungi Umi untuk menanyakan ke beradaan adiknya yang susah di hubungi. setelah mendapat informasi untuk hari esok Bani pun mengakhiri panggialannya.
Malam semakin larut Syifa dan Bani sudah terlelap tidur. namun pagi dini hari Syifa merasa perutnya kram sekali, ia meringis kesakitan, bingung harus bagaimana. dengan mata yang masih mengantuk Syifa mencoba membangunkan Suaminya.
"Bang bangun, perut Syifa kram" Syifa menggoyang - goyangkan tubuh suaminya yang masih terlelap dalam tidurnya.
Namun suaminya tak kunjung bangun, karena sudah tidak kuat menahan sakit di perutnya,Syifa meremas tangan suaminya dengan kencang hingga terlihat tanda bekas kuku yang tertancap di kulit lengan Bani.
"Aww sakit" Bani meringis kesakitan, saat membuka perlahan ia juga kaget melihat istrinya tengah meringis kesakitan.
"Kamu kenapa sayang ?" tanya Bani cemas.
"Perutku sakit banget" sahut Syifa sambil meringis menahan sakitnya.
Bani menjadi panik seketika, pikirannya buntu, ia bingung harus melakukan apa. "Panggil.Bi Tuti" sahut Syifa.
Bani segera berlari ke arah kamar bi Tuti, menggedor pintu dengan kencang membuat orang yang di dalamnya terbangun, dengan keadaan setengah sadar bi Tuti membuka pintu kamarnya.
"Bi, Syifa perutnya kram" ujar Bani saat bi Tuti keluar dari kamarnya. tak banyak tanya lagi bi Tuti langsung lari ke kamar Syifa.
"Neng mana yang sakitnya ?" tanya bi Tuti yang panik melihat Syifa meringis kesakitan. Syifa meunjukan letak bagian perutnya yang sakit.
"Tapi sakit banget bi".
Bi Tuti mengoleskan minyak angin di bagian pinggang belakang dan mengelus pelan bagian pinggang belakang, berharap sakitnya bisa berkurang.
"Gimana neng ?".
"Masih sakit bi, tapi gak sesakit tadi". jelas Syifa.
Perlahan sakit itu hilang hingga membuat Syifa kembali tertidur, membuat Bani bisa bernafas lega.
"Bibi bisa tidur lagi, makasih ya bi sudah bantu Syifa" ujar Bani.
"Nanti kalau ada apa - apa panggil bibi saja, oh iya lebih baik nanti neng Syifanya di bawa ke dokter saja".
"Iya bi".
Waktu sudah menunjukan jam tiga pagi, Bani tak bisa tertidur, ia cemas jika rasa sakit itu akan muncul kembali, Bani memutuskan untuk melaksanakan shalat malam, berdoa untuk kesehatan Syifa dan juga calon anaknya, Bani membaca quran sembari menunggu adzan subuh.
waktu pagi menjelang, Syifa baru saja selesai melaksanakan shalat subuh berjamaah bersama suaminya.
__ADS_1
"Nanti kita periksa ya" ujar Bani.
"Tapi hari ini kita akan datang ke pembukaan Resto Fariz" sahut Syifa.
"Acaranya nanti jam sepuluh, kita pergi ke dokternya jam tujuh" ujar Bani yang benar - benar mengkhawatirkan kondisi sang istri.
"Ya sudah" ujar Syifa.
Saat Syifa ingin beranjak ke dapur namun Bani melarangnya. "Aku baik - baik saja sayang, ke dapur juga paling hanya duduk di meja makan" Syifa.
"Nggak boleh pokoknya, nanti kita sarapan di kamar biar bi Tuti yang akan mengantarkannya ke sini".
Setelah sarapan Bani dan Syifa pun berangkat ke rumah sakit, entah kenapa perasaan Bani menjadi tak enak, jantungnya berdebar tak karuan. Sampai di rumah sakit Syifa dan Bani langsung menuju ruang pendafatran.untung saja di rumah sakit tersebut ada dokter yang praktik.
Pasien silih berganti memasuki ruangan untuk di periksa hingga giliran Syifa, dengan perasaan tak menentu Syifa dan Bani memasuki ruangan dokter.
"Selamat pagi Ibu Syifa dan pak Rabani" sapa dokter ramah.
"Jadi keluhannya apa ya ?" tanya Dokter tersebut.
"Keluhannya sering kram di bagian perut untuk akhir - akhir ini, untuk mual dan muntah bahkan pusing sudah jarang saya rasakan" Syifa menjelaskan keadaan dirinya.
"Hmm setiap ibu hamil, memang akan mengalami hal yang berbeda, ada yang mual muntah parah bahkan ada juga yang sebaliknya yaitu tidak mengalami mual dan muntah, dan kadang ada juga yang mengalami hal itu adalah suaminya" jelas dokter sangat ramah.
"Ibu berbaring saja dulu, biar kita periksa kondisi ibu dan Bayinya" jelas dokter.
Syifa membarikan tubuhnya di ranjang rumah sakit di bantu oleh perawat, bahkan perawat itu pun menuangkan gel di perut Syifa.
Dokter mulai memeriksa kandungam Syifa lewat usg, dokter tersebut nampak serius memperhatikan layar monitor yang ada di hadapannya dan sesekali menggelengkan kelapanya.
"Apa ibu sering mengalami kram di perut ?" tanya dokter.
"Sering tapi tak pernah saya rasa, ketika kram saya hanya istirahat dan sakitnya akan hilang, namun tadi dini hari saya mengalami kram yang sangat hebat" jelas Syifa.
Dokter pun hanya mengangguk tanda mengerti dengan apa yang di jelaskan Syifa. dokter pun melanjutkan pemeriksaannya.
"Apa sebelumnya ibu pernah mengalami usg ?".
"Pernah dokter, waktu itu kehamilan saya memasuki usia enam minggu dan belum terlihat ada janin, hanya terdapat kantong kehamilannya saja, menurut dokternya itu si wajar - wajar saja, karena usianya masih enam minggu" tutur Syifa menjelaskan.
"Sekarang usia kandungan ibu sudah memasuki usia sebelas minggu, namun yang terlihat hanya ada kantong ke hamilannya saja, janinnya tak terlihat, sepertinya ibu mengalami hamil kosong atau dalam istilah kedokteran sering menyebutnya Blighted Ovum / BO" tutur dokter sambil pandangannya masih mengarah ke arah monitor.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1