
Hari ini Rara dan Fariz mereka memutuskan untuk membeli sebuah rumah yang tak jauh dari resto mereka, suasana rumahnya masih asri karena di sekitar jalannya masih banyak pohon - pohon rindang yang berdiri. suasananya tak kalah jauh dengan di perumahan milik Bani.
Mereka mengadakan acara syukuran di rumah baru tersebut secara sederhana, hanya di hadiri oleh keluarga terdekat saja.
Umi sangat terharu dengan pencapaian yang di raih oleh anak - anaknya terutama Bani dan Fariz mereka adalah anak laki - laki Umi dan Abah, dan mereka kini telah menjadi kepala rumah tangga di keluarganya masing - masing.
Syifa yang hadir di acara syukuran rumah baru Fariz pun menjadi pusat perhatian karena kini Syifa sedang mengandung anak kembar, doa dan ucapan selamat terus mengalir dari orang - orang yang datang di acara itu. membuat Rara yang merupakan pemilik dari rumah tersebut merasa teracuhkan, karena semua orang memperhatikan kakak iparnya.
Rara duduk sendiri di pojokan rumahnya, sedangkan yang lain mereka tengah asik berbincang - bincang bareng Syifa. Rara menatap sinis ke arah mereka, hal itu menarik perhatian dari mamanya.
"Kenapa kamu malah diam di sini ?" tegur mamahnya Rara. Melihat mamahnya ada di sampingnya Rara langsung memeluk erat mamanya.
"Ma kenapa semua orang perhatian dengan Syifa, tak ada satu pun yang peduli dengan Rara, padahal ini rumah Rara ma". ujar Rara lirih.
"Kenapa kamu punya pemikiran seperti itu nak, kamu sudah dewasa dan juga menikah, harusnya kamu banyak belajar dari mereka bagaimana cara mempertahankan sebuah rumah tangga, bagaimana cara mengatasi permasalahan dalam rumah tangga. setiap rumah tangga mempunyai masalah yang bermacam - macam" mama menasehati anaknya.
"Nak jangan pernah iri atas kebahagiaan orang lain, karena kebahagiaan tidak di ukur dari seberapa sempurnanya mereka tapi kebahagiaan akan di rasaakn di saat kita mampu mensyukuri apa yang kita dapatkan" mamanya terus menasehati Rara.
"Ma Rara ingin hamil agar semua orang bisa perhatian juga pada Rara" ujar Rara.
"Nak dengerin mama, jangan pernah ingin menjadi seperti orang lain hanya karena kamu ingin mendapatkan perhatian orang lain".
"Tapi ma, lihat Umi ia sangat perhatian sekali dengan Syifa, Umi sepertinya lupa kalau Rara juga menantunya" gerutu Rara saat melihat Umi yang begitu menyayangi Syifa.
__ADS_1
"Umi seperti itu karena ia sedang menjaga Syifa agar kejadian yang lalu tak terulang kembali, apalagi sekarang Syifa hamil kembar pasti umi akan sangat menjaganya" Mama Rara memberi pengertian kepada anaknya yang sedang di landa cemburu. "Jika mama jadi Umi, mungkin mama juga akan melakukan hal sama seperti itu". sambung mamanya Rara.
Setelah sore Rara dan Bani pamit untuk pulang, saat mereka pamit pada Rara, Syifa merasa ada yang aneh, Rara menatap Syifa dengan tatapan sinis dan sikap Rara pun menjadi dingin terhadap Syifa dan Bani. Syifa menepis semuanya, ia menganggapnya mungkin Rara sedang lelah hingga Rara bersikap dingin padanya.
Bani melajukan mobilnya menuju kediaman mereka, selama perjalanan pulang Syifa diam dalam gemingnya, hal itu membuat Bani penasaran.
"Kamu kenapa, ko dari tadi diam terus ?" tegur Bani.
"Enggak ko bang". sahut Syifa.
Sementara Rara masih kesal, setelah acara selesai dan keluarga pada pulang Rara lebih memilih untuk berdiam diri di kamar.
"Kenapa dari kamu dari tadi diam saja ?" tanya Fariz pada istrinya.
"Maksud aku kesal kenapa ?".
"Aku kesal saja, dari tadi semua orang yang datang pada perhatian pada kakak ipar kamu itu, ini kan acara rumah kita, kenapa dia yang menjadi pusat perhatiannya" ucap Rara dengan menaikan intonasi bicaranya,Rara mencurahkan kekesalannya.
"Astaghfirullah Rara". Fariz sangat terkejut dengan penuturan istrinya.
"Kenapa ? kamu mau memberi perhatian juga padanya mentang - mentang dia sedang hamil kembar" gerutu Rara benar - benar kesal.
Fariz menghela nafasnya, ia sangat kaget dengan sikap Rara yang seperti ini, selama ia kenal Rara dia tak pernah menujukan sikap yang seperti ini, yang ia tahu Rara itu memiliki sifat yang keras dan juga manja.
__ADS_1
"Gini saja, besok kita konsultasi ke dokter kandungan agar kamu bisa cepat hamil, tapi aku minta sama kamu hilangkan dulu pikiran jelekmu tentang Syifa" ujar Fariz.
"Kenapa ?".
"Ahh, sudah lah terserah kamu saja" Fariz berlalu meninggalkan istrinya di dalam kamar, berdebat tidak akan menyelesaikan maslah. ia bener - bener kecewa dengan sikap istrinya yang seperti itu.
Sedangkan Rara menangis di dalam kamarnya perasaannya berkecambuk dan juga kecewa karena suaminya malah memilih membela kakak iparnya di banding dirinya. Rara melampiaskan amarahnya di dalam kamarnya hingga ia memecahkan sebuah pas bunga yang ada di kamarnya, sontak hal itu membuat Fariz yang sedang duduk di ruang televisi langsung berlari ke arah kamar mereka.
"Rara apa yang kamu lakukan ?" Kamar mereka sudah berantakan bantal, guling dan juga badcover sudah berserakan di mana - mana, belum lagi pecahan dari pas bunga yang berserakan di lantai hal itu membuat Fariz murka, namun ia masih bisa mengendalikan emosinya.
Di peluk erat tubuh sang istri dalam dekapannya, Fariz mencoba menenangkan sang istri. "Kenapa ? kenapa tak ada lagi yang perhatian dengan aku" teriak Rara di sela - sela isak tangisnya.
Fariz membawa sang istri untuk duduk di atas tempat tidur mereka dan setelah itu Fariz merapihkan kamarnya, ia mencoba menahan emosinya, sebagai kepala rumah tangga ia harus bisa menghadapai masalah kecil seperti ini.
Fariz membawakan segelas air minum untuk istrinya yang mulai berhenti menangis, kedua tangan di letakan di pipi sang istri "Semua orang perhatian sama kamu, semua orang sayang sama kamu, kamu merasa seperti itu karena pikiran mu sudah di kuasai oleh setan" ucap Fariz dengan lembut. Rara hanya terdiam.
"Jangan pernah iri atas kebahagiaan orang lain karena itu hanya akan menyiksa diri kamu sendiri" ujar Fariz lagi.
Amarah Rara meleleh, hatinya di selimuti rasa bersalah, ia hanya bisa menitikan air mata seraya meminta maaf pada suaminya atas sikapnya.
"Aku janji, aku akan belajar lebih dewasa lagi dalam menanggapi semua masalah". ucap Rara yang kini kembali memeluk suaminya erat. Rara sangat beruntung memiliki suami seperti Fariz yang begitu sabar dalam menghadapai sikapnya, ini adalah kali pertama mereka berantem hanya gara - gara hal sepele.
"Sudah malam lebih baik kita istirahat" ucap Fariz.
__ADS_1
Rumah tangga itu ibarat hutan yang lebat ada berbagai macam pemandangan di dalamnya. ada pohon yang rindang dan menyejukan, ada hewan buas yang siap mengancam kapan pun dan selalu ada jurang yang memisahkan jarak. kesabaran ibarat pohon yang menyejukan paru - paru dan Amarah ibarat hewan buas dan jurang yang mematikan kapan saja.