
Bani terdiam sejenak, ia mengingat cerita tetangga yang bilang jika rumah Bani pernah di awasi oleh orang uang tidak di kenal, walaupun itu tak kembali terulang namun tiba - tiba pikirannya menuju ke arah Malik.
"Bentar bukannya mau soudzon, beberap hari sebelum gue liburan kata tetangga rumah, katanya ada dua orang yang menggunakan motor mengawasi rumah gue". ujar Bani.
"Terus gimana, dua orang itu ketangkap ?" tanya Tama penasaran.
"Kata tetangga gue, dua orang itu juga mengawasi rumah kosong lainnya, waktu kepergok warga dia langsung tancap gas, bahkan saat warga cek nomor kendaraannya ternyata palsu, tetangga sih pada ngiranya itu mereka itu sindikat pencurian" jelas Bani.
"Wah parah itu, bukannya perumahan tempat tinggal kamu sekarang ketat ya penjagaannya ?" tanya Tama.
"Nah itu yang bikin gue herannya, makanya kemaren gue langsung pasang cctv lalu nyuruh si Tio nyari security, gue khawatir jika siang istri gue di rumah sendirian" sahut Bani.
"Lu udah tanya lagi ke tetangga tentang orang yang selalu mengawasi rumah kosong itu ?".
"belum, semenjak pulang liburan gue sibuk, gue harus rekrut pegawai baru, lalu gue harus nyari ide - ide baru buat perkembangan konveksi mertua gue, belum lagi persiapan lamarannya si Fariz" jawab Bani, yang sangat sibuk ketika setelah pulang dari liburannya selama satu minggu di bali.
Acara lancar tanpa hambatan, keluarga dan Tamu undangan satu persatu meninggalkan tempat acara, yang hanya menyisakan Rara, Tama dan Mamanya yang belum pulang, mereka memilih untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum pulang.
"Sayang kita langsung pulang apa kerumah Umi dulu ?" tanya Syifa.
"Kita kerumah Umi sebentar baru ke rumah kita" jawab Bani. karena di dalam mobil Bani ada Ustaz Ali dan keluarganya yang harus Bani antarkan dulu ke pesantren.
"Jika kalian mau pulang, gak papa ko, kita bisa naik mobil lainnya" ujar Ustaz Ali.
"Kita ke pesantren dulu, ada barang yang harus di ambil" sahut Syifa, ia merasa jadi tak enak terhadap keluarga ustaz Ali, karena kelelahan hingga membuat Syifa lupa kalau di dalam mobil mereka ada keluarga ustaz Ali.
Rombongan keluarga tiba di pesantren, Sebagian dari keluarga langsung berpamitan untuk kembali ke rumah masing - masing. begitupun dengan Syifa dan Bani yang ikut pamit pulang.
"Umi, Abah, dan semuanya, Bani dan Syifa juga ikut pamit ya" ujar Bani.
"Ko buru - buru sih ?" tanya Zahwa.
"Sepertinya Syifa sudah kelelahan ingin istirahat" jawab Bani.
"Kenapa gak istirahat di sini saja ?" tanya Ummah.
"Di rumah saja Umi" sahut Syifa.
Mereka pun pulang ke rumah mereka, kedatangan mereka pun di sambut oleh security yang bekerja di rumah mereka.
__ADS_1
"Bang, Syifa lelah banget, buat makan malam pesen online saja, sekalian pesen buat pak yanto juga" ujar Syifa seraya berlalu ke kamarnya. pak Yanto adalah nama security di rumah mereka.
"Iya sayang" sahut Bani.
Sebelum merebahkan tubuh Syifa memilih membersihkan dahulu badannya dan setelah itu baru Syifa terlelap tidur. sedangkan Bani lebih memilih mengobrol dengan security tersebut.
"Gimana pak yang mencurigakan gak selama bapak jaga di sini ?' tanya Bani.
"Nggak ada, namun denger dari warga orang itu masih sering ngeliatin rumah kosong lainnya, yang saya bikin heran ko bisa ya lolos di pintu masuk perumahan" sahut pak Yanto.
"Itu yang saya bingungkan juga !" seru Bani.
"Jangan - jangan malingnya warga sini juga" tebak pak Yanto.
"Ah bapak ada - ada saja, mana ada maling di daerah sendiri sih".
"Ya kali saja, kata warga setiap di kejar suka tiba - tiba ngilang saja, lalu pernah bertanya pada security yang bekerja di gerbang utama, gak ada tuh orang yang masuk dengan ciri - ciri yang mencurigakan" jelas pak Yanto.
"Aneh sekali yah" sahut Bani.
Setelah puas ngobrol dengan pak Yanto, Bani langsung masuk kerumahnya untuk membersihkan tubuhnya dan juga persiapan shalat magrib karena udah sore juga.
"Cantik" gumam Bani saat mengamati wajah sang istri ketika tertidur.
...******...
Sunggingan senyum harus selalu ia tampilkan pada sosok yang di anggapnya penyemangat hidup. bagaimana pun ia harus menjadi kuat agar orang - orang di sekelilingnya juga merasa kuat.
Salwa terngiang perkataan sang suami yang menguatkan. "Sudah, ya, sayang, jangan terus - terusan bersedih. mas akan selalu ada di samping kamu sampai kapan pun, dalam suka mau pun duka. jadi jangan hiraukan perkataan mereka yang hanya ingin memisahkan kita". sebuah kata - kata manis penyemangat hatinya. dan lihatlah Salwa meras beruntung memperoleh pendamping seperti Robby.
"Ibu, ko melamun" tegur bi Tinah yang merupakan asisten rumah tangga di rumah Robby dan Salwa yang baru.
"Nggk bi" sahut Salwa berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Ohh, ini minumannya yang tadi ibu minta" ujar bi Tinah.
"Terima kasih" sahut Salwa. ia sedang duduk di taman belakang rumahnya yang menghadap langsung dengan hamparan sawah yang membentang luas.
Ia merasa lebih tenang tinggal di sana, walaupun kata - kata yang menyakitkan masih terngiang - ngiang di telinganya, namun di sana ia bisa merasa lebih rileks. dan di tempat yang baru ia berharap sebuah ke ajaiban untuk keluarga kecilnya.
__ADS_1
"Asalamulaikum" ucap Robby yang baru pulang bekerja.
"Walaikumsalam" jawab Bi Tinah.
"Bi, Salwa mana ?" tanya Robby saat mengetahui istrinya tak ada menyambut kedatangannya.
"Ibu ada di taman belakang" jawab Bi Tinah.
Robby pun menghampiri sang istri yang sedang duduk melamun, bahkan Robby langsung memeluk sang istri dari belakang yang membuat Salwa terkejut dengan aksi Robby.
"Mas, sudah pulang".
"Iya sayang, ko ngelamun sih ?".
"Nggak ko sayang, hanya sedang menikmati suasana di sini saja" sahut Salwa.
"Kamu gak betah tinggal di sini ?" tanya Robby lagi.
"Betah ko sayang" jawab Salwa cepat.
"Sayang, ini aku bawakan kamu buah zuriat dan juga kurma muda dari mekah, sebagai bentuk ikhtiar kita" ujar Robby seraya menyerahkan buah tersebut.
"Kamu dapat ini dari mana ?" tanya Salwa.
"Ini di kasih sama rekan bisnis aku, mereka juga dulu mengalami hal yang sama seperti kita, malahan mereka menikah sampai lima tahun belum di kasih keturunan, tapu setelah rajin mengonsumsi ini, akhirnya mereka di beri kepercayaan hamil juga" jelas Robby.
"Hmm masih banyak ya di luar sana yang sama seperti kita" sahut Salwa lirih.
"jangan sedih lagi ya, kita akan berjuang sama - sama" sahut Robby lalu memeluk istrinya. pelukan yang di berikan Robby membuat Salwa merasa tenang dan nyaman.
"Sayang tadi mamah menghubunginku" ujar Salwa ragu - ragu.
"Terus kamu jawab ?" tanya Robby.
"Awalnya nggak aku jawab, tapi mamah terus - terusan menghubungi aku, ya aku jawab karena takut itu penting" Jelas Salwa.
"Lalu mamah bilang apa ?" tanya Robby.
"Mamah bilang mamah sakit" jawab Salwa.
__ADS_1