
"Jelaskan sekarang !" seru Syifa saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Iya sayang" sahut Bani.
Bani mulai menceritakan semuanya yang terjadi, dari awal ia dan Tio mencari siapa pelaku pelemparan petasan hingga sidang yang tadi, semuanya Bani ceritakan pada sang istri termasuk dirinya menjadi saksi dalam persidangan tersebut.
"Kenapa Abang tidak pernah cerita, apa karena Syifa sudah tak asik lagi untuk di ajak berdiskusi. selama ini abang selalu cerita tentang apa pun pada Syifa tapi kenapa masalah ini abang seperti menutupi semuanya dari Syifa, apa ini karena Aisha ? Andai jika Aisha dan Bayu tidak datang ke sini, apa abang akan cerita semua ini atau malah menutup - nutupinya ?". Aisha bener - bener kecewa dengan sikap suaminya yang tak terbuka dalam permasalahan ini.
"Maaf Abang Enggak ada maksud apa pun, Abang punya alasan kenapa abang tidak cerita masalah ini sama kamu" ujar Bani yang menyesali tindakkan nya. ia tak menyangka jika istrinya akan semarah ini.
"Abang tau kamu syok dengan kejadian ledakan tersebut, Abang cuma gak mau kamu tambah syok ketika mengetahui siapa pelakunya, Abang cuma gak mau kamu dan calon buah hati kita kenapa - kenapa. beberapa hari ini Abang cuek karena abang menghindari pertanyaan - pertanyaan yang kamu ajukan, Abang gak bisa bohong sama kamu, maka dari itu abang menghindar". jelas Bani.
Kini Bani duduk bersimpul di hadapan sang istri yang sedang duduk di pinggir tempat tidur, kedua tangannya menggenggam kedua tangan milik sang istri.
"Abang pergi pagi karena setiap hari Abang bolak - balik kantor polisi untuk memberikan keterangan sebagai saksi dan Abang juga pulang larut malam karena Abang harus mengerjakan kerjaan kantor yang tertunda karena dari pagi sampai siang abang ke kantor polisi" jelas Bani dengan raut wajah yang begitu menyesali tindakkan nya yang salah langkah.
Syifa diam, ia tak tega melihat raut wajah sang suami yang begitu menyesali perbuatannya.
"Sayang maafin Abang yah, Abang janji tidak akan mengulanginya lagi" sambung Bani.
"Janji ?".
"Iya sayang abang janji sayang".
Bani memeluk sang istri bahkan ia pun melayangkan bertubi - tubi kecupan di pipi sang istri karena saking bahagianya.
"Abang sudah dong, pipi Syifa jadi bau" protes Syifa. kini Bani mengalihkan kecupan tersebut pada perut buncit sang istri dan langsung mendapat respon dari calon buah hati mereka yang masih ada dalam kandungan Syifa.
"Maafkan Abi ya nak, Abi nakal" ujar Bani seraya mengelus pelan perut sang istri.
__ADS_1
"Bang ko, Abang bisa langsung tau jika yang melempar petasan itu adalah orang suruhannya mantan suaminya Aisha ?".
"Itu abang minta bantuan sama anak buah nya Tio. selain Abang, Tio dan juga Tama ikut menjadi saksi di persidangan tadi" ujar Bani.
Bani dan Syifa kini menikmati waktu berdua mereka, menebus waktu yang telah hilang karena kesibukan Bani dalam kasusnya bersama mantan suami Aisha.
Sementara Aisha, usai pulang dari rumah Bani dan Syifa, kini ia memutuskan untuk kembali ke yayasan dengan menggunakan taksi, Aisha menolak saat Bayu akan mengantarnya.
Kedatangan Aisha langsung di sambut oleh anak - anak yang sudah merindukannya.
"Nak umi sangat senang kamu kembali, umi kira kamu enggak akan kembali ke sini" ujar Umi Lilah.
"Maafkan Aisha Umi karena selama pergi, Aisha tidak memberi kabar ke Umi, dan alhamdulilah semua permasalahan Aisha di kota sudah selesai" ujar Aisha.
"Alhandulilah jika sudah selesai, sekarang kamu istirahat saja nak, ini sudah malam pasti kamu cape" ujar Umi.
Aisha berlalu menuju kamarnya, di sana ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Di malam yang sunyi dan di temani cahaya rembulan, Aisha memanjatkan rasa syukurnya, karena ia bisa dengan mudah melewati semua permasalahannya, Aisha juga merasa senang karena banyak orang yang mau ikut membantu Aisha dalam kasusnya ini. Aisha mengakhiri doa malam itu dengan membacakan doa untuk orang tua dan juga sang adik yang telah tiada.
...*******...
Tak ada perubahan yang signifikan, mamah Erni masih duduk di kursi roda. namun kali ini mamah Erni terlihat lebih ceria dari sebelumnya. tak ada lagi kebencian terhadap sang menantu, yang ada hanyalah sebuah kasih sayang mamah Erni untuk Salwa yang selalu setia merawatnya.
"Salwa usia kandungan kamu sudah memasuki tujuh bulan lebih, tapi mamah belum lihat kamu berbelanja perlengkapan bayi" ujar Mamah Erni.
"Iya mah, Menang Salwa belum beli perlengkapan apa pun" ujar Syifa.
"Kenapa nak, apa karena kamu terlalu sibuk ngurusin mamah ?".
__ADS_1
"Nggak seperti itu mah, mungkin belum ada waktu yang tepat saja" ujar Aisha. kalau boleh jujur, memang benar apa yang di katakan mertuanya, Aisha terlalu sibuk mengurus mertuanya hingga Aisha juga melupakan ke perluannya . kadang malam sebelum tidur ia selalu mengeluh sakit di seluruh badanya. dan untung saja Salwa mempunyai suami seperti Robby yang mengerti dengan kondisinya, tanpa di minta sebelum tidur Robby selalu memijit kaki sang istri.
"Ya sudah sana beli, sebentar lagi kamu akan lahiran, masa ia belum ada persiapan apa pun" ujar mamah Erni.
"Iya mah, nanti Salwa ngomong dulu sama Mas Robby".
Ke esokan harinya Robby tak berangkat bekerja karena hari libur, seperti biasa di hati libur Salwa da Robby selalu mengajak sang mamah untuk jalan - jalan di taman dekat rumah mereka, itu di lakukan agar mamah Erni tak bosan karena tiap hari selalu di rumah.
"Robby".
"Iya mah, mamah mau apa ?" tanya Bani. kini mereka bertiga sedang menikmati udara pagi yang segar.
"Mamah tak ingin apa - apa. mamah cuma mau bilang kehamilan istri kamu sudah memasuki usia tujuh bulan lebih, tapi kalian belum beli apa pun perlengkapan Bayi" ujar mamah Erni.
"Hmm iya mah, semalam Salwa sudah cerita kalau kita belum melakukan persiapan jelang persalinan. dan hari ini niatnya mau cari perlengkapan Bayi". jelas Robby.
"Bagus kalau gitu".sahut mamah Erni.
"Mamah mau ikut ke mall ?" tanya Salwa.
"Mamah di rumah saja" ujar mamah Erni menolak.
"Mamah ikut ya, jarang - jarang loh kita pergi bareng, lagian mamah kan sudah lama enggak pergi ke mall. mau ya mah" Salwa membujuk mamah Erni agar mau ikut dengan nya.
"Enggak Salwa, mamah nanti merepotkan kalian".
"kita enggak merasa di repotkan. mah ini pertama kalinya Salwa belanja perlengkapan bayi, Salwa bingung harus beli apa saja, kalau mamah ikut Salwa bisa tanya - tanya sama mamah apa saja yang harus di beli, soalnya kalau nanya Mas Robby jawabanya iya semua, katanya sih biar cepat". ujar Salwa.
"Tapi"
__ADS_1
"Gak ada tapi - tapian mamah pokoknya harus ikut" ujar Salwa dan mamah Erni pun hanya mengangguk saja.