Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 144


__ADS_3

Rara keluar dari ruangan bosnya dengan pikiran yang tak menentu, Sebagai wanita ia ingin menjadi ibu rumah tangga yang hanya fokus terhadap suami dan anak. namun di sisi lain ia juga ingin seperti wanita lainnya yang terus berkarir walaupun ia sudah menikah dan memiliki anak.


"Heyy ko malah melamun ?" tegur rekan kerjanya.


"Hmm, nggk ko".


"Apa kamu sudah mendapat izin untuk resign ?".


"Bos menyuruh ku untuk berpikir kembali karena karir ku sedang naik, sayang katanya kalau di tinggalkan". jelas Rara.


"Itu artinya lu harus pikir matang - matang, jangan salah ambil langkah yang akan membuat kamu itu menyesal seumur hidup" nasehat dari rekan kerjanya.


Rara melanjutkan kerjaannya hingga jam istirahat tiba, Rara pun memutuskan untuk datang ke tempat suaminya bekerja.


"Kenapa muka kamu lesu begitu ?" tanya Fariz.


"Tadi aku sudah mengajukan rencana pengunduran diri aku".


"Lalu ?".


"Malah aku suruh berpikir ulang, katanya sayang dengan karir aku yang sedang naik, jika aku jadi ibu rumah tangga yang seutuhnya, berarti ijazah ku tidak berguna lagi".


Fariz menghela nafasnya panjang. "Kamu sayang keluarga kamu atau kerjaan kamu ? kaku milih keluarga kamu atau karir kamu ?".


"Tapi kan hanya tinggal tiga bulan lagi".


"Ya Tiga bulan, lalu bagaimana jika nanti kontrak kerja mu di perpanjang jabatanmu di naikan, mana yang akan kamu pilih ?".


Rara terdiam dengan pertanyaan Fariz. tak menuntup ke mungkinan nanti bosnya akan menaikan jabatannya, apalagi menurutnya karir Rara sedang bagus - bagusnya, bosnya akan mempertahankan dirinya demi ke suksesan perusahan.


Rara kembali ke kantor dengan perasaan yang masih galau, karir yang di impikan sudah di depan mata dan selangkah lagi akan ia genggam.tak pernah ia berpikir jika dirinya akan berada di posisi yang menyulitkan ini.


Sementara Bosnya sedang berpikir keras bagaimana supaya Rara tidak jadi mengundurkan diri, ia tak ingin jika Rara pergi meninggalkan kantornya. ia pun terus menyusun strategi untuk mempertahan Rara di perushanaannya.


...*****...

__ADS_1


Salwa dan Bi Tinah berangkat menuju klinik terdekat, mereka berangkat di antar oleh supir. sesampainya di rumah sakit Bi Tinah mengurus semua pendafataran pasien, sedangkan Salwa menunggu di ruang tunggu. Bau khas rumah sakit membuat Salwa semakin tak tahan menahan sakit di kepalanya.


Bi Tinah mendaftarkan Salwa ke dokter bagian Umum, Salwa pun harus sabar menunggu giliran. pertama Salwa di timbang berat badan dan juga tekanan darahnya, semua berada dalam kondisi normal.


"Dok sakit apa saya ?" tanya Salwa pada dokter.


"Kondisi ibu baik - baik saja, semuanya normal tak ada yang perlu di khawatirkan" jawab dokter dengan ramah.


"Tapi dok, Kelapa saya sakit banget, badan saya lemas, bahkan ketika mencium aroma yang menyengat rasanya jadi mual dan ingin muntah, masa ia kondisi saya baik - baik saja, apa asam lambung saya kambuh ?". Salwa tak puas dengan jawaban sang dokter yang mengatakan dirinya baik - baik saya. "Lihat dok muka saya sampai pucat seperti ini" sambung Salwa.


Dokter tersebut hanya tersenyum simpuh mendengar penuturan Salwa. "Untuk lebih pasti silahkan ibu periksa kebagian dokter kandungan" ujar dokter tersebut.


"Dok saya sakit bukan hamil" sahut dokter.


"Iya saya paham bu, tapi gejalanya sama seperti hamil muda. apa bulan ini ibu telat haid ?".


Salwa terdiam, mengingat kapan dirinya terakhir haid. "Saya lupa dok, bahkan saya tak memperhatikan kapan saya haid, karena hasilnya selalu bikin saya kecewa" Jawab Salwa.


"Nah untuk memastikan itu semua saya sarankan ibu untuk mendatangi dokter kandungan" ujar dokter tersebut.


Akhirnya Salwa memutuskan untuk ke dokter kandungan, tak bisa di pungkiri dalam hati kecilnya ia pun punya harapan besar. nanun ia mencoba menepis semua itu karena ia takut akan kecewa di akhir.


Klinik yang di kunjungi oleh Salwa adalah klinik yang sederhana, dan peralatannya pun belum lengkap begitupun dokternya yang tak lengkap, karena hanya ada bidan, Salwa pun memutuskan untuk memeriksakan dirinya kebidan, tentunya atas bujukan Bi Tinah.


Bidan pun memeriksa kondisi Salwa, ia pun mencatat keluhan - keluahan dari Salwa.


"Bagaimana kondisi saya ?" tanya Salwa ketika bidan tersebut sedang menekan - nekan perut Salwa.


"Kapan ibu terakhir haid ?" tanya bu bidan.


"Saya lupa dok" jawab Syifa.


"Apa ibu pernah mengecek mengunakan tes pack ?" tanya bu bidan lagi. Salwa pun menggelengkan kepalanya. bagaimana ia menggunakan tes pack dirinya memperhatikan hari haid saja tidak pernah. Bahkan Salwa sudah merasa pasrah dengan keadaannya.


Bu bidan kemudian memberikan alat tes ke hamilan pada Salwa, bu bidan juga menjelaskan bagaimana cara pemakaiannya, lalu Salwa di perintahkan untuk masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Karena peralatan klinik yang terbatas, jadi untuk mengetahui Salwa hamil atau tidak hanya menggunakan alat tes pack. saat bidan meraba perut Salwa pun kantung kehamilannya pun belum teraba.


Saat melihat hasil tes pack, Salwa sangat tercengang dengan hasilnya, mulutnya serasa terkunci. ia bener - bener syok dengan hasilnya.


Dengan langkah gontai menahan sakit di kepalanya Salwa keluar kamar mandi dan di sambut oleh bi Tinah.


"Bu, bagaimana hasilnya ?" tanya Bi Tinah yang ikut penasaran.


Tiba - tiba Salwa memeluk bi Tinah, air matanya lolos begitu saja, bi Tinah pun menenangkan Salwa. "Bu, Apa pun hasilnya itu semua sudah takdir yang maha kuasa" ujar Bi Tinah.


Salwa kembali duduk di depan ibu Bidan, Bi Tinah setia mendampingi Salwa, menggenggam tangan Salwa memberi kekutan. dengan tangan yang gemeteran Salwa pun memberikan tes pack tersebut pada ibu bidan.


"Ini hasilnya menunjukan garis dua, yang artinya ibu di nyatakan positif hamil, namun karena ibu lupa kapan terakhir haid maka saya sarankan Ibu melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan dan juga ugs untuk mengetahui berapa usia kehamilan ibu" jelas dokter.


Air mata Salwa kembali mengalir kembali, ia masih belum percaya dengan sepenuhnya, namun ia juga merasa bahagia dengan kabar tersebut.


"Ibu Hamil" ujar Bi Tinah ikut bahagia mendengar menuturan sang dokter.


"Ibu harus banyak istirahat, jangan cape - cape karena kehamilan di usia muda masih rentan dengan keguguran. Saya akan kasih vitamin dan juga penguat kandungan" ujar bu bidan.


Setelah menerima obat dan membayar administrasinya, Salwa langsung pulang kerumah dengan air mata yang terus mengalir.


"Bu jangan nangis lagi, kasian dede yang di dalam" ujar bi Tinah.


"Bi saya hamil" ujar Salwa bahagia.


"Iya bu, ibu hamil, jadi mulai saat ini ibu tidak boleh menangis lagi, kini giliran ibu bahagia" ujar bi Tinah dan keduanya langsung berpelukan.


"pak, nanti mampir ke apotik dulu ya" ujar Salwa pada sopir. " bi nanti belikan Salwa alat tes kehamilan, buat cek di rumah dan buat kasih liat juga mas Robby" titah Salwa pada Bi Tinah.


"Kenapa gak ke rumah saki saja, biar bibi antar nanti di sana ibu bisa usg dan juga tes lab buat memastikan semuanya".


"Nanti saja bi, ke rumah sakitnya jika mas Robby sudah kembali". ujar Salwa.


Rasa bahagia tengah Salwa rasakan, bahkan ia tak sabar untuk menyampaikan kabar bahagia ini pada suami dan keluarganya. kesabaran menantikan sang buah hati kini berbuah manis. tak ada lagi hinaan yang akan terlontar padanya, hinaan yang mengatakan bawa Salwa itu mandul.

__ADS_1


__ADS_2