
Syifa mundur selangkah saat Bani mendekatinya, masih di sertai senyum jahil dari Bani. "Abang apa sih ?, nggak jelas banget, teori yang mana maksud abang ?".
"Kan kamu sering bilang kalau kita harus berjuang bersama, jadi tangan di tunda lagi, saatnya kita berjuang bersama agar tercapai apa yang menjadi harapan kita, Asyifa sayang".
Sangat telat sekali bagi Syifa untuk menghindari pelukan dari Bani. "Abang kenapa jadi mesum begini, sih ?.
"Siapa suruh kamu menggoda abang" sahut Bani lalu mengecup kening sang istri.
"Syifa gak menggoda".
"Bohong, buktinya pas abang masuk kamar kamu sudah siap - siap".
"Syifa siap - siap mau tidur, Syifa lelah sayang".
Tanpa basa - basi Bani langsung saja menggendong istrinya menuju tempat tidurnya.
"Abang mau melakukannya saat ini juga ?" tanya Syifa pelan.
"Emang kenapa kalau sekarang, kamu juga gak lagi palang merah kan ?".
"Malam ini Syifa lelah sekali, seharian tadi Syifa membersihkan rumah terus menata tanaman buat di taman rumah kita, badan Syifa rasanya remuk sekali".
"Untuk malam ini kita libur dulu, tapi besok gak ada libur - libur lagi" ujar Bani. "Di mana yang pegel - pegelnya biar Abang pijitin" sambung Bani.
"Nggak usah sayang, harusnya Abang yang di pijitin bukan Syifa, kan yang kerja cari nafkah Abang".
"Sini mana yang pegelnya, sekali - kali gantian gak bakal bikin dosa ko" ujar Bani.
*****
Subuh ini ada sedikit pandangan yang berbeda dari biasanya. jika biasanya Syifa akan segera bangun serta melakukan rutinitas usai menunaikan subuhnya, namun kali ini dia merasa malas sekali. usai membereskan perlengkapan shalatnya, Syifa loncat kembali ke atas ranjang, meringkuk bak anak kecil yang enggan bangun karena libur sekolah. kepalanya terasa berat sekali, matanya juga berair dan sedikit agak berkunang. entah apa itu namanya, tapi Syifa merasa seluruh badannya berat untuk di gerakan, malas sekali.
Saat Bani kembali kerumah setelah usai mengajar, ia tak menemukan istrinya di dapur, kemudian ia pun bergegas ke kamarnya. Mata Bani memicing melihat polah sang istri yang sedikit janggal. tidak seperti biasanya yang gesit dan cekatan. Mungkin Syifa terlalu lelah. batin Bani.
Akhir - akhir ini aktivitasnya memang cukup padat selain mengurus rumah tangga Syifa juga harus membantu Umi dalam menyiapkan persiapan pernikahan Fariz.
Bani menarik napasnya dalam, kemudian menghembuskannya pelan. rasa iba serta bersalah sedikit menelusup ke dalam hatinya, menyaksikan pemandangan yang tak seperti biasanya itu. sebenarnya lelaki itu tidak tega membiarkan Syifa mengerjakan semuanya sendiri, berulang kali Bani menawarkan agar mencari seorang asisten rumah tangga untuk membantu meringankan tugas istrinya itu, namun berulang kali juga Syifa menolaknya.
__ADS_1
Berjalan pelan menghampiri Syifa yang sedang terbaring, tangan Bani terulur menyentuh dahi Syifa. kernyitan muncul di kening lelaki itu saat merasa tak ada yang aneh dengan keadaan Syifa. suhu tubuhnya biasa saja, tidak panas sana sekali.
"Abang. . ." Syifa mengerjap saat merasakan sentuhan Bani di pucuk kepalanya. akan beranjak bangun, namun dengan cepat tangan Ali menahannya serta mengisyaratkan agar Syifa berbaring kembali.
"Kamu kenapa sayang ?" tanya Bani, khawatir melihat keadaan Syifa yang tidak seperti biasanya.
"Abang maaf ya, Syifa pusing sekali, tidak apa kan, kalau pagi ini sarapannya gak di buatkan sama Syifa". ucap Syifa, merasa tak enak karena pagi ini tak turun ke dapur untuk membuatkan sarapan.
"Iya, kan Ada Bi Tuti juga yang membuatkan kita sarapan". ujar Bani. walaupun di rumah Umi ada asisten rumah tangga tapi Syifa akan selalu membuatkan makanan khusus untuk suaminya. "Kamu istirahat saja, Abang keluar dulu" ujar Bani.
Dua puluh menit Bani kembali dengan membawa nampan di kedua tangannya, Ada setumpuk roti bakar yang khusus di buat oleh Bani dan segelas susu.
"Syifa, Sayang sarapan dulu" ucap Bani, melirik Syifa yang masih meringkuk di atas tempat tidurnya.
"Eeunghh, iya, Abang. Sebentar lagi, ya. kepala Syifa rasanya berat sekali". ujar Syifa seraya memegang kepalanya.
"Kita ke dokter saja ya ?".
"Enggak usah , nanti juga sembuh ko".
"Ya sudah makan dulu ya, setelah itu kamu tiduran lagi saja, biar sakit kepalanya cepat sembuh".
Bani meletakan sepiring roti bakar dan segelas susu coklat hangat di atas meja yang berada di samping tempat tidur. perutnya agak bergejolak saat mencium aroma susu dari uap yang masih mengepul. aneh padahal susu coklat ini adalah kesukaannya, kenapa tiba - tiba Syifa tak ingin lagi meminumnya serta ingin membuangnya jauh - jauh dari sana.
"Abang".
"Iya".
"Itu susu apa ?".
Bani sedikit kebingungan dengan pertanyaan Syifa. seingatnya tadi, dia tidak salah menuangkan susu kesukaan istrinya itu.
"Susu yang bisa kamu buat, sayang. memangnya kenapa ?".
"Baunya tidak enak sekali. Syifa enggak mau minum ini, bang". Syifa menjauhkan gelas yang berisi susu. salah satu tangannya di gunakan untuk menutup hidung.
"Terus kamu mau minum apa ? mau Abang buatkan yang lain ?".
__ADS_1
"Heummm, Susu putih saja, Bang".
Bergegas Bani kembali ke dapur, dalam benaknya menyimpan tanya, sejak kapan Syifa suka dengan Susu putih ?, biasanya dia kan paling anti dengan susu putih, kenapa sekarang malah memintanya.
Keadaan Syifa mulai membaik, hanya tinggal pusing sedikit saja, dan itu masih mampu Syifa tahan, tak seperti tadi pagi. bahkan Syifa sudah dapat duduk, namun Bani memerintahkan Syifa agar tetap berbaring.
"Abang ko masih di sini, gak ngajar ?.
Ali menggelengkan kepalnya. "Kita ke dokter saja ya, Abang khawatir". tukas Bani kembali membujuk. Mata Bani masih tak bosan mengamati Syifa. Baru pertama kali Syifa seperti ini, makanya Bani di buat cemas bukan main.
"Syifa enggak apa - apa, Abang. Cuma pusing saja, jangan lebay deh". Syifa mendengkus, rasanya Bani terlalu lebay menanggapi keadaan saat ini.
"Ya sudah, Abang ke pesantren sebentar. kamu istirahat saja".
"Syifa sudah baikan ko, oh iya nanti siang Syifa mau ikut Umi dan Fariz buat fitting baju seragam keluarga".
"Kamu kan lagi sakit sayang".
" Syifa sehat !" Syifa mencoba duduk dengan sekuat tenaga. "Syifa sudah janji sama Umi, boleh ya Syifa pergi".
Tak segera menjawab, mata Bani memonitor Syifa, melihat raut wajah istrinya yang agak sedikit pucat. sebenarnya lelaki itu ingin menolak, tapi karena Syifa yang merengek, akhirnya Bani cuma mengangguk, tanda setuju.
"Tapi Abang juga akan ikut pergi nemenin kamu" sahut Bani.
Bani membiarkan istrinya beristirhat di dalam kamar. "Bani bagaimana kondisi istri mu ?" tanya Umi yang ikut khawatir setelah mendengar keadaan Syifa yang sakit kepala.
"Katanya si udah mendingan, sekarang dia lagi tiduran di kamar" sahut Bani. "Bani nitip Syifa bentar, Bani mau ke pesantren".
Umi pun masuk ke dalam kamar Syifa.
"Umi . . " ucap lirih Syifa saat melihat Umi memasuki kamarnya.
"Gimana keadaan kamu nak ?" tanya Umi seraya duduk di pinggir tempat tidur.
"Syifa baik - baik saja Umi, istirahat sebentar nanti pusingnya hilang". ujar Syifa dan beranjak bangun namun Umi melarangnya.
"Kamu istirahat saja nak, oh iya nanti biar Umi pergi sendiri saja, nanti di jemput Fariz" ujar Umi.
__ADS_1
"Syifa ikut Umi, Syifa sudah baikan, Abang juga sudah mengizinkan, dan katanya Abang juga mau ikut" ujar Syifa.