
Bani sangat terkejut, bahkan ia juga tidak menyangka jika istrinya akan mengajak semua keluarganya. bukan masalah biaya yang Bani pikirkan, sebenarnya Bani mengajak Syifa berlibur untuk berbulan madu yang belum pernah mereka lakukan setelah menikah.
"Kalian saja yang pergi, Umi dan Abah kan harus urus semua persiapan untuk acara Fariz" sahut Umi.
"Abang Liburannya nanti saja setelah acara Khitbah Fariz, biar semua keluarga ikut".
"Pergi sana nak, nanti kapan - kapan baru kita berlibur sekeluarga". sahut Umi.
"Iya kalau kakak mau liburan gak papa, Fariz insya allah bisa menanganinya sendiri" Timpal Fariz.
"Kak Zahwa mau kan ikut liburan bareng ?" tanya Syifa pada kakak iparnya.
"Kakak gak bisa ikut, kan Lala sekolah" jawab Rara.
"Berarti gak ada yang ikut" ujar Syifa dengan raut wajah yang kecewa karena tak ada satu pun keluarga yang mau ikut berlibur dengannya .
"Berlibur saja berdua, semoga pulang bawa kabar bahagia" sahut Zahwa.
"Kabar apa kak ?" tanya Syifa.
"Kabar bahagia pokoknya".
Setelah selesai perbincangan, Bani dan Syifa pamit pulang. di dalam perjalanan pulang syifa kembali bertanya tentang maksud pulang bawa kabar bahagia.
"Maksudnya ketika berlibur nanti pas pulang kamu bisa hamil sayang" jelas Bani. "Nanti sebelum berangkat berlibur kita konsultasi ke dokter dulu ya". sambung Bani.
"Terserah abang saja" sahut Syifa.
*****
Hari ini Bani harus bekerja ekstra karena minggu depan ia akan izin tidak masuk kerja, ia tak ingin meninggalkan kerjaannya begitu saja.
Setiap Jam istirahat Syifa akan selalu datang ke kantor Bani hanya untuk mengantar makan siang untuk suaminya.
"Bang Nanti pulang dari sini, Syifa mau mampir ke supermarket buat beli bahan makanan, stok di kulkas sudah tinggal sedikit" ujar Syifa.
"Tapi maaf abang gak bisa antar kamu, gimana dong".
"Syifa bisa ko pergi sendiri" Syifa pamit pada Suaminya dan pergi menggunakan taksi online.
__ADS_1
Tiba di supermarket Syifa pun langsung memilih - milih bahan masakan yang akan ia beli, Syifa membeli beberapa macam buah - buahan sebagai stok di rumah.
Ketika ingin mengambil buah melon tiba - tiba ada tangan juga yang ikut memegang buah yang sama dengan Syifa, membuat Syifa tersentak kaget.
"Maaf" ujar Syifa seraya menarik tangannya kembali.
"Syifa" tegur seorang wanita. Syifa pun menoleh saat namanya di sebut oleh seseorang.
"Kak Salwa di sini juga !" seru Syifa ternyata wanita tersebut adalah Salwa istrinya Robby.
"Ia sudah dua hari aku tinggal di rumah orang tua ku, karena Robby sedang ada kunjungan kerjanya ke luar kota" jelas Salwa.
Mereka pun belanja bersama, setelah selesai belanja mereka mengunjingi sebuah cafe hanya untuk berbincang - bincang.
"Syifa aku turut perihatin dengan apa yang terjadi dengan kamu dan Bani" ujar Salwa.
"Hmm iya terima kasih, lalu bagaimana dengan kak Salwa ?".
"Aku sampai sekarang belum di percaya, mungkin jika begini terus aku akan mengikuti program bayi tabung" jawab Salwa.
"Yang sabar saja, Allah tidak akan menguji umatnya di luar batas kemampuan umatnya".
"Tante Erni sebenarnya orangnya baik, namun ya begitu, kalau punya keninginan tekadnya selalu kuat".
"Ia baner, makanya ketika Mas Robby pergi aku di suruh menginap di rumah orang tua ku agar bisa terhindar dari mamah mertua ku, Mas Robby melarang mamah datang ke apartemen, tetapi secara diam - diam mamah mertua suka datang dengan membawa berbagai macam obat dan jamu untuk penyubur kandungan".
"Hmm jangan terlalu banyak minum obat tanpa resep dokter takutnya itu menjadi berbahaya untuk badan kak Salwa".
"Iya kadang mamah sudah pulang aku akan segera membuangnya. kadang aku juga merasa berdosa jika melakukan hal itu".
"Semoga kak Salwa segera di beri kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi setiap masalahnya, intinya bawa enjoy saja jangan perlalu di pikirkan".
"Syifa Aku salut sama kamu, pikiran kamu sangat dewasa sekali padahal umur mu di bawah aku, Pasti Bani beruntung banget mendapatkan istri seperti kamu".
"Kak Salwa juga sabar banget, jika aku di posisi kak Salwa mungkin aku sudah pergi menjauh".
"Hmmm eh ko aku jadi curhat begini ya"
"Aku seneng bisa deket dengan kak Salwa, kalau kak Salwa butuh temen cerita boleh ko hubungi, insya allah aku siap dengerinnya".
__ADS_1
Mereka pun bertukar nomor telepon, lalu membayar minuman mereka sebelum mereka pulang kerumah mereka masing - masing.
Sampai rumah Syifa langsung membereskan barang belanjaannya, lalu Syifa membersihkan badannya, karena takut suaminya akan segera pulang.
Ketika sedang mandi Syifa kembali teringat cerita Salwa yang selalu mendapatkan tekanan dari sang mertuanya, Syifa pun mengucap rasa Syukur mendapatkan mertua sebaik Umi dan Abah yang tak pernah menuntut mereka dalam berbagai hal.
Seperti biasa, sore hari Syifa akan memasak untuk acara makan malam mereka berdua, setelah selsai memasak Syifa melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul lima sore namun suaminya belum sampai rumah membuat Syifa cemas dengan kondisi suaminya yang biasanya akan pulang jam empat atau paling setengah lima sore.
Syifa mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya.
"Sayang kamu di mana ko jam segini belum pulang ?" tanya Syifa.
"Maaf mungkin hari ini Abang akan telat pulang, Abang masih di kantor, masih ada kerjaan yang harus di selesaikan, maaf juga Abang membuat kamu khawatir, Abang terlalu fokus dengan kerjaan hingga lupa menghubungi kamu". jawab Bani, kemudian menutup panggilannya.
Syifa kembali ke aktivitasnya memberekan bekas masak, kemudian ke kamar untuk membersihkan diri dan persiapan salat magrib.
dalam hati kecil Syifa ada rasa kesepian ketika suaminya harus pulang lama, dan di saat seperti ini Syifa akan merindukan sosok seorang anak di tengah - tengah keluarga kecilnya.
Malam semakin larut Syifa masih setia menunggu suaminya pulang, hingga ia tak sadar Syifa tertidur sambil menonton televisi. Bani sangat terkejut saat melihat Syifa tertidur karena menunggu dirinya, ada rasa bersalah ketika ia harus lembur sampai malam.
"Sayang bangun". Bani membangunkan sang istri secara perlahan.
"Hmmmm" Syifa mengerjapkan matanya saat tubuhnya ada yang menggoyangkannya.
"Abang sudah pulang, maaf Syifa ketiduran" Syifa bangun dari posisi tidurnya.
"Lain kali gak usah nungguin Abang yah, kalau ngantuk tidur saja di kamar, lalu itu pintu di kunci takut ada orang yang ingin berbuat jahat" nasehat Bani pada istrinya.
"Iya sayang, maaf" ujar Syifa yang merasa telah teledor dalam hal ini. "Abang sudah makan ?"tanya Syifa.
"Belum sayang".
"Ya sudah Syifa panasin dulu makanannya, Abang mandi saja dulu biar segeran".
"Baik tuan putri".
Makan malam pun di mulai Bani yakin jika istrinya juga belum makan. membuat Bani semakin merasa bersalah.
"Besok - besok Abang bawa kerjaannya kerumah saja, biar kamu gak nungguin Abang sampai ketiduran dan juga telat makan" sahut Bani di sela - sela makannya.
__ADS_1
"Kalau itu sih terserah Abang saja" sahut Syifa yang sedang menikmati makanannya.