Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 137


__ADS_3

"Mamah Sakit ?" tanya Robby seakan - akan tidak percaya dengan kata - kata sang istri.


"Iya, mamah sakit, kita di minta pulang ke sana karena gak ada yang merawat mamah, Tasya kan sibuk sekolah" jelas Salwa.


Mamah sakit, tapi kenapa mamah tidak menghubungi aku secara langsung, Tasya juga tidak memberi tahu kalau mamah lagi sakit. gumam Robby dalam hatinya.


"Sayang kita pulang jenguk mamah yuk" ajak Salwa.


"Hmm Mamah bilang gak kalau dia itu di warat atau hanya istirahat di rumah ?" tanya Robby.


"Mamah cuma bilang kalau dia sakit, dan beliau minta kita pulang" jelas Salwa.


"Nanti mas tanya dulu sama Tasya mamah sakit apa". Sahut Robby dan langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi sang adik.


"Hallo dek, lagi di mana ?" tanya Robby pada sang adik.


"Di rumah".


"Katanya mamah sakit, mamah sakit apa ?".


"Mamah sakit ??. Perasaan mamah gak kenapa - kenapa tuh, malahan mamah lagi pergi bareng temen - temen arisannya". jelas Tasya membuat Robby terkejut.


Salwa bilang mamah sakit, Tapi kata Tasya mamah sehat - sehat saja, kenapa infonya beda - beda, mana yang harus aku percayai. gumam Robby.


"Oh syukur deh kalau mamah baik - baik saja. kalau ada apa - apa hubungi kakak ya" ujar Robby lalu menutup panggilan mereka.


Robby memandangi Salwa dengan intens, mencari gurat kebohongan di wajah sang istri. kemudian Robby menghubungi Mamah Erni.


"Ada apa nak, tumben kamu menghubungi mamah ?" tanya mamah Erni ketika menjawab panggilan dari Robby.


"Mamah tadi menghubungi Salwa dan bilang kalau mamah sakit lalu menyuruh kita pulang" ujar Robby.


"Mamah tidak menghubungi istri mu, dan mamah juga sehat ko" sahut mamah Erni.


"Tapi tadi Salwa bilang kalau mamah sakit".


"Lalu kamu bilang kalau mamah itu bohong".


"Bukan begitu mah".


"Istri kamu itu memang tidak suka dengan mamah, mungkin istri kamu berbohong seolah - olah mamah yang bohong biar kamu tambah benci sama mamah".

__ADS_1


"Salwa gak mungkin bohong mah" Robby membela istrinya.


"Ya sudah terserah kamu saja, mamah memang selalu salah di mata kamu !" seru mamah Erni lalu menutup panggilannya secara sepihak.


Robby menghela nafasnya panjang, ia bingung harus percaya pada siapa, istri atau mamahnya. Robby kembali menatap Salwa dengan lekat.


"Kenapa kamu menatap aku seperti itu ?" tanya Salwa.


"Mamah bilang kalau mamah tidak menghubungi kamu" ujar Robby membuat Salwa terkejut.


"Tapi tadi mamah beneran menghubungi aku, kalau tak percaya lihat saja riwayat panggilan masuk di ponselku" ujar Salwa lalu mengambil ponselnya yang ia letakan di atas meja.


"Sudahlah, aku mau mandi, yang terpenting sekarang mamah baik - baik saja" ujar Robby dan berlalu menuju kamarnya.


Kenapa mamah bilang kalau ia tidak menghubungi aku, jelas - jelas tadi ia menghubungi aku ia bilang kalau.sedang sakit dan minta kami untuk datang. apa ini rencana dia untuk membuat aku dan mas Robby berantem" Gumam Salwa dalam hatinya.


Salwa pun beranjak dari tempat duduknya, mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar.


namun tiba - tiba ponselnya kembali berdering.


Mamah ?, untuk apa mamah menghubungi ku kembali ?. tanya Salwa dalam hatinya.


"Kamu ngadu sama suami kamu, kalau saya tadi menghubungi kamu ?" tanya mamah Erni dengan intonasi yang tinggi.


"Bukan ngadu mah, tapi Salwa cuma khawatir dengan kondisi mamah" sahut Salwa. "Tapi kenapa mamah tidak mengaku jika mamah tadi menghubungi aku, mamah malah bilang jika mamah baik - baik saja, sebenarnya mamah maunya apa ?" tanya Salwa.


"Mamah cuma mau kamu dan Robby pisah" ujar mamah Erni tanpa merasa bersalah sedikit pun.


Namun tiba - tiba ponsel Salwa di ambil paksa oleh Robby, membuat Salwa terkejut.


"Suuttt" Robby memberi kode agar Salwa tak banyak bicara atau pun protes.


"Kalau kamu sayang dengan mamah, maka tinggalkan Robby sekarang dengan alasan kamu tak bisa dia beri keturunan, biarkan Robby menikah lagi dengan wanita lain. jika kamu setuju mamah akan bayar kamu berapapun yang kamu mau" ujar mamah Erni.


"Tapi sayangnya, aku tidak akan membiarkan siapapun untuk memisahkan aku dan Salwa" ucap Robby tegas lalu menutup panggilannya.


Robby bahkan memblokir nomor mamahnya di ponsel Salwa, itu di lakukan agar mamahnya tidak bisa lagi menghubungi Salwa.


...****...


Bani pulang kerja lebih awal, di setiap hari jumat Bani dan Syifa akan selalu menginap di rumah Abah Hasan dan Umi. hal itu di lakukan agar Bani tak meninggalkan Syifa sendirian ketika ia harus pergi mengajar di pesantren.

__ADS_1


"Sayang ayo berangkat" Ajak Bani.


"Iya bentar sayang" sahut Syifa yang masih bersiap - siap.


"Abang tunggu di luar yah" ujar Bani.


Mereka pun berangkat menuju rumah Umi. seperti biasa selepas shalat magrib Bani akan mengajar Para santri bersama ustaz Ali dan yang lainnya. kehadiran Bani membuat sebagian santriwati merasa senang, rata - rata santriwanti akan terpesona dengan ketampanan Bani, walaupun mereka tahu jika Bani telah menikah tapi hal itu tak membuat mereka berhenti mengidolakan sosok yang sering mereka panggil ustaz Bani.


Desas - desus tentang Bani dan Syifa yang belum di kasih keturunan, menjadi topik pembicaraan bagi para sebagian santri.


"Kasian yah ustaz Bani belum punya anak, jangan - jangan si Syifa gak bisa hamil lagi" ujar salah satu santri.


"Bukan gak bisa hamil, namun belum di kasih kepercayaan sama yang di atas, buktinya Syifa pernah hamil namun harus di gugurkan" sahut santri yang lainnya.


"Ahh si Syifanya saja yang belum siap hamil kali, dia masih menikmati masa remajanya, dia kan umurnya juga belum genap dua puluh tahun" Timpal Rima yang memang tak menyukai Syifa.


"Kalian ini bisa nya bergosip saja, gak malu apa sama gelar santrinya, masa santri ngegosip" tegur Mila yang mendengar pembicaraan mereka.


"Upsss ada yang diam - diam kepo dengan pembicaraan kita nih !"Seru Rima.


Mila tak menanggapinya ia lebih memilih untuk pergi menuju asramanya.


Selesai mengajar Bani kembali kerumah dengan perasaan rindu pada istri tercintanya, entah kenapa akhir - akhir ini Bani merasa ingin selalu dekat istrinya.


"Syifa mana Umi ?" tanya Bani saat melihat Uminya hanya seorang diri di ruang televisi.


"Syifa sudah ke kamar, katanya tadi ingin istirahat" jawab Umi.


"Yang di tanyain nya tuh istri lagi istri lagi" gerutu Fariz yang sedang turun dari tangga.


"Kamu sekarang boleh ngomong seperti ini, tapi nanti juga akan merasakannya juga" sahut Bani. "Oh iya Bagaimana persiapan pernikahan kamu ?" tanya Bani.


"Semua sudah siap tinggal nunggu hari H nya saja" jawab Fariz.


"Bagus deh, nanti setelah kalian nikah mau tinggal di mana ?".


"Kalau soal itu belum aku bicarakan dengan Rara, tapi aku sudah punya rencana akan membeli rumah nanti setelah menikah". sahut Bani.


"Ya sudah, aku susul dulu istri ku" ujar Bani dan berlalu menuju kamarnya.


Di dalam kamar Syifa sedang bersiap - siap untuk tidur, ia telah selesai mengganti bajunya dan juga menderai rambutnya, jika di dalam kamar Syifa baru akan membuka balutan kain yang selalu menutupi kepalanya.

__ADS_1


"Wah udah cantik saja istri abang, pasti sudah siap untuk memperaktikan teori - teori yang sering kamu katakan".


__ADS_2