
Jatung Asyifa bergemuruh setelah membaca surat tersebut, ia menjadi bingung dengan perasaannya. Dia sudah dewasa umur kita bahkan jauh berbeda. Apa dia yakin dengan semua ini. ucap batin Asyifa kebingungan.
"Syifa apa kamu baik - baik saja" teriak Mila yang tidak mendengar suara aktivitas di dalam kamar mandi.
"A ak aku baik - baik saja" jawab Asyifa gugup.
"Yakin ?".
"Tak usah khwatir aku sedang menikmati BAB ku, jadi harap jangan ganggu" teriak Asyifa bohong agar temennya tak menaruh curiga padanya.
"Asyifa kamu jorok sekali" protes Nayla.
Asyifa sadar ia sudah menghabiskan banyak waktu di dalam kamar mandi, Asyifa melipat kembali kertas tersebut dan memasukannya kembali dalam saku bajunya. kemudian melanjutkan mencuci bajunya.
...******...
Robby dan Salwa sudah sampai di apartemen milik Robby.
"Saya tidur di kamar tamu, kamu tidur di tempat biasa" ujar Salwa seraya menarik kopernya ke dalam kamar tamu.
"Tidak bisa begitu, kita sudah menikah Salwa" jawab Robby menahan koper milik Salwa.
"Aku terpaksa melakukan ini, karena desakan orang tua ku" jawab Salwa jujur "dan aku pastikan pernikahan ini gak akan bertahan lama" ucap Salwa dengan lantang bahkan tanpa ada keraguan di wajahnya.
Robby hanya menghela nafas, menurutnyania harus banyak bersabar untuk bisa meluluhkan hati sang istri.
Salwa masuk ke kamarnya merapihkan barang miliknya. saat melihat tempat tidur dirinya kembali teringat tentang awal pertemuan dengan Robby. Kau bisa menjebak ku, tapi kau tak bisa merebut hatiku. ucap Salwa dalam hatinya.
Robby dengan suka rela menyiapkan makan siang untuk dirinya dan istrinya walaupun sederhana namun menurutnya itu sangat special karena dibuat dengan rasa penuh cinta.
"Ternyata kamu pintar masak juga, berarti aku tak perlu repot - repot memasak untuk mu" ucap Salwa.
"Aku tak pernah menuntutmu untuk bisa masak, tapi aku hanya minta agar kamu mau menerimaku dengan ikhlas" jawab Robby.
"Kalau untuk itu, jangan pernah berharap, paham !" ujar Salwa " dan Satu lagi aku minta jangan pernah ikut campur dengan urusan pribadi ku" sambung Salwa dengan tegas.
Salwa melanjutkan makannya tanpa peduli dengan suaminya. setelah selesai makan Salwa kembali ke kamarnya dan menguci pintu kamarnya.
"Aku harus cari cara agar dia mau menceraikan ku" gumam Salwa pelan. " Bani tunggu janda ku" lanjut Salwa seraya tersenyum.
...********...
__ADS_1
Setiap Syifa bertemu dengam Bani, jantung Syifa bergemuruh hebat, membuat dirinya menjadi gugup. Syifa ada apa dengan hatimu, apa kamu menyukainya juga, tapi apa aku pantas bersanding dengannya, dia lelaki dewasa sedangkan aku . . ahh. ucap Syifa dalam hatinya.
Sifat Syifa berubah, ia menjadi orang yang lebih banyak diam, apa lagi ketika bertemu dengan ustaz Bani, dulu Syifa selalu berani menentang ustaz Bani tapi sekarang menatapnya pun Syifa ta berani. hal ini membuat kedua temen asramanya curiga.
"Syifa apa kamu sedang punya masalah ?" tanya Mila.
"Masalah ? tentu tidak" jawab Asyifa.
"Sekarang kamu beda, kamu jadi lebih banyak diam" ujar Nayla.
"Aku lihat sekarang kamu lebih banyak menghindar dari ustaz Bani, bakhan sekarang kamu tak berani menentangnya" timpal Mila.
"Ah mungkin itu perasaan kalian saja" jawab Syifa santai, ia berusaha sedang menyembunyikan semua tentang perasaannya. maaf, aku belum bisa cerita semuanya, karena hatiku saja masih ragu dengan perasaan ini. ucap Asyifa dalam hatinya.
"Ya sudah, tapi kalau kamu mau cerita, kita siap ko jadi pendengar setia kamu" ucap Mila.
"Iya, ayo tidur " ajak Asyifa.
Sementara di dalam kamar, Bani tak dapat tertidur dengan nyenyak, pikirannya masih tentang Asyifa, apalagi sudah hampir satu minggu Asyifa belum membalas suratnya. kenapa dia tidak pernah membalas surat ku, aku harus bagaimana, apa aku harus langsung bicara dengan Abah dan Umi ? tapi bagaimana kalau Syifa menolakku. ucap Bani dalam hatinya.
"Syifa kenapa kamu membuat ku seperti ini, harusnya kamu beri aku keputusan ya pasti, jangan gantung perasaan ku" gumam Bani pelan.
Lantunan shalawat merdu menggema di lingkungan pesantren, membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa takjub. Suara merdu tersebut milik ustaz Bani anak dari pemilik pesantren. Bani kini telah bisa beraktivitas seperti biasanya, Bani sudah benar - benar melupakan tentang Salwa.
"Astaghfirullah" ucap Nayla kaget saat membangunkan Syifa.
"Kamu kenapa ?" tanya Mila yang baru keluar dari dalam kamar mandi.
"Badan Syifa panas banget" ucap Nayla panik.
Mila pun mengampiri tempat tidur Syifa dan menempelkan tanganya di kening Syifa.
"Astaghfirullah panas banget" ucap Mila yang ikutan panik. "Nay kamu laporan dengan ustazah Aisyah" perintah Mila pada Nayla.
Tak banyak bicara lagi Nayla yang berlari menyusuri lorong asrama, banyak santri wati yang menatapnya aneh namun ia tidak peduli, tujuannya hanya satu menemui ustazah Aisyah.
Dari jarak sepuluh meter gedung utama, Nayla sudah berteriak minta tolong membuat yanga ada di dalam gedung tersebut berhamburan keluar.
"Tolong . . tolong. . tolong" teriak Nayla.
Nayla mengatur nafasnya saat ia sudah tiba di depan pintu utama.
__ADS_1
"Kamu kenapa teriak - teriak dan kenapa kami tidak memakai jilbab kamu " ucap usatzah Aisyah. ustaz dan ustazah yang lainnya ikut khawatir apalagi melihat tampilan Nayla yang acak - acakan dan juga tidak menggunakan Jilbabnya.
"Astaghfirullah, aku lupa" ucap Nayla saat merapa kepalanya, tanpa tanya Nayla langsung meraih mukena yang ada di tangan ustazah Aisyah dan langsung di pakainya mukena tersebut.
"Nay ada apa, jangan bikin panik kami ? tanya ustaz Ali lembut.
"Anu ustaz anu gawat" ucap Nayla bingung.
"Kamu tenang dulu atur nafas baru cerita pelan - pelan" ujar Ustazah Aisyah menenangkan.
Nayla berusha mengatur nafasnya, ustazah Sari memberikannya segelas minuman agar Nayla merasa semakin tenang.
"Nak sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi ?" tanya ustazah Aisyah.
"Hmm Syifa badannya panas banget" jawab Nayla cepat.
"Astaghfirullah, ayo kita liat ke adaannya" ujar ustazah Aisyah.
Nayla, dan ustazah Aisyah menuju Asrama sedangkan yang lain di suruh untuk ke surau karena adzan subuh akan segera berkumandang. Ustazah Aisyah mengecek keadaan Asyifa.
"Ya allah panasnya tinggi banget" ujar ustazah Aisyah saat menempelkan punggung tangannya di kening Asyifa.
Usatzah Aisyah membangunkan Syifa, namun Asyifa tidak bangun - bangun membuat Ustazah Aisyah semakin panik karena tiba - tiba Asyifa muntah. seluruh muntahan Asyifa membasahi baju selimut dan untung juga tidak sampai kena tempat tidur.
"Mil kamu panggil suster Bella di klinik, saya dan Nayla akan membantu Syifa untuk mengganti bajunya" perintah Ustazah Aisyah.
Suster Bella dan Mila sudah tiba di kamar asrama dan juga Syifa sudah selesai di gantikan bajunya. dengan telaten suster Bella memeriksa ke adaan Asyifa.
"Panasnya tinggi sekali sampai 39.5 dan tekanan darahnya juga rendah" jelas Suster Bella. "Lebih baik kita bawa ke klinik saja" sambung suster Bella.
mereka berempat menggotong Asyifa ke klinik, lorong menuju klinik sepi karena santri sedang mengikuti Shalat subuh berjamaah.
"Ummah . . Ummahh. . Abi. . Abii " ucap Asyifa namun dalam keadaan matanya tertutup.
"Panggilkan Umi, saya akan memberi obat lewat infus saja" ucap Suster Bella memberitahu.
ustazah Aisyah memerintahkan Mila dan Nayla untuk mengikuti kegiatan seperti biasanya, karena Syifa akan di tangani oleh suster Bella.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Terima kasih buat kalian yang sudah mendukung Author. terus dukung Author dengan cara Like, Vote dan juga komentar yang positif.
__ADS_1
Terimakasih.