
Bani menggelengkan kepalanya. "Abi, Ummah kondisinya tidak sedang bagus, gak mungkin untuk Ummah mendonorkan darahnya" ujar Bani.
"Iya bener, tapi Abi dan Syifa golongan darah berbeda" ujar Abah.
"Kak Abian ?".
"Kamu bener, semoga saja golongan darah mereka sama, Abi lupa golongan darah kakak ipar kamu itu".
"Kapan Kak Abian datang ke sini ?" tanya Bani.
"Bilangnya nanti setelah adzan subuh mereka baru berangkat" jawab Abi Umar.
Bani bisa sedikit bernafas lega, ia sangat berharap kakak iparnya memiliki golongan yang sama dengan istrinya. setelah selesai berbicara dengan Abi Umar, Bani kembali mengunjungi tempat ke dua buah hatinya, walaupun hanya melihat dari luar ruangan namun itu bisa membuat kekuatan Bani kembali.
Jam enam pagi Abian, Shela beserta anaknya tiba di ruangan tempat Ummah di rawat.dengan derai air mata Ummah memeluk erat cucu pertamanya dari Abian dan Shela.
"Ummah ingin peluk anak - anaknya Syifa". ucap Ummah lirih.
"Iya nanti Ummah, kondisi ummah harus baik dulu" ujar Abi Umar seraya mengelus puncak kepala sang istri. "Shela Abi titip Ummah dulu, Abi dan Abian mau keluar sebentar" ujar Abi Umar.
"Baik Abi" sahut Shela.
Abi dan Abian berlalu menuju ke tempat di mana Bani dan keluarganya menunggu kondisi Syifa.
"Kak Abian, aku minta tolong, donorkan darah kakak untuk Syifa" ujar Bani saat Abian tiba di hadapannya.
"Maksud kamu ?" tanya Abian bingung tiba - tiba di minta mendonorkan darah.
"Syifa butuh transfusi darah, stok darah di rumah sakit sedang kosong, kata Abi, Ummah memiliki golongan sama dengan Syifa, tapi tak mungkin jika Ummah mendorokannya, kondisinya sedang tidak baik" jelas Bani.
"Ya sudah antar aku ke ruang dokter untuk memeriksa darah ku apa cocok atau emggak dengan Syifa" pinta Abian, ia merasa panik dengan kondisi sang adik.
Serangkaian pemeriksaan pun di jalani Abian, akhirnya perawat pun mengatakan jika golongan darah mereka cocok dan langsung di ambil tindakan untuk mengambil darah Abian.
Satu hari telah berlalu, kondisi Syifa masih kritis walaupun sudah mendapat donor darah, dan selama itu juga Bani tak pernah pulang, ia setia menunggu keadaan sang istri. sedangkan keluarga Bani dan Syifa mereka saling bergantian untuk menemani Bani.
__ADS_1
Sore hari bakda Ashar Bani melantukan Ayat suci alquran di samping sang istri, ia berharap Syifa segera melewati masa kritisnya.tak lupa Bani jiga mengajak sang istri untuk berbicara.
"Sayang ayo bangun, anak kita ingin di gendong ummahnya, mereka bosan di gendong Abinya terus" ujar Bani. Tiba - tiba Syifa menggerak - gerakkan jari telunjuknya, Bani pun pangsung menekan tombol darurat yang ada di ruangan tersebut.
Seorang dokter dan perawat datang dengan tergesa - gesa. "Silahkan bapak tunggu di luar" titah perawat pada Bani.
"Saya ingin di sini saja" ujar Bani, ia sangat cemas dengan kondisi sang istri.
"Tolong pak hargai prosedur rumah sakit" ujar sang perawat pada Bani.
Dengan sangat terpaksa Bani keluar dengan keadaan lesu. "Kenapa kamu ?" tanya Umi.
"Tadi Syifa menggerakan jarinya" ujar Bani.
"Alhamdulilah, semoga ini kabar baik ya nak" ujar Umi penuh harapan.
detik demi detik, menit demi menit, menurut Bani sangat lama sekali dokter dan perawat itu keluar dari ruangan icu, Bani sudah cemas setengah mati.
Setelah tiga puluh menit, dokter keluar dengan wajah yang sumringah Bani dan Umi langsung berlari mendekat ke arah sang dokter.
"Bagaimana keadaan menantu saya ?".
Dokter hanya tersenyum ia paham jika anak dan ibu tersebut sedang dalam keadaan yang sangat cemas. "Alhamdulilah, pasien sudah melewati masa kritisnya, dan sekarang hanya tinggal menunggu siuman saja" terang sang dokter.
Bani pun melakukan sujud syukur, ia pun tak henti - henti mengucapkan hamdalah sebagai bentuk rasa syukurnya. "Ibu dan bapak silahkan boleh menunggu di dalam, kalau ada yang penting silahkan tekan tombol darurat" ujar sang dokter. "Kalau gitu saya permisi dulu" dokter pun berlalu meninggalkan Bani dan juga Umi.
Bani dan Umi kini sudah berada di ruangan tempat Syifa di rawat. mereka terus mengajak untuk berkomunikasi berharap agar Syifa mau segera membuka matanya dan mengakhiri tidur panjangnya.
"Sayang aku tau kamu adalah wanita yang kuat, ayo sayang selangkah lagi kamu akan bertemu dengan anak - anak kamu, maka bukalah mata mu, apa kamu tidak merindukan suami mu ini ? rasanya bohong jika kamu tak merindukan ku buktinya kamu tak pernah bisa jauh dari aku". Bani mengingat masa - masa indah bersama sang istri.
Satu jam, dua jam, tiga jam belum ada tanda - tanda jika Syifa akan membuka matanya. Bani, Umi dan Abah melakukan shalat Isya berjamaah di ruangan tempat Syifa di rawat. mereka khusyuk melantunkan Zikir dan doa.
Lamat - lamat Syifa mencoba membuka matanya pelan, sinar lampu membuatnya sedikit kesusahan dalam membuka matanya, sinarnya menyilaukan. Syifa memonitor seluruh ruangan. Aku di mana ? tanya Syifa dalam hatinya. tangannya meraba perutnya, ia sangat terkejut karena perutnya sudah rata. "Anak ku ! kemana anak ku ? kenapa perut ku sudah rata " teriak Syifa histeris.
Abah yang sedang memimpin zikir pun langsung menghentikannya, mereka langsung bergegas mendekat ke arah tempat Syifa terbaring lemah di atas ranjang.
__ADS_1
"Alhamdulilah sayang, kamu sudah siuman !"seru Bani senang.
"Alhamdulilah, Umi seneng kamu sudah sadar" ucap Umi terharu.
"Abang, kenapa perut Syifa jadi rata ? apa yang terjadi dengan aku dan anak kita ?" tanya Bani.
"Kamu sudah melahirkan, anak kita semuanya baik - baik saja, mereka sekarang ada di ruang khusus bayi" jelas Bani.
"Abang sedang tidak membohongi Syifa, kan ?" tanya Syifa penuh selidik, Bani pun menggelengkan kepalanya.
"Yang di katakan suami mu benar nak, anak kamu sekarang ada di ruang perawatan bayi, kita semua sudah menggendongnya secara bergantian, mereka merindukan kamu nak" ujar Umi.
Dokter dan suster datang untuk memeriksa keadaan Syifa, dan setelah di rasa baik - baik saja, Syifa pun di pindahkan keruang perawatan biasa.
"Dok apa saya bisa bertemu dengan buah hati saya ?" tanya Syifa.
"Nanti ya setelah di pindahkan ke ruang perawatan" ujar sang dokter dengan tersenyum ramah.
Syifa di pindahkan ke ruangan perawatan, namun setelah dua puluh menit berada di sana, buah hatinya tak kunjung di bawa ke ruangannya membuat Syifa merasa curiga, ada sesuatu yang di sembunyikan oleh keluarganya.
"Apa kalian sedang menyembunyikan sesuatu ?" tanya Syifa penuh selidik.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu ?" tanya Bani balik.
"Aku rasa kalian sedang menyembunyikan sesuatu" sahut Syifa.
"Kami tidak menyembunyikan apapun dari kamu nak" ujar Ummah.
"Tidak sayang, tidak ada yang di sembunyikan" ucap Bani.
Syifa menatap sang suami dan mertuanya secara bergantian, berharap menemukan sebuah bukti ke bohongan.
"Tapi kenapa sampai sekarang aku belum bisa bertemu dengan anak - anak ku ?".
"Kalau itu Abang____"ucapan Bani terhenti, bingung harus menjawab apa atas pertanyaan sang istri.
__ADS_1